Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Debu konstruksi langsung menyapa indra penciuman Ayu begitu ia melangkah melewati gerbang seng. Suara bising mesin molen dan dentum palu godam bersahutan, menciptakan simfoni sibuk yang kontras dengan keheningan mencekam di dalam mobil Arga tadi.
Ayu mencoba fokus. Ia mengeluarkan kamera mirrorless kesayangannya, memasang lensa wide-angle, dan mulai membidik sudut-sudut fondasi gedung yang masih setengah jadi. Namun, bayangan wajah Arga yang hanya berjarak lima sentimeter darinya tadi terus berputar di kepala seperti kaset rusak.
"Fokus, Ayu. Fokus. Dia itu cuma klien yang kebetulan gantengnya kelewatan, tapi hatinya kaku seperti semen instan ini," gumamnya pelan sambil menekan tombol shutter.
Cekrek.
"Bagus. Pencahayaannya pas," pujinya pada diri sendiri saat melihat hasil fotonya di layar kecil kamera.
"Bagus apanya? Foto itu terlalu miring tiga derajat ke kiri."
Ayu tersentak, hampir menjatuhkan kameranya kalau saja ia tidak melilitkan strap di pergelangan tangan. Ia menoleh dan mendapati Arga sudah berdiri di belakangnya, lengkap dengan helm proyek putih yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih berwibawa,dan sepuluh kali lebih menyebalkan.
"Bapak ini hobi sekali ya muncul tiba-tiba seperti hantu?" ketus Ayu. "Dan miring tiga derajat? Bapak punya penggaris busur di dalam mata, ya?"
Arga tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Ayu, lalu menunjuk ke arah struktur baja di depan mereka. "Garis horizontalnya tidak sejajar dengan garis alami cakrawala. Fotografer profesional harusnya tahu itu tanpa harus diajari oleh 'kanebo kering'."
Ayu mendengus, namun ia tetap mengecek kembali bidikannya. Sialnya, Arga benar. Garisnya memang sedikit miring.
"Oke, oke. Saya perbaiki," gerutu Ayu sambil mengatur posisi tripodnya. "Bapak ngapain sih di sini? Bukannya biasanya bos itu cuma duduk manis di kantor sambil minum kopi mahal?"
Arga terdiam sejenak. Matanya tidak lagi menatap kamera Ayu, melainkan menyapu area sekitar proyek dengan tatapan waspada yang sulit diartikan. Ia seolah sedang mencari sesuatu di antara tumpukan material dan para pekerja yang berlalu lalang.
"Aku tidak suka membiarkan pekerjaanku diawasi oleh orang lain," jawab Arga pendek.
Ayu mengernyitkan dahi. "Maksudnya? Kan ada mandor?"
Arga tidak menggubris pertanyaan itu. Ia justru meraih bahu Ayu, menarik gadis itu sedikit lebih dekat ke arahnya agar terlindung oleh pilar beton besar. "Tetap di dekatku, Ayu. Jangan keluyuran sendirian untuk mengambil angle yang aneh-aneh. Mengerti?"
Ayu membeku. Sentuhan tangan Arga di bahunya terasa hangat, kontras dengan udara proyek yang berdebu dan panas. "Bapak... kenapa sih? Kok mendadak jadi protektif begini? Takut saya hilang atau takut peralatan saya rusak?"
Arga menunduk, menatap Ayu dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa cara bernapas. "Aku hanya tidak ingin ada variabel pengganggu dalam proyekku hari ini. Termasuk... keselamatanmu."
Ayu baru saja akan membuka mulut untuk melontarkan protes jenaka, namun ia urungkan saat melihat rahang Arga yang mengeras. Pria itu terus melirik ke arah pintu masuk proyek, di mana sedan hitam yang tadi membuntuti mereka kini terparkir diam di seberang jalan.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Arga bergetar. Ia melepaskan bahu Ayu dan mengangkat telepon dengan wajah yang semakin menggelap.
*
Setelah menerima telepon tadi, sikap Arga berubah menjadi jauh lebih protektif terhadap Ayu. Pria itu bahkan bersikeras mengantar Ayu sampai tepat di depan pintu rumah. Arga baru benar-benar memacu mobilnya pergi setelah memastikan Ayu masuk ke dalam dan mengunci pintu dengan aman.
"Ada apa dengan pria itu?" bisik Ayu heran, mengintip dari balik jendela.
"Kenapa, Yu?" Ardan tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ya Allah, Bang! Bikin kaget saja!" seru Ayu spontan sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang.
Ardan ikut mengintip dari balik jendela, memperhatikan sisa debu knalpot mobil yang baru saja melaju. "Itu bosmu, kan?" tanya Ardan.
Ayu mengangguk pelan.
"Wah, jangan-jangan dia naksir kamu. Jarang-jarang ada bos yang mau mengantar pegawainya sampai depan pintu. Apalagi pegawai dekil kayak kamu. Hahahaha!"
"Ih, Abang ini malah mem-bully adiknya sendiri!" protes Ayu kesal.
"Lho, memang kenyataan, kan?" sahut Ardan jahil.
Pria itu kemudian melenggang menuju meja makan, bersiap menghabiskan semangkuk mi instan yang baru saja ia seduh. Namun, baru juga dua suapan mendarat di mulut, mangkuk itu sudah berpindah tangan secara paksa.
"Abang bikin lagi saja, yang ini buat aku!" ucap Ayu tanpa rasa bersalah.
"Eh, dasar adik laknat!" protes Ardan, meski tangannya tidak berusaha merebutnya kembali.
"Sudah, jangan bawel. Adikmu ini sedang kelaparan, Bang," sahut Ayu santai sambil menyeruput kuah mi yang masih mengepul gurih itu.
Ardan mendengus, namun akhirnya berdiri juga. Ia tak lagi memprotes dan kembali mengambil sebungkus mi instan dari lemari penyimpanan untuk menyeduhnya kembali.
Di sisi lain, Arga tidak langsung pulang setelah mengantar Ayu. Pria itu justru mematikan mesin mobilnya di depan sebuah bangunan tua. Sebuah rumah lama yang sudah lama tak berpenghuni, namun tak pernah sedetik pun absen dari ingatannya.
Rumah Yura.
Dinding-dindingnya kini tertutup lumut yang kian menebal, seolah mencoba menelan sisa-sisa kenangan di sana. Pagar besinya telah dimakan karat, menjadi bukti bisu bahwa tak ada lagi tangan yang peduli untuk sekadar menyentuhnya.
"Yura, aku harus mencari kamu di mana lagi? Kenapa rasanya begitu buntu?" bisik Arga lirih. Tatapannya terpaku pada jendela lantai atas, tempat yang biasanya menjadi saksi Yura melambaikan tangan setiap kali mereka akan berangkat sekolah dulu. "Aku sudah mengerahkan segalanya, setidaknya hanya untuk tahu kabarmu."
Getaran ponsel di saku jasnya memecah keheningan. Bukan dari Alvin atau mamanya, melainkan dari 'Si Cerewet Ayu'—begitulah Arga menamai kontak wanita yang beberapa hari terakhir ini berhasil sedikit mengalihkan rasa sesak di dadanya.
"Ada apa, Yu?" tanya Arga setelah menekan tombol hijau.
"Ada yang ingin saya tunjukkan. Pak Arga... ada waktu?" suara Ayu terdengar sedikit ragu namun mendesak.
Arga terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya di spion. "Malam ini, saya jemput kamu."
Klik. Telepon ditutup. Arga kembali menatap nanar bangunan yang kini lebih mirip rumah hantu itu sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
Namun, dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan setiap gerak-geriknya. Seorang bertubuh kurus dengan pakaian compang-camping berdiri terpaku. Matanya membulat sempurna saat mengenali sosok di balik kemudi itu.
"Ar... ga?" suaranya serak, hampir tak terdengar.
Sosok misterius itu mencoba berlari mengejar, namun mesin mobil Arga sudah menderu dan melesat membelah jalanan.
"Arga! Arga, tunggu!" teriaknya parau.
Ia memaksakan kakinya yang gemetar untuk terus berlari, mengabaikan napasnya yang tersengal. Namun, di tengah keputusasaan itu...
BRAKKK!
Tubuhnya terjerembap keras ke aspal panas. Lututnya menghantam batu tajam, menimbulkan bunyi berderak yang memilukan. Perih menjalar seketika, namun matanya tetap menatap nanar pada lampu belakang mobil Arga yang kian mengecil dan menghilang di tikungan.
"Sial... kakiku..." rintihnya sambil mencengkeram aspal. Ia mencoba bangkit, namun kegelapan seolah mulai merenggut kesadarannya tepat saat sebuah bayangan lain mendekatinya dari balik pepohonan.
BERSAMBUNG...
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it