Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Jati melangkah keluar dari kamar VVIP dengan rahang yang masih mengeras.
Di lorong rumah sakit yang sepi, kepala pengawalnya sudah menunggu dengan sikap tegap.
"Lapor, Pak. Dery sudah kami ringkus di pelabuhan saat mencoba menyeberang keluar pulau. Sekarang dia sudah diamankan di kantor polisi di bawah pengawasan orang-orang kita," lapor pengawal itu.
Jati mengangguk dingin. "Bagus. Pastikan dia tidak mendapatkan celah untuk bebas. Aku akan datang ke sana setelah—"
Belum sempat Jati menyelesaikan kalimatnya, suara keributan pecah dari arah lift.
Sekelompok orang—seorang wanita tua dan seorang wanita muda yang tampak sedang hamil—berlari kasar menuju kamar perawatan Lintang.
Mereka menyerobot masuk sebelum pengawal Jati sempat menghadang.
"Lintang! Lintang, cabut tuntutanmu sekarang juga!" teriak wanita tua itu, yang tak lain adalah mantan ibu mertua Lintang.
Jati segera masuk kembali ke kamar, langkahnya lebar dan penuh ancaman.
Di dalam, ia melihat Lintang yang masih lemah tampak gemetar melihat kedatangan keluarga Dery.
"Lintang, tolonglah. Dery itu khilaf," ucap wanita muda di samping ibu itu dengan nada memaksa.
"Kamu kan tahu sendiri, kamu itu mandul! Kamu tidak bisa kasih keturunan buat keluarga kami. Sekarang Dery sudah punya istri baru yang sedang hamil. Kasihan istri Dery kalau dia dipenjara, siapa yang mau kasih makan anaknya nanti?"
"Iya, Lintang! Kamu itu harusnya sadar diri. Sudah bagus dulu Dery mau nikah sama kamu walaupun cuma sebentar. Jangan jadi wanita pendendam hanya karena masalah sepele begini. Cabut laporannya!" tambah sang ibu dengan nada menghina.
Lintang hanya bisa terisak, menutupi wajahnya dengan tangan yang masih terpasang infus. Kata "mandul" itu kembali menghujam jantungnya seperti belati berkarat.
"CUKUP!"
Suara Jati menggelegar, membuat kaca jendela kamar seolah ikut bergetar.
Semua orang di ruangan itu tersentak diam. Jati berdiri di depan ranjang Lintang, membentengi wanita itu dengan tubuhnya yang gagah.
"Siapa yang kalian sebut mandul?" tanya Jati dengan suara rendah yang sangat mematikan.
Matanya menatap tajam ke arah mantan ibu mertua Lintang.
"K-kami, cuma mau bicara sama Lintang, Pak. Ini urusan keluarga kami," jawab wanita tua itu mulai menciut melihat wibawa Jati.
"Tidak ada lagi urusan keluarga! Lintang adalah calon istriku. Siapa pun yang menghinanya, berarti menghinaku," tegas Jati. "Dan soal anak? Jika Tuhan memang belum menitipkan anak pada Lintang, itu bukan urusan kalian. Tapi memukul wanita sampai babak belur adalah perbuatan binatang, dan binatang tempatnya di dalam kandang."
Jati menunjuk ke arah pintu. "Keluar dari sini sekarang juga! Sebelum aku buat kalian semua menyusul Dery ke balik jeruji besi karena gangguan ketertiban dan percobaan intimidasi saksi!"
Keluarga Dery terkesiap, nyali mereka ciut seketika.
Mereka baru menyadari bahwa Lintang kini berada di bawah perlindungan pria yang kekuasaannya jauh di atas jangkauan mereka.
Dengan langkah seribu, mereka pergi meninggalkan kamar sambil terus menggerutu ketakutan.
Jati segera berbalik, duduk di tepi ranjang dan memeluk Lintang yang masih terisak hebat.
"Jangan dengarkan mereka, Lintang. Kamu tidak mandul, hatimu justru sangat subur dengan kasih sayang. Dan itu lebih dari cukup bagiku."
Sementara itu di tempat lain dimana Mila sedang berdiri mematung di depan gerbang rumah yang dulunya ia kuasai dengan angkuh.
Di sampingnya, Andre tampak gelisah, sesekali membetulkan letak kerah kemejanya yang mulai kusut.
Mata Mila membelalak saat melihat tumpukan kantong plastik besar dan beberapa kardus yang diletakkan begitu saja di trotoar samping gerbang.
"Ini, semua barang-barangku?" suara Mila bergetar karena emosi.
Seorang petugas keamanan bertubuh tegap mendekat dengan wajah datar.
"Maaf, Bu Mila. Perintah Pak Jati sudah jelas. Semua barang Ibu sudah dikeluarkan. Silakan diambil sekarang dan segera tinggalkan area rumah ini karena aset ini sedang dalam proses pengalihan."
"Kurang ajar! Aku tidak akan pergi sebelum Mas Jati memberikan hakku! Ini rumahku juga!" teriak Mila histeris.
Andre mencoba menenangkan, namun Mila justru menyambar ponselnya.
Dengan jari yang gemetar karena amarah, ia menghubungi nomor Jati.
Ia butuh uang. Hidup di rumah kontrakan Andre yang pengap selama satu malam saja sudah membuatnya hampir gila.
"Mas! Apa-apaan ini?! Kenapa barang-amarku dibuang ke jalan seperti sampah?! Mana uang hasil penjualan rumah ini? Kamu bilang mau kasih separuh, kan? Aku butuh uang itu sekarang untuk beli apartemen baru!" teriak Mila begitu telepon diangkat.
Di seberang telepon, terdengar suara hening sejenak, lalu disusul oleh suara tawa yang meledak.
Jati tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat puas sekaligus merendahkan.
"Uang penjualan rumah?" Jati mengulang pertanyaan itu di sela tawanya yang mulai mereda menjadi suara dingin.
"Mila, Mila, kamu pikir menjual rumah semahal itu semudah membalikkan telapak tangan? Rumahnya saja belum laku, dan kamu sudah menagih hasilnya?"
"Tapi kamu janji, Mas!"
"Aku janji akan memberikan separuh setelah rumah itu laku dengan harga terendah sekalipun. Tapi lihat dirimu sekarang," suara Jati mendadak tajam.
"Kamu sedang bersama Andre, kan? Bukankah kamu bilang dia bisa membahagiakanmu? Kenapa sekarang malah merengek meminta uangku?"
Jati menjeda kalimatnya, suaranya kini terdengar penuh kemenangan.
"Nikmatilah hidup barumu dengan lelaki murahan itu, Mila. Jangan ganggu aku lagi. Aku sedang sibuk mengurus wanita yang jauh lebih berharga darimu—wanita yang sebentar lagi akan menjadi nyonya di hidupku yang baru."
Bip!
Sambungan diputus sepihak. Mila terpaku, ponselnya hampir jatuh dari genggaman.
Kata-kata Jati tentang "wanita yang lebih berharga" terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
"Andre! Lakukan sesuatu! Jangan cuma diam!" bentak Mila pada Andre.
Andre hanya terdiam, menatap tumpukan kardus di pinggir jalan.Ia mulai menyadari bahwa Mila yang tidak memiliki harta ternyata tidak seksi lagi di matanya.
Mila mondar-mandir di depan tumpukan kardusnya dengan napas memburu.
Kata-kata Jati terus terngiang di telinganya seperti kaset rusak. Wanita yang jauh lebih berharga?
"Wanita berharga? Siapa yang dia maksud?!" Mila berteriak frustrasi, membuat beberapa tetangga yang lewat meliriknya dengan sinis.
"Apa jangan-jangan selama ini Mas Jati juga berselingkuh di belakangku? Bajingan! Dia menuduhku, padahal dia sendiri punya simpanan!"
Pikiran Mila mulai liar. Ia merasa tidak terima. Baginya, Jati adalah miliknya yang bisa ia injak-injak, namun ia tidak rela jika Jati justru menemukan kebahagiaan dengan wanita lain. Ego Mila terluka hebat.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkan dia memberikan hartanya pada wanita lain!"
Mila kembali menekan tombol panggil di ponselnya.
Ia ingin memaki Jati, ingin menuntut penjelasan, dan yang terpenting, ia ingin memastikan posisinya tidak digantikan.
Tuuuut... Tuuuut...
Klik.
Panggilan itu ditolak. Mila mencoba lagi, namun hasilnya sama.
Jati terus menolak panggilannya seolah Mila hanyalah gangguan debu yang harus segera dibersihkan.
"Mas! Angkat!" Mila berteriak pada ponselnya sendiri, wajahnya merah padam.
Di sampingnya, Andre hanya bisa menghela napas.
"Mila, sudah. Dia sudah tidak mau bicara. Lebih baik kita urus barang-barangmu dulu dan cari tempat tinggal yang layak."
"Diam kamu, Andre! Kamu tidak mengerti!" bentak Mila.
"Mas Jati itu hartanya tak terbatas. Aku tidak sudi kalau harta itu jatuh ke tangan wanita simpanannya. Aku harus cari tahu siapa wanita itu!"
Mila kemudian teringat pada sopir pribadi Jati yang dulu sering ia perintah.
Dengan cepat, ia mencari nomor telepon pria itu. Ia yakin, Jati yang sekarang pasti sedang bersama wanita tersebut.
Sementara itu, di kamar VVIP rumah sakit, Jati meletakkan ponselnya di atas nakas dengan perasaan puas.
Ia menatap Lintang yang sedang mencoba duduk bersandar.
"Siapa, Mas? Mila?" tanya Lintang ragu.
"Bukan siapa-siapa, Lintang. Hanya gangguan kecil dari masa lalu," jawab Jati sambil mengupas buah apel untuk Lintang.
"Sekarang, fokuslah pada kesembuhanmu. Aku sudah meminta asistenku untuk mulai mengurus berkas pernikahan kita. Aku ingin segalanya selesai secepat mungkin."
Suasana di kamar VVIP itu mendadak sangat hening dan hangat.
Jati merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang elegan.
Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin emas putih dengan mata berlian tunggal yang berkilau indah tertangkap cahaya lampu ruangan.
Jati meraih jemari Lintang yang masih terasa rapuh, lalu perlahan menyematkan cincin itu di jari manisnya.
"Mas, apa ini?" Lintang bertanya dengan suara bergetar, matanya menatap cincin itu dan wajah Jati bergantian. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Itu adalah tanda bahwa aku tidak sedang bermain-main dengan ucapanku, Lintang," ucap Jati dengan nada rendah yang penuh kesungguhan.
"Cincin ini mungkin tidak sebanding dengan semua kebaikan yang sudah kamu berikan untuk kesembuhanku, tapi anggaplah ini sebagai pengikat sampai aku bisa memberikan pesta yang layak untukmu."
Lintang mengusap permukaan berlian kecil itu dengan jempolnya. Air mata haru kembali menetes di pipinya.
"Mas, ini terlalu mewah untukku. Aku hanya seorang tukang pijat, Mas. Bagaimana kalau nanti orang-orang bilang aku hanya mengincar harta Mas?"
Jati memegang kedua bahu Lintang, memaksanya untuk menatap tepat ke matanya.
"Biarkan mereka bicara apa saja. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya terpuruk dan tidak ada satu pun orang yang peduli, kecuali kamu. Mereka tidak tahu bahwa tangan inilah yang membawaku kembali menjadi pria yang utuh."
Jati mencium kening Lintang cukup lama. "Cincin itu adalah janji. Janji bahwa setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, kamu tidak akan pernah kembali ke rumah kontrakan itu. Kamu akan pulang ke rumahku, sebagai istriku."
Di tengah momen syahdu itu, Lintang merasa seolah beban berat yang selama ini ia pikul—tudingan mandul dari keluarga mantan suaminya, kemiskinannya, dan rasa sakit fisiknya—menguap begitu saja. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada firasat kecil di hatinya tentang badai yang mungkin akan datang dari pihak Mila.
"Terima kasih, Mas Jati. Aku akan menjaga janji ini sebaik mungkin," bisik Lintang sambil menyandarkan kepalanya di dada Jati.