NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aliansi Berulah Lagi

Liana meremas ujung kain penutup dari klinik dengan geram. Panggilan jiwa untuk melakukan pembalasan dendam lebih kuat daripada rasa penasarannya pada ancaman Derby. Jika godaan fisik tidak bisa meruntuhkan Morgan, maka penghinaan terhadap kredibilitas akademisnya adalah jalan pintas yang paling sempurna.

"Hanya karena dia dosen, bukan berarti dia bisa mengatur segalanya," gumam Liana saat ia melangkah keluar dari klinik menuju ruang ujian tengah semester mata kuliah Makroekonomi Dasar.

Di depan ruang ujian, Jeffrey dan Albert sudah menunggu dengan wajah pucat. Mereka tampak seperti narapidana yang menunggu antrean kursi listrik. Albert terus-menerus mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai porselen, sementara Jeffrey sibuk menyeka keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan kumal.

"Kalian sudah siap?" tanya Liana, suaranya rendah namun penuh otoritas.

"Kau yakin ini akan berhasil, Liana?" Jeffrey berbisik sambil merogoh saku celananya, memastikan lembaran kecil kertas berisi rumus-rumus terlarang masih ada di sana. "Morgan punya mata di mana-mana. Jika kita tertangkap, ini bukan lagi soal esai sepuluh ribu kata. Kita bisa dikeluarkan!"

"Dia tidak akan berani mengeluarkan adik temannya sendiri," jawab Liana dengan percaya diri yang keliru. Ia menyelipkan sebuah perangkat kecil menyerupai alat bantu dengar ke balik rambut panjangnya. "Kita hanya perlu membuat dia terlihat bodoh karena gagal mengawasi kelasnya sendiri. Aku yang akan memimpin komunikasinya."

Ujian dimulai tepat pukul satu siang. Morgan masuk ke ruangan dengan setelan jas hitam yang sama kaku dengan wajahnya. Ia meletakkan jam saku peraknya di atas meja pengawas dengan bunyi klik yang presisi. Tidak ada kata sambutan, hanya tatapan tajam yang menyapu seluruh ruangan, seolah ia bisa mencium bau kecurangan dari udara yang dihirup mahasiswa.

"Satu jam enam puluh menit. Tidak ada toleransi untuk keterlambatan pengumpulan," ucap Morgan datar sambil mulai membagikan lembar soal.

Liana mulai bekerja. Melalui mikrofon kecil yang tersembunyi, ia membisikkan jawaban-jawaban kepada Jeffrey dan Albert. Mereka menggunakan kode ketukan pulpen untuk saling mengonfirmasi. Tak-tak untuk jawaban A, tak-tak-tak untuk B. Suasana ruangan yang hening membuat suara ketukan itu terdengar sangat jelas di telinga Liana, namun ia yakin Morgan yang berada di depan kelas tidak akan menyadarinya.

Selama empat puluh menit pertama, rencana itu berjalan mulus. Liana melirik ke arah Morgan. Pria itu tampak sedang membaca sebuah buku tebal, kepalanya tertunduk, dan kacamata bacanya merefleksikan cahaya lampu ruangan.

Liana tersenyum miring. Robot pun bisa lengah, pikirnya.

Namun, Liana tidak menyadari bahwa Morgan tidak pernah benar-benar membaca bukunya. Mata Morgan bergerak secara ritmis, bukan mengikuti baris kalimat di buku, melainkan mengikuti pola gerakan bahu Jeffrey dan kecepatan ketukan pulpen Albert melalui pantulan kaca di lemari buku di belakangnya.

Tiba-tiba, Morgan berdiri tanpa suara. Ia berjalan menyusuri lorong antar meja dengan langkah yang sangat pelan, nyaris tanpa suara di atas karpet tipis ruangan itu.

Liana sedang asyik membisikkan rumus Aggregate Demand ketika sebuah bayangan besar jatuh menutupi lembar soalnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Saudara Jeffrey, silakan angkat tangan Anda dari bawah meja," suara Morgan terdengar tepat di samping telinga Jeffrey.

Jeffrey membeku. Wajahnya berubah dari pucat menjadi seputih kertas. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat tangannya, dan selembar kertas kecil jatuh ke lantai.

"Dan Saudara Albert," Morgan melangkah menuju meja Albert tanpa menoleh, tangannya bergerak secepat kilat menyambar ponsel yang disembunyikan di balik paha mahasiswa itu. "Penggunaan perangkat elektronik selama ujian adalah pelanggaran tingkat satu."

Ruangan ujian seketika menjadi sangat sunyi. Semua mata tertuju pada mereka. Liana mencoba bersikap tenang, namun ia bisa merasakan hawa dingin mulai merambat di punggungnya. Ia buru-buru mencoba melepas alat bantu dengar di telinganya, namun tangan Morgan sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Jangan repot-repot, Liana," bisik Morgan, suaranya sangat rendah hingga hanya Liana yang bisa mendengarnya. Morgan menarik lembut namun paksa tangan Liana, memperlihatkan alat komunikasi kecil yang masih menempel di jemari gadis itu.

Morgan tidak berteriak. Ia tidak memaki. Ia justru kembali ke depan kelas dengan wajah yang sangat tenang, memegang semua bukti kecurangan itu di tangannya. Ia mengambil jam saku peraknya dan memasukkannya ke dalam saku jas.

"Ujian selesai untuk kalian bertiga," ucap Morgan. Ia menunjuk ke arah pintu dengan gerakan kepala yang sangat formal. "Kumpulkan lembar jawaban kalian sekarang. Kosong atau tidak, itu akan menjadi nilai akhir kalian untuk semester ini."

"Pak Morgan, ini tidak adil! Liana yang menyuruh kami!" teriak Jeffrey yang mulai panik.

Morgan menatap Jeffrey dengan tatapan yang sangat tajam, membuat mahasiswa itu seketika bungkam. "Di kelas saya, pelaku dan provokator memiliki kedudukan yang sama: bersalah. Sekarang, keluar."

Liana bangkit dengan amarah yang meluap-luap. Ia menghentakkan kakinya saat melewati meja Morgan. "Kau puas? Kau menghancurkan masa depan mereka hanya untuk egomu?!"

Morgan tidak menjawab sampai mereka berdua berada di koridor yang sepi, sementara Jeffrey dan Albert berdiri lesu di kejauhan. Morgan melepaskan kacamata bacanya, lalu memijat pangkal hidungnya dengan ekspresi sangat lelah.

"Kau pikir ini tentang egoku, Liana?" Morgan berbalik menghadap Liana, ia merapatkan jarak hingga Liana terdesak ke dinding koridor. "Kau baru saja memberikan alasan bagi fakultas untuk mengeluarkanmu secara tidak hormat. Kau ingin membuatku malu? Selamat, kau berhasil. Tapi kau juga berhasil membuat Liam terlihat seperti kakak yang gagal mendidik adiknya."

Liana memalingkan wajah, namun Morgan memegang dagunya, memaksa Liana menatap mata cokelat gelapnya yang kini berkilat marah.

"Aku bisa saja menyerahkan bukti ini ke dekanat dan membiarkan kalian bertiga di-drop out sore ini juga," ucap Morgan, suaranya terdengar seperti geraman yang tertahan. "Tapi Liam memintaku untuk menjagamu. Jadi, aku akan memberikan kalian pilihan."

"Pilihan apa?" tanya Liana sinis.

"Sanksi internal dariku," Morgan melepaskan dagu Liana dan merapikan lengan kemejanya. "Selama satu minggu ke depan, setelah jam kuliah berakhir hingga pukul sepuluh malam, kalian bertiga akan berada di perpustakaan pusat. Bukan untuk belajar, tapi untuk membersihkan setiap rak, menyusun ulang sepuluh ribu buku yang berantakan, dan mengepel lantai gedung empat lantai itu sendirian. Tanpa bantuan petugas kebersihan."

Liana ternganga. "Satu minggu?! Sampai jam sepuluh malam?! Kau gila! Perpustakaan itu sangat luas!"

"Itu lebih baik daripada surat pemecatan," Morgan mengambil tasnya dan mulai berjalan menjauh. "Dan jangan berpikir untuk kabur. Aku akan berada di sana setiap malam, mengawasi kalian dari meja pustakawan. Dan Liana ... jika aku melihat kancing bajumu 'lepas' lagi sebagai alasan untuk berhenti bekerja, aku sendiri yang akan menjahit kemejamu dengan stapler kertas."

Liana hanya bisa berdiri mematung saat Morgan menghilang di balik belokan koridor. Ia menoleh ke arah Jeffrey dan Albert yang menatapnya dengan pandangan menyalahkan.

"Ini semua rencanamu, Liana!" Albert menendang tong sampah di dekatnya. "Sekarang kita jadi kacung perpustakaan selama seminggu!"

Liana tidak mendengarkan. Ia merogoh ponselnya, melihat pesan dari Derby yang belum ia balas. Aku punya rencana sore ini.

Liana tersenyum pahit. Rencana Derby harus batal. Ia kini terjebak di dalam gedung tua yang penuh debu bersama dua orang yang membencinya, di bawah pengawasan pria yang baru saja membuktikan bahwa robot pun bisa memberikan hukuman yang sangat manusiawi: rasa lelah yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!