Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
"Kami hanya akan mengontrak rumah yang sudah dilengkapi perabotan, Kak," balas Alex. "Kami tidak akan repot. Aku sudah janji pada Laura."
Laura menatap Lexi, memberinya tatapan menantang. Ia tahu Lexi tidak bisa berbuat apa-apa di depan Alex. Rasa aman yang didapatnya dari janin Lexi membuat Laura berani.
Lexi mengalihkan pandangannya dari Laura, kembali menatap Alex. "Baiklah. Kalau itu janji, aku tidak bisa menahannya. Tapi aku akan membantumu mencari. Aku akan memastikan rumah yang kau pilih adalah yang terbaik dan teraman untuk Laura dan calon keponakanku."
Alex langsung merasa lega dan senang. "Terima kasih banyak, Kak! Kamu memang yang terbaik!"
Lexi hanya mengangguk, lalu beranjak, "Aku harus ke kantor. Ada rapat penting."
Alex ikut berdiri. "Aku juga harus ke kantor, Kak. Aku akan mencari daftar rumah kontrakan di jam makan siang nanti."
Setelah memberikan ciuman perpisahan yang lembut pada Laura dan mengingatkannya untuk beristirahat, Alex mengikuti Lexi keluar. Laura menunggu dengan cemas di ruang makan, mendengarkan suara mobil Alex yang menjauh.
Lima menit setelah keheningan kembali menyelimuti rumah, ponsel Laura berdering.
[NOMOR TIDAK DIKENAL]: Kamu sudah melewati batas yang kuberikan. Jangan bergerak dari tempatmu.
Laura belum sempat mematikan ponselnya, ketika pintu ruang makan terbuka dengan kasar.
Lexi berdiri di sana. Ia tidak pergi ke kantor. Ia hanya bersembunyi di ruang kerjanya, menunggu momen Alex pergi. Tatapan Lexi kini tidak lagi tersenyum. Matanya gelap, penuh amarah dan penghinaan.
"Kamu berani menguji kesabaranku, Laura?" desis Lexi, melangkah mendekat.
Laura berdiri, mencoba mundur, tetapi meja makan menghalanginya. "Aku ingin mandiri, Lexi. Kami ingin pindah. Itu hak kami."
"Hak?" Lexi tertawa, tawa yang kejam. Ia mencapai meja, tangannya yang kuat menggeser cangkir dan piring dengan bunyi denting keras. "Kamu adalah tawanan, Laura! Kamu tinggal di rumahku, menghirup udara milikku, dan membawa anakku! Kamu tidak punya hak!"
Lexi mendekat dengan cepat. Laura panik dan kembali memegang perutnya.
"Jangan sentuh aku! Aku akan berteriak!"
"Teriaklah!" tantang Lexi, mencengkeram pergelangan tangan Laura. Kekuatan cengkeramannya membuat Laura terkesiap kesakitan.
"Kamu pikir ancaman menggugurkanmu akan selamanya melindungimu? Kamu salah!"
Lexi menarik Laura dengan paksa, membawanya ke koridor dan mendorongnya hingga terpojok ke dinding. Laura berusaha melepaskan diri, tetapi cengkeraman Lexi terlalu kuat.
"Kamu pikir aku akan membiarkan anakku keluar dari jangkauan pandanganku? Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan pewarisku di rumah kontrakan murahan?" Lexi membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Laura.
"Lepaskan! sakit!"
"Kamu akan tetap di sini, di bawah atapku, di tempat aku bisa melihatmu setiap hari. Kamu akan melahirkan di rumah ini, anakku akan tumbuh di rumah ini!"
Tiba-tiba, Lexi membalikkan posisi Laura, mendorong punggung Laura ke dinding, lalu ia membungkuk, menanamkan gigitan keras di bahu Laura yang tertutup blus tipis.
Laura menjerit tertahan, air mata langsung mengalir.
Lexi menegakkan tubuhnya, matanya menyala-nyala. "Itu adalah tanda. Tanda bahwa kamu adalah milikku dan kamu tidak akan ke mana-mana."
Lexi merobek blus Laura dengan sekali tarikan kasar, memperlihatkan bahu dan dadanya. Kemudian, tanpa menunggu, Lexi mengangkat tubuh Laura, menggendongnya menuju sofa ruang tamu yang mewah, yang juga adalah miliknya.
Laura berjuang, menendang, memukul dada Lexi. "LEPAS! AKU TIDAK MAU! AKU SEDANG HAMIL, LEXI!"
"Justru karena kamu hamil! Itu sebabnya kamu tidak akan bisa menolakku!" Lexi membanting tubuh Laura ke sofa, kemudian menindihnya.
Lexi tidak peduli dengan penolakan Laura. Ia merobek sisa pakaian Laura dengan brutal. Tindakan Lexi kini bukan didorong gairah, melainkan dominasi dan kemarahan murni karena kontrolnya telah dipertanyakan.
Laura berteriak, isak tangisnya memenuhi ruangan itu, tetapi tidak ada pelayan yang berani mendekat sekiranya pun mendengar teriakannya, karena takut pada Lexi.
Lexi menatap Laura dengan mata kemarahan. Ia tahu ia tidak bisa merusak janin itu. Lexi bergerak dengan kendali yang mengerikan, memastikan semua tindakannya hanya mengirimkan rasa sakit fisik dan psikologis, sebagai bentuk hukuman.
"Ingat ini, Laura," bisik Lexi di telinga Laura, suaranya seperti geraman serigala. "Kamu tidak akan pernah keluar dari rumah ini,kamu akan membatalkan rencana pindah itu,katakan pada Alex bahwa kamu berubah pikiran karena alasan kesehatan, atau aku akan pastikan Alex kehilangan perusahaannya, namanya, dan bahkan tempat tidurnya. Pilihan ada di tanganmu. Tapi aku akan memilikimu lagi, setiap kali kamu berani menentangku."
Laura tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh kakak iparnya itu.
Pikirannya sibuk menikmati sentuhan yang sangat dia benci,tapi kenyataannya menjadi penawar baginya.
Lexi menj1lat leher jenjang putih Laura,mengecup dan menggigit pelan.
membuat Laura mengerang frustasi.
rasa itu terlalu nikmat sehingga dia kehilangan akal sehatnya.
Setelah selesai, Lexi bangkit dengan tenang, memperbaiki pakaiannya yang sedikit kusut. Ia menatap Laura yang kini tergeletak di sofa, menangis, tubuhnya penuh memar dan luka robek, terutama di bahu.
"Bersihkan dirimu. Dan berikan aku jawabanmu saat makan malam. Jika kamu masih bersikeras pindah, Alex tidak akan pernah mendapatkan panggilan telepon lagi dari kantor. Dia akan kembali menjadi pecundang yang miskin," Lexi berkata dengan nada final, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu jahat Lexi ! Akun membenci mu !" Teriak Laura histeris.
Laura terisak, mencoba bangkit dari sofa. Rasa sakit fisik di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa jijik dan kehancuran yang ia rasakan. Ia menyentuh perutnya.
"Maafkan Ibu, El," bisik Laura. "Ibu tidak bisa melindungimu, tapi Ibu akan melindungi suamiku."
Laura tahu ia kalah. Keinginan untuk melindungi Alex dari kehancuran total lebih kuat daripada keinginan untuk melarikan diri. Ia harus tetap di rumah ini. Ia harus tetap di bawah atap Lexi, di bawah kendali Lexi.
***
Malam hari saat mereka bertiga melakukan makan malam,Alex memancing obrolan yang mengarah ke rencana perpindahan mereka.
"Kak,aku sudah mendapat rumah kontrakan tidak jauh dari kantor ku,,mungkin Laura akan nyaman disana,tidak terlalu besar sih,,tapi cukup nyaman untuk kami berdua," ucap nya bersemangat.
kerongkongan Laura terasa tercekik mendengar penuturan suaminya.
Lexi melirik kearah Laura seolah memberi ancaman padanya agar mengungkapkan apa yang harus dikatakan ibu hamil itu.
"Sayang,,maafkan aku,,kalau aku sedikit plin plan,tapi setelah kupikir pikir lebih baik kita tidak usah pindah dulu sampai anak kita lahir,,aku lelah kalau harus pindah disaat kondisi ku seperti ini," Laura benci dengan kata katanya.
"Astaga sayang,,bagaimana ini? padahal aku sudah mendapat rumah yang akan kita tempati,"
"Tidak masalah Alex,,itu bukan masalah,,yang penting Laura tidak stress,,apalagi sampai kelelahan,," potong Lexi sok pahlawan kesiangan.
Laura sampai mau muntah mendengarnya.
"Aku sudah selesai,aku mau ke kamar dulu,," Laura beranjak dari kursinya,makan malamnya masih utuh,tidak disentuh sama sekali.
bersambung...