NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

"Songong banget jadi orang."

"Lu kenapa, sih?"

"Pake nanya lagi." Yuda duduk setelah menarik kursi. Kini ia duduk di sebuah kafe yang sedang viral dan punya privat room. "Lu tau enggak? Tadi gua ke rumah cewek itu. Dia tuh..."

Yuda tak melanjutkan ucapannya karena terlalu menahan geramnya. "Lu kalau nyari orang yang benerlah. Masa gua harus nikahin cewek model begitu!?"

Bastian, teman sekaligus partner kerja yang paling dia percaya. "Lu juga kalau kasih clue yang bener dong!" katanya tak terima malah disalahkan. "Gua juga cuma ikutin petunjuk dari lu!"

Yuda berdecak kesal. "Gua berharap ada cewek lain... Bukan dia... Songong, sok kecakepan, baru kerja kantoran aja udah banyak kali gayanya."

Bastian menatap bos sekaligus sahabatnya itu lama, "Lu juga songong!" tunjuknya, "Cocoklah kalian!"

Yuda langsung mendelik, "Hehh!"

Bastian terkekeh pelan.

Hening sejenak.

Yuda menatap lurus ke depan. "Ada janji yang harus gua pertanggungjawabkan. Lu tau, kan?"

"Tapi... Itu bukan kewajiban lu, Yud."

Yuda mengusap wajahnya, seperti ada banyak beban di pundaknya. Dalam keheningan, bayangan wajah lain muncul di benak Yuda, wajah kalem, tatapan teduh, langkah tertatih yang nyaris tak bersuara.

"Ning..."

Alis Bastian terangkat. "Ning?"

"Iya, dia…Adiknya Dewi," gumam Yuda tanpa sadar.

"Hah?"

"Ningsih," Yuda menyebut nama itu lebih jelas. "Ada di keluarga itu. Cari tahu lebih banyak tentang dia."

Bastian mendelik. "Lho, kok belok ke sana?"

"Ada yang janggal," jawab Yuda singkat. "Dia pincang. Dan Dewi sempat bilang… kecelakaan. Mungkin saja orang itu Ning."

Bastian mendecak. "Kerjaan nambah lagi."

"Jadi lu mau gua menikahi cewek songong itu? Dia bilang gua enggak punya masa depan!"

Bastian tertawa pelan. Namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Oke. Gua cari."

***

Di rumah Pak Hasto, suasana jauh lebih panas.

"Ini semua salah kamu, Ning! Kamu ngapain godain Ridho?!"

Suara Dewi melengking, membuat Ning yang duduk di dekat pintu ruang tamu terperanjat. Tangannya mencengkeram gamis sisi tubuhnya, matanya menunduk.

"Mbak, aku enggak..."

"Diam!" Dewi menunjuknya. "Kamu itu tahu diri! Kamu pincang! Kamu enggak pantas sama Ridho!"

"Dewi!" sentak Pak Hasto mendengar ucapan tajam anaknya.

"Pasti begitu, Yah! Dia pasti godain Mas Ridho! Makanya Mas Ridho malah ngelamar dia!" ucap Dewi keras. "Harusnya dia tau kalau Dewi suka sama Mas Ridho! Tapi dia malah godain calon suami Dewi."

"Ning tidak melakukan apa-apa," Pak Hasto membentak. "Ridho yang memilih Ning. Selama Ridho kemari juga bukannya kamu yang terus-terusan temui Ridho, Wi?!"

Bu Sumi berdiri cepat. "Mas, jangan belain dia terus! Mas enggak tau aja, Ning godain Ridho di luar. Di rumah aja kalau enggak ada Dewi pasti juga dia udah kegatelan, kayak Ibunya!"

"Sum!" balas Pak Hasto, wajahnya merah menahan emosi. "Jaga bicaramu! Ibunya Ning tak pernah menggoda Mas!"

"Halah! Bela aja terus dia! Gitu aja udah jelas kamu memang udah digoda sama dia dan ibunya!" Sumi tak kalah keras.

Ning menggigit bibir. Kata-kata itu bukan hal baru. Sejak kecil, bisikan serupa selalu mengikuti langkahnya.

Bu Sumi menyilangkan tangan. "Mas Hasto, dengar ya. Aku enggak mau Dewi dipermalukan. Ridho itu jodohnya Dewi. Ning harus menolak."

"Tidak bisa memaksa begitu!" Pak Hasto menatap istrinya tajam.

"Bisa!" Bu Sumi meninggi. "Kalau perlu, suruh dia nikah sama tukang ojek itu. Si Yuda! Cocok. Sama-sama enggak ada apa-apanya."

Ning menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi suaranya tak keluar.

"Apa kamu dengar dirimu sendiri?" Pak Hasto bergetar. "Pikirkan perasaan Ning!"

Bu Sumi terkekeh dingin. "Perasaan? Dia numpang hidup di rumah ini! Aku yang rawat dia sejak kecil. Dia harus tahu diri!"

Hening memukul ruang tamu.

Ning melangkah pelan, lalu berlutut di hadapan Pak Hasto. "Ayah… enggak apa-apa. Ning nurut."

"Bangun," Pak Hasto berkata parau. "Ayah enggak izinkan."

Namun Ning hanya tersenyum tipis. Senyum pasrah yang membuat hati siapa pun perih.

****

"Sialan! Malah macet lagi."

"Udahlah, emang biasanya juga macet kok."

Yuda dan Bastian berada di dalam mobil yang berderet. Yuda duduk di kursi penumpang, mengenakan jas rapi. Pandangannya tiba-tiba terpaku ke trotoar.

"Ning?"

Bastian melirik bosnya.

"Berhenti," kata Yuda singkat, saat kendaraan itu mulai bergerak.

Bastian mengerem. "Kenapa?"

Di sana, Ningsih berdiri di depan gerobak batagor. Tangannya menunjuk tumpukan batagor, bibirnya bergerak pelan dan sedikit diselingi senyum.

Deg!

Yuda melepas jas mahalnya, menyampirkannya ke kursi, menyisakan kemeja dan celana panjang. Ia membuka pintu, melangkah mendekat.

"Hei! Mau ke mana?" seru Bastian, lalu mengikuti ke arah Yuda berjalan sambil melipat lengan kemejanya.

"Ning?"

Ningsih terkejut. "Mas Yuda?"

"Kamu sendiri?"

"Iya, Mas."

"Ini jauh dari rumah loh, kamu naik apa?"

"Jalan, Mas."

Yuda tertegun, "Jalan?" katanya sambil melirik kaki Ning yang menopang dengan kruk di lengannya.

"Udah biasa jalan kok, Mas," ucap Ning tersenyum kecil. "Lebih enak jalan. Mas Yuda mau beli batagor juga?"

Ada sesuatu yang diam-diam menyusup di dada Yuda. Tapi, ia sendiri tak tau apa.

"Iya."

Ning tersenyum lagi. Lalu menoleh pada penjual batagor yang memasukan dua bungkus batagor ke plastik.

"Semuanya 10 ribu, Neng," kata Mang penjual batagor.

"Ini, Mang." Ning menyerahkan uang dua puluh ribu.

"Kok beli dua?"

"Oh, iya. Buat Mbak Dewi sama Ibuk. Tadi minta Ning belikan."

Yuda menatap lekat gadis berjilbab berwajah kalem itu. "Kamu?"

Ning menggeleng. "Ning duluan, ya, Mas," pamitnya setelah menerima kembalian.

"Kamu mau batagor? Mas belikan."

Ning diam sebentar, seperti menimbang. Yuda langsung ke penjual. "Pak, dua. Makan sini."

Ning menggeleng cepat. "Eh, enggak Mas. Ning harus cepat pulang."

"Temani Mas makan dulu, enggak enak makan sendiri. Lagian ada yang mau Mas tanyain," kata pemuda itu enteng sambil menarik kursi. "Ayo duduk."

Ning ragu. "Tapi... Mbak Dewi sama Ibuk nungguin di rumah," ucapnya lirih.

"Bilang aja antrian panjang," Yuda beralasan santai. "Duduk sini! Temanin Mas makan."

Ning ragu. Wajahnya bimbang, lalu menunduk. "Makasih, Mas."

Mereka duduk di bangku plastik. Kruk penyangga Ning disandarkan di tembok dekat gerobak. Ning memegang piringnya kikuk, seperti takut menikmati.

"Kakimu kenapa?" tanya Yuda pelan.

Ning terdiam sesaat. "Jatuh."

"Kapan?"

"Tahun lalu, Mas."

"Di mana?"

"Di jalan." Jawabannya singkat, tertutup.

Yuda tak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu menyodorkan minuman.

Ning menggigit kecil. Matanya berbinar sebentar, lalu cepat disembunyikan.

"Terima kasih, Mas," ucapnya tulus. "Ning jarang jajan kek gini."

"kalau gitu, sering-seringlah jalan sama Mas. Biar Mas jajanin."

Ning tersenyum, senyum yang menggetarkan hati seseorang.

"Ning pulang dulu, Mas."

Yuda sigap berdiri, lalu mengambil kruk Ning dan memberikannya.

"Makasih, Mas."

Yuda mengangguk.

"Mas orang baik."

Ada yang berdesir, namun cepat ditepis. "Kamu ini, sekali ditraktir aja udah bilang baik."

"Hehehe, beneran kok, Mas. Ning tau, Mas orang baik. Makasih ya, Mas Yuda. Assalamualaikum."

Yuda menatapnya pergi. "Wa'alaikum salam..."

Ada keteduhan di punggung rapuh itu—dan luka yang tak terucap.

****

Di rumah, Dewi menyambut dengan wajah masam.

"Lama!" bentaknya. "Ngapain aja sih?"

"Antrinya panjang, Mbak."

"Halah, alasan aja! Kami udah lapar tau! Sengaja ya kamu mau bikin kami mati kelaparan."

"Enggak, Mbak."

Bu Sumi melirik sinis. "Sudah. Kamu enggak usah makan. Banyak kali alasan!"

Ning menunduk. Ia masuk kamar, menutup pintu pelan. Di dalam, ia duduk di tepi ranjang, memeluk perutnya yang masih hangat oleh batagor tadi.

Malam itu, Pak Hasto baru saja duduk di ruang tamu, bersama Dewi dan Bu sumi. Suara ketukan pintu terdengar.

Tok. Tok.

"Assalamu’alaikum."

Semua menoleh. Pak Hasto bangkit, membuka pintu.

"Kamu..."

1
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
Marina Tarigan
ĺanjut harta malapetaka
Marina Tarigan
rayunan pulau kelapa sangat indah semoga tdk memalukan afau peluk saja langsu g juda. itu Dewi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!