Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Terukir di Ujung Kain
Dua hari telah berlalu sejak badai di ruang tengah itu. Selama empat puluh delapan jam, Matthias mengurung diri dalam pekerjaan dan amarahnya. Ia sengaja tidak pulang lebih awal, sengaja tidak bertanya, dan sengaja membiarkan egonya memimpin.
"Biarkan saja dia mengurung diri. Itu hukuman karena dia sudah lancang menyentuh dan merusak barang pribadiku," gumam Matthias berulang kali di kantornya.
Namun, meski mulutnya berkata begitu, hatinya tidak bisa bohong. Ada kekosongan yang menyesakkan. Ia merindukan aroma sabun bayi Sheena, merindukan rengekan halus gadis itu, dan bahkan merindukan bagaimana Sheena memandangnya dengan malu-malu.
Akhirnya, di malam kedua, Matthias pulang dengan niat membuang sedikit egonya. Ia masuk ke mansion dan memanggil kepala pelayan. "Bibi, panggil Sheena turun. Suruh dia makan malam bersamaku. Katakan padanya amarahku sudah sedikit mereda."
Kepala pelayan menatap Matthias dengan tatapan nanar yang sulit diartikan. "Nyonya... Nyonya sudah tidak ada di sini, Tuan."
Matthias mengernyit. "Maksudmu dia di kamarnya di sayap kiri? Aku tahu dia pasti merajuk dan kembali ke sana."
"Tidak, Tuan. Setelah kejadian malam itu, Nyonya Sheena pergi membawa tas sekolahnya. Beliau belum kembali sejak saat itu."
Jantung Matthias berdegup kencang secara tiba-tiba. Ia langsung berlari menuju kamarnya sendiri—kamar utama. Ia membuka lemari besar mereka. Pakaian Sheena memang masih ada, tapi tas punggung dan perlengkapan kuliahnya hilang. Ia kemudian berlari ke kamar lama Sheena di sayap kiri.
Kosong.
Tidak ada laptop di atas meja. Tidak ada pulpen yang biasanya berjejeran sangat rapi sesuai gradasi warna. Kamar itu terasa dingin, seolah penghuninya sudah lama pergi.
"KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU?!" Teriak Matthias sambil mencengkeram kerah kemejanya sendiri, ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia berbalik dan membentak kepala pelayan yang mengikuti di belakang. "Kalian semua tidak berguna! Istriku pergi dari rumah ini dan kalian hanya diam?!"
"Tuan... Nyonya melarang kami bicara. Beliau bilang Tuan tidak akan peduli," jawab kepala pelayan dengan suara bergetar.
Matthias hendak melangkah keluar untuk mengerahkan seluruh anak buahnya mencari Sheena, namun langkahnya terhenti seketika saat kepala pelayan kembali bersuara.
"Tuan... sebelum Anda pergi, ada satu hal yang harus Anda lihat pada sapu tangan yang sobek itu."
Matthias menoleh tajam. "Apa lagi?"
"Nyonya Sheena kemarin menangis sesenggukan. Beliau bilang itu adalah sapu tangan miliknya. Dan di ujung bordiran bunga yang rusak itu, ada sulaman kecil dengan benang yang hampir sewarna. Tulisannya SK4, yang artinya Sheena Katrina 4," lanjut kepala pelayan lirih. "Nyonya adalah anak ke-4 dari empat bersaudara. Nyonya bilang, Ibu mereka menjahitkan sendiri sapu tangan kembar untuk keempat anaknya sebagai tanda kasih sayang. Itu adalah harta masa kecil Nyonya yang hilang di halte bus bertahun-tahun lalu."
DUARRR!
Dunia Matthias seolah runtuh seketika. Lututnya terasa lemas hingga ia hampir terjatuh. Bayangan gadis kecil di halte bus yang memberinya kehangatan, gadis yang ia puja dan ia cari selama separuh hidupnya, kini tumpang tindih dengan wajah Sheena yang menangis kesakitan saat ia tampar tempo hari.
Mendengar hal itu, jantung Matthias seolah berhenti berdetak. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari menuju ruang kerjanya. Napasnya memburu, tangannya gemetar hebat saat ia membuka laci meja tempat ia menyimpan robekan sapu tangan biru itu.
Ia mengeluarkan kain tersebut, membawanya ke bawah cahaya lampu meja yang terang. Dengan mata yang memerah, ia membolak-balik ujung kain yang sudah rapuh itu.
Dan di sana, di sudut yang selama belasan tahun ini luput dari perhatiannya karena ia terlalu fokus pada kenangannya, terdapat sebuah sulaman kecil yang sangat halus dengan warna benang yang hampir senada.
SK4.
Matthias tertegun. Kepalanya terasa dihantam gada besar. Sheena Katrina 4. Sheena adalah anak keempat dari empat bersaudara. Ibunya selalu menandai barang-barang anak-anaknya agar tidak tertukar.
"Tidak... tidak mungkin..." Bisik Matthias, suaranya pecah.
Ia teringat betapa entengnya Sheena mengeluarkan sapu tangan itu tempo hari. Ia teringat betapa Sheena ingin menjelaskan sesuatu tapi ia justru mendaratkan tamparan keras di pipi gadis itu.
Gadis kecil di halte bus yang ia cari selama separuh hidupnya... gadis yang menjadi alasannya untuk terus bertahan hidup dan mencapai kesuksesan... ternyata adalah wanita yang ia nikahi. Dan dialah orang yang telah menampar dan mengusir "cahaya"-nya sendiri.
"Sheena..." Matthias jatuh terduduk di kursi kerjanya, mendekap kain sobek itu ke dadanya dengan penuh keputusasaan. "Apa yang telah kulakukan pada penyelamatku sendiri?"
Air mata yang selama ini tak pernah tumpah kini mengalir membasahi kain biru di tangannya. Penyesalan itu datang terlambat, dan kini cahaya itu telah benar-benar pergi meninggalkannya dalam kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.
"Sheena... dia gadis itu?" Bisiknya kembali, suaranya pecah dan dipenuhi penyesalan yang amat dalam.
Ia mengingat kata-kata terakhir Sheena: "Ini punyaku..."
Matthias meremas kain sobek itu di dadanya, air mata yang tidak pernah keluar selama bertahun-tahun kini jatuh membasahi pipinya. Ia telah menyakiti cahaya hidupnya. Ia telah mengusir satu-satunya orang yang pernah menyelamatkannya, tepat setelah ia berhasil memilikinya.
"Apa yang telah kulakukan..." erang Matthias penuh keputusasaan.