NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

“Isi di dalamnya disebut Bubuk Pembuka Nadi. Obat ini dapat membersihkan pembuluh tenaga dalam, memungkinkan seseorang berlatih jauh lebih cepat untuk jangka waktu tertentu. Selain itu, ia juga memiliki efek pemulihan yang sangat baik bagi pembuluh tenaga dalam yang rusak karena sebab apa pun. Bahkan di dalam Perguruan Wijaya pusat, ini termasuk obat yang sangat manjur.”

Maknanya jelas—jika di perguruan pusat saja obat ini dianggap manjur, maka bagi mereka, nilainya setara dengan ramuan dewa kelas atas.

Kalimat “memiliki efek pemulihan yang sangat baik bagi pembuluh tenaga dalam yang rusak” membuat raut wajah Nata Wijaya—yang sejak tadi diam—tiba-tiba bergetar. Sorot aneh melintas di matanya, namun seketika itu pula ia menghela napas dalam hati, ekspresinya kembali meredup.

Jati Wijaya menyimpan kotak kayu itu dengan hati-hati, lalu berkata dengan wajah penuh rasa terima kasih, “Karena ini adalah obat dari perguruan pusat, tentu khasiatnya jauh melampaui bayangan saya. Saya tidak tahu bagaimana Keluarga Wijaya dapat membalas budi besar Tuan Muda Darma… Jika Tuan Muda tidak perlu beristirahat, bagaimana jika saya menugaskan beberapa orang untuk menemani berkeliling kediaman atau Kota Tirta Awan? Meski kota kecil, ada beberapa tempat yang mungkin dapat menyenangkan hati.”

Melihat Darma Wijaya tidak menolak, Jati segera meraih Sandi dan menariknya mendekat. “Ini putra saya, Sandi Wijaya. Usianya kurang lebih sebaya dengan Tuan Muda. Bagaimana jika dia yang menemani Tuan Muda berjalan-jalan?”

Maksud Jati sangat jelas: ia ingin agar Sandi, sebisa mungkin, menjadi orang pertama yang akrab dengan Darma. Dengan begitu, peluangnya untuk dibawa ke pusat akan semakin besar.

“Hamba bernama Sandi Wijaya. Dapat menyaksikan keagungan Tuan Muda adalah keberuntungan seumur hidup,” kata Sandi melangkah maju, sikapnya rendah hati dan sopan.

Darma menatapnya sekilas, lalu berkata datar, “Baik. Antar kami berkeliling. Aku sudah terlalu lama berada di pusat kerajaan yang ramai; sesekali melihat daerah terpencil juga tidak buruk. Kalian yang lain bubar saja.”

“Baik, baik!” sahut Jati Wijaya cepat. “Sandi, layani tamu agung kita dengan baik.”

Jati dan kelima tetua pun mundur dengan penuh hormat. Karena hari sudah sore, urusan resmi ditunda hingga esok hari.

Sandi berdiri di sisi Darma dan membungkuk sopan. Dengan senyum di wajahnya, ia berkata, “Tuan Muda Darma, meski Kota Tirta Awan ini kecil, namun segala yang seharusnya ada, tersedia di sini. Entah Tuan Muda ingin menikmati pemandangan, hidangan lezat, atau… para wanita cantik?”

Melihat senyum samar di wajah Sandi, mata Darma berbinar, dan wajahnya menampakkan seringai cabul. “Sebagai sesama pria, menurutmu apa yang seharusnya kita nikmati terlebih dahulu?”

Sandi segera terkekeh. “Sekilas saja sudah tampak bahwa Tuan Muda adalah pria sejati! Sebagai pria sejati, tentu kita harus menikmati hal-hal yang disukai pria sejati. Meski kota kecil, 'Rumah Wewangian Surgawi' di kota kami tersohor luas. Bagaimana kalau kita ke sana?”

“Kau cukup tahu diri, Nak,” ujar Darma dengan bibir melengkung. “Ayo berangkat.”

Tepat ketika mereka hendak pergi, bayangan seorang gadis cantik memasuki pandangan Darma.

Sosok gadis itu begitu menawan. Di balik gaun panjang berwarna biru langit, ia memancarkan daya tarik yang mengguncang jiwa, disertai sikap anggun dan kebanggaan yang seolah melampaui dunia ini.

Mulut Darma ternganga, tubuhnya membeku. Matanya terpaku tanpa berkedip pada siluet Ratna di kejauhan. Seolah menyadari tatapannya, Ratna menoleh sedikit, meliriknya dengan dingin, lalu memalingkan wajah dan melangkah masuk ke halaman paviliunnya.

Lama setelah Ratna menghilang, Darma masih belum sadar. Hati Sandi langsung berdenyut cemas. Di Kota Tirta Awan yang kecil ini, wanita mana yang dapat lolos dari incaran Darma? Dan jika ia mengincarnya, itu berarti Sandi takkan pernah bisa memiliki Ratna.

Meski demikian, demi ambisinya, Sandi berbisik pelan, “Tuan Muda Darma?”

“Gadis itu… siapa gadis itu? Dunia ini… benar-benar memiliki wanita secantik itu! Semua istri dan selirku di ibu kota… jika digabungkan pun tak sebanding dengannya. Dia benar-benar bidadari…” suara Darma bergetar karena kegirangan.

Sandi segera bersikap seolah tulus. “Namanya Ratna Pradana, wanita tercantik di Kota Tirta Awan.”

“Ratna Pradana? Berarti dia bukan anggota Keluarga Wijaya?”

“Benar!” Sandi mengangguk. “Dia putri saudagar terkaya di sini, Heru Pradana. Ia baru menikah masuk ke keluarga kami tiga hari lalu, menjadi istri cucu Tetua Kelima, Arka Wijaya.”

“Apa? Dia sudah menikah?” raut Darma memperlihatkan kekecewaan, yang seketika berubah menjadi kecemburuan membara. “Menikah ke keluarga cabang kalian… ini sungguh keterlaluan! Bagaimana mungkin cucu tetua kecil di sini pantas bagi bidadari seperti itu?!”

“Benar sekali!” Sandi segera memanas-manasi. “Hanya orang berderajat tinggi seperti Tuan Muda yang layak baginya. Tuan Muda mungkin belum tahu, pria yang dinikahinya, Arka, adalah orang paling tak berguna di sini. Pembuluh tenaga dalamnya cacat sejak kecil. Benar-benar aib bagi kami.”

“Apa?!” wajah Darma memerah. “Kecantikan seperti itu justru menikah dengan sampah semacam itu! Ini tak dapat dimaafkan!”

Darma segera melangkah menuju halaman yang dimasuki Ratna. Namun, suara berat terdengar dari belakang, “Tuan Muda. Ketua Perguruan telah memperingatkan agar engkau tidak melakukan hal yang merendahkan reputasi perguruan—terutama merebut istri orang lain secara terang-terangan.”

Langkah Darma terhenti karena teguran Tetua Mahesa. Ia tampak tidak rela, namun tetap patuh.

Sandi segera mendekat dan berkata pelan, “Tuan Muda Darma… jika Tuan Muda menginginkan Ratna, tidak perlu menggunakan kekerasan. Ada banyak cara halus untuk melakukannya.”

“Cara apa?” Darma menatapnya tajam.

Sandi membisikkan sesuatu dengan cepat. Setelah selesai, mata Darma langsung berbinar dengan senyum licik.

“Sangat baik. Benar-benar sangat baik,” Darma mengangguk pelan.

“Sebenarnya, di keluarga kami, bukan hanya Ratna yang cantik,” ujar Sandi dengan suara rendah. “Tetua Kelima, Nata Wijaya, memiliki seorang putri bernama Lili Wijaya yang baru berusia lima belas tahun, namun sudah merupakan kecantikan luar biasa. Ia tidak kalah jauh dari Ratna… Apakah Tuan Muda tertarik?”

“Usia lima belas… dan hampir secantik tadi?” mata Darma memancarkan kilau seperti serigala kelaparan.

Sandi kembali mendekat dan berbisik, “Jika Tuan Muda tertarik, ini malah lebih mudah. Caranya sederhana, kita hanya perlu…”

Sandi kembali membisikkan siasat busuknya ke telinga Darma.

“HAHAHA! HAHAHA….” Darma tertawa terbahak. “Perjalanan ke tempat terpencil ini sungguh tidak sia-sia.”

Tatapannya beralih kepada Sandi, lalu ia mengangguk puas. “Namamu… Sandi Wijaya, bukan? Kau cukup bagus, lumayan. Jika dua perkara ini berhasil, maka setelah kita kembali ke Perguruan Wijaya pusat, ikutlah di sisiku.”

“Ah!” Seluruh tubuh Sandi bergetar. Ia begitu terharu hingga langsung berlutut dan bersujud dalam-dalam. “Sandi berterima kasih atas kemurahan hati Tuan Muda! Saya akan setia sepenuh hati melayani Tuan Muda!”

Dapat masuk ke Perguruan Wijaya pusat saja sudah luar biasa, namun menjadi orang kepercayaan putra ketua perguruan adalah tiket emas menuju kekuasaan yang sesungguhnya.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!