Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Ulang Tahun yang Menegangkan 2
"Ibu!" teriak Thaddeus panik.
Thaddeus lebih cepat bergerak. Ia menopang tubuh ibunya sebelum ratu itu sempat kehilangan keseimbangan. Wajahnya seketika langsung pucat.
Grace berdiri membeku di dekat meja. Tangannya masih memegang pisau kue. Ia perlahan meletakkannya, lalu menunduk, napasnya terdengar tidak stabil.
"Ramuan itu sudah saya racik sesuai takaran, Yang Mulia," ucapnya lirih, seolah lebih dulu membela diri.
"Tidak mungkin—"
"Tidak mungkin?" suara Thaddeus meninggi.
"Ibuku batuk darah!"
Arion menoleh pada putranya. Tatapannya tegas.
"Cukup, Thaddeus!"
Namun bahkan Arion tidak terdengar benar-benar yakin.
Chelyne mencoba tersenyum, meski bibirnya pucat.
"Ini hanya batuk." katanya pelan.
"Jangan membuat keributan di hari ulang tahun putri kita."
Di ujung meja, Greta masih duduk di kursinya. Kaki kecilnya tak menyentuh lantai. Ia memegang botol kaca berisi kumbang emas yang merayap di telapak tangannya.
Tiga kupu-kupu kaca berterbangan perlahan di atas kepalanya, sayap bening mereka memantulkan cahaya matahari.
Greta tidak menangis bahkan tidak panik. Ia hanya memperhatikan.
Arion akhirnya menopang Chelyne dalam rangkulannya.
"Segera siapkan tempat tidur." ujar Arion
"Baik, Yang Mulia."
Pelayan-pelayan itu bergegas. Namun sebelum mereka pergi, beberapa dari mereka melirik Greta.
Mereka melihat Greta dengan perasaan takut.
Grace tetap berdiri di tempatnya sampai Thaddeus menoleh padanya.
"Jika ramuanmu aman," katanya pelan namun penuh tekanan,
"Harusnya kau tak perlu khawatir."
Grace menunduk lebih dalam.
"Saya tidak pernah bermaksud mencelakai Ratu."
Tidak ada yang menjawabnya. Aula makan perlahan kosong.
Greta menatap kue ulang tahunnya yang kini setengah terpotong. Ia mengangkat wajahnya ke arah kupu-kupu kaca yang masih berterbangan diatas kepalanya
"Kalian tidak suka kebohongan," bisiknya pelan.
Tidak ada yang mendengar. Bisikan itu dimaksudkan Greta kepada kupu-kupu kaca itu. Seolah-olah serangga itu seperti mengetahui apa yang diperbuat oleh Grace.
...****************...
Di kamar, Chelyne terbaring dengan lemah. Wajahnya masih pucat.
"Ayah, aku rasa–"
"Sudah ayah panggil. Ayah tahu kau pasti akan mengatakan tabib." potong Arion.
Thaddeus mengangguk perlahan. Ia merasa ayahnya ceroboh. Harusnya ayahnya memanggil tabib dari jauh hari, bukan saat Chelyne batuk separah ini.
Tak lama, seorang tabib datang dengan tergesa, jubah cokelatnya sedikit kusut. Ia pria berusia lanjut dengan mata tajam yang tidak mudah dibohongi.
Ia memeriksa Chelyne tanpa banyak bicara. Nadi, suhu, warna darah pada sapu tangan. Napas yang tersendat di sela batuk.
"Sejak kapan batuk ini memburuk?" tanyanya tenang.
Chelyne hendak menjawab, tetapi Arion mendahuluinya.
"Beberapa minggu terakhir. Seminggu yang lalu batuk darah itu sudah berhenti namun hari ini muncul kembali."
Tabib mengangguk perlahan.
"Ramuan apa yang rutin diberikan?"
Grace berdiri di sudut ruangan. Semua mata akhirnya tertuju padanya.
"Saya meracik daun kering, akar manis, madu hutan, dan sedikit getah pinus," jelasnya hati-hati.
"Untuk menenangkan tenggorokan dan saluran pernapasan."
Tabib menatapnya lama. "Takaran?"
Grace menyebutkan jumlahnya dengan tepat. Tidak ada keraguan dalam hitungannya.
Tabib menghela napas pelan.
"Campuran itu seharusnya meredakan iritasi. Bukan memperparah."
Ruangan menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
"Apakah ada bahan lain yang ditambahkan?" tanyanya.
Grace menggeleng. "Tidak."
Tabib menoleh kembali pada Arion. "Batuk darah bisa muncul karena iritasi berat atau luka pada saluran pernapasan. Namun ramuan ini tidak menjelaskan memburuknya kondisi. Untuk sementara, hentikan semua pemberian ramuan."
Arion mengangguk. "Apa yang harus dilakukan?"
"Uap hangat dari daun eucalyptus dan bunga chamomile. Istirahat total dan periksa ulang sumber bahan obat yang digunakan."
Kalimat terakhir itu tidak keras. Namun cukup tajam untuk menyakiti perasaan Grace.
...****************...
Sementara itu, di lorong luar kamar, para pelayan berbisik.
"Aku melihatnya," kata salah satu dari mereka.
"Anak itu berbicara, lalu hal itu terjadi."
"Bukan pertama kali," jawab yang lain.
"Ingat minggu lalu? Sebelum ia pingsan?"
Kata itu meluncur pelan, namun cepat menyebar.
Beberapa pelayan yang lebih tua saling berpandangan. Mereka pernah mendengar cerita lama. Tentang anak perempuan bermata dua warna (heterochromia).
Tentang perubahan besar yang selalu mengikuti kelahiran mereka.
"Aku tidak akan tinggal di sini," bisik seorang pelayan muda.
"Jika ia menunjukku dan mengatakan sesuatu... bagaimana jika itu terjadi?"
Tidak ada yang berani menjawab.
Greta mendengar semuanya. Ia tidak merasa sedih.
Perlahan, pelayan itu melihat Greta keluar dari ruang makan berjalan ke arah lorong kamar. Ia berjalan sambil memegang botol kaca yang berisi serangga kesayangannya itu.
Para pelayan itu langsung takut dan bahkan ada yang tidak ingin menatap Greta.
Greta hanya berjalan santai dan masuk ke kamar orang tuanya.
"Ayah." katanya pelan.
Panggilan itu membuat tabib menoleh ke arah Greta. Ia langsung terkejut melihat warna mata itu.
Ternyata selama ini apa yang dibicarakan rakyat memang benar. Putri kerajaan memiliki mata dua warna yang diyakini pembawa sial.
Arion langsung tahu maksud dari raut wajah tabib itu. Ia merasa Greta akan tersakiti, itu sebabnya Arion tidak mau memanggil tabib atau siapapun ke kerajaan hanya untuk melindungi Greta.
"Ayah, apakah ibu sakit lagi?" tanya Greta sambil berjalan ke arah ibunya yang sedang terbaring.
"Ibu hanya batuk, sayang." ucap Chelyne pelan.
Tabib itu dapat melihat raut wajah Greta yang terlihat santai. Berbanding terbalik dengan Thaddeus yang masih menunjukkan wajah khawatir.
Akhirnya tabib itu percaya bahwa Putri Greta mungkin pembawa sial. Bisa-bisanya Ia tidak khawatir dengan ibunya yang sudah sakit separah ini.
"Untuk penanganan selanjutnya bisa dibantu oleh Grace atau jika Yang Mulai berkenan memanggil saya lagi, saya akan datang." ujarnya.
Grace mendengar ucapan tabib itu dan kembali memasang senyum licik. Berarti Ia masih ada kesepatan untuk penanganan atas ratu.
"Saya permisi, Yang Mulia" ujar tabib itu
Ia dengan cepat bergegas, takut jika anak itu mengatakan hal-hal lain dan langsung terjadi padanya.
"Terima kasih banyak." ujar Arion.
Setelah tabib itu pergi, Arion mendekati Greta yang masih memegang botol kaca yang berisi serangga.
"Greta, kenapa kau mengatakan itu?" tanya Arion pelan, tak ingin menyakiti Greta
"Mengatakan apa? Kumbangku yang bilang, ayah." jawabnya.
Arion terkekeh pelan. Jawaban itu selalu sama.
"Greta, kita tidak bisa berbicara dengan serangga." ujar Arion lagi
Greta menggelengkan kepalanya, menolak ucapan ayahnya. Ia meletakkan botol kaca itu diatas meja.
Didalam botol kaca itu berisi kumbang koksi berwarna merah, orange, dan kumbang kura-kura emas yang diberikan Thaddeus.
Selama ini, Greta memang tidak pernah membiarkan serangganya mati atau terluka, Ia justru merawatnya selayaknya itu adalah keluarganya.
Suasana tampak tegang didalam kamar. Arion semakin bingung apa yang harus dilakukannya.
Kalau memang mitos itu benar, maka Greta sudah dicap Arion juga sebagai pembawa sial. Tapi Arion masih tidak ingin percaya mitos itu.
Dia seorang raja. Raja harus berpikir dengan bijak dan meyakinkan rakyatnya untuk tidak percaya pada mitos itu.
Apakah Ia harus mengurung Greta untuk selamanya atau mencari informasi lain mengenai heterochromia itu lagi?
"Ya Tuhan, aku harus apa." batin Arion.