NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:490.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

"Songong banget jadi orang."

"Lu kenapa, sih?"

"Pake nanya lagi." Yuda duduk setelah menarik kursi. Kini ia duduk di sebuah kafe yang sedang viral dan punya privat room. "Lu tau enggak? Tadi gua ke rumah cewek itu. Dia tuh..."

Yuda tak melanjutkan ucapannya karena terlalu menahan geramnya. "Lu kalau nyari orang yang benerlah. Masa gua harus nikahin cewek model begitu!?"

Bastian, teman sekaligus partner kerja yang paling dia percaya. "Lu juga kalau kasih clue yang bener dong!" katanya tak terima malah disalahkan. "Gua juga cuma ikutin petunjuk dari lu!"

Yuda berdecak kesal. "Gua berharap ada cewek lain... Bukan dia... Songong, sok kecakepan, baru kerja kantoran aja udah banyak kali gayanya."

Bastian menatap bos sekaligus sahabatnya itu lama, "Lu juga songong!" tunjuknya, "Cocoklah kalian!"

Yuda langsung mendelik, "Hehh!"

Bastian terkekeh pelan.

Hening sejenak.

Yuda menatap lurus ke depan. “Ada janji yang harus gua pertanggungjawabkan. Lu tau, kan?”

"Tapi... Itu bukan kewajiban lu, Yud."

Yuda mengusap wajahnya, seperti ada banyak beban di pundaknya. Dalam keheningan, bayangan wajah lain muncul di benak Yuda—wajah kalem, tatapan teduh, langkah tertatih yang nyaris tak bersuara.

"Ning..."

Alis Bastian terangkat. "Ning?"

“Iya, dia…Adiknya Dewi,” gumam Yuda tanpa sadar.

“Hah?”

“Ningsih,” Yuda menyebut nama itu lebih jelas. “Ada di keluarga itu. Cari tahu lebih banyak tentang dia.”

Bastian mendelik. “Lho, kok belok ke sana?”

“Ada yang janggal,” jawab Yuda singkat. “Dia pincang. Dan Dewi sempat bilang… kecelakaan. Mungkin saja orang itu Ning.”

Bastian mendecak. “Kerjaan nambah lagi.”

"Jadi lu mau gua menikahi cewek songong itu? Dia bilang gua enggak punya masa depan!"

Bastian tertawa pelan. Namun sudut bibirnya terangkat tipis. “Oke. Gua cari.”

***

Di rumah Pak Hasto, suasana jauh lebih panas.

“Ini semua salah kamu, Ning! Kamu ngapain godain Ridho?!”

Suara Dewi melengking, membuat Ning yang duduk di dekat pintu ruang tamu terperanjat. Tangannya mencengkeram gamis sisi tubuhnya, matanya menunduk.

“Mbak, aku enggak—”

“Diam!” Dewi menunjuknya. “Kamu itu tahu diri! Kamu pincang! Kamu enggak pantas sama Ridho!”

"Dewi!" sentak Pak Hasto mendengar ucapan tajam anaknya.

"Pasti begitu, Yah! Dia pasti godain Mas Ridho! Makanya Mas Ridho malah ngelamar dia!" ucap Dewi keras. "Harusnya dia tau kalau Dewi suka sama Mas Ridho! Tapi dia malah godain calon suami Dewi."

“Ning tidak melakukan apa-apa,” Pak Hasto membentak. “Ridho yang memilih Ning. Selama Ridho kemari juga bukannya kamu yang terus-terusan temui Ridho, Wi?!”

Bu Sumi berdiri cepat. “Mas, jangan belain dia terus! Mas enggak tau aja, Ning godain Ridho di luar. Di rumah aja kalau enggak ada Dewi pasti juga dia udah kegatelan, kayak Ibunya!”

“Sum!” balas Pak Hasto, wajahnya merah menahan emosi. "Jaga bicaramu! Ibunya Ning tak pernah menggoda Mas!"

"Halah! Bela aja terus dia! Gitu aja udah jelas kamu memang udah digoda sama dia dan ibunya!" Sumi tak kalah keras.

Ning menggigit bibir. Kata-kata itu bukan hal baru. Sejak kecil, bisikan serupa selalu mengikuti langkahnya.

Bu Sumi menyilangkan tangan. “Mas Hasto, dengar ya. Aku enggak mau Dewi dipermalukan. Ridho itu jodohnya Dewi. Ning harus menolak.”

“Tidak bisa memaksa begitu!” Pak Hasto menatap istrinya tajam.

“Bisa!” Bu Sumi meninggi. “Kalau perlu, suruh dia nikah sama tukang ojek itu. Si Yuda! Cocok. Sama-sama enggak ada apa-apanya.”

Ning menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi suaranya tak keluar.

“Apa kamu dengar dirimu sendiri?” Pak Hasto bergetar. “Pikirkan perasaan Ning!”

Bu Sumi terkekeh dingin. “Perasaan? Dia numpang hidup di rumah ini! Aku yang rawat dia sejak kecil. Dia harus tahu diri!”

Hening memukul ruang tamu.

Ning melangkah pelan, lalu berlutut di hadapan Pak Hasto. “Ayah… enggak apa-apa. Ning nurut.”

“Bangun,” Pak Hasto berkata parau. “Ayah enggak izinkan.”

Namun Ning hanya tersenyum tipis. Senyum pasrah yang membuat hati siapa pun perih.

****

"Sialan! Malah macet lagi."

"Udahlah, emang biasanya juga macet kok."

Yuda dan Bastian berada di dalam mobil yang berderet. Yuda duduk di kursi penumpang, mengenakan jas rapi. Pandangannya tiba-tiba terpaku ke trotoar.

"Ning?"

Bastian melirik bosnya.

“Berhenti,” kata Yuda singkat, saat kendaraan itu mulai bergerak.

Bastian mengerem. “Kenapa?”

Di sana, Ningsih berdiri di depan gerobak batagor. Tangannya menunjuk tumpukan batagor, bibirnya bergerak pelan dan sedikit diselingi senyum.

Deg!

Yuda melepas jas mahalnya, menyampirkannya ke kursi, menyisakan kemeja dan celana panjang. Ia membuka pintu, melangkah mendekat.

"Hei! Mau ke mana?" seru Bastian, lalu mengikuti ke arah Yuda berjalan sambil melipat lengan kemejanya.

“Ning?”

Ningsih terkejut. “Mas Yuda?”

“Kamu sendiri?”

"Iya, Mas."

"Ini jauh dari rumah loh, kamu naik apa?"

"Jalan, Mas."

Yuda tertegun, "Jalan?" katanya sambil melirik kaki Ning yang menopang dengan kruk di lengannya.

"Udah biasa jalan kok, Mas," ucap Ning tersenyum kecil. “Lebih enak jalan. Mas Yuda mau beli batagor juga?”

Ada sesuatu yang diam-diam menyusup di dada Yuda. Tapi, ia sendiri tak tau apa.

“Iya.”

Ning tersenyum lagi. Lalu menoleh pada penjual batagor yang memasukan dua bungkus batagor ke plastik.

"Semuanya 10 ribu, Neng," kata Mang penjual batagor.

"Ini, Mang." Ning menyerahkan uang dua puluh ribu.

"Kok beli dua?"

"Oh, iya. Buat Mbak Dewi sama Ibuk. Tadi minta Ning belikan."

Yuda menatap lekat gadis berjilbab berwajah kalem itu. "Kamu?"

Ning menggeleng. "Ning duluan, ya, Mas," pamitnya setelah menerima kembalian.

"Kamu mau batagor? Mas belikan."

Ning diam sebentar, seperti menimbang. Yuda langsung ke penjual. “Pak, dua. Makan sini.”

Ning menggeleng cepat. “Eh, enggak Mas. Ning harus cepat pulang.”

"Temani Mas makan dulu, enggak enak makan sendiri. Lagian ada yang mau Mas tanyain," kata pemuda itu enteng sambil menarik kursi. "Ayo duduk."

Ning ragu. "Tapi... Mbak Dewi sama Ibuk nungguin di rumah," ucapnya lirih.

“Bilang aja antrian panjang,” Yuda beralasan santai. “Duduk sini! Temanin Mas makan.”

Ning ragu. Wajahnya bimbang, lalu menunduk. “Makasih, Mas.”

Mereka duduk di bangku plastik. Kruk penyangga Ning disandarkan di tembok dekat gerobak. Ning memegang piringnya kikuk, seperti takut menikmati.

“Kakimu kenapa?” tanya Yuda pelan.

Ning terdiam sesaat. “Jatuh.”

“Kapan?”

“Tahun lalu, Mas.”

“Di mana?”

“Di jalan.” Jawabannya singkat, tertutup.

Yuda tak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu menyodorkan minuman.

Ning menggigit kecil. Matanya berbinar sebentar—lalu cepat disembunyikan.

“Terima kasih, Mas,” ucapnya tulus. “Ning jarang jajan kek gini.”

"kalau gitu, sering-seringlah jalan sama Mas. Biar Mas jajanin."

Ning tersenyum, senyum yang menggetarkan hati seseorang.

“Ning pulang dulu, Mas.”

Yuda sigap berdiri, lalu mengambil kruk Ning dan memberikannya.

"Makasih, Mas."

Yuda mengangguk.

"Mas orang baik."

Ada yang berdesir, namun cepat ditepis. "Kamu ini, sekali ditraktir aja udah bilang baik."

"Hehehe, beneran kok, Mas. Ning tau, Mas orang baik. Makasih ya, Mas Yuda. Assalamualaikum."

Yuda menatapnya pergi. "Wa'alaikum salam..."

Ada keteduhan di punggung rapuh itu—dan luka yang tak terucap.

****

Di rumah, Dewi menyambut dengan wajah masam.

“Lama!” bentaknya. “Ngapain aja sih?”

“Antrinya panjang, Mbak.”

"Halah, alasan aja! Kami udah lapar tau! Sengaja ya kamu mau bikin kami mati kelaparan."

"Enggak, Mbak."

Bu Sumi melirik sinis. “Sudah. Kamu enggak usah makan. Banyak kali alasan!”

Ning menunduk. Ia masuk kamar, menutup pintu pelan. Di dalam, ia duduk di tepi ranjang, memeluk perutnya yang masih hangat oleh batagor tadi.

Malam itu, Pak Hasto baru saja duduk di ruang tamu, bersama Dewi dan Bu sumi. Suara ketukan pintu terdengar.

Tok. Tok.

“Assalamu’alaikum.”

Semua menoleh. Pak Hasto bangkit, membuka pintu.

"Kamu..."

1
Ibrahim Efendi
panassssssss.... tapi gak frontal kok! hawa panasnya cukup tersampaikan.
isnaini naini
mskipun kdng gk semua brakhir bahagia minimal ranu ktemu jodoh thor...ning hmil...yg jht dpt hkm an yg merata. ..
sunaryati jarum
Sampai Ning hamil ,Ranu menyadari kesalahannya berbaikan dapat jodoh,hidup rukun
Hikmal Cici
bisa request ngga thor ?, kaaih ranu jodoh yang karakter nya beda dri ning yang kalem
Ibrahim Efendi
terserah author aj. klw dibuat dapat ganti, juga ok. biar sama2 happy ending.
Tuty Yatun
pengen ning hamil dulu dan ridho dpt pengganti ning
Eka Burjo
kabarnya Dewi gimana
Lilis Yuanita
harus geh ranu dpt wanita pujaanya biar dia gk iri ma yuda🤭🤭
Nasya Sifa Aura
msh mau dong gmn ke lanjutan si ranu itu
Fyrly
sampai Ning punya anak dan Ranu menemukan tambatan hati menikah juga lah Kak😍😍😍
Marini Suhendar
mau ning sama yuda bahagiabmemiliki momongan..dan Extra part yg banyak ranu🤭
delis armelia
pengen ning hamil pengen ranu juga menemukan bidadarinya... kayany jngn dulu kelar blm puas
Allea
cewe bodoh 😁
Arin
Tara..... Kejutan..... malam ini Ning kasih hadiah buat Yuda. Sebagai rasa terima kasih karena udah menyelamatkan Ning dari baju basah yang secara tidak sadar memperlihatkan lekuk tubuhnya.....
Imas Karmasih
orang ga sadar diri jahat sama kamu lah yang kamu lakukan je Ning emang bukan perbuatan jahat
Yuni Ngsih
visualnya keren Thor cocok Ning sm Yuda ....ceritramu bgs bangeeeet ,tp ujian kehidupan buat kelamaan jd ku yg baca greget Thor ...tp yg namanya bgmna imajinasi kamu aza ....& tetap semangat ...lanjut
bibuk Hannan & Afnan
seorang istri memang begitu Yudha meski sudah saling melihat luar dalam tp rasa malu itu masih tetap ada, ky aku juga gt meski sudah punya anak dua klo telanjang bulat depan paksu masih malu, video call aja masih sering malu apalagi telanjang bulat 🤭🤭
Lilis Yuanita
moga cpt hamil y
sunaryati jarum
Yuda kaget namun terpesona melihat Ning memakai baju dinasnya 🥰🤩
Fyrly
Yuda shock tu Ning 😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!