"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Bab 26: Pertemuan di Meja Hijau
Ketukan palu hakim menggema di ruang sidang Pengadilan Negeri Tanjungbalai, menandai berakhirnya masa kelam Arka di balik jeruji besi.
Putusan pra-peradilan menyatakan penetapan tersangka atas dirinya tidak sah secara hukum.
Namun, saat Arka melangkah keluar dari gedung pengadilan, udara kebebasan yang ia hirup tidak terasa semanis yang ia bayangkan.
Di basemen gedung, sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu. Di dalamnya, Elina Clarissa menatap layar tablet dengan wajah yang lebih tegang daripada saat ia menghadapi krisis merger tahun lalu.
"Masuklah, Arka. Kita tidak punya waktu untuk merayakan kemenangan kecil ini," ucap Elina tanpa basa-basi.
Arka masuk, duduk di samping Elina. Aroma interior mobil yang elegan terasa asing setelah berhari-hari ia hanya mencium bau apek penjara.
"Apa yang terjadi?"
Elina menyerahkan tabletnya. Grafik saham Skyview Mall tampak terjun bebas, dan yang lebih mengerikan, muncul deretan transaksi raksasa di pasar sekunder. "Thomas Van Heusen. Dia memanfaatkan waktu saat kau ditahan untuk mengeksekusi klausul 'kematian manajemen'. Dia menggunakan koneksinya dengan Baskoro untuk memicu penjualan paksa saham-saham dari investor minoritas yang ketakutan. Saat ini, Future Horizon telah menguasai tiga puluh persen saham Skyview."
Arka memejamkan mata sejenak. Tangannya yang kasar—penuh bekas luka goresan dari kerusuhan penjara semalam—meremas lututnya sendiri.
Thomas tidak hanya ingin menghancurkan tubuhnya; dia ingin mencabut jantung dari apa yang telah Arka bangun.
"Tiga puluh persen," gumam Arka. "Artinya dia punya hak suara untuk merombak dewan direksi."
"Lebih buruk lagi," sahut Elina. "Dia baru saja mengajukan mosi darurat untuk menutup area Sovereign Logistik di basemen mall dengan alasan 'keamanan nasional' akibat kerusuhan di penjara kemarin. Dia ingin memutus urat nadi kurirmu."
Dua jam kemudian, Arka berdiri di depan pintu ruang rapat utama Skyview Mall. Pintu kayu jati itu terbuka, memperlihatkan Thomas Van Heusen yang sedang duduk santai di kursi kebesaran Arka, menyesap kopi dengan tenang. Di sampingnya, Rian Wijaya tampak berusaha keras menyembunyikan kegelisahannya, meskipun matanya berkilat penuh dendam.
"Selamat datang kembali, Arsitek," Thomas tersenyum lebar, seolah-olah ia sedang menyambut tamu di rumahnya sendiri. "Aku terkesan kau bisa keluar dari sana dalam keadaan utuh. Jono ternyata tidak seefektif yang kubayangkan."
Arka tidak duduk. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap ke bawah ke arah kerumunan kurir yang mulai berkumpul di area parkir, kebingungan karena akses masuk mereka diblokir oleh sekuriti baru sewaan Thomas.
"Kau pikir tiga puluh persen saham memberimu hak untuk menjadi Tuhan di sini, Thomas?" Arka bertanya tanpa menoleh.
"Di dunia ini, Arka, kepemilikan adalah hukum," Thomas berdiri, berjalan mendekati Arka. "Tiga puluh persen bagiku sudah cukup untuk membuat mal ini mati suri. Dan saat nilainya hancur, aku akan membeli sisanya dengan harga rongsokan. Itulah cara predator bekerja."
Rian menyela dengan tawa menghina. "Lihat dirimu, Arka. Kau masih memakai kemeja murahan itu. Kau keluar dari penjara hanya untuk melihat kekaisaran kecilmu diratakan dengan tanah. Sarah juga tidak akan bisa membantumu kali ini. Dia sedang sibuk membersihkan nama baiknya sendiri."
Arka berbalik perlahan. Ia tidak menatap Rian; matanya terkunci pada Thomas. Di dalam kepalanya, bisikan insting mulai bekerja kembali, menyusun data dari gerak tubuh Thomas.
[Bisikan Insting: Target terlalu percaya diri. Detak jantung stabil. Namun, ada satu titik lemah: Thomas menggunakan dana pinjaman jangka pendek untuk membeli 30% saham tersebut.]
"Kepemilikan mungkin hukum bagi Anda, Thomas," ucap Arka, suaranya dingin dan tajam. "Tapi di Skyview, hukum tertingginya adalah nilai manfaat. Anda membeli saham ini dengan hutang dari sindikasi bank Eropa, bukan? Hutang yang harus dijamin dengan aset yang produktif."
Senyum Thomas sedikit memudar.
"Jika dalam empat puluh delapan jam mall ini tidak menghasilkan arus kas karena aksi boikot para pedagang dan kurir, bank akan melihat ini sebagai aset bermasalah," lanjut Arka. "Satu mosi darurat dari Anda untuk menutup Sovereign, maka seribu pedagang akan berhenti membayar sewa hari ini juga. Mari kita lihat siapa yang lebih cepat bangkrut: saya yang tidak punya apa-apa, atau Anda yang mempertaruhkan kredibilitas Future Horizon."
Di luar ruang rapat, Sarah berdiri mematung di balik pintu kaca. Di tangannya ada sebuah dokumen hasil retasan terbaru yang ia dapatkan dari chip warisan ayah Arka. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Arka.
Rasa bangga bercampur perih menusuk dadanya. Pria yang dulu ia remas hatinya karena tidak punya uang, kini berdiri tegak menantang raksasa tanpa rasa takut akan kemiskinan.
"Sarah?" Elina muncul di koridor, menatap Sarah dengan pandangan menyelidik. "Kau punya sesuatu untuknya?"
Sarah menunjukkan dokumen itu. "Ini bukan sekadar bukti korupsi. Ini adalah perjanjian rahasia antara Thomas dan ayah Rian, Hendra Wijaya, tentang rencana penghancuran sistem ekonomi lokal di Sumatera Utara. Jika ini bocor ke publik, saham Future Horizon bukan lagi terjun bebas, tapi akan lenyap dari bursa."
Elina hendak mengambil dokumen itu, namun Sarah menariknya kembali.
"Aku yang akan memberikannya pada Arka," ucap Sarah tegas. "Aku yang memulai pengkhianatan ini, maka aku yang harus memberikan senjata terakhir ini padanya. Ini bukan soal saham, Elina. Ini soal harga diri keluarga Pramudya yang dicuri."
Pertemuan itu berlanjut menjadi debat hukum yang sengit. Pengacara Thomas mencoba menggunakan setiap celah untuk membekukan wewenang Arka sebagai CEO.
"Klien kami memiliki bukti bahwa integritas Saudara Arka cacat akibat kasus hukum kemarin!" teriak pengacara Thomas.
"Kasus hukum yang direkayasa!" Elina menyambar, membanting berkas pra-peradilan ke meja. "Dan jangan lupa, Clarissa Corp memegang empat puluh persen saham sebagai mitra strategis. Kami menolak segala bentuk perubahan struktur direksi!"
Thomas tampak bosan dengan perdebatan hukum. Ia menatap Arka. "Kau punya waktu sampai besok pagi, Arka. Serahkan sistem inti Sovereign padaku, atau aku akan memastikan mall ini menjadi kuburan beton."
Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka. Sarah masuk dengan langkah mantap. Ia tidak lagi tampak seperti reporter junior yang ketakutan. Ia berjalan lurus menuju Arka, melewati Rian yang mencoba memanggil namanya.
"Arka," Sarah menyerahkan dokumen itu. Matanya menatap Arka dengan kejujuran yang belum pernah ia tunjukkan selama bertahun-tahun. "Ini adalah kebenaran yang ayahmu sembunyikan untuk melindungimu. Sekarang, gunakan ini untuk menghancurkan mereka."
Arka menerima dokumen itu. Ia membaca beberapa baris pertama. Rahangnya mengeras. Rekaman transaksi dan instruksi sabotase yang menyebabkan ayahnya tewas tertulis jelas di sana, lengkap dengan tanda tangan digital Thomas Van Heusen.
Arka mengangkat kepalanya. Aura di ruangan itu berubah. Bukan lagi sekadar persaingan bisnis, tapi sebuah pengadilan moral.
"Thomas," Arka memanggil dengan nada yang membuat bulu kuduk Rian berdiri. "Anda bicara soal hukum kepemilikan. Tapi Anda lupa satu hal: Anda tidak bisa memiliki bukti yang sudah dikubur di bawah tanah."
Arka meletakkan dokumen itu di tengah meja. "Ini adalah tiket Anda menuju penjara yang sama denganku kemarin. Bedanya, tidak akan ada kurir yang menyalakan lampu motor untuk Anda di sana."
Wajah Thomas yang biasanya tenang kini memucat. Ia meraih dokumen itu, membacanya dengan cepat, dan tangannya mulai bergetar. "Dari mana kau mendapatkan ini?!"
"Dari pria yang Anda pikir sudah mati sepuluh tahun lalu," jawab Arka. "Ayahku tidak membangun Sistem untuk menjadi kaya. Dia membangunnya untuk merekam kebusukan orang-orang seperti Anda."
Malam itu, Skyview Mall tidak tutup. Ribuan lampu motor kurir tetap menyala di parkiran, bukan untuk demonstrasi, tapi untuk merayakan kembalinya sang Arsitek.
Thomas Van Heusen meninggalkan gedung dengan pengawalan ketat, wajahnya tertutup dari jepretan kamera wartawan yang tiba-tiba datang menyemut. Rian Wijaya menghilang di tengah kerumunan, ketakutan namanya akan ikut terseret dalam dokumen tersebut.
Di balkon lantai atas, Arka berdiri sendirian, menatap kerumunan di bawahnya. Elina mendekatinya, memberikan segelas kopi panas.
"Kau menang, Arka. Thomas akan sibuk dengan penyelidikan hukum selama bertahun-tahun. Sahamnya akan dibekukan, dan kita bisa membelinya kembali dengan harga dasar," ucap Elina.
Arka menyesap kopinya. "Aku tidak merasa menang, Elina. Aku hanya merasa... adil."
Sarah muncul dari bayang-bayang pintu balkon. Ia berdiri agak jauh, merasa tidak pantas untuk bergabung dalam lingkaran kemenangan itu. Arka menoleh padanya.
"Terima kasih, Sarah," ucap Arka singkat.
Sarah tersenyum pahit, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak butuh terima kasih, Arka. Aku hanya ingin kau tahu... bahwa pria yang berdiri di sini hari ini, adalah pria yang seharusnya aku dukung sepuluh tahun lalu. Aku menyesal, Arka. Sangat menyesal."
Sarah berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Arka dan Elina di balkon.
Arka meraba saku kemejanya, menyentuh bros perak bengkok yang telah dikembalikan Bang Jago padanya tadi sore. Benda itu kini tidak terasa seperti sampah. Benda itu terasa seperti fondasi paling kuat dari sebuah bangunan bernama kedaulatan.
Ia bukan lagi kurir yang dihina. Ia bukan lagi "Avatar AI" yang dingin. Ia adalah Arka Pramudya, pria yang membuktikan bahwa harga diri yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, jauh lebih bernilai daripada tiga puluh persen saham perusahaan mana pun di dunia.
Pertempuran di meja hijau telah selesai, namun perang untuk membangun ekonomi yang adil bagi rakyat kecil baru saja memasuki babak baru. Dan kali ini, Arka tidak akan bertarung sendirian.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.