Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Begitu mobil memasuki halaman rumah besar milik Arkan, Indah langsung bersiap turun lebih dulu. Namun sebelum sempat membuka pintu sepenuhnya, suara Arkan sudah terdengar tegas.
“Ibu mau bawa Nara ke mana?” tanya Arkan.
Indah menoleh santai. “Ke rumah ibu, tentu saja.” jawab Indah.
Arkan mengernyit. “Kenapa harus ke sana? Nara tinggal di sini saja seperti biasa.” protes Arkan.
Indah mendesah kecil, lalu menatap Arkan seolah anaknya terlalu polos.
“Arkan,” kata Indah pelan tapi penuh makna,
“ini namanya dipingit.” Indah menjelaskan ke Arkan.
Nara yang sejak tadi diam justru tersenyum kecil.
“Kalau calon pengantin tinggal satu rumah, bagaimana ceritanya?” lanjut Indah sambil menggeleng geli.
“Orang-orang bisa bicara macam-macam.” lanjut Indah.
“Tapi kami tidak melakukan apa-apa,” sanggah Arkan cepat.
“Justru karena itu harus dijaga,” balas Indah tenang.
“Menjelang pernikahan, biar semuanya bersih dan baik.” kata Indah.
Arkan terdiam, rahangnya sedikit mengeras. Jelas ia keberatan. Namun berdebat dengan ibunya dalam hal adat dan prinsip nyaris mustahil.
Nara akhirnya memberanikan diri menyentuh lengan Arkan pelan.
“Tidak apa-apa,” ucap Indah lembut.
“Hanya sebentar saja.”
Tatapan Arkan melunak, meski jelas tak rela.
“Besok aku datang,” kata Arkan pasti.
“Kita fitting baju dan siapin semua keperluan.” kata Arkan.
Nara mengangguk kecil. Sebagai jawaban.
Akhirnya Indah membawa Nara masuk ke mobil lain, sementara Arkan berdiri memperhatikan calon istrinya untuk pertama kalinya sejak Nara tinggal bersamanya, mereka berpisah.
Mobil bergerak menjauh. Arkan berdiri lama di halaman, dada terasa kosong.
Sedangkan Nara, di kursi belakang bersama calon mertuanya, menatap keluar jendela dengan senyum gugup.
Hanya seminggu lagi. Dalam waktu sesingkat itu, ia akan resmi menjadi istri Arkan. Dan hidup sederhana yang dulu ia kenal, akan benar-benar tinggal kenangan.
Arkan melangkah masuk ke dalam rumah yang kini terasa jauh lebih besar dari biasanya.
Sunyi. Tidak ada suara langkah kecil yang terburu-buru ke dapur.
Tidak ada aroma kopi yang sering muncul tanpa ia minta. Tidak ada Nara yang duduk bersila dengan buku sketsa atau sibuk di mesin jahit.
Padahal sebelum Nara datang, rumah Arkan memang selalu sepi.
Namun sekarang, sepi itu terasa berbeda, lebih kosong.
Arkan berdiri di ruang tamu cukup lama, menatap sofa tempat mereka sering duduk berdua, meja kecil yang biasanya penuh camilan milik Nara, sudut dekat jendela tempat mesin jahit berdengung pelan hampir setiap malam.
Arkan menghela napas pelan, lalu tersenyum sendiri.
“Aneh…” gumam Arkan lirih.
Baru beberapa bulan Nara hadir dalam hidupnya, tapi sudah mampu mengubah suasana rumah, dan hati Arkan sedrastis ini.
Arkan melepas jasnya, meletakkannya asal di sofa, lalu berjalan ke dapur. Biasanya di jam seperti ini, Nara akan menyodorkan segelas air atau bertanya mau makan apa.
Kini tak ada siapa-siapa.
Hanya kesunyian yang menyambut.
Arkan bersandar di meja dapur, lalu tertawa kecil tanpa suara.
Ia tidak percaya dirinya bisa jatuh cinta secepat ini. Di usianya yang sudah matang, ia pernah mengenal banyak perempuan, cantik, pintar, berasal dari keluarga terpandang. Namun tak satu pun mampu menggerakkan hatinya.
Hanya Nara. Gadis sederhana yang datang dengan ransel lusuh, mata penuh mimpi, dan senyum yang selalu tulus.
Arkan baru sekarang mengerti, ternyata jatuh cinta itu bukan tentang kesempurnaan,
melainkan tentang seseorang yang membuat dunia terasa hangat hanya dengan kehadirannya.
Arkan menatap kosong ke arah jendela.
“Seminggu lagi…” bisiknya.
"Seminggu lagi Nara bukan hanya tamu di rumah ini."
"Bukan lagi gadis yang yang datang dengan rangsel lusuh, Ia akan menjadi istriku." Arkan bergumam sendiri dan tersenyum, membayangkan ia menikah dengan wanita yang hanya di kenalnya beberapa bulan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Arkan,
ia merasa menunggu sesuatu dengan penuh bahagia.
***
Mobil Indah berhenti di halaman rumah besar yang terasa jauh lebih ramai dibanding rumah Arkan yang biasa Nara tempati. Beberapa pelayan terlihat lalu-lalang, suasana hidup namun tetap tertata.
“Nara,” panggil Indah lembut,
“ikut ibu.” lanjut Indah.
Nara menurut. Ia dibawa melewati lorong panjang hingga berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat tua.
Indah membukanya. “Ini kamar Arkan,” ucap Indah pelan.
“Sebelum dia memilih tinggal sendiri, dia tinggal di sini.” Indah menjelaskan ke Nara.
Nara melangkah masuk dengan hati-hati.
Kamar itu luas, rapi, dan menurut bayangan Nara tidak semewah yang ia kira. Tidak ada dekorasi berlebihan. Dominasi warna gelap dan netral. Tempat tidur besar tersusun rapi, meja kerja ada laptop dan beberapa tumpukan berkas.
Namun yang paling menarik perhatian Nara adalah dinding di dekat meja.
Banyak kertas tertempel di sana, diagram, angka, coretan strategi, dan beberapa desain bangunan.
Di rak buku, hampir semuanya buku bisnis, properti, investasi, dan manajemen.
Nara menelan ludah.
“Serius banget ya kamarnya,” gumam Nara dalam hati.
“Arkan memang seperti itu,” kata Indah tersenyum. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Nara.
“Kalau sudah fokus kerja, dunianya hanya angka dan rencana.” kata Indah.
Nara mengangguk kecil.
“Kamu tidur di sini dulu,” lanjut Indah lembut.
“Nanti baju-bajumu akan ibu antar. Ibu tinggal dulu, ya.”
“I-iya, Bu,” jawab Nara sopan.
Pintu kamar tertutup pelan. Dan ruanga kembali sunyi.
Baru setelah langkah Indah terdengar menjauh, Nara berani benar-benar menoleh ke sekeliling.
Matanya berbinar penuh rasa penasaran.
Ia mendekati rak buku, membaca judul-judul yang sebagian tidak ia pahami. Ia mengelus punggung buku-buku tebal itu dengan kagum.
“Pantas saja dia kelihatan sibuk terus.”gumam Nara.
Lalu perlahan Nara mendekat ke dinding penuh kertas.
Kini ia bisa melihat lebih jelas. Ada sketsa gedung. Denah properti. Catatan tentang investasi.
Nama-nama brand fashion yang Nara pernah dengar di media sosial. Nara memiringkan kepala.
“Ini… semua punya Arkan?” Dadanya tiba-tiba berdebar aneh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat dunia Arkan yang selama ini tersembunyi, bukan sebagai pria pendiam yang pulang malam, tapi sebagai seseorang dengan ambisi besar dan hidup yang sangat berbeda darinya.
Dan di tengah rasa kagum itu, Nara tersenyum kecil.
Ia merasa seperti sedang mengintip bagian terdalam dari hidup calon suaminya.
Bagian yang belum pernah ia kenal.
Rasa penasaran Nara belum habis.
Pelan-pelan ia membuka lemari pakaian Arkan yang ukurannya hampir sebesar lemari dapur di rumah orang tuanya. Begitu pintu terbuka, matanya langsung membesar.
Rapi adalah kesan pertama. Berderet jas mahal, kemeja polos yang tampak sederhana tapi pasti tidak murah, celana kerja, hingga pakaian santai yang tetap terlihat elegan.
“Bajunya masih banyak banget…” gumam Nara.
“Pantesan kamarnya di rumah yang sana tidak terlalu banyak pakaian.”
Nara menutup kembali lemari itu dengan hati-hati, lalu matanya menangkap sesuatu di rak bawah meja, sebuah album foto tebal berwarna gelap.
Nara mengambilnya. Begitu dibuka, halaman pertama menampilkan Arkan kecil berseragam sekolah dasar, wajahnya serius tapi tampan sejak dini.
Nara terkikik kecil. “Lucu juga ternyata…”
Ia membalik halaman demi halaman. Foto SMP.
SMA. Lalu foto Arkan berdiri gagah dengan jas almamater universitas ternama yang sering ia lihat di berita.
“Lulusan universitas terbaik…” bisik Nara kagum.
“Pantas saja dia pintar.” Nara semakin merasa kagum.
Matanya terus menelusuri hingga menemukan foto Arkan di luar negeri, mengenakan toga.
“Ohh… S2 di luar negeri?”
Nara menutup mulutnya kaget kecil.
“Lengkap banget hidupnya…”
Nara tersenyum sendiri, merasa seperti baru mengenal sisi Arkan yang selama ini tersembunyi di balik sikap pendiamnya.
Setelah itu, tanpa sadar ia duduk di tepi ranjang.
Tangannya menekan kasur pelan.
Empuk. Sangat empuk.
“Enak banget…” gumam Nara sambil merebahkan badan sebentar, menatap langit-langit kamar.
Dan tiba-tiba pikirannya melompat jauh.
"Satu minggu lagi..aku akan menjadi istri Arkan."
“Kalau sudah jadi suami istri…” bisik Nara malu-malu,
“berarti tidur satu kamar, kan?” Wajahnya langsung panas.
“Terus… harus melakukan kewajiban suami istri juga…” Nara menutup wajahnya dengan bantal, merasa geli sendiri.
“Ya ampun, Nara! Ngapain mikir sejauh itu sih!”
Namun di balik rasa malu itu, ada perasaan aneh yang membuat dadanya hangat.
Gugup. Takut. Tapi juga… penasaran dan berdebar.
Di kamar yang penuh jejak kehidupan Arkan itu, Nara semakin sadar, pria yang akan menjadi suaminya bukan hanya baik dan perhatian,
tapi juga seseorang dengan dunia besar
yang kini perlahan menjadi bagian dari hidupnya.