NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 – Luka Lama yang Tidak Pernah Hilang

Pagi itu suasana kantor pusat perusahaan Areksa seperti biasa terlihat sibuk. Gedung tinggi yang berdiri megah di tengah kota itu dipenuhi karyawan yang lalu lalang membawa berkas, mengetik laporan, dan menghadiri rapat penting. Nama Areksa sudah lama dikenal di dunia bisnis. Ia adalah CEO muda yang disegani. Tegas, dingin, dan sulit ditebak.

Namun di balik semua itu, hampir tidak ada yang tahu sisi lain dari kehidupan pria itu.

Di dalam ruang kerjanya yang luas dan rapi, Areksa sedang menandatangani beberapa dokumen penting. Jas hitamnya terlihat rapi, wajahnya tetap tenang seperti biasanya. Ia membaca laporan dengan fokus, seolah tidak ada hal lain yang bisa mengganggunya.

Tok tok.

Ketukan di pintu terdengar.

“Masuk,” ucap Areksa tanpa mengangkat kepala.

Pintu terbuka perlahan. Namun yang masuk bukan sekretarisnya.

Seorang wanita muda masuk sambil menggendong seorang anak kecil. Di belakangnya berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam yang jelas merupakan pengawal.

Wanita itu adalah baby sitter yang khusus dipekerjakan untuk menjaga anak Areksa.

Sementara pria itu adalah bodyguard yang sengaja disewa oleh Areksa sendiri.

Anak kecil di gendongan itu langsung menoleh ke seluruh ruangan dengan mata berbinar. Rambutnya hitam lembut dan wajahnya tampan seperti boneka kecil.

Itu adalah Resa.

Putra kecil yang menjadi bagian hidup Areksa.

Resa baru berusia satu tahun.

Begitu melihat Areksa duduk di kursinya, mata anak kecil itu langsung berbinar.

“Pa!”

Suara kecilnya membuat Areksa akhirnya mengangkat kepala.

Wajah dingin pria itu sedikit berubah ketika melihat anak kecil itu.

“Kalian datang?” tanya Areksa datar.

Baby sitter itu tersenyum sopan.

“Maaf mengganggu, Pak. Tadi Resa terus menangis ingin bertemu Bapak.”

Bodyguard di belakangnya tetap berdiri diam.

Areksa menghela napas pelan.

Ia berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat.

Resa langsung mengulurkan kedua tangannya.

“Pa… Pa…”

Areksa mengambil anak kecil itu dari gendongan baby sitter. Tubuh kecil itu langsung memeluk lehernya dengan erat.

Untuk sesaat, wajah dingin Areksa melembut.

Namun hanya sebentar.

Resa menatap wajah Areksa dengan polos.

“Papa…”

“Iya,” jawab Areksa pelan.

Anak kecil itu kemudian bertanya dengan suara yang masih terbata-bata,

“Mama… mana?”

Pertanyaan sederhana itu seperti menghantam sesuatu di dalam hati Areksa.

Ia terdiam.

Matanya yang tajam tiba-tiba terlihat kosong.

“Mama…?” Resa bertanya lagi.

Areksa menatap wajah kecil itu beberapa detik.

Ia tidak langsung menjawab.

Baby sitter itu terlihat sedikit canggung. Ia tahu pertanyaan seperti itu sering keluar dari Resa, tapi tetap saja membuat suasana menjadi sunyi.

Areksa akhirnya mengalihkan pandangannya ke jendela besar di ruangannya.

“Mamamu… tidak ada,” jawabnya singkat.

Namun Resa masih menatapnya dengan bingung.

“Mama… mana?”

Pertanyaan itu kembali terdengar.

Dan kali ini, ingatan lama mulai menyeret Areksa jauh ke masa lalu.

---

Bertahun-tahun yang lalu.

Saat hidup Areksa belum serumit sekarang.

Ia masih menjadi pria yang sering tersenyum.

Saat itu ia memiliki seorang kakak perempuan yang sangat ia sayangi.

Namanya Alena.

Alena adalah kakak yang lembut dan ceria. Sejak kecil, ia selalu menjaga Areksa seperti anaknya sendiri.

Namun suatu malam, hidup mereka berubah selamanya.

Malam itu Alena pulang dengan kondisi yang tidak biasa.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya gemetar.

Bajunya berantakan.

Areksa yang melihatnya langsung panik.

“Kak, kamu kenapa?”

Namun Alena tidak menjawab.

Ia hanya menangis.

Tangisan yang begitu hancur sampai membuat Areksa tidak tahu harus berbuat apa.

Beberapa hari kemudian kebenaran itu akhirnya terungkap.

Alena diperkosa.

Kejadian itu menghancurkan hidupnya.

Ia berubah menjadi orang yang berbeda.

Sering menangis.

Sering ketakutan.

Dan semakin hari kondisi mentalnya semakin memburuk.

Bulan demi bulan berlalu.

Kemudian satu kabar lain datang.

Alena hamil.

Kabar itu seperti petir yang menyambar keluarga mereka.

Papa dan Mama Areksa hampir tidak percaya.

Namun Alena menolak untuk menggugurkan kandungan itu.

“Aku… tidak bisa membunuh anak ini…” katanya sambil menangis.

Kehamilan itu bukanlah masa yang mudah.

Kondisi mental Alena semakin tidak stabil.

Ia sering melukai dirinya sendiri.

Sering berteriak tanpa alasan.

Bahkan beberapa kali hampir kehilangan nyawanya.

Areksa selalu berada di sampingnya.

Ia yang menjaga kakaknya setiap hari.

Ia yang menenangkan kakaknya ketika malam tiba.

Ia yang memastikan kakaknya tetap bertahan hidup.

Sampai akhirnya hari kelahiran itu datang.

Hari yang tidak akan pernah dilupakan Areksa.

Di ruang rumah sakit yang penuh ketegangan, Alena berjuang mati-matian melahirkan anaknya.

Teriakannya menggema di ruangan.

Dokter dan perawat bekerja dengan panik.

Areksa berdiri di luar ruangan dengan tangan gemetar.

Beberapa jam terasa seperti seumur hidup.

Sampai akhirnya tangisan bayi terdengar.

Seorang bayi laki-laki lahir ke dunia.

Namun kondisi Alena sangat kritis.

Dokter berusaha menyelamatkannya.

Namun tubuhnya sudah terlalu lemah.

Ketika Areksa akhirnya diizinkan masuk ke dalam ruangan, Alena sudah hampir tidak sadar.

Di tangannya ada bayi kecil yang baru saja lahir.

Bayi itu begitu kecil.

Namun wajahnya tampan.

Seperti malaikat kecil.

Alena menatap Areksa dengan mata yang sudah sangat lemah.

“Reksa…”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Areksa mendekat dengan cepat.

“Kak…”

Alena mengangkat bayi itu sedikit.

“Jaga… dia…”

Air mata Areksa langsung jatuh.

“Kak… jangan bicara seperti itu.”

Namun Alena hanya tersenyum lemah.

“Namanya… Resa…”

Itu adalah kata terakhir yang ia ucapkan.

Beberapa saat kemudian, alat monitor di ruangan itu berbunyi panjang.

Alena meninggal.

Dan sejak hari itu, bayi kecil itu menjadi bagian hidup Areksa.

Ia membesarkan Resa seperti anaknya sendiri.

Bukan sebagai paman.

Tapi sebagai ayah.

---

Ingatan itu perlahan memudar.

Areksa kembali ke kenyataan ketika Resa masih memeluk lehernya.

“Mama… mana?” tanya anak kecil itu lagi.

Areksa menatap wajah kecil itu dengan tenang.

Ia mengusap rambut Resa pelan.

“Mama… ada di tempat yang jauh.”

Resa tidak sepenuhnya mengerti.

Namun ia hanya memeluk Areksa lebih erat.

Sementara di dalam hati Areksa, luka lama itu masih ada.

Luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!