Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
***
Tok... Tok.... Tok....
"Kevin mommy boleh masuk? " Seruan dari luar terdengar. Kevin yang sedang melamun sampai tersentak. Lantas anak laki laki itu melangkah ke arah pintu kamar nya.
Cklek!
Alana mengulas senyum kala pintu terbuka. "Sedang apa sayang? " Tanya Alana
"Lagi baca buku mom."
"Mommy ganggu ya? " Kevin menggeleng kepala.
"Sudah nggak kok." Alana mengangguk.
"Mommy masuk boleh?" Ijin Alana terlebih dulu.
"Tentu saja mom." Kevin membuka lebar pintu nya seraya mempersilahkan sang mommy. Alana menatap meja belajar yang masih terdapat buku di atas sana, namun sudah tertutup.
"Boleh mommy bicara sayang."
"Boleh. "
Kini ibu dan anak itu duduk berdampingan di tepi kasur. Tangan Alana bergerak mengusap pucuk kepala putranya. Tatapan mata penuh sayang itu membuat Kevin selalu merasa nyaman dan tenang.
"Kita akan pindah ke Indonesia sayang, jika acara pernikahan momny dan om Rayan sudah terlaksana kan. "
"Serius mom." Alana mengangguk kepala. "Jadi kita akan menetap disana mom, tempat opa dan oma." Alana kembali mengangguk kepala membenarkan ucapan Kevin. "Akhirnya Kevin bisa tahu tempat kelahiran mommy." Serunya membuat hati Alana mencelos.
Selama sembilan tahun ini Kevin pernah dua kali mengajak dirinya untuk ke tanah air. Dia penasaran dengan apa yang ada di sana. Penasaran dengan tempat tinggal mommy nya, namun Alana selalu beralasan jika Alana belum bisa kembali karena suatu hal yang Alana tak bisa tinggalkan disini. Dan setelah itu Kevin tak pernah lagi mengajak. Atau membahas nya.
Kevin tumbuh dengan sangat pengertian. Dari kecil tidak pernah merepotkan Alana sama sekali. Mungkin seakan paham jika hanya Alana lah ayah sekaligus ibu bagi nya.
***
Alana membuka pintu rumahnya, ia sempat terkejut Rayan ada di hadapannya saat ini. Empat hari yang lalu usai mereka bertemu malam itu, Alana tak ada bertemu lagi. Bahkan komunikasi saja tidak.
Sepertinya Rayan ikut serta pulang bersama papi dan mami nya ke Indonesia.
"Boleh saya masuk." Alana tersentak dan mengerjapkan kedua matanya. Dia tersenyum canggung. Dan segera mempersilahkan Rayan masuk dengan paper bag di tangan pria itu.
Alana kembali menutup pintu, dan menghampiri Rayan. Asisten rumah tangganya sedang keluar, membuat Alana sedikit gugup kali ini.
Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang masuk ke dalam rumahanya.
"Ini untuk mu dan Kevin. " Alana menerima seraya mengucapkan terima kasih.
"Duduk dulu ya mas, saya mau buatkan minum." Pamit Alana sopan. Tidak mungkin dia memanggil nama, mengingat Rayan lebih tua dari nya.
Rayan menatap Alana dan mengangguk kepala sebagai jawaban. Lantas pria itu duduk di sofa.
Alana pergi ke dapur untuk membuatkan Rayan minum. Alana membuang nafas pelan.
Sungguh situasi seperti ini tak pernah Alana sangka sangka. Tidak pernah berinteraksi dengan pria setelah 10 tahun lamanya, membuat nya terlihat begitu sangat gugup. Apa lagi Rayan calon suami pilihan papi nya.
Beberapa saat kemudian Alana kembali ke ruang tamu dengan secangkir kopi hangat di buatnya, beserta cemilan yang di buat nya kemarin.
Rayan yang sedang menatap pigura foto yang berjejer di dinding seketika membalikan badannya, kala mendengar suara derap langkah yang begitu ketara.
"Kevin sangat imut saat bayinya." Ucap Rayan, kembali duduk di sofa.
Alana meletakkan secangkir kopi di atas meja. Ia mengangguk dan tersenyum tipis. "Silahkan di minum mas." Rayan mengangguk, dengan kini tangannya meraih cangkir berisi kopi dan membawanya ke depan mulutnya. Pria itu menyesap kopi hangat itu.
Enak
Sangat pas di lidahnya.
Hening, Alana duduk dengan memangku kedua tangannya. Sesekali dia meremas jemarinya mengalau perasaan yang sedikit terasa mencengkram.
"Kevin biasa pulang jam berapa? " Tanya Rayan memecahkan keheningan.
"Sebentar lagi biasanya sampai di rumah mas, jam segini." Sahut Alana. Gavin mengangguk sebagai jawaban. "Mas kapan sampai?" Tanya Alana
"Beberapa jam yang lalu."
"Kenapa nggak istirahat dulu mas, pasti lelah perjalanan. " Rayan tersenyum tipis.
"Saya banyak istirahat selama di udara."
"Mas kesini sendiri? " Tanya Alana lagi. Mencoba untuk mengakrabkan diri.
"Tidak, sama kedua orang tua saya dan kakak perempuan saya. " Alana mengangguk.
Tiga hari lagi mereka akan pemberkatan di salah satu gereja yang ada di sini. Semua tertutup hanya mereka dan keluarga inti saja.
Persiapan pun sudah di lakukan oleh papi dengan orang kepercayaan. Mereka tinggal beres saja.
"Mas yakin dengan keputusan yang cepat ini? " Tanya Alanahati hati. "Karena kita belum sama sama mengenal satu sama lain."
Rayan tersenyum menanggapi. Namun beberapa saat kemudian dia buka suara. "Yakin, apa salahnya kita mengenal setelah menikah. " Jawab nya dengan santai.
Alana mengigit bibirnya singkat. Sungguh dia sedikit tersentuh mendengar jawaban dari Rayan.
"Anda tidak perlu khawatir, selama tidak ada rasa cinta di antara kita. Saya tidak akan menyentuh anda. Karena saya tidak mau menyentuh wanita yang masih memiliki perasaan dengan pria lain."
Alana langsung menunduk. Dia seperti di tampar oleh kata kata Rayan barusan. Namun dia menyukai kejujuran pria itu. Bahkan dia mau menjaga batasan itu, meskipun mereka nanti sudah menikah.
"Apa anda masih mencintai beliau? " Tanya Rayan tiba tiba memecahkan kesunyian yang kembali tercipta.
Arumi meremat jemarinya. Sudah sejauh mana Rayan mengetahui tentangnya. Sementara dirinya saja tidak mengetahui mengenai pria di hadapannya saat ini, kecuali statusnya yang seorang duda tanpa anak.
Wanita itu tak menjawab, namun Rayan mengartikan jika jawaban nya adalah Ya, Alana masih mencintai Bian.
"Apa papi menceritakan semua tentang saya? " Tanya Alana mencoba mengalihkan. Anggukan kecil di berikan, cukup menjawab pertanyaan itu.
Keheningan kembali tercipta, keduanya sama sama diam dengan pikiran masing masing, sampai suara bel terdengar membuat keduanya menoleh bersama.
"Sepertinya Kevin mas, saya buka dulu." Pamit Alana seraya bangun dari duduknya.
Benar saja saat pintu terbuka Kevin datang dengan wajah lelahnya.
"Capek banget ya sayang. " Kevin mengangguk, lalu masuk. Saat itu juga dia mengulas senyum nya menatap Rayan yang sedang melempar senyuman padanya.
"Om Ray. " Serunya mendekat. Rayan langsung menyambut Kevin.
"Baru pulang, pasti capek."
"Sedikit om, Mmm Kevin ganti baju dulu ya soalnya bau keringat. "
"Ok boy."
Kevin pamit pada keduanya untuk ke kamar nya.
"Mas aku siapin makan dulu." pamit Alana yang langsung di angguki oleh Rayan.
Kini mereka berada di meja makan. Rayan dan Kevin menikmati hidangan yang Alana sajikan. Sementara wanita itu hanya menikmati buah, karena dia masih kenyang.
Kedua pria berbeda generasi itu berbincang sambil menikmati makanan mereka. Dengan Rayan yang banyak bertanya.
Alana pikir Rayan pria yang irit bicara, namun ternyata salah. Dengan Kevin pria itu banyak bicara. Rasa canggung tadi yang tercipta sudah sirna dengan kehadiran Kevin di antara mereka.
***
Alana menatap dirinya dalam balutan gaun putih. Riasan yang sedikit bold, membuat nya nampak terlihat sedikit dewasa. Mengingat selama ini riasannya nampak natural, dan baby face. Banyak yang mengira dirinya masih sangat muda.
Pintu kamar terbuka memperlihatkan sang mami. Wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
Senyum Marina imengembang namun dengan kedua mata yang berkaca kaca.
Wanita yang sudah melahirkan nya ke dunia mendekat dan langsung memeluk tubuh Alana.
"Maafin mami sayang. "
"Mami jangan nangis, dan maaf soal apa? Mami nggak pernah buat salah, justru aku sudah mengecewakan mami dan papi selama ini. "
Mami Marina menggeleng kepala dalam pelukan Alana. " Sudah jangan bicara seperti itu, sekarang hari bahagia. Awal kehidupan kamu ke depan bersama Kevin dan suami mu. Doa mami menyertaimu sayang. "
Alana mengangguk. Keduanya melepas pelukan kala Kevin mendekat.
"Mommy sangat cantik. "
"Makasih sayang, kamu juga sangat tampan . " Puji Alana, kali ini putranya memakai setelan jas. Sangat tampan sekali.
"Wahh.. Putri papi sangat cantik." Seru papi Wibowo yang berada di ambang pintu kamar Alana, membuat mereka yang ada di sana seketika menoleh. Kedua mata pria itu nampak berkaca kaca menatap putrinya.
Putri satu satunya yang dia asingkan. Namun di balik itu semua tak jarang pria itu menangis kala dirinya sendiri. Merindukan putri kecil nya yang berjuang sendiri mengurus seorang bayi. Dia pria paling egois, namun keadaan yang membuat nya seperti itu.
Apa yang di lakukan putrinya memang sangat mengecewakan nya. Namun kembali lagi dia yang salah lantaran tak menjaga benar benar putrinya.
Tapi untuk di sesali sekarang pun percuma, semua sudah terjadi. Dan pilihan nya kali ini adalah yang terbaik. Bagaimana dia mengenal sosok Rayan. Pria dari salah satu Abdi negara yang bertugas mengawal dirinya lima tahun terakhir ini.
Papi Wibowo melangkah mendekat pada putrinya. Dan saat itu juga papi Wibowo membawa Alana ke dalam pelukannya. Kini air mata itu tumpah. Bagaimana dia cukup keras pada Alana, semua semata mata agar Alana menjadi pribadi yang kuat dan mandiri serta bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
"You are a great woman, papi is proud of you." Kata papi Wibowo di sela mendekap tubuh putrinya.
"Makasih pi, dan maafin semua kesalahan Alana " Papi Wibowo menggeleng kepala , ia mengendurkan pelukannya. Pria tengah baya itu mengahapus jejak air matanya.
Sementara mami Marina masih menitih kan air matanya sambil memeluk Kevin sang cucu.
"Maaf kan papi yang keras dalam mendidik kamu. Semua papi lakukan, kembali padamu." Alana mengangguk tanda ia paham.
"Papi dan mami yang terbaik di hidup Alana. Terima kasih sudah buat aku ada di dunia ini. Aku sangat sayang sama kalian."
"Papi juga sangat menyayangi mu sayang." Kembali keduanya berpelukan. Menumpahkan rasa sayang kedua nya yang sempat membeku.
***
Alana mulai melangkahkan kakinya. Memasuki gereja . Gaun pengantin berwarna putih itu terseret pada karpet merah seiring langkah kaki nya. Wajahnya yang tertutup oleh veil wedding, sama sekali tidak menutupi kecantikan yang di miliki oleh Alana
Sementara Rayan yang berada di sana dengan menggunakan tuxedo berwarna hitam nampak gagah. Tidak ketinggalan dasi kupu kupu yang melingkar di kerah kemeja putih itu nampak terpaku sesaat. Tatapan iris mata legam itu nampak terhipnotis. Seakan enggan untuk berpaling dari pandangan indah di depan matanya saat ini
Dengan di gadeng sang papi , Alana melangkah semakin mendekat pada Rayan. Rasa gugup dan campur aduk melingkupi perasaan Alana saat ini.
Rayan langsung menyambut kedatangan calon istrinya. Dan mengangguk singkat pada papi Wibowo kala pria tengah baya itu menyerahkan Alana.
Kedua nya langsung berdiri di hadapan pastor yang memimpin upacara pernikahan.Pastor pun memulai pemberkatan untuk sepasang kekasih di hadapannya. Baik Rayan dan Alana saling berjanji di hadapan Tuhan untuk saling setia, saling memberi, saling mengasihi, dan saling menjaga. Kini kedua nya sudah menjadi pasangan suami dan istri.
Rayan membuka veil wedding yang menutupi wajah Alana. Wanita itu mengulas senyum canggung bercampur gugup. Sampai veil wedding di kepala Alana ia sampirkan ke belakang.
Tidak ketinggalan keduanya yang bertukar memakaikan cincin pernikahan.
Rayan langsung merengkuh pinggang Alana dan dalam hitungan detik bibir keduanya menyatu. Alana mengepal kedua tangannya menghalau perasaan gemuruh di dalam dadanya saat benda kenyal itu menubruk bibirnya .
Rayan menyesap lembut bibir yang tak tersentuh selama sepuluh tahun itu..
Rayan merasakan dirinya yang candu, tanpa sadar terus memangut manisnya perpaduan dari ranum Alana, sampai deheman pastor menghentikan aksinya yang kalap. Nafas Alana terengah engah dengan rona merah muda di pipinya.
Wajahnya memanas apa lagi melihat Rayan yang kini sudah menjadi suaminya tersenyum manis untuk pertama kalinya. Jantung Alana tiba tiba berdebar melebihi ritmenya.
Ada apa dengan perasaan ini?