NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Sang Ketua OSIS

Jumat pagi. Langit Pontianak sedikit mendung, seolah memberi jeda pada penghuninya dari sengatan matahari yang biasanya brutal.

Aku melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan yang sedikit... telanjang.

Bukan dalam arti harfiah, tentu saja. Tapi wajahku terasa ringan. Tidak ada beban plastik di hidung, tidak ada bingkai yang membatasi pandangan periferal. Kacamataku yang malang telah beristirahat dengan tenang di selokan Cafe Kanka kemarin sore, dan aku belum sempat membeli gantinya.

Solusiku pagi ini sederhana: Kembali ke mode "Poni Lempar Ekstrem".

Rambutku yang kemarin sore sempat kutata naik gaya Quiff yang gagah, kini kuturunkan kembali. Sengaja kusisir ke depan hingga menutupi dahi dan sebagian alis, bahkan ujung-ujungnya sedikit menusuk mata. Tanpa kacamata yang biasanya menjadi focal point wajah culunku, kini aku terlihat seperti vokalis band emo yang gagal audisi, atau sekadar cowok suram yang kurang tidur.

"Liat deh, si Callen nggak pake kacamata." "Mukanya jadi beda ya? Tapi tetep aja suram." "Matanya tajem juga ternyata."

Bisik-bisik siswa di koridor tertangkap telingaku. Aku mengabaikannya, memasang wajah datar andalanku, dan terus berjalan menuju kelas X-A.

Begitu masuk kelas, Zea sudah ada di sana. Duduk manis di bangkunya (yang dulu bangku Rafan), menopang dagu sambil menatap pintu. Begitu melihatku, matanya langsung memindai wajahku dari atas ke bawah.

Ada kilatan kecewa yang jenaka di matanya.

Aku duduk di sampingnya, meletakkan tas.

"Yah..." keluh Zea panjang, bibirnya manyun. "Kenapa ditutupin lagi sih, Cal? Padahal kemarin sore ganteng banget lho. Rambut naik itu cocok banget sama kamu."

Zea mencondongkan tubuhnya, tangannya gatal ingin merapikan rambutku yang menutupi mata.

"Jangan disentuh," tegurku pelan sambil menepis halus tangannya. "Ini sekolah, Ze. Aku mau yang sederhana aja. Terlalu mencolok kalau pake gaya rambut kayak kemarin."

"Dasar pelit," cibir Zea. "Padahal kan enak dipandang. Sayang banget wajah 'Pangeran Paris'-nya disembunyiin di balik tirai rambut ini."

Aku hanya mengangkat bahu. Zea mengangguk pasrah, tapi aku menangkap senyum misterius di bibirnya. Senyum yang seolah berkata: 'Tenang aja, tunggu tanggal mainnya, bakal aku bongkar lagi.'

Tak lama kemudian, guru Biologi masuk. Pelajaran hari ini tentang Ekosistem dan Rantai Makanan. Topik yang cukup relevan dengan kehidupan sosial di sekolah ini—dimana yang kuat memangsa yang lemah.

Sepanjang pelajaran sampai jam 09.30, Zea sangat aktif. Dia bertanya ini-itu padaku, meminjam pulpen (padahal dia punya lusinan), dan sesekali menyenggol sikuku. Sejak kejadian di kafe kemarin, batas canggung di antara kami benar-benar sudah runtuh. Dia merasa memiliki akses eksklusif ke "Callen yang asli".

Pukul 11.00. Bel istirahat berbunyi nyaring.

"Cal, kantin yuk!" ajak Zea semangat sambil menutup bukunya. "Hari ini ada menu Chicken Katsu lho. Aku traktir lagi deh, mumpung kamu lagi nggak pake kacamata, itung-itung syukuran mata baru."

Tawaran yang menggoda. Perutku juga sudah mulai protes. Tapi, aku punya agenda lain. Agenda yang berkaitan dengan janji "Pilar Utama" pada Bu Zeni.

"Maaf, Ze. Kali ini nggak bisa," tolakku lembut. "Aku ada urusan sebentar. Kamu duluan aja sama Rara dan Dinda ya."

Zea menatapku sejenak, mencari alasan di mataku. Dia tidak bertanya "urusan apa", yang mana itu kemajuan besar. Dia hanya mengangguk dan tersenyum manis.

"Oke deh. Jangan lama-lama ya urusannya, nanti keburu masuk," pesannya, lalu berbalik memanggil teman-temannya.

Aku menunggu Zea keluar kelas lebih dulu, lalu aku beranjak pergi ke arah yang berlawanan.

Bukan ke kantin, bukan ke perpustakaan.

Aku berjalan menyusuri lorong panjang yang menghubungkan Gedung A (Kelas 10) dengan Gedung B (Kelas 11 dan 12). Lorong ini jarang dilewati anak kelas 10 karena dianggap "wilayah kekuasaan" senior.

Di ujung lorong, terdapat tangga besar melingkar menuju lantai dua Gedung B. Di sanalah markas para elit sekolah berada: Ruang OSIS.

Namun, aku tidak perlu naik ke atas. Karena orang yang kucari sudah berdiri di anak tangga paling bawah.

Seorang pemuda berusia 17 tahun.

Seragamnya sangat rapi, dimasukkan dengan presisi militer. Lengan bajunya dilipat sebatas siku, memperlihatkan jam tangan perak yang mahal tapi tidak norak. Posturnya tegap, wajahnya tampan dengan aura kepemimpinan yang alami. Di dadanya tersemat pin emas bertuliskan "KETUA OSIS".

Fazi.

Juara Umum Provinsi dua tahun berturut-turut. Siswa teladan yang dipuja guru dan disegani siswa nakal. Sinar matahari sekolah ini.

Fazi sedang membaca sebuah berkas, tapi begitu melihatku mendekat, dia menutup berkas itu dan tersenyum lebar. Tawa renyahnya menyambutku.

"Bagaimana kabarmu, Callen?" sapanya santai, suaranya terdengar berwibawa namun hangat. "Apa sudah merasa betah di sekolah ini? Sudah hampir satu bulan, kan?"

Aku berhenti dua langkah di depannya. Meskipun kami sebaya dalam status sosial di luar sekolah, di sini hierarki tetap berlaku.

"Saya sangat senang bisa bersekolah di sini, Kak," jawabku tenang, sedikit formal. "Terima kasih atas rekomendasi dari Kakak Kelas Fazi dulu."

Fazi menggelengkan kepala pelan, tertawa kecil. Dia menuruni anak tangga terakhir, mendekatiku dan menepuk bahuku akrab.

"Tidak perlu seformal itu, Callen," ucapnya. "Meskipun aku kelas 12 dan Ketua OSIS, perbedaan kita hanya dua tahun. Lagipula, orang tua kita sering golf bareng di akhir pekan. Santai saja."

Fazi menatapku lekat-lekat. Matanya yang cerdas seolah bisa menembus topeng "murid biasa" yang kupakai.

"Jadi..." Fazi melipat tangan di dada. "Apa yang membuat seorang Callen Adhitama mencariku di jam istirahat? Apa ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh otak jeniusmu itu?"

Aku menggeleng pelan. "Kemampuan Kak Fazi jauh di atasku. Sudah jelas dengan rekam jejak Kakak sebagai peringkat 1 unggulan provinsi. Saya ke sini bukan untuk minta tolong masalah pribadi."

"Oh?" Fazi mengangkat alis tertarik.

"Saya ingin meminta bantuan Kak Fazi," lanjutku to the point. "Saya butuh akses ke data arsip kegiatan Festival Olahraga tahun lalu. Data statistik pemenang, catatan waktu lari, skor basket per kelas, dan bagan pertandingan."

Fazi terdiam sejenak. Dia menatapku dengan tatapan menilai.

Data itu bukan data rahasia, tapi juga bukan data yang biasa diminta oleh siswa kelas 10. Kebanyakan siswa hanya peduli jadwal tanding tahun ini. Meminta data tahun lalu berarti satu hal: Analisis Pola.

Senyum Fazi melebar. Dia mengangguk pelan, seolah sudah menduga.

"Aku tahu maksudmu, Callen," ucap Fazi. "Kamu mau memetakan kekuatan lawan, kan? Kamu mau mencari celah di antara dominasi kelas 11 dan 12."

"Benar," jawabku jujur. "Kelas saya kecil. Kami butuh strategi, bukan cuma otot."

"Kamu memang anak analitis," puji Fazi tulus. "Dari kecil kamu memang berbeda. Tidak heran orang tua saya sering menyebutmu 'Anak Keberuntungan' atau The Golden Child. Kamu selalu melihat apa yang orang lain lewatkan."

Fazi menepuk bahuku lagi, kali ini lebih keras.

"Untukmu, akan kuberikan apa saja. Aku juga penasaran, strategi apa yang akan kau racik untuk melawan angkatanku."

Dia melihat jam tangannya.

"Datanya ada di hard disk ruang OSIS, ikut aku ke sana. Aku akan salinkan file-nya buat kamu."

Aku mengangguk hormat. "Terima kasih banyak, Fazi."

"Sama-sama, Cal. Oh ya..." Fazi menahan langkahku saat aku hendak berbalik. "Aku dengar soal insiden di belakang perpustakaan dengan Bagas. Hati-hati. Bagas itu tipe pendendam. Tapi kalau dia macam-macam lagi, bilang saja padaku."

"Akan kuingat," jawabku.

Aku berbalik dan berjalan kembali ke kelasku.

Satu langkah rencana sudah diamankan. Dengan data dari Fazi, aku tidak akan berperang dengan mata buta. Aku akan tahu persis siapa lawan kami, berapa detik kecepatan lari mereka, dan di mana titik lemah tim basket kelas 12.

Festival Olahraga ini... mungkin akan lebih menarik dari sekadar permainan fisik. Ini akan menjadi permainan catur di atas lapangan.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!