Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Datang Lebih Pagi
Badai yang Datang Lebih Pagi
Pagi di gedung Hartono Group biasanya dimulai dengan ritme yang teratur.
Karyawan datang satu per satu.
Suara sepatu di lantai marmer terdengar rapi.
Aroma kopi dari pantry menyebar pelan di koridor.
Namun pagi ini berbeda.
Suasana terasa lebih tegang.
Berita di dalam perusahaan menyebar jauh lebih cepat daripada biasanya.
Semua orang sudah mendengar satu hal.
Direksi akan mengadakan rapat penting mengenai Rania.
Beberapa karyawan bahkan berhenti berbicara ketika wanita itu berjalan melewati lorong utama.
Rania tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Ia berjalan dengan langkah yang tetap tenang, seperti hari-hari biasa.
Padahal di dalam pikirannya, ia tahu hari ini mungkin akan mengubah segalanya.
Arsen berjalan di sampingnya.
Ia sudah berada di kantor sejak pukul enam pagi.
“Direksi mulai berkumpul sejak satu jam lalu,” katanya pelan.
Rania hanya mengangguk.
“Ada kabar lain?”
Arsen menghela napas.
“Pak Surya terlihat sangat serius.”
Rania tersenyum tipis.
“Dia memang selalu serius.”
Arsen menatapnya sekilas.
“Kau benar-benar tenang.”
Rania berhenti di depan pintu ruang rapat direksi.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
“Aku sudah mempersiapkan diriku sejak tadi malam.”
Ia membuka pintu.
Di dalam ruangan, semua anggota direksi sudah duduk di tempat mereka.
Pak Surya berada di kursi utama.
Di sebelahnya ada Pak Darmawan dan beberapa direktur senior lain.
Ketika Rania masuk, semua mata langsung tertuju padanya.
Ia berjalan menuju kursi yang biasanya ia duduki.
Namun sebelum ia sempat duduk—
Pak Surya berbicara.
“Rania.”
Wanita itu berhenti.
“Kau tidak perlu duduk.”
Kalimat itu membuat suasana ruangan langsung berubah.
Beberapa anggota direksi terlihat tidak nyaman.
Namun tidak ada yang menyela.
Rania berdiri dengan sikap yang tetap tenang.
Pak Surya membuka dokumen di depannya.
“Semalam kami membahas tindakanmu menyembunyikan laporan analisis proyek.”
Ia menatap Rania.
“Tindakan itu melanggar prosedur perusahaan.”
Pak Darmawan menambahkan dengan suara pelan,
“Namun kami juga mempertimbangkan fakta bahwa keputusanmu menolak proyek itu mungkin menyelamatkan perusahaan dari kerugian besar.”
Pak Surya melanjutkan,
“Karena itu, kami memiliki dua pilihan.”
Ia berhenti sebentar.
Semua orang di ruangan menunggu.
“Pilihan pertama, kau tetap mempertahankan posisimu… dengan catatan menerima pengawasan langsung dari direksi.”
Beberapa orang terlihat lega mendengar itu.
Namun Pak Surya belum selesai.
“Pilihan kedua…”
Ia menutup map di depannya.
“…kau mengundurkan diri dari jabatanmu.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Rania tidak terlihat terkejut.
Ia sudah memikirkan kemungkinan ini.
Pak Surya menatapnya tajam.
“Kami ingin mendengar keputusanmu.”
Beberapa detik berlalu.
Rania menarik napas pelan.
Lalu ia berkata dengan suara yang sangat tenang.
“Saya memilih pilihan ketiga.”
Beberapa anggota direksi langsung saling berpandangan.
Pak Surya mengerutkan kening.
“Pilihan ketiga?”
Rania mengangguk.
“Saya tidak akan mengundurkan diri.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi saya juga tidak akan bekerja di bawah pengawasan yang membatasi keputusan saya.”
Pak Darmawan terlihat terkejut.
“Lalu apa maksudmu?”
Rania menatap mereka semua.
“Saya akan tetap memimpin proyek-proyek perusahaan.”
Nada suaranya tetap tenang.
“Namun jika ada pihak yang tidak percaya pada kemampuan saya…”
Ia berhenti sejenak.
“…maka mereka bebas menarik dukungan mereka.”
Ruangan langsung dipenuhi bisikan pelan.
Beberapa direktur terlihat tidak percaya dengan keberanian Rania.
Pak Surya menyilangkan tangannya.
“Kau sedang menantang keputusan direksi?”
Rania menggeleng pelan.
“Saya hanya menyampaikan posisi saya.”
Pak Surya menatapnya beberapa detik.
Namun sebelum ia sempat berkata sesuatu—
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.
Semua orang menoleh.
Seorang sekretaris berdiri di pintu dengan wajah sedikit gugup.
“Maaf mengganggu, Pak.”
Pak Surya mengerutkan kening.
“Ada apa?”
Sekretaris itu menelan ludah.
“Ada seseorang yang datang tanpa janji.”
Pak Surya terlihat kesal.
“Kami sedang rapat.”
Sekretaris itu berkata dengan hati-hati.
“Dia mengatakan urusannya berkaitan langsung dengan keputusan direksi hari ini.”
Pak Surya menghela napas.
“Siapa?”
Sekretaris itu menjawab,
“Tuan Adrian.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa anggota direksi langsung saling bertukar pandang.
Pak Surya menatap Rania.
“Kau memanggilnya?”
Rania menggeleng.
“Tidak.”
Pak Surya terlihat ragu beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata,
“Biarkan dia masuk.”
Beberapa detik kemudian Adrian masuk ke ruangan.
Ia mengenakan setelan hitam sederhana.
Namun kehadirannya langsung mengubah suasana ruangan.
Ia berhenti beberapa langkah dari meja rapat.
“Maaf mengganggu rapat penting kalian.”
Pak Surya berkata dengan nada dingin.
“Kami tidak mengundang Anda.”
Adrian mengangguk.
“Saya tahu.”
Ia meletakkan sebuah map tebal di atas meja.
“Saya datang karena ada sesuatu yang perlu kalian lihat.”
Pak Darmawan mengerutkan kening.
“Apa itu?”
Adrian membuka map tersebut.
Beberapa lembar dokumen terlihat di dalamnya.
“Sebuah laporan audit.”
Pak Surya terlihat tidak sabar.
“Laporan audit apa?”
Adrian menjawab dengan tenang.
“Laporan audit yang menjelaskan kenapa beberapa orang di ruangan ini sangat ingin proyek kerja sama itu tetap berjalan.”
Ruangan langsung membeku.
Pak Surya menatapnya tajam.
“Maksud Anda?”
Adrian menatap satu per satu anggota direksi.
Lalu berkata dengan suara yang sangat tenang.
“Karena jika proyek itu disetujui… beberapa orang akan mendapatkan keuntungan pribadi yang sangat besar.”
Beberapa orang langsung berdiri dari kursinya.
Pak Darmawan berkata dengan nada keras,
“Ini tuduhan serius!”
Adrian mengangguk.
“Benar.”
Ia menunjuk dokumen di meja.
“Dan semuanya ada di situ.”
Rania menatap Adrian dengan kaget.
Ia tidak pernah tahu tentang ini.
Pak Surya membuka dokumen itu dengan wajah tegang.
Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.
Pak Darmawan ikut melihat dokumen tersebut.
Wajahnya perlahan memucat.
Adrian berkata pelan,
“Sekarang kalian tahu kenapa Rania menolak proyek itu.”
Ia menatap Pak Surya.
“Bukan karena dia bodoh.”
Lalu ia menambahkan dengan nada yang lebih dalam.
“Melainkan karena dia satu-satunya orang di ruangan ini yang masih jujur.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai…
Semua orang menyadari satu hal.
Hari ini bukan hanya tentang posisi Rania.
Hari ini bisa menghancurkan seluruh direksi Hartono Group.
Dan badai yang sebenarnya…
Baru saja dimulai.