NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Atas Luka

Resepsi itu berlangsung megah, tapi bagi Sheilla, suasananya lebih mirip upacara pemakaman. Tidak ada binar bahagia di mata pengantin pria. Ardhito berdiri di sampingnya seperti patung lilin tampan, namun memancarkan aura permusuhan yang membuat tamu undangan enggan berlama-lama menyalami mereka.

Begitu pintu apartemen baru mereka tertutup rapat malam itu, topeng kesopanan Ardhito luruh seketika. Ia melepas dasinya dengan kasar, melemparkannya ke sembarang arah sebelum menoleh ke arah Sheilla yang masih berbalut kebaya putih payet yang berat.

"Jangan harap ada malam pengantin," desis Ardhito dingin. "Kamar kamu di sana, di ujung lorong. Kamar utama punya saya. Dan satu hal lagi, jangan pernah sentuh barang-barang saya tanpa izin."

Sheilla meremas jemarinya yang gemetar. "Dhito, setidaknya kita perlu bicara soal... bagaimana kita menjalani ini di depan orang tua kita."

Ardhito menghentikan langkahnya, berbalik dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Sheilla meremang. "Di depan mereka, kita mainkan peranmu sebagai istri idaman. Tapi di dalam rumah ini? Kamu nggak lebih dari sekadar pengganggu. Paham?"

--

Minggu-minggu pertama pernikahan mereka berlalu seperti simulasi neraka yang sunyi. Sheilla tetap menjalankan perannya dengan setia. Ia bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan yang tak pernah disentuh, dan mencuci pakaian Ardhito dengan tangan meskipun ada mesin cuci, seolah pengabdian itu bisa mencairkan es di hati suaminya.

Suatu sore, Sheilla mencoba memberanikan diri. Ia memasak fettuccine carbonara kesukaan Ardhito resep yang ia pelajari diam-diam sejak mereka masih kuliah.

Saat Ardhito pulang, aroma gurih memenuhi ruangan. "Dhito, aku masak kesukaan kamu. Makan bareng, yuk?" sapa Sheilla dengan senyum yang dipaksakan.

Ardhito melirik meja makan, lalu melirik Sheilla. Alih-alih duduk, ia justru menyapu piring itu hingga jatuh berdentang ke lantai. Saus putih dan pasta berserakan di atas karpet mahal.

"Aku bilang jangan sok peduli!" bentak Ardhito. "Setiap kali aku lihat muka kamu, saya diingetin sama cara kotor kamu dapetin pernikahan ini!"

"Aku nggak pernah ngerencanain itu, Dhito! Berapa kali aku harus bilang?" teriak Sheilla, emosinya pecah.

Cengkeraman kuat mendarat di lengan atas Sheilla. Ardhito menariknya mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Jangan pernah bentak saya di rumah saya sendiri. Kamu di sini karena rasa iba orang tua saya, bukan karena saya menginginkan kamu."

Ardhito menghempaskan lengan Sheilla hingga gadis itu terhuyung menabrak pinggiran meja yang tajam. Rasa nyeri menjalar di pinggangnya, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat.

--

Malam itu, Sheilla meringkuk di lantai dapur, membersihkan sisa makanan yang sudah dingin sambil terisak pelan. Dia menatap memar kemerahan di lengannya yang mulai membiru.

Ini adalah tahun kedelapan dia mencintai Ardhito. Namun, untuk pertama kalinya, Sheilla bertanya-tanya: apakah cinta memang harus sesakit ini?

Dulu, dia mengira mencintai dalam diam adalah siksaan terberat. Ternyata dia salah. Dicintai dengan kebencian oleh orang yang paling kita puja adalah bentuk hukuman yang jauh lebih kejam.

Di kamar sebelah, suara dentuman musik keras sengaja diputar Ardhito untuk menenggelamkan suara tangisnya. Sheilla memejamkan mata, memeluk dirinya sendiri di tengah kegelapan dapur yang dingin.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!