Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tatapan Sang Elang
Malam di Jakarta selalu punya dua wajah: wajah yang lelah oleh kemacetan, dan wajah yang berdenyut karena gairah tersembunyi. Bagi Laras Maheswari, malam ini adalah pertaruhan. Di dalam taksi online yang melaju menembus rintik hujan, ia memeluk tas kain kanvasnya erat-erat. Di dalamnya terdapat identitas aslinya—sebuah kostum tari yang telah menemaninya melewati tahun-tahun perkuliahan yang berat hingga panggung-panggung kecil yang tak seberapa bayarannya.
Laras menatap kaca jendela yang berembun. Bayangan wajahnya terpantul samar. Ia hanya memoleskan bedak tipis dan pemerah bibir berwarna nude yang hampir senada dengan warna aslinya. Ia tidak suka tampil mencolok. Baginya, kecantikan seorang penari bukan terletak pada tebalnya riasan, melainkan pada bagaimana jiwa terpancar melalui tatapan mata saat musik dimulai.
"Kita sudah sampai, Mbak. Di depan The Eagle," ucap supir taksi, suaranya sedikit ragu melihat penampilan Laras yang terlalu bersahaja untuk tempat semewah ini.
Laras mendongak. Gedung itu berdiri angkuh dengan fasad kaca gelap dan logo elang emas yang membentangkan sayap di puncaknya. Lambang kekuasaan. Lambang pria yang konon memiliki separuh malam di kota ini.
"Terima kasih, Pak," ucap Laras lembut. Ia turun, membiarkan udara dingin malam menyentuh kulitnya yang halus.
Di depan pintu masuk, dua pria berjas hitam dengan tubuh serupa raksasa menghadang jalannya. "Undangan?" tanya salah satu dari mereka, suaranya dingin dan tanpa ekspresi.
"Saya... saya penari pengganti. Maya yang mengatur jadwalnya," jawab Laras tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia terbiasa menghadapi penonton yang sinis, tapi atmosfir di sini berbeda. Ada aura dominasi yang pekat, seolah setiap jengkal tanah di sini telah ditandai oleh pemiliknya.
Setelah pemeriksaan singkat melalui walkie-talkie, pria itu mengangguk. "Lewat pintu samping. Langsung ke ruang ganti VIP tiga. Jangan berkeliaran."
Laras mengangguk patuh. Ia tidak ke sini untuk bertamu. Ia ke sini untuk bekerja, mencari uang untuk membayar tunggakan kos dan membeli obat maag Maya yang sering kambuh. Baginya, The Eagle hanyalah sebuah panggung sementara, bukan tempat yang ingin ia huni.
*
Laras dibawa menyusuri lorong panjang yang berbau kayu gaharu dan maskulin. Dindingnya dilapisi beludru hitam dengan pencahayaan remang yang dramatis. Saat sampai di ruang ganti, ia terpana. Ruangan itu lebih luas dari kamar kosnya dan Maya digabung jadi satu. Ada sofa kulit, meja rias dengan lampu-lampu bundar yang terang, dan berbagai minuman dingin yang tersedia.
Tanpa membuang waktu, Laras mulai bersiap. Ia melepas kemeja flanel kebesarannya, menyisakan tubuhnya yang ramping namun kencang—hasil dari latihan bertahun-tahun. Ia mengenakan kain jarik bermotif Parang yang ia modifikasi sedemikian rupa agar tetap luwes untuk gerakan kontemporer. Kemben hitam berbahan beludru membalut tubuh bagian atasnya, menonjolkan bahunya yang tegak dan jenjang.
Ia menyanggul rambutnya rendah, menyisakan sedikit helai di samping telinga untuk memberikan kesan natural. Terakhir, ia melilitkan sampur putih tulang di pinggangnya. Begitu sampur itu terpasang, aura Laras berubah. Ia bukan lagi gadis yatim piatu yang dikejar tagihan kos; ia adalah Laras Maheswari, sang bidadari yang siap turun ke bumi.
"Sepuluh menit lagi, Mbak. Musiknya sudah siap," ketuk seorang staf dari luar.
Laras memejamkan mata. Ia mengatur napasnya, mencoba menemukan titik tenang di tengah kebisingan club yang mulai terasa hingga ke ruang ganti. Ia tidak tahu bahwa di lantai atas, di sebuah ruangan yang hanya bisa diakses oleh satu orang, seseorang sedang mengamatinya melalui layar monitor keamanan dengan resolusi tinggi.
*
Elang Dirgantara menyandarkan punggungnya pada kursi kerja berbahan kulit buaya. Di tangannya, sebuah lighter emas dimainkan dengan jemari panjangnya, menghasilkan bunyi klik-klik yang monoton namun berwibawa. Matanya yang tajam seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat.
Malam ini seharusnya membosankan. Sebuah acara privat untuk para kolega bisnisnya yang gemar pamer kekayaan. Elang membenci basa-basi, namun ia mencintai kendali. Itulah sebabnya ia selalu mengawasi setiap sudut The Eagle dari ruangan pribadinya.
"Siapa penari itu?" tanya Elang tiba-tiba. Suaranya rendah, serak, dan penuh otoritas.
Manajer operasionalnya yang berdiri di pojok ruangan segera mendekat. "Namanya Laras, Tuan. Laras Maheswari. Dia penari pengganti karena grup utama mengalami kendala teknis. Dia lulusan seni tari, kabarnya salah satu yang terbaik."
Elang tidak menyahut. Matanya tetap terpaku pada layar yang menunjukkan Laras di ruang ganti. Laras sedang melakukan pemanasan kecil—merentangkan tangannya, memutar lehernya. Gerakannya begitu organik, begitu berbeda dari wanita-wanita yang biasanya berseliweran di The Eagle.
Biasanya, wanita di sini akan berdandan habis-habisan, mencoba menarik perhatian Elang atau pria-pria kaya lainnya. Namun perempuan ini... dia bahkan tidak melihat ke arah kamera. Dia tampak sangat tulus dengan apa yang dilakukannya. Ada sebuah kesucian yang terpancar dari caranya memperlakukan kostum tarinya, sebuah ketulusan yang terasa asing di dunia Elang yang penuh tipu daya.
Lalu, musik dimulai. Sebuah aransemen kontemporer yang menggabungkan bunyi synthesizer kelam dengan dentuman kendang yang ritmis.
Laras melangkah ke panggung utama yang berbentuk lingkaran di tengah-tengah club. Lampu sorot tunggal jatuh tepat di atas kepalanya. Suasana club yang tadinya riuh mendadak senyap. Para tamu VIP yang tadinya sibuk dengan gelas mereka, kini terpaku.
Laras mulai bergerak.
Gerakannya lambat namun penuh tenaga. Setiap ayunan lengannya menciptakan siluet yang indah di udara. Ia tidak menggoda dengan cara yang murahan; ia menggoda melalui keanggunan. Saat ia memutar tubuhnya dan sampur putihnya berkibar, Elang merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sebuah getaran halus yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.
Elang adalah pria yang dingin. Ia tegas, teguh pada pendirian, dan tidak pernah membiarkan emosi menguasainya. Namun melihat Laras, ia merasa seperti sedang melihat sebuah mahakarya yang hidup. Laras menari seolah-olah dunia ini tidak ada, seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan Tuhan melalui gerak tubuhnya.
"Cantik," gumam Elang tanpa sadar.
Jantung Elang berdegup lebih kencang saat Laras melakukan gerakan ndhedhet—sedikit membungkuk dengan tatapan mata yang tajam namun lembut ke arah depan. Meskipun Laras tidak bisa melihat Elang yang tersembunyi di balik kegelapan lantai atas, tatapan mata Laras seolah menembus kaca satu arah itu dan langsung menusuk jantung Elang.
Ada sesuatu yang sangat liar namun terkendali dalam diri penari itu. Sesuatu yang membuat Elang merasa ingin segera turun ke sana, menghentikan musiknya, dan membungkus tubuh gemulai itu dengan jasnya agar tidak ada mata lain yang boleh melihat keindahan itu.
"Dia tidak boleh pergi begitu saja setelah ini," ucap Elang, suaranya kini terdengar seperti perintah perang.
"Maksud Anda, Tuan? Anda ingin menemuinya?" tanya sang manajer bingung. Biasanya Elang tidak pernah mau bertemu dengan "hiburan" malam.
Elang terdiam. Ia memperhatikan bagaimana Laras menyelesaikan tariannya dengan sebuah pose yang begitu agung, napasnya yang terengah-engah membuat dada perempuan itu naik turun dengan ritme yang menggoda secara alami.
"Tidak sekarang," jawab Elang pendek. Ia merasakan sebuah rasa penasaran yang membakar. Ia tidak ingin menjadi sekadar pria yang memberinya uang tip. Ia ingin tahu siapa Laras Maheswari. Kenapa matanya begitu tulus di tempat sekelam ini? Kenapa gerakannya begitu gemulai namun terasa sangat kuat?
"Cari tahu semuanya tentang dia. Di mana dia tinggal, siapa teman-temannya, berapa hutangnya, dan apa yang dia suka. Semuanya. Tanpa kecuali," perintah Elang. Ia mematikan lighter-nya dengan bunyi klik yang tajam, menandakan sebuah keputusan yang tak bisa diganggu gugat.
Di bawah sana, Laras membungkuk hormat. Ia tersenyum tipis pada penonton, senyum yang tulus meski ia merasa sangat lelah. Ia tidak tahu bahwa senyum itu baru saja memicu obsesi besar dalam diri sang pemilik langit malam.
Laras segera berbalik dan berjalan menuju belakang panggung, ingin cepat-cepat berganti baju dan pulang ke kamarnya yang sempit bersama Maya. Ia merasa tugasnya selesai. Ia merasa telah mendapatkan uang yang ia butuhkan.
Namun di lantai atas, Elang masih berdiri di depan kaca, menatap panggung kosong yang tadi ditempati Laras. Ia merasa panggung itu kini terasa mati tanpa kehadiran perempuan itu.
"Laras Maheswari..." Elang mengeja nama itu di dalam hatinya. Nama yang terdengar seperti melodi di tengah hiruk-pikuk kekacauan hidupnya.
Elang tidak akan terburu-buru. Ia adalah seorang pemburu yang sabar. Ia akan membiarkan Laras kembali ke dunianya yang sunyi untuk sementara waktu, sebelum ia menarik perempuan itu masuk ke dalam sangkar emasnya yang tak tertembus.
Keteguhan pendirian Elang kini memiliki objek baru. Dan sekali Elang Dirgantara menetapkan pandangannya pada sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya. Tidak akan pernah.