Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang dari Masa Lalu
Malam itu akhirnya mereka sampai di depan apartemen Nina setelah berjalan hampir satu jam. Rambut Nina sedikit basah oleh hujan yang tersisa, sementara sepatu Raka sudah benar-benar kotor karena genangan air di trotoar.
Nina berdiri di depan pintu lobi sambil menghela napas panjang.
“Empat koma delapan kilometer,” katanya.
“Rekor hidupku.”
Raka tersenyum santai.
“Ya mungkin besok kita coba sepuluh kilometer.”
Nina menatapnya dengan tatapan datar.
“Kamu bercanda kan?”
Raka mengangkat bahu.
“Aku bahkan tidak bercanda pun sering dianggap bercanda.”
Nina tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh jadwal dan target, perjalanan pulang yang kacau itu terasa… menyenangkan.
Ia menatap Raka sebentar.
“Terima kasih sudah menemani.”
Raka mengangguk.
“Ya mungkin besok aku bisa menemani lagi.”
Nina menatapnya beberapa detik lagi.
Lalu berkata pelan,
“Besok kita lihat saja.”
Ia masuk ke dalam gedung.
Pintu lobi tertutup.
Raka berdiri di luar beberapa saat.
Kemudian ia menatap langit malam dan tersenyum sendiri.
“Ya mungkin besok hidupku mulai berubah.”
Keesokan paginya.
Untuk kedua kalinya dalam minggu itu, Raka bangun pagi.
Ia bahkan mandi tanpa harus menunda selama satu jam.
Di tangannya ada dua gelas kopi panas.
Ia berdiri di depan kafe Kopi dan Tawa, menunggu Nina.
Jam menunjukkan pukul 08.45.
Raka melihat jam lagi.
Ia menghela napas.
“Aku datang terlalu cepat.”
Lima belas menit kemudian, Nina muncul dari ujung jalan dengan langkah cepat seperti biasa.
Ia terlihat sedikit kaget melihat Raka sudah duduk di meja mereka.
“Kamu datang… lebih dulu?”
Raka mengangguk bangga.
“Ini pencapaian besar.”
Nina duduk.
“Apa yang terjadi dengan kamu?”
Raka mendorong satu gelas kopi ke arahnya.
“Aku mencoba tidak menunda.”
Nina mengambil kopi itu.
Ia tersenyum tipis.
“Ini pertama kalinya kamu melakukan sesuatu tepat waktu.”
Raka berpikir sebentar.
“Ya mungkin juga terakhir.”
Nina tertawa kecil lagi.
Mereka mulai mengobrol seperti biasa.
Tentang pekerjaan Nina.
Tentang kehidupan santai Raka.
Tentang perjalanan gila mereka semalam.
Namun di tengah obrolan itu, tiba-tiba seseorang berdiri di samping meja mereka.
Seorang pria tinggi, berpakaian rapi dengan jas mahal.
Rambutnya tersisir rapi.
Ekspresinya percaya diri.
“Nina.”
Nina langsung membeku.
Raka menoleh.
“Teman kamu?”
Nina tidak langsung menjawab.
Pria itu tersenyum kecil.
“Kamu tidak menjawab pesan-pesanku.”
Nina akhirnya berkata pelan,
“Arman.”
Raka mengangkat alis.
“Nama yang serius.”
Pria itu menatap Raka dari atas ke bawah.
“Dan kamu?”
Raka tersenyum santai.
“Raka. Spesialis menunda.”
Arman terlihat bingung.
Nina menghela napas.
“Raka… ini Arman.”
Raka menunggu.
Nina melanjutkan dengan suara pelan,
“Mantan pacarku.”
Raka berhenti tersenyum.
“Oh.”
Arman duduk tanpa diminta.
“Aku baru kembali dari Singapura,” katanya.
Nina terlihat tidak nyaman.
“Selamat.”
Arman menatap Nina dengan serius.
“Aku kembali karena kamu.”
Suasana meja itu langsung berubah.
Barista di belakang meja bahkan ikut memperhatikan.
Raka mengangkat gelas kopinya pelan.
“Ini mulai seperti drama.”
Nina menatapnya tajam.
“Raka…”
Arman mengabaikan Raka.
“Nina, kita harus bicara.”
Nina menggeleng.
“Kita sudah selesai dua tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Arman mencondongkan badan.
“Aku ingin memperbaikinya.”
Nina terdiam.
Raka melihat keduanya bergantian.
Lalu berkata santai,
“Kalau ini adegan film, biasanya sekarang ada musik sedih.”
Nina hampir tertawa, tapi ia menahannya.
Arman menatap Raka dengan kesal.
“Ini urusan pribadi.”
Raka mengangguk.
“Benar.”
Ia berdiri.
“Aku keluar dulu.”
Nina menoleh cepat.
“Raka—”
Raka tersenyum kecil.
“Ya mungkin kalian perlu bicara.”
Ia berjalan keluar dari kafe.
Di luar, Raka berdiri di trotoar.
Ia menatap jalanan yang mulai ramai.
Tiba-tiba perasaan aneh muncul di dadanya.
Ia tidak suka perasaan itu.
Cemburu.
Raka menghela napas panjang.
“Ya mungkin ini yang orang sebut masalah.”
Beberapa menit kemudian pintu kafe terbuka.
Nina keluar.
Ia melihat Raka masih berdiri di sana.
“Kamu tidak pulang?”
Raka mengangkat bahu.
“Ya mungkin aku menunggu.”
Nina terlihat sedikit lega.
“Arman sudah pergi.”
“Bagus.”
Mereka berdiri diam beberapa saat.
Akhirnya Nina berkata,
“Maaf tentang tadi.”
Raka menggeleng.
“Tidak perlu.”
Nina menatapnya.
“Dia dulu penting dalam hidupku.”
Raka tersenyum kecil.
“Sekarang?”
Nina tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata pelan,
“Sekarang semuanya berbeda.”
Raka menatapnya.
Ada sesuatu di udara yang terasa lebih serius dari biasanya.
Tapi tentu saja…
Raka menggaruk kepalanya dan berkata,
“Ya mungkin kita minum kopi lagi.”
Nina tertawa.
Dan ketegangan itu sedikit mencair.
Namun mereka berdua tahu…
Arman belum benar-benar keluar dari cerita mereka.