NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Menyebalkan

Pagi merambat perlahan di kota London, sedangkan Valeria masih meringkuk dibalik selimut tebal. Tangan besar itu sudah menghilang.

Ya.... Saat pagi Rodrigo, pergi dari rumah toko milik Valeria. Rodrigo seperti bayangan. Ia tidak ingin pergi selamanya.

Sialan!

Alarm berdering pelan, menandakan bahwa sudah pukul tujuh pagi. Terlalu lelah. Pikiran tentang Rodrigo terlalu menekan dadanya.

Gadis itu mengerang pelan, ia mengerjapkan mata perlahan.

"Dia, sudah menghilang?" ucapnya. "Dia ternyata sama, dia tidak akan berubah. Apakah aku harus meninggalkan London agar tidak dihantui Rodrigo tiap malam. Dia tidak akan berubah. Dia akan datang dan pergi, setelah dia mendapatkan segalanya."

Valeria meneteskan airmata. Pagi yang seharusnya disambut indah, luka lama kembali menganga. Bayangan Rodrigo datang dan pergi disaat Valeria membutuhkan. Bayangan pria itu sibuk, saat ibunya dalam kondisi kritis. Dan sekarang ibunya telah tiada.

Valeria memeluk dirinya sendiri, ia tidak mengatakan pada Rodrigo soal apa yang ia rasakan. Membayar semua hutang ibunya pada seseorang. Juga pria itu tidak tahu soal kematian ibu Valeria.

Kini gadis itu bangkit dari kasur ranjangnya, ia berjalan menuju dapur toko, mengambil air mineral dan ia segera mandi sebelum toko kue miliknya buka kembali di hari itu.

Dibalik meja kerja Rodrigo tersenyum, senyuman miring khas pria itu. Seolah ia bahagia karena semalam ia bersama Valeria.

"Kau tidak akan pernah pergi dariku Valeria. Aku sangat mencintaimu," bisiknya, nyaris tak terdengar.

Saat, ia sedang sendirian. Pintu kantor itu diketuk. Ternyata Sera.

Wanita itu masuk dengan senyum manis, rambutnya ditata rapi, dan gaun lembut yang seolah memang dibuat untuk memikat siapa pun yang melihatnya.

Rodrigo menoleh, ekspresinya tidak berubah banyak, tapi matanya jelas melunak.

Sera menutup pintu perlahan, lalu berjalan mendekat seperti anak kecil yang mencari perhatian.

"Sayang," panggilnya manja, suaranya mendayu.

Rodrigo menaruh ponselnya di meja, lalu bersandar santai di kursinya.

"Kau kenapa datang pagi-pagi begini?" tanyanya lembut.

Sera mengerucutkan bibir, lalu langsung duduk di pangkuannya tanpa permisi, seperti itu hal paling wajar di dunia.

"Aku kangen, merindukanmu..."

Rodrigo menghela napas pelan. Namun, tangannya tetap naik, merangkul pinggang Sera dengan nyaman.

"Kau baru bertemu denganku kemarin."

“Bagiku itu sudah lama,” rengek Sera, lalu menempelkan pipinya di leher Rodrigo. "Aku tidak suka kau bekerja terus Rodrig, aku merasa kau terlalu jauh."

Rodrigo tertawa kecil, lalu mengusap rambut Sera pelan, seperti sedang menenangkan anak kecil.

"Aku kerja demi masa depan kita, Sera."

Sera mendongak, matanya berbinar.

"Masa depan kita?" ucapnya, seolah itu kalimat paling indah yang pernah ia dengar.

Rodrigo menatapnya beberapa detik, kemudian mencium kening Sera singkat, tapi cukup membuat wanita itu tersenyum lebar.

"Aku janji, setelah semua urusan selesai, aku akan lebih banyak waktu untukmu."

Sera langsung memeluknya erat, manja dan lengket. "Jangan membohongiku."

Rodrigo mengangkat alis, lalu tersenyum tipis.

"Kapan aku berbohong padamu?"

Sera terkikik, lalu menepuk dada Rodrigo pelan. "Hmm.....kau harus buktikan."

Rodrigo menatap bibir Sera, lalu meraih dagunya. "Bagaimana aku harus membuktikannya?"

Sera menggigit bibir, pura-pura malu.

"Peluk aku lebih lama,"

Rodrigo menghela napas pelan, tapi tetap memeluk Sera, bahkan menahan pinggangnya agar tidak turun dari pangkuannya.

"Kau ini, manja sekali."

'Menyebalkan,' batin Rodrigo.

Sera tersenyum makin lebar, lalu mengusap pipi Rodrigo.

Rodrigo menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, nyaris manis.

Sera menyandarkan kepala di bahunya.

"Aku bermimpi, kau meninggalkanku!"

Rodrigo langsung mengerutkan kening, suaranya mengeras sedikit, tapi tetap lembut.

"Jangan pernah bermimpi seperti itu!"

Sera menatapnya dengan mata polos.

*Kenapa?"

Rodrigo menatapnya tajam, lalu mengusap pipinya dengan ibu jari. "Karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Kalimat itu membuat Sera terlihat sangat puas. Ia memeluk Rodrigo lebih erat, seolah ia menang.

"Sayang...."

"Apa lagi?"

"Kau udah sarapan ?"

Rodrigo tersenyum kecil.

"Belum."

Sera langsung berdiri, lalu duduk di kursi dekat meja, tapi tetap mendekat, masih ingin diperhatikan.

"Aku bawakan sarapan untukmu."

Rodrigo melirik kantong yang dibawa Sera.

"Kau tidak perlu repot-repot."

Sera menggeleng cepat.

"Aku tidak repot. Aku calon istrimu, aku harus ngurusmu."

Rodrigo diam sejenak. Senyumnya kembali muncul, senyum tipis yang membuat siapa pun akan mengira ia pria paling setia di dunia.

"Kau akan jadi istri yang baik."

Sera tertawa kecil, pipinya memerah.

"Tentu saja. Aku akan menjadi istri terbaik untukkmu."

Rodrigo mengulurkan tangan, menarik Sera agar mendekat lagi.

"Kemarilah."

Sera menurut dengan patuh, lalu berdiri di sampingnya. Rodrigo meraih pinggangnya, menahan tubuhnya agar lebih dekat.

"Kalau kau terus seperti ini, aku akan fokus bekerja,” ucap Rodrigo, setengah menggoda.

Sera menatapnya dengan wajah paling polos.

"Yasudah jangan bekerja. Peluk aku aja."

Rodrigo tertawa pelan, lalu mencium pipi Sera.

"Kau benar-benar membuatku lemah."

Sera tersenyum bangga.

"Itu tugas aku."

Rodrigo mengusap kepala Sera pelan.

"Baiklah. Aku akan sarapan. Tapi setelah itu, kau harus pulang."

Sera langsung cemberut.

"Kenapa?"

Rodrigo menatapnya lembut.

"Aku tidak ingin kau menunggu di sini terlalu lama. Aku tahu kau mudah bosan."

Sera menatapnya, lalu tiba-tiba tersenyum lagi. "Kau perhatian sekali."

Kalimat itu jatuh manis. Terlalu manis.

Dan Sera terlihat seperti gadis yang paling beruntung di dunia.

Padahal di sisi lain.

Valeria masih menahan sakit yang bahkan Rodrigo tidak tahu.

Valeria berdiri di depan cermin kecil di sudut dapur toko, menatap wajahnya sendiri beberapa detik.

Matanya sedikit sembab. Bibirnya pucat.

Namun, ia tetap merapikan rambutnya, lalu menarik napas panjang seolah menelan semua luka yang masih menggumpal di dadanya.

"Aku, tidak boleh terlihat lemah," bisiknya.

Ia membuka pintu toko kuenya seperti biasa.

Bell kecil di atas pintu berbunyi nyaring.

Dan aroma kue hangat perlahan memenuhi ruangan.

Manis, lembut, hangat, kontras dengan hatinya yang terasa kosong. Valeria berjalan ke meja depan, mengenakan apron putihnya, lalu memasang senyum. Senyum yang dipaksakan.

Pelanggan pertama masuk tak lama setelah itu. Seorang wanita paruh baya dengan mantel panjang dan syal tebal. Ia tersenyum ramah begitu melihat Valeria.

"Selamat pagi sayang."

Valeria mengangguk sopan. "Selamat pagi."

Wanita itu menatap Valeria lebih lama, lalu matanya menyipit, seolah sedang menilai sesuatu. “Kau terlihat lebih cantik hari ini.”

Valeria tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Namun, wanita itu belum selesai. Ia tertawa kecil, lalu menunjuk wajah Valeria. "Tapi, kau juga terlihat seperti baru saja dicium seseorang semalaman."

Valeria membeku sepersekian detik. Matanya membulat Tangannya yang sedang merapikan piring kue hampir saja menjatuhkannya. Namun, ia cepat menahan diri, memaksakan tawa kecil yang terdengar, palsu.

“Oh… tidak.”

Wanita itu tertawa makin keras.

"Ayolah, aku bukan anak kecil. Aku bisa melihatnya. Wajahmu seperti perempuan yang sedang jatuh cinta."

Valeria menelan ludah.

"Tidak, itu tidak benar, aku hanya kurang tidur.”

Wanita itu mengangkat alis.

“Kurang tidur karena apa? Karena bekerja, atau karena pria tampan?”

Valeria ingin tertawa. Ingin sekali. Tapi yang keluar hanya senyum tipis yang lebih mirip luka.

Ia mengambil kotak kue dan memasukkan dua croissant ke dalamnya.

"Apa seperti biasa?" tanyanya cepat, mengalihkan.

Pembeli itu mengangguk. "Ya. Tapi tambahkan satu eclair. Untukmu.”

Valeria terdiam. “Untukku?”

Wanita itu mengangguk mantap. “Kau butuh sesuatu yang manis. Aku bisa melihat matamu sedih, sayang.”

Valeria merasa dadanya sesak. Namun, ia tetap menunduk sopan.

“Terima kasih...."

Valeria menatap etalase, melihat bayangannya sendiri di kaca.

Senyumnya perlahan hilang.

Ia memegang dadanya, merasakan detak jantung yang tidak teratur.

“Rodrigo," bisiknya lirih. Nama itu seperti racun. Seperti candu. Seperti luka yang tidak mau sembuh.

Ia mengingat kejadian malam kemarin. Tempat tidur yang masih hangat. Tapi tangan besar itu sudah pergi. Pergi begitu saja.

Seolah Valeria hanyalah tempat singgah.

Bell kecil di pintu berbunyi lagi. Valeria cepat-cepat mengangkat kepala dan memasang senyum lagi. Namun, kali ini

Senyumnya sedikit lebih kaku.

Karena orang yang masuk membuat tubuhnya membeku. Seorang pria tinggi dengan mantel gelap dan aura yang terlalu familiar. Valeria menatap sosok itu, matanya melebar. Pria itu bersama tunangannya.

1
ArhanDyy ArhanDyy
pasti nyesek banget tuh si Valeria
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!