Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Jangan tanyakan bagaimana besarnya rasa kecewa di hati Arcila atas penolakan Dafsa. Sudah pasti besar. Besarnya tidak dapat disandingkan dengan satu pun gunung yang ada di dunia ini.
"Padahal aku udah ngasih bayaran mahal, yang bahkan aku yakin dia nggak pernah bisa dapet uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tapi kenapa malah ditolak?" gerutu Arcila masuk ke kamar.
Arcila hanya mengantarkan Dafsa ke Blok M, tidak ke rumahnya. Lelaki itu menolak, sepertinya enggan memberi tahu di mana alamat rumahnya.
Oke, Arcila merasa direndahkan. Dia hanya ingin Dafsa untuk mengamankan posisinya di keluarga Astoria, agar Rama ataupun Hani tidak lagi menyeret-nyeret nama si duda anak lima.
"Masa aku harus bilang sama semua orang, kalau hubunganku sama dia berakhir gitu aja? Nanti aku diketawain Tania!"
Arcila resah bukan main. Ternyata benar, ia tidak boleh terlalu senang, karena ujung-ujungnya selalu ada beberapa hal yang membuat kebahagiannya merosot tajam.
Perihal hubungannya sama Tania, sebenernya baik-baik aja, sih. Mereka cuma suka saingan soal akademik waktu di sekolah. Tania juga nggak jahat, tapi kadang cara ngomongnya selalu bikin Arcila kesel. Padahal Arcila yakin, Tania nggak pernah ada maksud buat itu. Mereka cuma kebiasaan aja saling sindir tanpa ada sebab.
Pernah juga Arcila sama Tania berantem gede, terus perang dingin selama tiga bulan. Tapi ketika Arcila tahu Tania diselingkuhin, dengan kesadaran penuh dia datang ke rumah Tania. Bukan buat ngejek, tapi buat nanyain bantuan apa yang bisa dia lakuin buat Tania.
"Gue bisa bikin karir mantan lo sama selingkuhannya hancur, kalau lo mau," tawar Arcila waktu itu.
Kadang kala, Arcila emang agak sedikit gila. Dia nggak suka ngeliat anggota keluarganya dapet perlakuan semena-mena dari orang lain. Untung aja waktu itu Tania nolak. Kalau diiyakan, udah, cowok itu nggak bakalan selamat dunia akhirat.
Ah, iya, menyelesaikan masalah setelah mengumumkan dirinya dan Dafsa putus, nggak bisa semudah itu. Peluang Arcila untuk mewarisi secara utuh kekayaan keluarga Astoria dari kakeknya akan semakin menipis. Arcila inget banget, kakek, nenek, dan orang tuanya pernah bilang, mereka nggak akan segan menyumbangkan seluruh harta keluarga Astoria ke panti sosial di seluruh pelosok negeri, kalau sampai akhir tahun ini Arcila nggak nikah.
Sekarang udah bulan Juni, artinya Arcila punya enam bulan lagi buat nyari jodoh. Tapi kayaknya sulit, mengingat nggak ada satu pun cowok yang bisa bikin dia tertarik.
"Keturunan itu sangat penting, Cila, apalagi untuk keluarga kita yang hanya punya kamu sebagai penerus." Begitu kata Rama di suatu hari, saat Arcila masih leha-leha padahal para sepupunya udah pada nikah.
"Cila? Sudah tidur?"
Itu suara Suseno. Arcila langsung gugup. Dia lompat ke kasur, niatnya mau pura-pura tidur. Tapi Arcila inget, Suseno tahu gimana kebiasannya. Pantang bagi Arcila tidur di bawah jam sepuluh malam.
Arcila membuang napas, akhirnya membuka pintu kamar, mempersilakan Suseno masuk ke dalam.
"Sudah mau tidur, ya?"
"Belum, Kek, cuma mau bersih-bersih saja," jawab Arcila duduk di depan Suseno. Ada sofa panjang di depan jendela kamarnya.
"Kakek suka sama pacar kamu itu. Dia sopan, kelihatannya baik dan berwawasan."
Aduh, Arcila cuma bisa nyengir sebagai respon utama. Kenapa ya, lebih baik denger Suseno bilang nggak suka sama Dafsa? Tentu Arcila tahu jawabannya. Iya, karena dia udah ditolak mentah-mentah sama si Mas Biro!
"Dafsa masih punya ibu dan bapak, Cil?"
"Kalau ayahnya udah nggak ada, Kek. Mas Dafsa punya satu adik."
Suseno mengangguk-angguk. "Hari Minggu undang dia ke rumah Kakek, ya, Kakek belum puas tanya-tanya. Kakek yakin ayah kamu juga begitu. Kita ngobrol lebih banyak lagi, hanya keluarga inti."
Tubuh Arcila menegang. Permintaan kakeknya beneran nggak bisa ditebak. Ah, bukan! Di sini Arcila yang bodoh. Harusnya dia udah bisa nebak, kalau kakeknya bakalan minta pertemuan lebih banyak sama Dafsa. Adalah hal mudah, andai Dafsa mau kerja sama lagi. Tapi 'kan ... lelaki itu nggak mau! Arcila kalang kabut.
"Cil? Bisa, kan?"
"Eh, bisa, Kek, aku bilang dulu sama Mas Dafsa."
Bodoh, Arcila!
Perempuan itu memejamkan mata saat Suseno keluar dari kamarnya. Kenapa dia nggak nyari alasan lain, sih? Arcila mengunci pintu kamar, melompat ke atas ranjang. Dia meninju batal sampai capek, terus telentang gitu aja dengan napas tersengal.
"Aku harus bisa bawa Mas Dafsa ke rumah Kakek. Dia harus jadi pacarku lagi!" Arcila sudah memutuskan. Sudah ada tekad kuat dalam hatinya. Sekali ucap, maka Arcila bakalan kerja keras. Apa pun akan dia lakuin, asal Dafsa mau jadi pacar gadungannya lagi.
***
"Baiknya kita apakan uang 200 juta itu, Mas?" tanya Diva, masih belum tahu apa yang akan dilakukan Dafsa.
"Mas mau DP rumah di cluster dekat sini aja, Div," jawab Dafsa, tetap pada pendiriannya.
"Tapi kayaknya susah deh, Mas, buat bujuk Ibu. Mas tau sendiri 'kan, gimana cintanya Ibu sama rumah kita? Berat buat Ibu ninggalin rumah kenangannya sama almarhum Ayah."
Dafsa langsung diam. Itulah persoalan terbesar kalau ia benar-benar ingin menyiapkan tempat tinggal yang baru untuk Sri. Meskipun tetangga di depan rumah mereka sangat menyebalkan, sering bakar sampah nggak tahu waktu, terus sering juga karokean dengan suara yang lebih mirip suara kaleng rombeng di siang bolong, tapi Sri nggak pernah ngeluh. Beda lagi sama Diva dan Dafsa yang selalu misuh-misuh.
"Kita bujuk Ibu dari sekarang."
"Oke, aku setuju. Tapi sembari itu, gimana kalau kita pikirin soal kios? Pelanggan kita udah banyak, ada baiknya kita pindah ke tempat yang lebih luas. Misalnya sewa ruko mandiri di dekat jalan raya," usul Diva.
"Mas sempet mikir ke sana, tapi untuk saat ini kayaknya belum, Div. Mas pikir, usaha kita belum sebesar itu. Uang 200 juta, ditambah uang tabungan yang Mas punya rasanya masih kurang kalau harus sewa ruko sama tebus DP rumah di waktu yang sama. Lagian di sini masih aman, kok, di sini kekeluargaannya dapet banget."
Itulah keputusan Dafsa, dan Diva nggak bisa maksa. Saat mereka ingin membicarakan strategi baru, ponsel milik Dafsa berdering. Dari Sri.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Dafsa hangat.
"Waalaikumsalam, Daf, kamu lagi di kios, ya?"
"Iya, Bu, ada Diva juga di sini. Ibu mau titip sesuatu?"
"Nggak, Daf. Ibu minta kamu pulang sekarang. Ada yang nyari kamu ke rumah."
"Pak Lurah ya, Bu?" tanya Dafsa, ingat tadi pagi Pak Lurah bilang ingin datang ke rumahnya membicarakan kunjungan kerja ke sebuah desa.
"Bukan. Yang datang bukan Pak Lurah, tapi pacar kamu."
"Hah? Pacar?!" Dafsa memekik saat itu juga. Ia menjauhkan ponsel, mengusap kasar daun telinganya. "Pacar apanya, Bu? Ibu 'kan tau aku nggak ada pacar."
Di depannya, Diva nggak bisa fokus kerja. Dia terus natap Dafsa, penasaran apa yang diomongin sama Sri di telepon, sampai Dafsa hampir kejang-kejang kayak sekarang.
"Kalau nggak ada pacar, terus perempuan yang sekarang lagi nangis-nangis itu siapa, Daf?"
"Nangis-nangis?!" Dafsa makin heboh. Makin nggak karuan.
"Iya! Udah, sekarang tutup kios terus pulang! Jangan bikin anak orang sakit hati, ah! Ibu nggak suka, Daf!"
Ya Allah .... Ya Allah .... Dafsa sampai nyebut berulang kali. Baru kali ini ada dia difitnah. Katanya dia punya pacar! Lho, kan nggak punya, ya! Terus siapa yang dateng dan nangis-nangis di depan Sri?
"Kenapa sih, Mas?" tanya Diva penasaran setengah mati.
Dafsa menceritakan semuanya. Diva ikut kaget. "Mas beneran udah punya pacar?"
"Ya Allah ... kamu ketemu Mas tiap hari lho, Div, pernah lihat Mas gandeng cewek?"
"Nggak, sih." Diva menggeleng setelah nyengir lebar. "Terus siapa, dong? Apa cewek itu ngaku-ngaku hamil?"
"Astaghfirullah, Diva ...." Dafsa hampir nggak kuat buat ngomong lagi. "Jangan berlebihan, ya! Ini bukan sinteron! Ayo kita pulang!" ajak Dafsa menutup laptopnya.
Dafsa gerak cepat, keluar dari kawasan Blok M pake motor kesayangannya. Kecepatan ditambah, bikin Diva teriak-teriak sepanjang jalan. Dafsa hampir nyalip truk besar, kalau Diva nggak mukulin punggungnya.
"Aku nggak mau mati, Mas! Aku mau jadi dokter!" teriak Diva histeris.
Teriakan itu bikin kondisi jadi kacau. Dafsa takut si perempuan yang dateng ke rumahnya udah ngomong macem-macem sama tetangga. Bahaya kalau itu sampai kejadian. Dafsa nggak mau kesehatan ibunya makin drop. Dia trauma sama yang namanya kehilangan.
Sepanjang jalan Dafsa terus mikir. Perasaan ya, selama ini dia nggak pernah ada pdkt sama cewek mana pun.
Eh, tapi tunggu!
Dafsa melotot, waktu inget satu nama.
"Arcila?! Jangan-jangan dia?!"
Dafsa menelan ludah. Kalau iya, perempuan itu gila! Dafsa nggak sabaran buat mastiin. Sampai di rumah, dia turun dari motor tanpa melepas helmnya. Baru mau ngucapin salam, Sri buka pintu depan. Mukanya udah merah, kelihatan banget keselnya sama Dafsa.
"Bu ...." Dafsa memanggil getir.
"Masuk, Daf, selesaikan baik-baik!" titah Sri.
Dafsa mengangguk, masuk ke rumah. Dan ya, dugaannya sepanjang jalan emang bener. Yang datang ke rumahnya, ketemu sama Sri dan ngaku-ngaku jadi pacarnya, adalah perempuan gila bernama Arcila Astoria!