NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Dari Pria Asing

Nana memutuskan untuk melepas penat. Ia janji bertemu dengan sahabat lamanya, Shopia, di sebuah kafe estetik kata anak muda sekarang.

Begitu Nana masuk ke kafe, Shopia yang sudah duduk manis hampir saja menyemburkan kopi yang sedang diminumnya.

"Gila! Nana?! Ini beneran lo?" seru Shopia heboh sambil berdiri.

"Sumpah, gue pikir bule nyasar tadi! Keren banget rambut lo!"

Nana tertawa sambil menarik kursi di depan Shopia. "Hahaha, kejutan kan? Gue butuh suasana baru"

Setelah memesan iced americano, mereka mulai masuk ke sesi basa-basi yang sudah menjadi ritual wajib.

"Gimana kabarnya, Shop? Udah lama banget ya kita nggak nongkrong begini," tanya Nana.

"Baik, baik. Gue mah gini-gini aja, sibuk sama kerjaan yang nggak kelar-kelar," jawab Shopia. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, menatap Nana dengan tatapan menyelidik.

"Gimana kerjaan lo? Gue heran deh, kok lo tahan banget kerja di sana?"

Nana menghela napas panjang, lalu menyeruput kopinya. "Yah, kalau ditanya tahan atau nggak, sebenarnya tiap hari gue pengen resign minimal lima kali, Shop."

"Terus kenapa masih bertahan?"

Nana tersenyum tipis, teringat kejadian-kejadian di Bali. "Awalnya sih karena gajinya oke banget, cukup buat bayar cicilan tanpa mikir. Tapi lama-lama... Pak Abian itu nggak seburuk yang orang-orang omongin, sih."

"Masa?" Shopia tampak tidak percaya.

"Iya. Emang sih mulutnya kayak silet, manggil gue Cebol atau Oon udah jadi makanan sehari-hari. Tapi dia itu... ya, ada sisi perhatiannya dikit. Tipis banget sih, sehelai rambut, tapi ada," lanjut Nana.

Shopia menyipitkan mata, senyumnya berubah jadi penuh arti. "Hati-hati lo, Na. Benci sama cinta itu bedanya tipis. Apalagi lo sekarang tampil fresh begini, jangan-jangan Pak Abian malah yang nggak tahan lihat lo."

"Dih! Nggak mungkin lah, Shop! Daripada sama dia mending gue jomblo" bantah Nana.

Shopia menyesap lattenya, lalu ekspresinya berubah sedikit lebih serius. Ia menatap Nana lekat-lekat.

"Ngomong-ngomong Apa Rian masih mengganggu kamu?" tanya Shopia hati-hati.

Nana mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kemarin dia sempat muncul di depan kosan. Jadi kurir paket dadakan coba, kebayang nggak? Tapi ya sudah, gue tanggapin seperlunya aja. Intinya sih, nggak bakal gue kasih celah lagi. Gue udah tutup buku sama dia."

"Baguslah. Lo berhak dapat yang lebih baik daripada cowok modelan begitu," dukung Shopia.

"Eh, jangan bahas gue terus. Gue mau tanya... gimana hubungan lo sama pacar lo? Udah makin serius, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, wajah Shopia langsung berseri-seri. Ia menunjukkan jemari tangannya yang lentik, seolah memberikan kode.

"Duh, Na... sebenernya gue mau kasih tahu lo dari tadi," bisik Shopia dengan nada antusias.

"Rencananya kami mau tunangan dulu dalam waktu dekat. Mungkin bulan depan. Dia udah ngomong ke orang tua gue minggu lalu."

Nana langsung memekik pelan, hampir melompat dari kursinya karena senang. "Sumpah?! Serius lo, Shop? Wah, gila! Selamat ya! Akhirnya sahabat gue satu ini bakal laku juga!"

Shopia tertawa sambil tersipu. "Iya, doain ya biar lancar. Tapi Na... pas hari pertunangan gue nanti, lo wajib dateng. Dan kalau bisa... ajak gandengan dong. Masa asisten pribadi CEO sukses dateng sendirian?"

Nana terdiam sejenak. "Gandengan? Siapa? Bapak gue?"

"Ya siapa kek. Pak Abian juga boleh."

"Shop! Mulai deh halunya!" seru Nana sambil tertawa.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan kafe. Shopia melirik ke luar jendela kaca besar di samping mereka, lalu wajahnya langsung cerah.

"Na, jemputan gue sudah sampai," ujar Shopia sambil mulai merapikan tasnya. "Calon tunangan gue sudah di depan."

Nana ikut menoleh ke arah mobil tersebut. "Wah, siaga satu ya! Ya sudah, lo balik duluan deh. Hati-hati di jalan ya, Shop. Kabari gue kalau tanggal pertunangannya sudah fix!"

"Pasti! Lo juga hati-hati balik ke kosan."

Setelah Shopia pergi, Nana tidak langsung memesan ojek. Ia memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah bangku kayu di trotoar depan kafe, menghirup udara malam yang sedikit lebih sejuk.

Di depannya, lalu lalang Jakarta masih cukup ramai. Pandangannya terjatuh pada sepasang muda-mudi yang sedang berjalan bergandengan tangan di seberang jalan. Mereka tampak tertawa lepas, sang pria sesekali mengacak rambut wanitanya dengan gemas.

Nana tersenyum tipis, ada rasa hangat sekaligus sedikit miris di hatinya. "Lucu ya, melihat orang lain bahagia itu gampang."

Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu jalan di depan Nana. Ia mengernyitkan dahi karena merasa ada seseorang yang berhenti tepat di hadapannya.

Nana mendongak pelan, dan detak jantungnya seolah berhenti sedetik.

Di sana berdiri seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya cukup tampan, dengan rahang yang tegas namun memiliki tatapan mata yang tampak ramah dan teduh. Di tangannya, ia memegang sebuah buket bunga mawar merah yang indah.

Pria itu tersenyum kecil, membuat Nana sedikit salah tingkah.

"Mbak... jomblo kan?" tanya pria itu tiba-tiba, tanpa basa-basi.

Nana melongo, kaget dengan pertanyaan langsung seperti itu. "Hah?"

"Mbak jomblo kan?" ulang pria itu lagi.

Nana yang masih linglung, akhirnya menjawab pelan. "Ehhh... iya."

Pria itu langsung menyodorkan buket mawar merah di tangannya ke arah Nana. "Ini saya punya bunga. Buat Mbak aja ya?"

Nana terdiam, tidak tahu harus merespons apa. Buket bunga mawar merah yang cantik itu kini ada di depannya.

"Saya tadi mau kasih ini ke seseorang, tapi sepertinya sudah tidak relevan lagi. Daripada terbuang, lebih baik saya berikan kepada Mbak yang terlihat sedang melamun sendirian," jelas pria itu dengan senyum tipis.

Sebelum Nana sempat mengucapkan sepatah kata pun atau bertanya lebih jauh, pria itu langsung membalikkan badannya. Dengan langkah cepat, setelah memberikannya, dia langsung pergi tanpa menoleh lagi.

1
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Ani: jangan jangan investornya bapaknya Nana..🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!