Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Luka Sang Enigma
Malam yang seharusnya menjadi malam kemenangan setelah warga desa berhasil mengusir pasukan Kolonel Vane, kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam di dalam pondok yang hancur itu. Aleksander berdiri kaku di tengah ruangan, matanya yang kuning menatap tajam ke arah Esme yang masih terduduk lemas di lantai. Rasa sakit di kepalanya akibat alat frekuensi tadi telah mereda, namun getaran di jiwanya baru saja dimulai. Dia merasakan ada sesuatu yang sangat salah, sebuah potongan teka-teki yang mulai menyatu secara paksa di kepalanya.
"Moa..." suara AL terdengar sangat rendah, menyerupai geraman tertahan. "Orang tadi... dia memanggilmu Dokter Esmeralda. Dia bilang aku adalah subjek eksperimen milik negara. Apa maksudnya?"
Esme mendongak, wajahnya pucat pasi. Dia melihat AL bukan lagi sebagai pria lugu yang kecanduan ciumannya tadi pagi, atau pria yang tadi masih ia cium dengan penuh perasaan setelah sadar. melainkan sebagai predator yang sedang menuntut keadilan. Esme tahu, setelah kejadian tadi, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Kebenaran yang dia kubur dalam-dalam kini telah bangkit dari kuburnya.
"Aleksander, aku..." Esme mencoba bicara, namun suaranya tercekat.
"Jawab aku, Moa!" AL sedikit meninggikan suaranya hingga Ocan yang bersembunyi di bawah meja lari ketakutan ke dapur. "Siapa aku sebenarnya? Dan siapa kau? Kenapa mereka menyebutmu penciptaku?"
Dengan tubuh gemetar hebat, Esme akhirnya menyerah. Dia tidak bisa lagi menatap mata kuning itu tanpa merasa seperti seorang pembunuh. Dengan suara yang pecah oleh isak tangis, Esme mulai bercerita. Dia menceritakan kembali segala hal yang ada, menguraikan setiap benang merah yang selama ini dia tutup dengan kain sutra kebohongan.
"Kau bukan pahlawan desa yang hilang ingatan karena kecelakaan, kekuatan yang kamu miliki dan fisik yang kamu miliki saat ini bukan karena aku salah memberi obat, Aleksander," bisik Esme dengan air mata yang membanjiri pipinya. "Namamu adalah Black AL atau biasa dikenal Subjek 01. Kau adalah mahakarya sekaligus tragedi dari Proyek Enigma di laboratorium bawah tanah Leb City tiga tahun lalu. Dan aku... aku adalah orang yang bertanggung jawab atas setiap inci perubahan di tubuhmu. Akulah yang menyuntikkan gen predator itu, aku yang melihatmu meraung kesakitan di balik kaca, dan aku yang mengambil kemanusiaanmu demi ilmu pengetahuan."
AL mundur satu langkah, tangannya yang besar memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Bayangan-bayangan masa lalu mulai melintas cepat; suara alarm, kaca yang pecah, darah yang memercik, dan bau besi yang menyengat.
"Tiga tahun lalu, kau menghancurkan lab itu dan menghilang," lanjut Esme dengan suara parau. "Hingga malam bulan purnama itu, kita bertemu lagi di hutan. Kau sudah menjadi binatang total, AL. Kau menyerangku dengan insting membunuh yang murni. Dalam ketakutanku, aku menyemprotmu dengan cairan alkaloid yang sedang kutes untuk tanaman. Cairan itu... cairan itu bereaksi dengan sel Enigma-mu, menghapus insting binatangmu sekaligus menghapus seluruh ingatanmu tentang siapa kau sebenarnya."
Esme menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Saat kau terbangun tanpa ingatan sama sekali, aku melihat kesempatan untuk menebus dosaku. Aku menciptakan identitas baru untukmu. Aku berbohong bahwa kita adalah suami istri yang sudah lama menikah. Aku menggunakan rasa hausmu akan cinta untuk menjinakkan monster di dalam tubuhmu. Pernikahan kita... semua kenangan indah kita selama tiga bulan ini... itu hanyalah fiksi yang aku buat agar kau tetap berada di sisiku dan tidak kembali menjadi monster."
Hening. Pondok itu terasa sangat dingin.
AL menatap tangannya yang tadi saat baru sadar dia gunakan untuk memeluk Esme dengan penuh kasih. Sekarang, tangan itu terasa kotor. Hatinya yang selama tiga bulan ini dia pikir telah menemukan rumah, kini terasa hancur berkeping-keping hingga ke dasar yang paling dalam.
"Jadi..." AL bicara dengan suara yang sangat pelan, namun setiap katanya terasa seperti belati yang menghujam jantung Esme. "Ciuman itu... perhatianmu... panggilan 'Moa' itu... semuanya hanya bagian dari eksperimen barumu? Kau menjadikanku suamimu hanya agar aku tetap terkendali?"
"Tidak, AL! Awalnya memang begitu, tapi aku benar-benar mencintaimu!" teriak Esme putus asa.
"Cukup, Dokter Esmeralda," potong AL dingin. Pupil matanya yang tadinya bulat karena sedih, kini menyempit menjadi garis vertikal tajam, ciri khas predator yang terluka. "Kau membunuh jiwaku di laboratorium, dan sekarang kau membunuh hatiku di pondok ini. Kau bilang aku monster... tapi sebenarnya, siapa di antara kita yang lebih menyerupai monster?"
AL berbalik, melangkah menuju pintu yang hancur. Dia tidak lagi peduli pada Bang Togar yang mungkin masih berjaga di luar. Dia merasa muak dengan aroma mawar dan sabun di rumah ini yang ternyata hanya wangi dari sebuah kebohongan besar.
"Aleksander, jangan pergi!" Esme mencoba mengejar dan memegang lengan AL.
AL menyentak tangan Esme dengan kasar. Kekuatannya yang murni muncul kembali, membuat Esme terpental ke dinding kayu. AL menatap Esme untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang dipenuhi kebencian dan kekecewaan yang tak terlukiskan.
"Jangan pernah panggil aku dengan nama itu lagi. Nama itu adalah milik pria yang kau tipu. Pria itu sudah mati malam ini," ucap AL sebelum akhirnya menghilang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan Esme yang jatuh tersungkur di lantai, meraung dalam penyesalan yang terlambat.
Benteng kebahagiaan yang mereka bangun selama tiga bulan telah runtuh. Sekarang, yang tersisa hanyalah seorang ilmuwan yang hancur dan seorang predator yang kembali ke pelukan kegelapan hutan dengan luka yang lebih perih daripada peluru bius mana pun.
Apakah AL akan benar-benar kembali menjadi monster yang kejam, ataukah luka hatinya akan menuntunnya pada cara baru untuk bertahan hidup sendirian?