Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Balasan Pertama
Aruna tidak benar-benar tidur malam itu.
Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, tubuh diam, tapi pikirannya bergerak tanpa henti. Foto lobi apartemen masih terpatri jelas di kepalanya—sudut pengambilan, pencahayaan, waktu. Bukan ancaman kosong. Itu pesan yang dirancang untuk membuatnya merasa diawasi.
Dan anehnya…
yang ia rasakan bukan takut.
Melainkan marah yang tenang.
Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menembus tirai apartemen, membuat semuanya terlihat normal. Terlalu normal untuk seseorang yang tahu hidupnya sedang diintai.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Calvin:
Kita mulai hari ini.
Tidak ada basa-basi.
Tidak perlu.
Aruna membalas singkat:
Saya siap.
Kalimat itu terasa berbeda sekarang. Bukan sekadar profesional. Itu keputusan.
Kantor terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena tidak ada orang—justru sebaliknya. Semua berjalan seperti biasa, tapi ada ketegangan tipis yang menggantung. Bisik-bisik berhenti saat Aruna lewat. Tatapan mengikuti, cepat berpaling ketika tertangkap.
Ia tidak menanggapi.
Langkahnya stabil.
Lift terbuka di lantai direksi. Calvin sudah menunggu di depan ruang rapat kecil. Tangannya di saku, ekspresi tenang seperti biasa—tapi matanya tajam.
“Kita punya jejak,” katanya tanpa salam.
Aruna mengangkat alis. “Semalam?”
Calvin mengangguk. “Percobaan akses ulang. Orang yang sama. Dia terlalu percaya diri.”
Sudut bibir Aruna bergerak tipis. “Bagus.”
Mereka masuk ke ruang rapat. Layar besar sudah menyala—log aktivitas, peta jalur akses, titik-titik merah yang menandai percobaan masuk ilegal.
“Dia mencoba melihat apakah kita panik,” kata Calvin.
“Dan dia meninggalkan tanda tangan digital,” sambung Aruna.
Calvin menatapnya sekilas. “Kita tidak langsung tangkap.”
Aruna mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Kita biarkan dia merasa berhasil.”
Keheningan sebentar.
Lalu Aruna mengerti.
“Kita kasih umpan lagi,” gumamnya.
Tatapan Calvin menyetujui. “Balasan pertama.”
Jantung Aruna berdetak lebih cepat.
Ini bukan lagi bertahan.
Ini permainan aktif.
...****************...
Siang hari, dokumen umpan disiapkan.
File palsu. Jalur akses sengaja dibuka setengah. Cukup menggoda untuk seseorang yang merasa pintar.
Aruna duduk di mejanya, layar penuh data. Tangannya bergerak cepat, tapi pikirannya jauh lebih tajam.
Ini bukan hanya soal menangkap pelaku.
Ini soal mengirim pesan:
kami melihatmu.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia membiarkannya berdering.
Berhenti.
Lalu pesan masuk:
“Kamu keras kepala.”
Aruna tersenyum kecil.
Balasannya singkat:
“Dan kamu ceroboh.”
Tidak ada jawaban.
Tapi tiga menit kemudian—
Ping.
Akses masuk.
Aruna menahan napas.
Nama pengguna muncul.
Tepat seperti prediksi.
Ia berdiri cepat. Langkahnya menuju ruang Calvin terasa ringan, hampir seperti adrenalin mengangkat tubuhnya.
Calvin sudah melihat layar saat ia masuk.
Tatapan mereka bertemu.
“Kena,” kata Aruna pelan.
Calvin mengangguk. “Tapi kita tunggu.”
“Untuk apa?”
“Untuk melihat seberapa dalam dia masuk.”
Detik berjalan lambat.
Akses kedua.
Ketiga.
Pelaku menggali lebih jauh.
Terlalu jauh.
Calvin menekan satu tombol.
Jalur terkunci.
Layar menunjukkan satu kata:
TRACE COMPLETE.
Aruna menghembuskan napas.
“Lokasi?” tanyanya.
Calvin membaca data. Rahangnya mengeras.
“Internal,” katanya pelan.
Sunyi jatuh.
“Masih di gedung?” tanya Aruna.
Calvin mengangguk.
Tatapan mereka berubah.
Ini bukan ancaman jarak jauh lagi.
Ini seseorang… yang berjalan di lorong yang sama.
Security bergerak tanpa ribut.
Tidak ada drama.
Tidak ada keributan.
Hanya langkah-langkah cepat yang tidak terdengar oleh kebanyakan orang.
Aruna berdiri di dekat jendela ruang Calvin, menatap kota di bawah. Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Padahal di lantai ini—
permainan sedang berubah arah.
Pintu diketuk.
Security masuk.
“Target diamankan, Pak.”
Aruna menahan napas.
“Bawa ke ruang isolasi,” kata Calvin.
Pintu tertutup.
Sunyi kembali.
Aruna menoleh. “Kita lihat?”
Calvin menatapnya beberapa detik. Menilai.
“Kamu yakin?”
“Ya.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Ruang isolasi kecil. Dingin. Terang.
Pria itu duduk di kursi, tangan di meja. Wajahnya tegang, tapi mencoba terlihat santai.
Begitu melihat Aruna, ekspresinya berubah.
Pengakuan.
“Kamu,” katanya pelan.
Aruna berdiri tegak. “Kamu ceroboh.”
Pria itu tertawa pendek. “Kamu pikir ini selesai?”
Calvin masuk di belakangnya.
“Ini baru mulai,” katanya dingin.
Pria itu menatap mereka bergantian. “Kalian tidak
tahu siapa yang kalian ganggu.”
Aruna mendekat satu langkah. “Kami tahu cukup.”
Sunyi.
Lalu pria itu tersenyum.
“Bagus,” katanya pelan. “Karena setelah ini… mereka akan tahu kalian.”
Kalimat itu menggantung.
Ancaman.
Tapi kali ini…
tidak menggoyahkan.
Calvin menatap security. “Prosedur.”
Pria itu dibawa keluar.
Pintu tertutup.
Aruna menghembuskan napas panjang.
“Balasan pertama,” katanya pelan.
Calvin mengangguk. “Dan mereka akan membalas.”
Tatapan mereka bertemu.
Kesadaran yang sama:
ini belum selesai.
...****************...
Sore menjelang ketika Aruna kembali ke mejanya.
Ponselnya menyala.
Pesan baru.
Nomor tak dikenal.
“Satu jatuh. Banyak yang berdiri.”
Aruna menatap layar lama.
Lalu mengetik:
“Silakan datang.”
Ia menaruh ponsel.
Napasnya stabil.
Tidak ada gemetar.
Tidak ada ragu.
Di seberang ruangan, Calvin menatapnya sekilas.
Tidak ada kata.
Tidak perlu.
Mereka tahu:
perang sudah resmi dimulai.
Dan kali ini—
Aruna tidak bertahan.
Ia menyerang.
Namun malam itu membuktikan satu hal penting:
menangkap satu orang tidak pernah berarti permainan selesai.
Aruna baru saja sampai di apartemennya ketika perasaan familiar itu muncul lagi—sensasi seperti sedang diperhatikan. Bukan takut. Lebih seperti insting yang menarik napasnya lebih pendek.
Ia berhenti di depan pintu.
Sunyi.
Lorong kosong.
Normal.
Terlalu normal.
Aruna membuka pintu perlahan. Lampu ruang tamu menyala otomatis. Semua terlihat seperti yang ia tinggalkan pagi tadi. Tas ia letakkan di meja, sepatu dilepas… lalu matanya menangkap sesuatu.
Sebuah amplop.
Tipis. Putih. Tergeletak di lantai, tepat di depan sofa.
Jantungnya berdetak lebih keras.
Ia tidak langsung menyentuhnya. Pandangannya menyapu ruangan—tidak ada tanda pintu dibobol. Tidak ada jejak kekacauan.
Artinya…
orang itu tahu cara masuk tanpa meninggalkan bekas.
Aruna mengambil amplop itu dengan hati-hati. Tidak ada nama. Tidak ada cap. Hanya satu lembar kertas di dalamnya.
Tulisan tangan.
Kamu menang satu ronde. Jangan terlalu bangga.
Aruna membaca ulang. Tidak ada ancaman langsung. Justru itu yang membuatnya lebih mengganggu.
Ini bukan intimidasi kasar.
Ini psikologis.
Ia duduk perlahan. Napasnya teratur, tapi pikirannya bergerak cepat. Seseorang baru saja masuk ke ruang pribadinya—dan memilih meninggalkan pesan, bukan merusak apa pun.
Itu demonstrasi kontrol.
Ponselnya bergetar sebelum ia sempat memproses lebih jauh.
Calvin.
“Aku baru mau menghubungimu,” katanya begitu Aruna mengangkat.
“Security apartemenmu baru melapor,” suara Calvin rendah, tegang. “Ada blind spot kamera yang dimanfaatkan sekitar satu jam lalu.”
Aruna menatap amplop di tangannya. “Aku tahu.”
Hening sepersekian detik.
“Ada sesuatu di dalam?” tanya Calvin.
“Pesan,” jawabnya singkat. “Mereka mau aku tahu ini belum selesai.”
Napas Calvin terdengar di seberang. “Aku kirim tim.”
“Tidak perlu,” potong Aruna pelan.
“Aruna—”
“Aku tidak panik,” katanya tegas. “Dan mereka ingin melihat itu.”
Sunyi.
Lalu Calvin berbicara lebih pelan, tapi tajam. “Ini sudah personal.”
Aruna menatap tulisan di kertas. Anehnya, ketakutan tidak datang. Yang ada justru kejernihan.
“Bagus,” katanya.
“Bagus?” ulang Calvin.
“Kalau mereka mulai personal,” lanjut Aruna, “berarti kita sudah cukup mengganggu.”
Keheningan panjang.
Lalu Calvin menghembuskan napas pelan. Hampir seperti tawa kecil tanpa humor.
“Kamu menakutkan,” katanya.
“Belum,” jawab Aruna tenang. “Tapi aku sedang belajar.”
Ia menutup telepon setelah memastikan tim keamanan tetap berjaga di perimeter—cukup untuk formalitas, bukan ketergantungan.
Aruna berdiri di tengah ruang tamu, amplop masih di tangan.
Ini bukan lagi soal pekerjaan.
Ini soal pesan.
Dan pesan itu sudah jelas:
mereka ingin perang mental.
Ia berjalan ke dapur, menyalakan korek api kecil, lalu membakar kertas itu. Api menjilat tepi tulisan, huruf-huruf menghitam, melengkung, lalu hilang.
Aruna menonton sampai kertas itu menjadi abu.
Tidak ada simbol dramatis.
Tidak ada deklarasi heroik.
Hanya keputusan diam:
aku tidak mundur.
Ponselnya menyala lagi.
Pesan baru dari nomor yang tidak dikenal.
“Apakah kamu takut?”
Aruna menatap layar sebentar.
Lalu mengetik satu kalimat:
“Harusnya kamu yang takut.”
Ia menekan kirim.
Tidak ada balasan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—
sunyi terasa seperti miliknya.
Aruna mematikan lampu ruang tamu dan berdiri di dekat jendela. Kota berkilau di bawah sana, tampak damai, seolah tidak ada perang kecil yang sedang berlangsung di balik dinding kaca.
Ia tersenyum tipis.
Kalau ini permainan…
maka ia sudah berhenti menjadi bidak.
Sekarang—
ia pemainnya.
Dan pemain tidak mundur.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/