Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32.HARI PERTAMA BEKERJA.
Pagi itu suasana gedung perusahaan milik Revan terlihat sibuk seperti biasa. Karyawan berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan wajah serius. Di antara mereka, Khay melangkah pelan dengan map di tangannya.
Hari ini adalah hari pertamanya magang.
Ia menarik napas dalam.
“Semangat, Khay. Kamu masuk ke sini bukan karena istri bos… tapi karena kemampuanmu sendiri,” gumamnya pelan.
Dan itu memang benar. Ia mengikuti seluruh proses seleksi seperti peserta lainnya. Tes tertulis, wawancara, hingga presentasi kecil. Tidak ada perlakuan khusus. Bahkan Revan sama sekali tidak ikut campur.
Khay ditempatkan di divisi marketing dan pengembangan strategi. Divisi yang cukup sibuk dan penuh tekanan.
“Selamat pagi,” sapa seorang wanita berambut pendek dengan ramah.
“Pagi,” jawab Khay tersenyum.
“Aku Dina. Kita satu tim.”
“Khay,” jawabnya sambil menjabat tangan Dina.
Tak lama kemudian, seorang pria berkacamata ikut mendekat. “Aku Arga. Kalau ada apa-apa tanya saja.”
“Siap,” jawab Khay ringan.
Sejak awal, Khay berusaha menyesuaikan diri. Ia tidak menunjukkan sikap canggung atau merasa lebih tinggi dari yang lain.
Bahkan saat diberi tugas menganalisis data kampanye sebelumnya, ia mengerjakannya dengan serius.
“Wah, kamu cepat juga ya nangkepnya,” komentar Dina saat melihat hasil kerja Khay.
Khay tersenyum malu. “Masih belajar kok.”
“Biasanya anak magang itu butuh waktu lama buat ngerti alur kerja kita,” sambung Arga. “Kamu malah langsung bisa.”
Khay hanya tersenyum. Dalam hati ia lega. Ia takut jika orang-orang menganggapnya tidak kompeten. Tapi ternyata, ia mampu mengikuti ritme kerja dengan baik.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa.
Dan yang paling membuatnya bersyukur Teman-teman barunya ramah. Mereka bisa diajak bercanda, tapi tetap profesional saat bekerja.
Jam makan siang pun tiba.
“Yuk ke kantin,” ajak Dina.
Khay langsung berdiri. “Ayo!”
Kantin perusahaan ternyata luas dan bersih. Menu makanannya beragam, dari makanan tradisional sampai western.
Khay membawa nampannya dengan wajah berbinar.
“Di sini enak ya… sudah bisa makan siang gratis, hihihi,” ucapnya polos.
Dina tertawa kecil. “Iya dong.”
Arga ikut menyahut, “Perusahaan kami memang sangat royal.”
Khay pura-pura terkejut. “Oh ya?”
“Iya,” lanjut Arga. “Tidak cuma makanan gratis. Asuransi full. Bonus jelas. Bahkan setiap akhir tahun kita pasti diajak jalan-jalan sama Tuan Revan.”
Khay menahan ekspresinya “Oh… serius?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Dina mengangguk semangat. “Tahun kemarin ke Bali. Semua biaya ditanggung.”
“Gila…,” gumam Khay pelan.
“Makanya banyak yang betah kerja di sini,” tambah Arga. “Tuan Revan itu memang dingin, tapi sangat perhatian sama kesejahteraan karyawannya.”
Khay tersenyum kecil “Iya ya… kelihatannya begitu.”
Dina menyendok makanannya. “Kamu belum pernah lihat langsung Tuan Revan kan?”
Khay tersedak sedikit. “Eh… belum.”
“Kalau lihat pasti deg-degan,” bisik Dina.
“Kenapa?” tanya Khay.
“Ganteng, tinggi, kharismatik. Tapi auranya dingin banget. Jarang senyum.”
Khay menunduk, menahan senyum geli Kalau kalian tahu dia di rumah seperti apa…
“Banyak juga yang ngefans diam-diam,” tambah Arga.
“Serius?” Khay pura-pura penasaran.
Dina mengangguk cepat. “Iya! Tapi mana ada yang berani dekatin. Tatapannya saja bisa bikin keringat dingin.”
Khay hampir tertawa Dalam hati ia merasa bangga.
Itu suaminya.
Ting…
Ponselnya berbunyi.
Khay langsung melihat layar.
Mas Revan : Baby, kenapa kamu tidak datang ke kantorku?
Khay langsung membulatkan mata Ia buru-buru membalas.
Khay : Aku lagi makan siang, Mas.
Tak lama balasan datang lagi.
Mas Revan : Makan di mana?
Khay : Di kantin sama teman-teman.
Beberapa detik hening.
Mas Revan : Kenapa tidak ke ruanganku saja?
Khay menggigit bibirnya, lalu membalas cepat.
Khay : Mas, aku lagi magang. Harus profesional dong.
Balasan datang hampir seketika.
Mas Revan : Datang ke ruangan suamimu itu tidak profesional?
Khay menahan tawa.
Khay : Nanti orang-orang curiga.
Beberapa detik tidak ada balasan Lalu..
Mas Revan : Aku yang pemiliknya. Siapa yang berani curiga?
Khay langsung memijat keningnya pelan. Dasar suaminya itu…
Ia mengetik lagi.
Khay : Mas jangan egois. Aku ingin di sini sebagai karyawan biasa.
Lama. Benar-benar lama. Sampai akhirnya muncul balasan.
Mas Revan : Baiklah. Tapi setelah jam kerja, langsung ke ruanganku.
Khay tersenyum.
Khay : Siap, Tuan Direktur.
Tak lama muncul lagi pesan.
Mas Revan : Dan jangan terlalu dekat dengan karyawan pria.
Khay hampir tersedak minumnya Ia melirik Arga yang sedang sibuk makan.
Khay : Mas cemburu?
Balasan cepat.
Mas Revan : Iya.
Jawaban yang terlalu jujur.
Khay tidak bisa menahan senyumnya lagi.
Dina yang melihatnya langsung menyenggol pelan. “Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Eh? Enggak kok,” jawab Khay cepat.
Arga ikut menggoda, “Lagi chat sama pacar ya?”
Khay terdiam sejenak Lalu tersenyum kecil. “Bisa dibilang begitu.”
Di lantai atas…
Di ruang direktur yang luas dan elegan… Revan duduk di kursinya, menatap layar ponsel dengan ekspresi datar Namun jika diperhatikan lebih dekat… Ada senyum tipis di sana, Ia meletakkan ponselnya pelan.
“Magang ya…” gumamnya.
Meski ia menghargai keputusan Khay untuk bersikap profesional…
Tetap saja Ada rasa tidak sabar ingin melihat istrinya.
Dan entah kenapa… Perasaan itu terasa semakin kuat hari ini.
Tok.. tok...
“Masuk.”
Bas melangkah masuk dengan map di tangannya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa.
“Tuan.”
Revan tidak berbalik. “Ada apa?”
“Nanti malam Anda memiliki jadwal pertemuan dengan Tuan Lukas.”
Revan akhirnya menoleh sedikit. “Lukas?”
“Iya, Tuan. Pukul tujuh malam. Di Hotel Grand Arwana.”
Revan terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkerut. Ia terlihat… malas.
“Apa tidak bisa kamu saja yang datang?” tanyanya datar.
Bas sudah menduga jawaban itu akan keluar. “Tidak bisa, Tuan.”
Revan menghela napas tipis. “Kenapa?”
“Karena pertemuan ini akan membahas proyek kerja sama investasi luar negeri. Nilainya besar. Tuan Lukas secara khusus meminta bertemu langsung dengan Anda.”
Revan memijat pelipisnya pelan. “Menyebalkan,” gumamnya.
Bas menahan senyum. “Apakah Tuan ada agenda lain malam ini?”
Revan melirik ponselnya di meja Ada foto Khay yang ia jadikan wallpaper “Aku ingin pulang cepat,” ucapnya singkat.
Bas langsung mengerti “Tuan ingin bersama Nyonya?”
Revan menatap tajam, namun bukan marah “Hm.”
Jawaban singkat, tapi cukup jelas.
Bas tersenyum tipis. “Tuan sudah beberapa hari ini pulang lebih awal.”
“Masalah?” tanya Revan dingin.