NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahta di Balik Asap Mesiu

Malam di pegunungan itu terasa lebih pekat dari biasanya. Di dalam ruang strategi yang terletak di rubanah mansion, cahaya biru dari monitor raksasa memantul di wajah Rebecca yang dingin. Di hadapannya, Vargo, Erica, dan Liam berdiri dalam posisi istirahat sempurna. Mereka tidak lagi menatapnya sebagai gadis yang harus dijaga; ada rasa hormat baru di mata mereka setelah insiden penembakan Bianca d'Angelo di pusat kota.

Maximilian berdiri di sudut ruangan, bayangannya memanjang di dinding beton. Ia memegang segelas wiski, namun matanya tidak lepas dari Rebecca. Malam ini, Max melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: ia menyerahkan tablet komando kepada Rebecca.

"Sisa-sisa kekuatan Valenti bersembunyi di gudang logistik sektor tujuh, dekat perbatasan dermaga tua," suara Maximilian rendah, namun mengisi setiap sudut ruangan. "Mereka adalah dalang di balik serangan terhadap Bianca, bertujuan untuk memicu perang antara Moretti dan d'Angelo. Aku bisa saja meratakannya dalam sepuluh menit dengan tim taktis utama."

Max melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Rebecca, meletakkan tangannya di bahu gadis itu. "Tapi malam ini, mereka bukan milikku. Mereka adalah milikmu. Balaskan setiap hinaan yang Bianca lemparkan padamu dengan menghancurkan orang-orang yang membuat Bianca terlihat lemah. Tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya memimpin tim ini."

Rebecca menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena ketakutan. Ini adalah adrenalin murni. Ia menatap Vargo. "Vargo, siapkan tim Alpha. Kita masuk lewat jalur udara. Erica, kau pimpin tim penembak jitu di atap gudang. Liam, kau bersamaku di garis depan."

"Siap, Nona!" sahut mereka serempak.

Helikopter hitam tanpa lampu navigasi meluncur rendah di atas pelabuhan yang gelap. Rebecca duduk di pintu terbuka, angin malam menerpa wajahnya, mengacak-acak rambutnya yang diikat kencang. Ia mengenakan rompi antipeluru di balik jaket taktisnya. Di tangannya, ia menggenggam senapan serbu ringan yang kini terasa sangat ringan berkat latihan berbulan-bulan.

"Tiga menit menuju titik jatuh!" teriak Vargo melalui interkom.

Rebecca menoleh ke arah Maximilian yang ikut terbang bersamanya, namun Max hanya duduk diam sebagai pengamat. Ini adalah ujian terakhir bagi Rebecca untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki Moretti.

"Ingat, Rebecca," suara Maximilian terdengar di telinganya melalui earpiece. "Seorang penguasa tidak hanya butuh keberanian untuk menarik pelatuk, tapi juga ketenangan untuk memerintah. Jadilah ratu yang mereka takuti."

Begitu helikopter mencapai posisi, tali fast-rope dilemparkan. Rebecca adalah orang pertama yang meluncur turun, mendarat dengan mulus di aspal gudang yang basah. Liam menyusul di belakangnya.

"Erica, posisi?" bisik Rebecca ke mikrofon di kerahnya.

"Sudah di posisi, Nona. Dua penjaga di pintu barat sudah dilumpuhkan. Jalan bersih," suara Erica terdengar datar dan profesional.

"Masuk," perintah Rebecca.

Mereka bergerak seperti bayangan. Rebecca memimpin formasi, bergerak dari balik kontainer ke kontainer lainnya. Saat mereka mencapai pintu masuk utama gudang, sekelompok pria bersenjata keluar dengan panik.

RAT-TAT-TAT-TAT!

"Liam, sisi kanan! Vargo, lindungi belakang!" teriak Rebecca sambil melepaskan serangkaian tembakan presisi yang menjatuhkan dua musuh di depannya.

Ia tidak ragu. Setiap gerakannya mencerminkan hasil tempaan keras yang ia lalui. Ia melihat seorang anggota Valenti mencoba melempar granat ke arah Liam. Tanpa menunggu, Rebecca berlari keluar dari perlindungannya, menembak lengan pria itu hingga granatnya jatuh sebelum pinnya tercabut, lalu memberikan satu tembakan penyelesaian tepat di dada.

"Area satu bersih!" lapor Rebecca, napasnya sedikit memburu namun matanya tetap tajam mencari target berikutnya.

Pertempuran berlangsung sengit selama lima belas menit di dalam labirin gudang. Rebecca memimpin timnya melewati barikade, mengambil keputusan cepat di bawah tekanan tembakan balasan. Ia tidak lagi menunggu instruksi Maximilian; ia menciptakan jalannya sendiri.

Saat musuh terakhir menyerah dan berlutut di bawah todongan senjata tim Moretti, suasana mendadak sunyi. Bau mesiu yang menyengat memenuhi ruangan. Rebecca berdiri di tengah gudang, senjatanya masih terkokang, menatap sisa-sisa keluarga Valenti yang kini gemetar ketakutan.

Maximilian melangkah masuk dari kegelapan pintu belakang. Ia berjalan perlahan, melewati mayat-mayat musuh, menuju ke arah Rebecca. Ia melihat gadis itu berdiri tegak, wajahnya sedikit terkena noda jelaga, namun auranya begitu agung dan mematikan.

"Misi selesai, Om," ucap Rebecca, suaranya mantap tanpa ada getaran sedikit pun.

Maximilian berhenti di depan Rebecca. Ia tidak memedulikan para pengawal yang masih berjaga. Ia mengambil senapan dari tangan Rebecca dan menyerahkannya kepada Vargo, lalu ia menangkup wajah Rebecca dengan kedua tangannya yang besar.

"Kau luar biasa," bisik Maximilian, matanya berkilat penuh kebanggaan yang belum pernah Rebecca lihat sebelumnya. "Malam ini, kau bukan hanya membuktikan keberanianmu pada Bianca atau dunia. Kau membuktikan bahwa kau adalah satu-satunya orang yang pantas memegang kendali bersamaku."

Maximilian berlutut di atas lantai gudang yang dingin, di antara puing-puing pertempuran dan di depan anak buah kepercayaannya yang paling setia. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna biru tua—warna yang sama dengan safir di leher Rebecca.

"Rebecca Moretti," suara Maximilian menggema di dalam gudang yang luas itu. "Dunia ini mengenalmu sebagai milikku. Tapi aku ingin dunia tahu bahwa aku adalah milikmu. Aku tidak ingin kau hanya menjadi bayanganku. Aku ingin kau menjadi ratuku, istrimu yang sah, penguasa sah di sampingku hingga detak jantung terakhirku."

Maximilian membuka kotak itu, menyingkapkan sebuah cincin berlian hitam yang dikelilingi berlian putih kecil—sebuah perhiasan yang melambangkan keindahan sekaligus kekerasan dunia mereka.

"Maukah kau berhenti menjadi 'sampah' yang Bianca katakan, dan menjadi mahkota paling berharga dalam hidupku? Maukah kau menikah denganku, Rebecca?"

Rebecca terpaku. Seluruh galau dan konflik batin yang menyiksanya selama beberapa hari terakhir seolah menguap begitu saja. Ia melihat ke sekeliling; Vargo, Erica, dan Liam semuanya menundukkan kepala sebagai tanda hormat—bukan hanya kepada Max, tapi juga kepadanya.

Air mata haru mengalir di pipi Rebecca, menghapus sedikit jelaga di wajahnya. Ia menyadari bahwa Max bukan menunda karena tidak menganggapnya berharga, tapi karena Max ingin Rebecca merebut posisinya sendiri agar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang berani mempertanyakan mengapa ia berada di puncak.

"Ya, Om," bisik Rebecca, namun kemudian ia memperkeras suaranya agar terdengar oleh semua orang di ruangan itu. "Ya, aku akan menikah denganmu. Bukan untuk dilindungi, tapi untuk menghancurkan musuh-musuhmu bersamamu."

"Jangan panggil aku Om lagi. Panggil aku dengan namaku," ucap Max.

"Baiklah, Max."

Maximilian menyematkan cincin itu di jari manis Rebecca. Saat ia berdiri, ia menarik Rebecca ke dalam ciuman yang penuh kemenangan di tengah sisa-sisa pertempuran.

Malam itu, di dalam gudang yang hancur, status Rebecca telah dipatri secara permanen. Ia bukan lagi sekadar gadis yang diselamatkan. Ia adalah penguasa baru yang lahir dari api dan darah. Dan bagi siapapun yang berani menghinanya lagi, mereka tidak akan hanya menghadapi Maximilian Moretti, tapi mereka akan menghadapi murka sang Ratu yang baru saja mendapatkan mahkotanya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!