Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kesadaran Yuda terhadap Dirinya Sendiri
Suara langkah kaki di tanah lembap terdengar dengan jelas.
Tatapan Yuda dan Sagara semakin lama semakin terlihat lebih tegang.
Setelah Sagara berdiri dan menatap Yuda secara langsung untuk berbicara, ia akhirnya berkata..
"Kalau kau terus ada di sini, kau bisa kita semua akan mati." jelas Sagara tanpa basa basi.
Mendengar suara Sagara yang terdengar cukup keras, tidak ada yang menyelanya.
Beberapa rekrutan pun juga terlihat langsung menundukkan kepala mereka.
Ada yang mulai mundur secara perlahan karena suasana di lembah pelatihan itu kini berubah menjadi tegang.
Sedangkan Yuda tidak langsung menjawabnya,
Saat ini tubuhnya terasa aneh.
Ada sebuah aliran tenaga yang tidak stabil terasa mengalir di dalam dirinya.
Di sampingnya, terlihat Tara duduk di atas batu besar dalam wujud kucing putih kecilnya.
"Hmm, mengapa hanya untuk berkata jujur seperti itu kau harus menggunakan tekanan seperti ini?" ucap Tara dengan sinis.
Sagara yang mendengar ucapan kucing buntal itu akhirnya melangkah maju satu langkah.
"Ini bukan soal jujur atau tidak, ini adalah soal bertahan hidup." jawab Sagara dengan tegas.
Tara yang mendengar jawaban itu hanya mendengus mengabaikannya.
Sedangkan beberapa rekrutan lain langsung melangkah menjauh.
Mereka paham situasinya akan berubah menjadi pertarungan sungguhan.
Akhirnya Yuda pun mengangkat kepalanya dan berkata..
"Hmm, Sagara, aku pun tidak pernah meminta berada di sini," ucapnya dengan tatapan yang tenang.
"Tapi.. Tapi aku juga tidak akan pergi hanya karena kau takut akan hal itu." lanjutnya dengan tatapan aneh.
Melihat itu, tanpa sebuah peringatan, sosok Sagara langsung bertindak.
Ia menyerang tanpa adanya peringatan dengan tinju lurus mengarah langsung ke bahu Yuda.
Melihat serangan Sagara yang tiba-tiba, Yuda pun langsung reflek menghindar dengan menggerakkan kakinya setengah langkah, namun sayangnya hantaman tetap mengenai tubuhnya, hingga mengakibatkan munculnya suara benturan yang terdengar cukup keras.
Namun saat ini terlihat Yuda tidak jatuh sama sekali, ia bahkan tetap berdiri dengan tegap.
Melihat itu, Sagara langsung menyerang lagi dengan tendangan rendah yang disusul tebasan tangan ke leher.
Gerakannya cepat dan sangat terlatih.
Sedangkan Yuda langsung menangkisnya dengan lengan hingga membuat suara benturan terjadi berulang kali.
Di sekitar mereka, beberapa rekrutan terlihat mulai berjalan mundur lebih jauh.
"Lihatlah, itu bukanlah tenaga biasa," kata salah satu dari mereka.
Terlihat juga kewaspadaan dari Tara yang duduk di sebuah batu tidak jauh dari pertempuran Yuda.
Kucing buntal itu lali berdiri dari duduknya dengan bulu putihnya yang terlihat sedikit mengembang, namun ia belum berubah wujud.
Kembali ke pertarungan, kini Sagara terlihat mundur satu langkah.
"Kau memanglah bukan manusia biasa," gumamnya dengan tatapan yang sangat waspada.
Sedangkan Yuda saat ini malah menatap tangannya sendiri.
"I-ini... Aku juga mulai menyadarinya." gumamnya lirih dengan menatap tangannya sendiri.
Disisi lain, tiba-tiba saja terdengar suara tepukan tangan dari arah tepi lembah.
Sosok Guruh terlihat berdiri di sana di balik gelapnya malam.
"Cukup," teriaknya menghentikan pertarungan Yuda dan Sagara.
Sagara pun langsung menoleh sumber teriakan itu.
"Guru." ucapnya lirih dengan hormat.
"Aku bilang cukup," ulang Guruh yang saat ini terlihat dari pancaran sinar rembulan malam.
"Jika ini dilanjutkan, salah satu dari kalian akan mati." lanjutnya kembali untuk mengingatkan.
Mendengar itu, semuanya pun terdiam, bahkan Tara juga hanya diam mengamatinya.
Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan perkataan yang keluar dari orang bernama Guruh ini, tapi selama ini ia hanya memilih diam karena Yuda menyuruhnya.
Saat ini Guruh menatap Yuda dengan cukup lama.
"Apa kau sadar bahwa apa yang ada di dalam tubuhmu mulai bangkit," tanyanya kepada Yuda.
Yuda pun tidak menjawabnya, melainkan kucing buntal yang sedari tadi mengamati yang menjawabnya.
"Hmm, dia jelas sadar pak tua, dia bahkan tahu bahwa tempat ini memang bukanlah jalur untuk manusia biasa" ucap Tara dengan mendengus kecil.
Ia kemudian melompat turun dari batu dan berjalan mendekat ke Yuda.
Saat ini Yuda hanya mampu mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu, Kenapa aku masih hidup dengan tubuhku yang aneh ini?" tanya Yuda dengan penasaran.
Dalam pikirannya selalu terbesit pemikiran seperti itu, kenapa dirinya harus hidup, kenapa dirinya masih hidup, kenapa harus dirinya yang memiliki tubuh aneh seperti ini.
Guruh hanya menjawab tanpa ekspresi.
"Itulah masalahnya." jawabnya dengan datar.
"Semuanya kembalilah ketempat masing-masing." lanjutnya menyuruh rekrutan lain.
Saat ini, akhirnya Yuda benar-benar sadar jika dirinya bukan lagi murid biasa, atau bahkan ia bukanlah seorang manusia biasa lagi.
Mulai saat ini, Ia telah menjadi sumber masalah yang tidak bisa dihindari, entah untuk dirinya sendiri, untuk orang lain atau bahkan untuk para dewa sekalipun.
Saat dalam lamunan dengan pikirannya sendiri itu, Guruh ternyata belum selesai berbicara.
Ia melangkah satu langkah lagi ke depan, membuat semua orang yang melihatnya dari kejauhan kembali menegakkan tubuh.
"Mulai hari ini... Yuda tidak akan ikut latihan umum lagi." teriaknya dengan keras.
Beberapa rekrutan yang mendengar itu seketika terkejut, namun tidak ada yang berani membantah.
Guruh pun kembali melanjutkan perkataannya.
"Ia akan ditempatkan di area terpisah, aku sendiri yang akan mengawasinya." lanjut Guruh kembali menatap Yuda dengan tegas.
Sagara di sampingnya hanya mampu mengepalkan tangan, lalu melepaskannya kembali.
Sedangkan Yuda malah mencoba mejawab perkataan dari Guruh tersebut.
"Dan jika aku menolak bagaimana?" tanyanya singkat dengan datar.
Mendengar itu, saat ini Guruh hanya menatapnya tanpa emosi.
"Jika kau menolak, kau boleh pergi dari tempat ini sekarang juga." jawabnya dengan tegas tanpa basa basi lagi.
Saat ini, tidak ada jawaban lagi, Yuda hanya terdiam.
Sebenarnya ia juga ingin pergi dari tempat ini, namum jika pergi, ia akan kembali di buru klan-klan lain, dan ia juga belum mendapat sebuah pembelajaran ataupun ilmu tentang bela diri.
Guruh kemudian menoleh kembali ke Yuda.
"Ingatlah, bahwa kau tidak sedang dihukum, tapi kau juga belum diizinkan memilih jalanmu sendiri." ucap Guruh kembali mengingatkan Yuda.
Kali ini, Yuda pun hanya mengangguk patuh.
"Baiklah, Aku mengerti." jawabnya lirih.
Sedangkan Tara kini mulai mendekat ke kakinya dan duduk.
"Hei bocah bebal, apa kau tidak mengerti juga, ini artinya kita akan selalu diawasi," bisik Tara pelan.
Yuda hanya diam tidak menjawab perkataan Tara.
Ia sudah paham akan hal itu, meskipun begitu, disini adalah kesempatannya untuk belajar tentang ilmu bela diri.
Saat ini Guruh kembali menambahkan satu kalimat terakhir.
"Aku seperti ini hanya khawatir, jika kekuatanmu lepas kendali, maka akulah yang akan menghentikanmu sendiri." ucapnya dengan tegas.
Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman, namun terdengar menenangkan di telinga Yuda.
Ia berpikir, inilah waktunya untuk melepaskan setiap apa yang ada di dalam tubuhnya, karena mumpung ada yang mengawasinya.
Dengan keputusan itu pun, akhirnya latihan di luar lembah dibubarkan.
Rekrutan lain pergi dengan berbagai pikiran masing-masing.
Beberapa dari mereka menatap Yuda dengan takut, dan sebagian lagi menatapnya dengan penasaran.
Sedangkan untuk Yuda sendiri, saat ini terlihat sedang berdiri diam di tempatnya.
Ia akhirnya sadar, mulai saat ini, setiap langkahnya akan diperhatikan, dan apa pun yang tersembunyi di dalam tubuhnya tidak akan bisa lagi disembunyikan.
Namun meskipun ada rasa waspada di dalam dirinya, ia juga merasa bersyukur karena ada yang mengawasinya.
Ia hanya khawatir jika kekuatannya lepas kendali dan tidak ada yang mengawasinya, akan berakibat buruk kepada orang lain, bahkan untuk dirinya sendiri.
Jadi ia sekali lagi merasa lega namun juga sedikit waspada.
......................