Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah
"Kamu hanya kasir di restoran."
Perempuan tua itu mendengkus kasar.
"Tapi mau gimana lagi, Dewa cinta banget sama kamu. Kamu memang cantik banget, tapi sayang bukan orang kaya." lanjutnya.
Nara hanya tersenyum getir. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu meremas ujung kemejanya. Dulu, Harmi sangat ramah. Bahkan sering keluar bersama, belanja ke pasar atau ke toko baju. Nara bahkan sering berkunjung ke rumah calon mertuanya.
Nara merasakan perubahan sikap Harmi semenjak Dewa lulus kuliah dan bekerja di Bank. Makin parah menjelang hari pernikahan. Tiga hari lagi Nara dan Dewa akan mengikat janji seumur hidup.
"Padahal banyak yang ngejar Dewa, ganteng, punya gaji tetap. Milihnya tetap kamu." cibir Harmi. Memandangi tenda yang dipasang di depan halaman rumah sederhana keluarga Nara.
Harmi mendecakkan lidahnya. Dahi mengernyit, hidung agak mengerut.
"Harusnya nikah di gedung...."
"Selamat sore, Bu Harmi." sapa Gita sepupu Nara. Usianya lebih tua dua tahun. Lulusan perawat yang bekerja di klinik kecantikan.
"Sore juga, Gita. Ya Tuhan, auramu wanita karir banget." puji Harmi.
"Ibu ini bisa aja." Gita tersenyum centil.
"Mbak Gita, itu Mas Rama." tunjuk Nara, melihat lelaki berjaket hitam yang turun dari motor matic. Berdiri di depan rumah keluarga Gita.
"Haduh, padahal udah jelas putus. Masih saja kesini." omel Gita, menghampiri Rama.
"Bagus, sudah putus. Lelaki pengangguran pula." ujar Harmi.
Gita minta putus karena usaha minimarket Rama mengalami kebangkrutan. Akibat terkena musibah kebakaran. Alasan lain, penampilan Rama yang seadanya. Gita menyukai lelaki modis.
"Aku pulang dulu, besok ke sini lagi. Buat cek ricek." Harmi memakai kacamata hitam. Berjalan pongah menuju motor matic merah yang dibelikan Dewa.
Nara mengembuskan napas panjang. Haruskah menggagalkan rencana pernikahan sendiri? Apakah setelah menikah bisa menghadapi mertua jenis Harmi? Nara mencintai Dewa, hubungan mereka terjalin sejak Nara duduk di bangku SMA.
Dewa juga mencintai Nara, menunjukkan keseriusannya melamar sang kekasih.
"Selamat atas pernikahanmu. Aku ucapkan sekarang karena tidak bisa datang di hari pernikahanmu."
Nara menoleh ke belakang.
"Mas Rama, terima kasih."
"Semoga langgeng." imbuh Rama.
"Iya, Mas."
"Aku pamit, Nara...."
"Rama Tunggu!" teriak risna, ibu kandungnya Nara.
"Ini ada sedikit makanan."
Rama tersenyum lebar, meraih rantang tiga susun tersebut.
"Datang ya ke pernikahan Nara." pinta risna.
"Maaf, Bu. Aku akan merantau ke luar Jawa." jawab Rama.
"Oalah. Karena patah hati sampai nyebrang laut." canda risna.
"Moga sukses dan dapat penggantinya Gita. Kalian tidak berjodoh."
"Iya, Bu risna. Mungkin jodohku saat ini sedang memasak." sahut Rama, lantas berpamitan.
Nara mengamati Rama yang berjalan cepat ke arah motor yang terparkir. Motor itu kemudian melesat cepat.
"Kasihan, diputus sepihak." gumam risna.
"Masuk, Nara."
Nara mengikuti ibunya masuk rumah. Bagian belakang rumah digunakan sebagai dapur. Ada beberapa ibu-ibu yang rewang.
"Calon manten satu ini nggak perlu luluran, udah kinclong putih." puji perempuan paruh baya yang sedang mengiris-iris bawang merah.
"Masih ada yang lebih putih." timpal Nara, yang memang mengikuti gen dari keluarga dari bapaknya. Sementara sang ibu berkulit sawo matang.
"Di dalam rumah saja. Jangan kemana-mana. Kalau perlu apa-apa bilang ibu." ucap Risna.
"Iya, Bu. Aku ke kamar dulu." Nara meninggalkan area belakang rumah.
Dewa menelepon, bicara tentang persiapan pernikahan. Keraguan Nara mengendap lagi, cinta telah membutakan.
****************
"Ciee, besok pagi yang mau nikah. Jadi Nyonya Dewa." goda Ajeng, salah satu teman Nara yang datang malam itu.
"Sudah mempersiapkan untuk ehem ehem?" goda Intan tergelak sendiri karena ekspresi Nara yang malu-malu.
"Kalian ini, bisa diem nggak?" Nara pura-pura melotot pada kedua temannya. Lantas melirik calon suaminya yang sedang duduk bersama keluarga lain.
"Kami pamit dulu, sampe jumpa besok pagi, Nara." Intan beranjak dari kursi plastik warna merah.
"Eh, ngomong-ngomong Gita nggak kelihatan."
"Ada di rumahnya." sahut Nara.
"Tidur yang cukup. Supaya nggak ngantuk." Ajeng juga berdiri.
Nara masuk rumah setelah kedua temannya pulang. Tampak ibunya membawa piring berisi kue basah dan irisan bolu.
"Nara, tolong panggil bapakmu."
"Iya, Bu."
Nara berjalan keluar rumah, malas memanggil lebih memilih mendekati bapaknya.
"Pak, dipanggil ibuk tuh." ucap Nara.
"Duh, mau apa ibumu?" Rahmat bertanya.
"Enggak tahu, Pak." Nara mengedikkan bahu.
"Mas Dewa di mana, Pak?"
"Katanya tadi ngantuk, dia ke rumah Pakde Mansyur. Bapak suruh istirahat sebentar sebelum pulang."
"Oh." Nara mengangguk-anggukkan kepala.
"Kamu juga harus tidur." ujar Rahmat.
"Aku ke rumah Pakde dulu, Pak."
"Jangan lama-lama."
"Iya."
Rumah Mansyur lebih besar dan bagus. Saudara bapaknya itu lumayan kaya. Punya usaha pemborong bangunan.
"Mas Dewa istirahat di mana, Pakde?" tanya Nara.
"Mau ngapain? Ada di kamar paling belakang."
"Cuma mau nanya sesuatu." Nara menyahut cepat.
Di dalam rumah kondisi sepi. Karena pada ngumpul di rumahnya kecuali Gita. Entah kemana sepupunya itu.
"Aku harus pulang. Aku bilang ngantuk hanya alasan...."
Langkah Nara terhenti di dekat kamar Gita. Walaupun samar, itu jelas suara Dewa.
"Mas Dewa aku kangen banget. Kamu nggak kangen?"
"Gita, ini salah. Kita harus mengakhirinya."
"Salah yang nikmat, Mas. Iya, kan?"
Nara terdiam di tempatnya. Tidak terdengar suara obrolan. berganti desahan.
"Gita, nanti ketahuan."
"Nggak akan, Mas."
"Sialan kamu, Gita. Tubuhmu luar biasa seksi."
Terdengar suara barang terjatuh, lalu suara tawa pelan, lalu desahan lagi.
"Mas Dewa, ahhh...."
"Ssstt... tahan suaramu."
Nara mengerjapkan kedua matanya. Seolah bisa keluar dari lorong yang panjang dan hitam. Apa yang didengarnya tadi bukan mimpi. Air mata membasahi pipinya yang halus.
Suara erangan kenikmatan terdengar di antara suara decapan. Calon suaminya bermesraan dengan sepupunya.
Nara mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Pemandangan menjijikkan tersaji jelas. Dewa duduk di kursi, masih berpakaian lengkap. Sedangkan Gita dipangkuan Dewa, mereka saling memangut liar. Gaun yang dikenakan melorot sebelah kanan. Memperlihatkan bahu dan payudara yang keluar.
"Kalian biadab!" teriak Nara.
Dewa dan Gita terkejut, menghentikan aktifitas panas yang sedang berlangsung. Mereka berdua melepas pelukan.
"Nara, aku........" Dewa mendorong pelan tubuh Gita.
"Bu risna...."
Nara menoleh ke belakang. Melihat ibunya terpaku.
"Bu...." Yara tidak mampu berkata lagi.
"Ya, Tuhan, Gita," desis risna.
"Mansyur! Mansyur! Yuni!!" Dipanggilnya kedua orang tua Gita.
Gita buru-buru membenahi pakaiannya yang tersingkap. Tentu saja panik. Apalagi kedua orang tuanya sudah muncul di ambang pintu kamar.
"Gita dan calon mantuku bermesraan. Gusti, mimpi apa aku semalam...." risna menepuk-nepuk dada, sepersekian detik tubuhnya terhuyung jatuh ke lantai.
"Ibuu..." Nara mendorong Mansyur yang berdiri di tengah pintu.
"Buuu!"
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬