Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Patah Hati Berjamaah
Arisa dan Ogi sekarang sudah tiba di rumah. Arisa langsung masuk ke kamar dan tiduran di ranjang. Sementara Ogi berniat ingin pergi menemui Dadang ke salon.
"Neng? Aku mau ke salon Dadang. Neng Arisa mau ikut nggak?" tanya Ogi dari ambang pintu. Dia menatap Arisa yang telentang miring membelakangi posisinya.
"Kagak! Pergi sana," sahut Arisa ketus.
"Neng masih marah ya? Maaf sekali lagi ya, Neng..."
Arisa memilih diam dan memejamkan mata. Jelas dia masih kesal dengan insiden gendong tadi.
"Aku--"
"Sudah, sudah... Aku baik-baik saja kok!" potong Arisa tegas.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya, Neng... Kalau ada apa-apa panggil saja Teh Asih," kata Ogi. Dia segera beranjak dari rumah. Ogi memilih menggunakan sepeda ontel warisan dari mendiang kakeknya.
Tanpa sepengetahuan Ogi, Arisa mengintip dari jendela. Dia menatap sinis kepergian Ogi.
"Ternyata dia nggak sebaik itu ya. Masa cewek lagi ngambek ditinggal sendirian. Dia sama aja kayak cowok-cowok lain. Nggak peka!" gerutu Arisa. Dia menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang.
...***...
Ogi baru tiba di salon Dadang. Salon itu tampak sederhana dan bangunannya menyatu dengan tempat tinggal Dadang. Kebetulan Dadang tidak hanya bisa memotong rambut pria tapi juga wanita.
"Dang! Kau di dalam?" panggil Ogi.
"Masuk, Gi!" sahut Dadang.
Ogi pun masuk. Dia melihat Dadang sedang duduk sambil merokok.
“Tukang salon mah naha ngaroko, (Tukang salon kok ngerokok,)" komentar Ogi sembari duduk ke sebelah Dadang.
“Ti batan abdi ngondek siga banci? (Dari pada aku ngondek kayak banci?)" balas Dadang.
“Aya naon ieu? Pasti aya nu rék anjeun carioskeun, nya? Coba abdi tebak. Pasti ngeunaan Neng Arisa? (Ada apa nih? Pasti ada sesuatu yang ingin kau bicarakan kan? Coba kutebak. Pasti tentang Neng Arisa?)" tebaknya.
"Tahu wae anjeun, Dang. Abdi jadi kacida gelisahna lamun terus-terusan aya deukeut maneuhna, (Tahu aja kau, Dang. Gelisah banget aku kalau terus-terusan ada di dekat dia,)" curhat Ogi.
Dadang tergelak. "Naha? Sabab maneuhna teuing geulisna, nya? (Kenapa? Karena dia terlalu cantik ya?)"
"Entahlah. Jantungku nggak karuan, Dang... Apa jangan-jangan aku jatuh cinta ya sama dia? Tapi rasanya kok cepat banget. Baru sehari dia di sini loh," ungkap Ogi.
"Bukankah itu bagus atuh, Gi?" tanggap Dadang.
"Bagus apanya? Kau kan tahu ini cuman pernikahan sementara!"
"Lah, alus atuh lamun murag cinta ka pamajikan sorangan. Ayeuna mah anjeun tinggal kudu nyieun pamajikan anjeun murag cinta ka anjeun. (Lah, kan bagus jatuh cinta sama istri sendiri. Sekarang, kau hanya perlu membuat istrimu jatuh cinta padamu.)"
Ogi langsung menggeleng. "Aku rasa dia tidak tertarik sedikit pun padaku. Aku yakin, aku bukan apa-apa dibanding cowok-cowok yang pernah dia temui di kota..." lirihnya.
"Cih! Cowok kota mah kagak ada yang baik. Kau lihat sendiri kan Neng Arisa dikhianati di hari pernikahannya. Justru di sini kaulah korbannya, Gi. Sekarang opsimu hanya ada dua, kalau kau serius dengan perasaanmu, maka berjuanglah mengejar cintanya, tapi kalau nggak percaya diri, sebaiknya jaga jarak saja. Cuman itu solusi yang bisa aku berikan." Dadang menjelaskan panjang lebar. Kemudian dia kembali menyesap rokoknya.
"Jaga jarak? Kayaknya mustahil deh. Kami kan tidur sekamar, Dang. Kalau nggak sekamar, nanti Eyang curiga," sahut Ogi.
"Kau keluar saja dari kamar saat tengah malam. Lalu pindah lagi saat pagi. Bersikaplah seperti pria dingin mulai sekarang sama dia. Jangan terlalu perhatian seperti biasa," tukas Dadang.
"Memangnya aku terlalu perhatian ya?" balas Ogi.
"Kau perhatian sama semua wanita kali! Dari SMP aku sudah memperingatkanmu tentang ini. Makanya tuh gadis-gadis desa pada sakit hati berjamaah karena dengar kabar kau sudah menikah."
Ogi menggaruk kepala yang tidak gatal. "Mau gimana lagi, Dang. Kau tahu aku nggak enakan orangnya."
"Iya! Tapi kalau sama aku kelakuanmu sudah kayak anying!"
"Kang! Masih buka nggak?" tiba-tiba seorang gadis muncul dari ambang pintu. Dadang sontak langsung berdiri, karena gadis itu adalah pelanggannya. Namanya Ririn, salah satu gadis yang jadi korban patah hati karena mendengar kabar Ogi menikah.
"Buka atuh, Neng. Mau dipotong rambutnya?" tanya Dadang.
"Nggak jadi deh, Kang!" tolak Ririn sembari melirik sinis Ogi. Dia lalu pergi begitu saja.
"Lihat tuh! Itu tuh salah satu korbanmu!" timpal Dadang.