Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Meski telah disediakan kursi untuknya, Jeffrey hanya berdiri lama sembari menatap Lily yang masih tertawa. Pipi gadis itu memerah dengan mata menyipit sempurna, hingga sebuah garis lengkung yang indah terbentuk seperti bulan sabit. Sementara tangannya menepuk-nepuk lututnya yang bersandar pada meja dengan posisi menekuk. Tampak sangat bahagia.
Sudut bibir Jeffrey tertarik tanpa ia sadari. Senyumnya tidak terlalu lebar ataupun di buat-buat. Ada ketenangan didalamnya yang tak dapat dijelaskan, juga tak dapat diurai dengan kata-kata. Ia terpaku lama seolah terhipnotis oleh makhluk kecil di depannya.
Andra menunggu dengan harap-harap cemas. Senyum Jeffrey yang sekarang terasa mengerikan baginya. Terlihat seperti dentum kematian yang semakin lama semakin dekat, seolah menunggu dirinya untuk segera dieksekusi. Pegangan pada sandaran kursi menguat, wajahnya memerah. Sementara keringat mulai bermunculan membasahi seragam yang melekat. Entah karena rasa takut akan kemarahan Jeffrey yang bisa meledak kapan saja atau mungkin karena rasa pedas dari sambal Mbak Nurul yang kini baru terasa sensasinya.
Arah tatap Jeffrey beralih pada orang disampingnya. Kemudian sebuah tendangan yang cukup keras ia layangkan pada salah satu kaki Andra. Secara tiba-tiba, tanpa aba-aba.
"AAakkhh!!!"
Jeritan itu keluar begitu saja dari mulut karena tak bisa menahan rasa sakit. Tubuh Andra sedikit membungkuk. Rasa nyeri seperti terkena tusukan ribuan jarum di kaki, menyerang tepat di tulang keringnya, menyebar hingga ke area sekitar. Tangannya terangkat, mencoba mencari pegangan. Namun Jeffrey segera menghindar. Seolah enggan tergapai.
"Gila lu Jeff!! Nendangnya kenceng banget. Sakit tau." Andra meratap lirih. Sudut matanya berembun. Pada akhirnya tangan itu kembali berpegangan pada sandaran kursi. Sementara satunya lagi masih memegangi kaki.
Ditempatnya, Lily tersenyum puas. Jempol tangannya terangkat satu, terarah pada Jeffrey dengan senyum bangga. Sebelum akhirnya pandangan itu berpindah pada sang kakak.
"Mas Andra, gimana? Katanya mau dilawan Mas Jeffrey-nya? Kenapa malah diem aja?"
Bagaimana bisa Andra membalas kalau untuk berdiri saja ia kesusahan. Alasan lainnya, Jeffrey itu pemegang sabuk hitam taekwondo. Jadi bisa dipastikan hasil seperti apa yang akan ia dapat bila nekat melawan.
Telunjuk Andra mengacung. Mengarah pada Lily dengan tekanan tajam. Sementara matanya menatap nyalang. Penuh dengan aura permusuhan.
"Anak kecil, diem nggak kamu!!"
Lily tak gentar. Bola matanya memutar. Kemudian lidahnya terjulur ke depan untuk meledek. "Huhh dasar, bisanya ngomong doang. Ternyata nggak berani juga kan wleee..."
"Awas kamu yah!!" Kata Andra kesal. Ia berusaha berjalan kearah Lily dengan tertatih-tatih. Entah mau apa, entah mau diapakan adiknya itu.
Kursi di dorong kebelakang dengan penuh kekuatan, dengan gerakan spontan karena merasa terancam. Lily berdiri dengan posisi siap. Berniat kabur kemana saja asal tidak tertangkap. Kakinya perlahan-lahan mundur ketika Andra semakin maju. Wajahnya panik.
"Mau kemana kamu?! Jangan lari!" Seru Andra keras. Langkahnya pendek-pendek namun cepat. Membuat Lily menjerit kesetanan. Takut tertangkap. Bagaimanapun ia hanya anak kecil berusia tiga belas tahun. Tak mempunyai langkah selebar orang dewasa.
Jeffrey yang melihat itu semua, menjadi tak tahan. Sembari memegangi kerah belakang Andra, ia berkata. "Udah lah Ndra, kita udah telat. Udah ditunggu yang lain."
"Kalian mau kemana?" Tanya Lily penasaran. Wajahnya cerianya tiba-tiba berubah. Perasaan akan ditinggalkan sendiri dalam sepi itu datang lagi. Seperti gelombang badai yang siap menghantam tanpa ampun. Lily menarik kursi didekatnya, kemudian terduduk disana dengan lesu.
Andra tersenyum nakal. Pikiran setan menyelimuti hati dan juga jiwanya. Kemudian ia berkata dengan nada menggoda. "Kita mau pergi. Mau jalan-jalan berdua, mau pacaran. Kamu jagain rumah yah yang bener."
Lily mengernyit. Ia menatap sang kakak dengan ekspresi jijik. Sementara Jeffrey segera mundur. Menjauh sejauh-jauhnya dari jangkauan Andra. Tubuhnya menggigil, merinding di seluruh badan. Karena merasa tak tahan, satu tendangan kembali meluncur tanpa hambatan, tanpa bisa dicegah. Seolah kaki itu bergerak otomatis tanpa pengendali. Mengenai kaki Andra yang satunya. Membuat pria itu lagi-lagi menjerit kesakitan.
"Aawwkk!! Sakit Jeff!!" Raungnya.
"Berhenti bicara omong kosong." Kata Jeffrey datar. Ia mendorong tubuh Andra ke samping. Lantas menghampiri Lily yang tengah menunduk. Berjongkok tepat di depannya.
"Udah makan?" Tanya Jeffrey lembut. Sangat berbanding terbalik ketika ia berbicara dengan Andra tadi yang terdengar sangat ketus dan dingin. Seolah di dalam tubuhnya ada dua jiwa yang mendiami.
Lily mengangguk. "Udah." Jawabnya lemah.
Usapan lembut dapat Lily rasakan dipuncak kepalanya. Membuat ia mendongak untuk melihat si pelaku.
"Kalian mau kemana?" Tanyanya lagi. Bagaimanapun jawaban asal sang kakak tadi tak dapat ia percayai.
"Mau ngerjain tugas." Balas Jeffrey.
Anggukan kepala kembali Lily berikan sebagai jawaban. Kedua tangannya yang berada dipangkuan tertaut rapat, saling meremas. Semua orang sibuk, semua orang punya kegiatan untuk dilakukan kecuali dirinya. Lily juga punya tugas yang belum dikerjakan sebenarnya, tapi ia tak suka belajar. Ia selalu kesusahan. Angka-angka itu membuat kepalanya pusing, sementara huruf-huruf itu seperti benang kusut tanpa ujung. Nanti, ketika semua orang pergi, apa yang harus ia lakukan?
Jeffrey yang melihat kegelisahan itu, kembali mengusap lembut kepala Lily. Lantas menatapnya sayang. "Sana ganti baju dulu, aku tungguin."
"Ngapain?" Lily bertanya tak mengerti. Apa ia akan disuruh mengerjakan tugas juga? Oh no, jangan sampai hal itu tak terjadi.
"Ikut aku ke rumah temen, habis itu aku bawa kamu ke mall, kamu bisa main sepuasnya nanti disana." Ajak Jeffrey.
Tawaran itu begitu menggiurkan bagi Lily. Tak perlu berpikir lagi, ia mengangguk dengan semangat. Kemudian lekas berdiri. "Okeh, aku ikut."
Sebelum Lily sempat menggerakkan kakinya, Andra telah meringsek maju untuk menghalangi jalan. "Nggak bisa. Kamu nggak boleh ikut. Nanti malah ngerepotin lagi."
Kedua tangan pria itu terlentang. Sementara matanya melotot memberi ancaman.
Lily yang tak terima, kembali menyela tak kalah galaknya "Mana ada aku ngerepotin?! Nggak ya!!"
"Enggak salah. Emang ngerepotin kok." Balas Andra sinis.
Jeffrey mendorong Andra menjauh. "Buruan, mereka udah nunggu." Katanya melerai. Kemudian netranya berpindah pada Lily. "Ganti dulu bajunya, nanti kamu boleh ikut."
Lily tak menunggu perintah dua kali, mengabaikan larangan sang kakak, ia segera berlari. Menaiki tangga dengan cepat hingga sampai ke kamar. Langkahnya sejajar dengan Andra yang juga akan ke kamarnya. Mereka saling senggol, bahkan juga saling dorong. Tak ada yang mau mengalah. Entah yang lebih kecil, atau yang lebih tua. Semuanya sama saja. Untungnya tak ada drama seperti salah satu dari mereka jatuh dari tangga atau semacamnya.
Jeffrey menarik nafas panjang. Meski sudah terbiasa melihat hal seperti itu terjadi di depan mata, tetap saja ada perasaan was-was kalau-kalau pertengkaran mereka menjadi semakin besar dan besar hingga membahayakan keselamatan seperti tadi.
Ketika ia berbalik, berniat meninggalkan ruang makan, suara seseorang berhasil menghentikannya.
"Eh, ada den Jeffrey. Kapan datang?"
Suara itu berasal dari arah pintu belakang. Mbak Nurul muncul dengan sebuah keranjang dalam pelukan. Keranjang itu kosong. Tak tahu berisi apa sebelumnya.
"Baru saja Mbak." Balas Jeffrey.
"Loh? Non Lily sama Den Andra-nya kemana? Bukannya tadi disini." Wajah Mbak Nurul terlihat kebingungan. Ia terus melihat kesana kemari mencari keberadaan dua orang itu.
"Lagi ganti baju." Jawab Jeffrey singkat.
Mbak Nurul mengangguk. "Ohh gitu."
Setelah meletakkan keranjang pakaian ditempatnya, ia berkata lagi. "Aden mau minum apa? Nanti saya buatin." Tawarnya.
"Nggak usah. Saya mau ke depan." Tolak Jeffrey halus.
Mbak Nurul tak memaksa. "Ya udah, kalau gitu saya mau kebelakang lagi. Mau jemur pakaian."
"Ya silahkan."
Dengan itu, percakapan diantara keduanya berhenti.
***
Suasana jalan raya siang ini begitu ramai. Kemacetan, suara klakson dan pengendara yang kacau tumpah ruah menjadi satu dalam satu jalur. Di beberapa titik, terlihat polisi lalu lintas sedang sibuk mengatur arus, memastikan kendaraan tetap bergerak meskipun perlahan.
Jeffrey menurunkan suhu AC di dalam mobil. Teriknya matahari yang menembus kaca menyoroti wajahnya. Terasa menyilaukan. Juga rasa panas yang begitu menyengat mengenai kulit, bagai terbakar. Jeffrey melirik kursi belakang lewat pantulan spion depan. Di kursinya, Lily sudah jauh lebih tenang.
"Kenapa harus naik mobil sih Jeff? Padahal naik motor lebih cepat. Bisa salip sana sini." Gerutu Andra.
"Lily mau di taruh dimana kalau naik motor?" Tanya Jeffrey.
"Ya di bonceng lah. Biasanya juga gitu." Jawab Andra.
Jeffrey juga tahu. Tapi masalahnya, Lily sudah tidak mau lagi dibonceng olehnya. Sementara ia tidak bisa mempercayakan gadis kecil itu pada sang kakak setelah pertengkaran mereka tadi. Jadi inilah solusi paling aman yang ia ambil pada akhirnya.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di sebuah rumah yang bangunannya terbuat dari kayu seluruhnya. Terlihat sederhana, namun memiliki nilai seni yang tinggi. Secara ukuran, rumah ini tidak terlalu besar, dengan bentuk Limasan atau dara Gepak. Tetapi halamannya sangat luas.
Ada sebuah pendopo di depan rumah itu. Yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu-tamu atau mengadakan pertemuan dengan keluarga.
Lily jadi teringat kembali dengan rumah nenek. Ibu dari ayahnya yang kini sudah tidak pernah lagi ia kunjungi. Rumah ini hampir sama dengan yang disana. Terlampau mirip malah.
"Dimana anak-anak? Kok sepi?" Tanya Andra.
Jeffrey mengangkat bahu. Tanda tak tahu. Tapi netranya menangkap beberapa motor milik temannya telah terparkir dengan rapi. Jadi, kemana mereka sebenarnya?
Tak lama, terdengar suara berisik yang datang dari dalam rumah, serta suara langkah-langkah kaki yang terdengar bergemuruh hingga membuat rumah terasa bergetar.
Pintu terbuka keras. Mereka berhamburan keluar dari sana dengan mangkok dan sendok ditangan masing-masing. Wajah-wajah sumringah, dengan mata berbinar cerah itu lebih terlihat seperti zombie dibanding manusia.
Semuanya berlari kencang menuju gerbang, melewati Jeffrey dan Andra dalam kebingungan.
"Jhon, mau kemana?" Tanya Andra sembari menahan lengan temannya itu.
"Bentar, mau beli bakso dulu. Laper." Jawab pria itu cepat. Sebelum akhirnya menyusul yang lain.
Jeffrey dan Andra saling berpandangan, kemudian menepuk dahi masing-masing.