NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma yang masih di ingat

Di perjalanan pulang dari rumah Anton, hujan kembali turun tipis, membasahi kaca mobil Natan. Wiper bergerak pelan, seirama dengan pikirannya yang semakin kusut. Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis-garis cahaya yang kabur, sama kaburnya dengan perasaannya saat ini.

Cerita Anton terus terngiang di kepalanya. Cerita yang tak pernah ia tahu sewaktu SMA.

Tentang Clara yang bertahan sendirian selama empat tahun.

Tentang bagaimana kedua orangtuanya meninggal, bukan hanya menyisakan duka, tapi juga meninggalkan Clara pada dunia yang kejam dan tak ramah.

Dan tentang satu hal yang paling menusuk

Noel menghilang.

“Jadi… cowoknya itu pindah sebelum hari kelulusanku, nat,” kata Anton tadi. “Setelah itu, setiap bertemu Clara di gang ini, dia menjadi pendiam.”

Natan meremas setirnya hingga ruas jarinya memucat.

Dulu, semasa SMA, Clara selalu terlihat baik-baik saja. Senyumnya mudah muncul. Tawanya ringan. Seolah kehilangan orangtua bukan luka yang terlalu dalam. Karena Noel selalu ada di sisinya. Menjaga dan mengisi celah.

Dan Natan, Natan hanya bisa melihat dari kejauhan.

Ia menyukai Clara masuk SMA. Diam-diam. Tanpa keberanian. Tapi Noel datang lebih dulu. Dan Natan memilih mundur dan ikut pindah ke London bersama kedua orangtuanya saat kenaikan kelas, membawa perasaan yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Kini, setelah bertahun-tahun, ia kembali.

Dan mendapati Clara yang sama

tapi juga sangat berbeda.

Lebih sunyi.

Lebih rapuh.

Lebih sendiri.

“Hidup itu kejam banget sama kamu, ya, Clar…” gumamnya lirih di balik kemudi.

Mobil terus melaju, tapi hati Natan terasa tertinggal di sebuah rumah tua di ujung gang.

---

Keesokan paginya, di rumah peninggalan orangtuanya, Clara sudah terjaga sejak matahari belum sepenuhnya naik.

Dapur kecil itu dipenuhi aroma nasi hangat. Clara menyiapkan sarapan sederhana sambil sesekali melirik rak penyimpanan. Stok beras, minyak, dan beberapa kebutuhan lain yang semalam diberikan Pak Yanto masih tersusun rapi.

Ia tersenyum kecil.

“Setidaknya… aku bisa bernapas sedikit lebih lega,” gumamnya pelan.

Setelah sarapan, Clara bersiap ke kampus. Blouse putih sederhana membalut tubuhnya, dipadukan dengan rok denim selutut. Rambut lurusnya dibiarkan tergerai, jatuh lembut di bahu. Tak ada riasan berlebihan hanya wajah lelah yang berusaha tetap rapi.

Ia mengambil tas selempangnya dan melangkah keluar rumah.

Gang itu sudah mulai hidup.

Beberapa tetangga menyapanya ramah, seperti biasa.

“Pagi, Clara.” “Mau ke kampus, ya?”

Clara membalas dengan senyum tipis dan anggukan sopan. Ia menghargai kebaikan mereka. Benar-benar menghargainya.

“Selamat pagi, Clara,” sapa Bu Sumiati dari depan gerobak nasi kuningnya. “Sudah sarapan belum? Tunggu sebentar ya, ibu bungkusin.”

Clara menghentikan langkahnya.

“Sudah makan, Bu,” jawabnya lembut sambil tersenyum. “Terima kasih.”

Bu Sumiati menatapnya dengan raut yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan. Sayang. Iba. Doa yang tak terucap.

Saat Clara melangkah pergi, suara ibu-ibu lain terdengar samar.

“Kasihan ya… hidup sendiri bertahun-tahun.” “Masih muda, tapi sudah ngerasain beratnya hidup.”

Bu Sumiati menghela napas panjang. Setiap pagi ia ingin memberi lebih. Tapi Clara selalu menolak jika diberi gratis. Gadis itu terlalu terbiasa berdiri dengan kakinya sendiri.

Clara berjalan menuju halte bus, bahunya sedikit mengeras.

Ia tidak ingin dikasihani.

Ia hanya ingin… diperlakukan seperti orang biasa.

Bus datang sepuluh menit kemudian. Clara naik dan duduk di dekat jendela. Pandangannya menatap keluar, membiarkan kota bergerak sementara pikirannya kembali melayang entah ke mana.

Kini Clara duduk sendirian di bangku taman kampus, di bawah pohon flamboyan yang daunnya mulai mengering dimakan musim. Sebuah buku sastra terbuka di pangkuannya, kumpulan esai tentang kesunyian dalam karya-karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. Clara menandai beberapa halaman, membaca pelan tentang bagaimana kata-kata sering kali menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang tak pandai berbagi luka. Tentang sunyi yang bukan sekadar sepi, melainkan ruang untuk bertahan.

Ia tenggelam dalam barisan kalimat itu, sampai sebuah suara yang terlalu familiar memecah konsentrasinya.

“Selamat siang, Claraaaa!”

Teriakan itu datang bersama langkah tergesa seorang perempuan seusianya. Thalia Reyes, dengan wajah blasteran Indonesia–Spanyol dan rambut hitam kecokelatan yang selalu tampak hidup, berdiri dengan senyum selebar dunia.

Clara hanya melirik sekilas, lalu menghadiahkan senyum tipis senyum yang sopan, tapi berjarak.

Thalia langsung duduk di sampingnya tanpa ragu, seolah bangku itu memang disisakan untuknya.

“Hei, selamat ulang tahun,” ucap Thalia ceria, matanya berbinar.

“Maaf ya kemarin aku nggak bisa ngajak kamu jalan.” Thalia memasang wajah memelas, dibuat-buat lucu, berharap Clara luluh.

“Tidak apa-apa, Thal,” jawab Clara singkat, matanya masih tertambat pada halaman buku.

Bagi Clara, Thalia bukan orang asing. Tapi juga bukan seseorang yang benar-benar ia biarkan masuk. Mereka berada di jarak yang aman, cukup dekat untuk duduk berdampingan, cukup jauh untuk tidak saling menyentuh luka.

Thalia terdiam sesaat. Sudah satu tahun mereka berteman, dan selama itu pula Clara tak pernah benar-benar bercerita. Tak pernah mengeluh, tak pernah menangis di depannya. Diam Clara bukan diam yang kosong, ia penuh, terlalu penuh. Sebagai mahasiswi psikologi, Thalia paham betul tanda-tanda itu. Namun ia juga tahu, luka tak bisa dipaksa keluar. Jadi ia memilih menunggu.

“Kalau gitu,” Thalia menepuk pahanya pelan, “hari ini kita ke taman bermain, ya.”

Clara mengangkat wajahnya, hendak menolak, tapi Thalia sudah lebih dulu menutup telinganya sendiri.

“Lalalala, aku nggak dengar penolakan,” gumamnya keras kepala.

Clara menghela napas kecil. Ia menghitung cepat di kepalanya sisa uang bulan ini, kebutuhan yang harus dihemat.

Untung masih ada beras dari Pak Yanto, batinnya.

“Iya.” akhirnya Clara mengalah.

Thalia langsung melonjak senang, jarinya lincah memesan tiket taman bermain lewat ponsel.

“Sudah! Jangan lupa ya. Jam lima sore aku jemput di tempat kerja mu,” katanya sambil memperlihatkan layar ponselnya.

Clara hanya mengangguk kecil.

Ia melirik ponselnya sendiri. Waktu menunjukkan hampir tengah hari.

“Kamu nggak masuk kelas?” tanyanya.

“Hah, males banget. Hari ini praktik lagi, tiap hari praktek. Pusing aku” keluhnya, lalu menyandarkan punggungnya ke bangku taman.

Clara tersenyum tipis dan menggeleng. Thalia memang begitu, selalu mengeluh tentang jurusan, dosen, dan tugas, tapi nyatanya hampir tak pernah absen. Datang terlambat, iya. Tapi selalu datang.

Clara menutup bukunya, merapikan tas, lalu berdiri.

Ia melangkah pergi, meninggalkan Thalia yang masih bersandar dengan mata terpejam, menikmati angin siang.

“Heh! Kebiasaan ya ninggalin teman!” teriak Thalia ketika Clara mulai memasuki lorong kampus.

Clara tak menoleh. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit, nyaris tak terlihat.

Sedikit saja. Namun cukup.

---

Kini Clara berada di toko buku kecil tempat ia bekerja. Sejak pukul satu siang, ia sudah mondar-mandir di antara rak-rak kayu yang dipenuhi buku lama dan baru, bergerak lebih cepat dari biasanya. Tangannya cekatan, matanya sesekali melirik jam dinding. Ada sesuatu yang ia kejar hari ini bukan target kerja, melainkan waktu.

“Pak Ardi,” Clara mendekat dengan langkah ragu, suaranya diturunkan sedikit, “Nanti jam lima saya boleh pulang lebih dulu nggak, Pak? Besok saya lembur buat ganti jam hari ini.”

Pak Ardi mengangkat wajahnya dari tumpukan nota, lalu tersenyum tipis. Ia dan istrinya memang sudah lama memperhatikan Clara bukan sebagai pegawai semata, melainkan seperti keponakan sendiri. Anak itu terlalu sopan untuk tidak disayangi.

“Mau kemana?,” jawabnya ramah.

“Ada janji sama teman kampus, Pak,” sahut Clara pelan.

“Iya, boleh tapi jangan pulang terlalu larut.”

Clara membalas dengan anggukan kecil.

Biasanya Clara duduk di kasir, tapi hari ini Bu Jasmine membantu melayani pelanggan. Clara kebagian merapikan rak dan mencatat buku-buku yang stoknya mulai habis. Ia duduk di sudut toko, buku catatan terbuka di pangkuannya, pena bergerak cepat.

Lalu, tiba-tiba..

Aromanya.

Clara terhenti. Keningnya berkerut, tangannya membeku di udara. Aroma itu menyusup begitu saja ke inderanya, hangat, familiar, dan terlalu dikenalnya. Aroma yang tak pernah benar-benar ia lupakan, meski sudah lama tak ia temui.

Dadanya mengencang. Jantungnya berpacu, cepat dan tak beraturan.

Tanpa berpikir panjang, Clara berdiri. Ia menyusuri setiap lorong rak buku, matanya menyapu setiap sudut, berharap atau mungkin takut menemukan sosok tertentu. Namun tak ada siapa-siapa.

Hanya kesunyian toko dan suara halaman buku yang dibalik.

Dari sudut matanya, Clara menangkap bayangan seseorang yang melangkah keluar dari toko. Ia refleks mengikuti, mendorong pintu dan berdiri di luar.

Clara menoleh ke kanan. Ke kiri.

Tak ada.

Orang itu sudah menghilang atau mungkin hanya perasaannya saja.

“Ada apa, Clar?” suara Bu Jasmine membuat Clara tersentak. Perempuan itu berdiri tak jauh darinya, menatap dengan wajah heran.

“Bu,” Clara berbalik cepat, suaranya sedikit tergesa, “tadi… siapa pelanggan terakhir?”

“Ibu nggak kenal,” jawab Bu Jasmine jujur. “Dia pakai masker. Memangnya kenapa?”

Clara terdiam.

Tentu saja, batinnya getir. Mana mungkin Bu Jasmine tahu.

Clara menghela napas pelan, berusaha menurunkan detak jantungnya yang masih tak stabil.

“Kirain orang yang saya kenal, Bu,” jawabnya akhirnya, tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai tameng.

Bu Jasmine melirik jam. “Ini sudah hampir jam lima. Kamu jadi pergi?”

Clara menoleh ke jam besar di dinding. Angkanya terasa bergerak terlalu cepat hari ini.

“Iya, Bu. Saya ke belakang dulu, mau siap-siap.”

Bu Jasmine mengangguk.

Tak lama kemudian, Clara kembali dengan tasnya.

“Bu, saya pergi dulu.”

“Iya, hati-hati, Clar.”

Beberapa langkah setelah Clara keluar dari toko, sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendela diturunkan, dan wajah Thalia muncul dengan senyum penuh semangat.

“Ayok masuk! Aku udah nggak sabar nih!” serunya dari balik kemudi.

Clara membuka pintu mobil dan masuk. Saat pintu tertutup, aroma di kepalanya perlahan memudar tertinggal sebagai sesuatu yang belum selesai.

Dan Clara tahu, beberapa hal di masa lalu tak benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu waktu untuk kembali menyapa.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!