Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Perkelahian.
"Kayaknya dia udah lari jauh deh, udah gue cari tau-tau nggak ada disini?" Kata Reno kemudian menatap kearah gang yang sangat gelap.
Kemudian Kevin pun, berkata."kalau gitu, kita nyusul Cahya aja ke pinggiran kota! Buat bantu dia? Pasti disana ramai orang yang jagain, tempat bokapnya Cahya disekap?"
Kemudian Reno, Ridho dan Kevin segera berbalik dan langsung menuju pinggiran kota untuk membantu Cahya menyelamatkan bokapnya.
Sementara di dalam Markas berandalan didekat tangga menuju keatas gedung.
Cahya yang sedang memegang pundak jauhari langsung berkata dengan suara Cewek milik Cahya sendiri.
"Sabar bro, jangan pergi dulu?" Kata Cahya dengan suara manis dan feminimnya terdengar.
Lalu rombongan jauhari yang mendengar terbengong kemudian Cahya dan Megy langsung melancarkan serang kepada mereka rombongan berandalan.
"Kraaaak...bak...buk..bak..buk.. kraaaak.."
dengan tiba-tiba saja tanpa berlama-lama Megy dan Cahya berhasil melumpuhkan Rombongan jauhari kemudian langsung menyeret Rombongan Jauhari untuk meninggalkan jejak bekas perkelahian.
Lalu Megy dan Cahya segera meletakkan Rombongan Jauhari yang sudah Tewas akibat serangan yang dilakukan tadi oleh Cahya.
Kemudian setelah menyimpan jasad Jauhari, Cahya dan Megy berjalan mengendap-endap menuju keatas atap gedung.
Tidak berapa lama kemudian saat Megy dan Cahya yang hendak membuka pintu menuju atas atap gedung itu mendengar ucapan seorang pria berbicara dengan dingin.
"Lebih baik lu, nggak usah berharap dengan kehadiran putri-putri lu yang tercinta itu! Karena anak buahku sudah pasti berhasil membunuh mereka berdua? Hehehe" Ucap seorang Pria bernama edwin kurniawan itu dengan nada dingin seakan-akan sudah berhasil.
Sementara Cahya yang sudah mendengar ucapan dari edwin kurniawan itu dengan sangat keras mengepalkan tangannya kemudian hendak berdiri segera membuka pintu. Namun, di cegah oleh Megy.
Lalu Megy dengan berbisik, berkata."Cah, lu jangan terlalu emosi untuk langsung selamatin ayah? Kita harus menyerang dan menghadapi mereka dengan berkepala dingin supaya bisa berpikir dengan jernih?"
"Oh ya kak?" Jawab Cahya kemudian segera duduk kembali mengurungkan niatnya untuk langsung menghadapi mereka.
"Kalau kita melewati pintu ini pasti mereka sudah menjaganya, lebih baik kita gunakan aja dengan cara yang lain supaya kita bisa ke atas atap gedung ini?" Kata Cahya dengan dingin melihat kearah sekitar.
Tidak lama kemudian saat Cahya dan Megy sedang berpikir kemudian mereka mendengar langkah kaki sedang menuju kearah pintu kearah Cahya dan Megy sedang berbincang.
"Sssttttt.. ada yang mendekat, ikuti aku?" Kata Cahya lalu segera beranjak pergi menjauh dari pintu masuk ke atas atap gedung.
Tidak berapa lama saat Cahya dan Megy beranjak pergi muncul seorang pria dengan berwajah sangar keluar kearah tempat Megy dan Cahya berbicara.
"Loh, kok nggak ada orang disini tadi gue denger ada suara disini?" Kata Hendra dengan mata tajam menatap kesekitar tempat itu.
Sementara Megy dan Cahya yang sedang berbunyi segera menatap pemuda itu.
Begitu melihat batu yang ada di dekat kaki dan Hendra ingin berbalik membuka pintu untuk keatas atap dia mendengar ada suara.
Cahya yang baru saja melemparkan batu kearah drum itu segera bersembunyi dibalik kegelapan. Dan Hendra segera menuju drum itu yang berbunyi ketika sudah mendekati drum.
Megy langsung mengambil tindakan dengan menendang Hendra hingga membuat Hendra terdorong kedepan mendorong drum yang ada disekitarnya lalu Megy mendekati Hendra yang sudah terhuyung itu lalu mencekik Hendra dari belakang dengan sigap Hendra membanting Megy hingga Megy segera muntah darah akibat membentur drum di sekitar sana.
Dan tidak lama kemudian Hendra segera mendekati Megy yang sudah tergeletak akibat kena banting.
Saat Hendra ingin mendekati Megy, Cahya segera melompat lalu mendarat di pundak Hendra hingga dengan cepat Cahya segera menepuk telinga Hendra hingga berdarah kemudian langsung memutar kepala Hendra kemudian Cahya membanting Hendra hingga Cahya mendarat di lantai.
Kemudian Cahya menghampiri Megy yang sedang terluka.
"Lu nggak apa-apa kan, kak? Yuk kita bersembunyi dulu?" Kata Cahya sembari membantu Megy berdiri.
Lalu Megy dengan cepat langsung berdiri kemudian mengikuti Cahya bersembunyi. Sementara diatas atap gedung edwin kurniawan yang sedang ingin menyiksa Eko Wijaya supaya menyerah dan dengan suka rela menanda tangani file supaya pindah kepemilikan mendengar suara drum yang sangat nyaring terdengar olehnya.
"Hei, Septian itu di dalam coba lu periksa? Ada apa itu?" Kata Edwin Kurniawan sembari menatap kearah Eko Wijaya yang sudah terluka akibat siksaan dari Edwin Kurniawan.
Septian lalu langsung mengangguk atas ucapan Edwin Kurniawan lalu dengan mantap berjalan kearah pintu untuk memeriksa didalam.
Begitu Septian sampai di dalam melihat drum berantakan kemudian Ia mendekati Hendra yang sudah tergeletak dengan telinga berdarah hingga kepala terpelintir dengan tidak wajar lalu dengan cepat Septian melihat kearah sekitar tempat itu dengan Cepat dan Tiba-tiba Cahya segera menepuk pundak septian dengan lembut hingga membuat Septian berbalik melihat kearah Cahya tanpa menunggu suara dari Septian Cahya segera memukul Septian kemudian membantingnya tanpa berkutik sama sekali.
Kemudian dengan seketika Septian tewas mengenaskan.
Lalu dengan cepat Cahya berjalan ke arah Megy lalu mengajak Megy untuk segera membuka Pintu.
Dengan cepat Megy mencegah Cahya untuk memutar Handel pintu lalu Megy menggelengkan kepala sembari berkata."Cah.. lebih baik kita nggak usah lewat sini, gue yakin mereka mendengar keributan barusan! Lebih baik kita gunakan nembus tembok ini aja."
"Hei Santo, kalian jaga disana? Jangan sampai mereka berhasil kearah atas sini? Kalian harus waspada berjaga-jaga di pintu, jangan sampai mereka berhasil kesini?" Kata Edwin yang menyuruh anak buah nya berjaga di pintu.
Ketika Edwin sibuk memerintah anak buahnya untuk berjaga dipintu lalu dengan tiba-tiba saja Cahya serta Megy langsung menghancurkan tembok yang ada disekitar sana.
Hingga menyebabkan orang yang berjaga di dekat tembok segera terdorong akibat pecahan tembok yang hancur.
Setelah Tembok hancur muncul sosok Cahya dan Megy melewati tembok yang jebol kemudian dengan mata yang tajam menatap kearah ayahnya Eko Wijaya penuh dengan banyak luka.
"Ayaaaaaaah!" Teriak Megy melihat ayahnya yang terluka parah dengan sangat mengerikan.
"Ayaaaaaah, bertahan ya? Kami akan bebasin ayah?" Ucap Cahya yang sudah berlinang air mata melihat ayahnya terluka.
"Ya Nak! Kalian jangan khawatir ayah nggak apa-apa kok? Ayah tau kalau ada putri-putri ayah, pasti mereka semua nggak akan selamat?" Kata Eko Wijaya yang masih tergeletak yang penuh dengan luka.
"Apanya yang nggak apa-apa orang udah luka gitu!" Kata Cahya sembari sesenggukan dan mengelap air mata yang membasahi pipinya.
Lalu dengan sangat dingin dan tajam Cahya serta Megy menatap Edwin kurniawan dan anak buahnya. Dengan sangat penuh emosi Cahya dan Megy mengepalkan tangannya pertanda kalau Cahya dan Megy benar-benar sudah marah akibat luka yang di derita oleh Eko Wijaya.
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke