apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dari dunia berbeda
Tiba-tiba, denting notifikasi ponsel Nana memecah suasana. Sebuah film favoritnya akan segera tayang. Secara refleks, Nana meraih remote dan menyalakan televisi layar datar di hadapan mereka.
Reaksi Thalia sungguh di luar nalar. Ia ter lonjak, matanya membelalak menatap layar yang bercahaya. Dengan ragu dan takut, jemari lentiknya menyentuh permukaan kaca televisi yang dingin.
"Kakak... bagaimana paman itu bisa terjepit di dalam kotak kecil dan tipis ini?" tanya Thalia dengan kepolosan yang menghujam.
Nana terpaku. Astaga, apa dia benar-benar menjelajahi waktu dari zaman kuno? batinnya heran. Ia mencoba mematikan televisi untuk melihat reaksi sahabatnya.
Klik. Layar menjadi hitam.
"Hah! Kok bisa tiba-tiba jadi malam? Di mana paman dan bibi di dalam kotak panorama ini?" Thalia menoleh ke arah Nana dengan raut wajah cemas, seolah-olah ia baru saja melenyapkan nyawa orang di dalam kotak tersebut.
Nana merasa bersalah sekaligus takjub. Ia menyalakan kembali televisi itu dan menepuk sisi sofa di sampingnya. "Tha, duduk sini. Dengar... namaku Nana, bukan Kakak, Gue 'Gue' itu artinya aku, dan 'Loe' itu kamu. Kita ini teman sebaya, mengerti?"
Thalia mengangguk meski dahinya masih berkerut.
"Bagaimana bisa aku mengerti jika bahasa yang Kakak maksudku, Nana gunakan sangat asing?" tanyanya lembut. "Lalu, sebenarnya ini bahasa dari kerajaan mana?"
Nana menghela napas, otaknya berputar mencari jawaban yang masuk akal bagi jiwa bocah 13 tahun itu. "Hong Kong," jawabnya asal.
"Oh... Kerajaan Hong Kong," Thalia bergumam sambil manggut-manggut, mencoba mencerna informasi tersebut ke dalam logika kecilnya.
"Eh, bukan Hong Kong!" Nana buru-buru meralat saat menyadari Thalia menelan mentah-mentah ucapannya. "Kita sekarang berada di Jungkat City. Tempat ini berbeda dengan kerajaanmu dulu. Di sini tidak ada kaisar, yang ada hanya aturan dan... ujian skripsi yang harus kamu lalui."
" ternyata orang menjelajahi waktu itu beneran ada ya " batin nya girang sebab selama ini ia hanya melihatnya di film-film aja .
Thalia menatap jendela apartemen yang menampilkan gemerlap lampu kota dari ketinggian. Baginya, Jungkat City adalah rimba cahaya yang menakutkan sekaligus memikat.
Di tengah ketidaktahuannya, ia merasa beruntung memiliki Nana, sang pemandu di dunia masa depan yang asing .
Cahaya temaram dari layar televisi kabel masih menari-nari di dinding ruang tengah, membiaskan warna-warni semu pada dua raga yang terpaku di sana. Di tengah keheningan yang hanya diisi oleh dialog drama yang fana, tiba-tiba sebuah getaran memecah kesunyian. Ponsel milik Nana, yang tergeletak di atas meja kayu, berdering
"kakak benda apa itu yang bersuara? Maksudku, Nana..." Thalia bertanya dengan sorot mata sejernih embun pagi, telunjuknya mengarah ragu pada benda persegi yang bercahaya itu. Kepolosan terpancar dari wajahnya, seolah ia adalah jiwa yang baru saja terjatuh dari langit yang berbeda.
"Oh, ini namanya ponsel. Sebentar ya," Nana menjawab singkat. Kalimatnya terputus oleh tuntutan panggilan yang harus segera di jawab nya.
"Halo? Benarkah saya berbicara dengan Nona Nana?" Sebuah suara berat dan formal menyapa dari seberang sana.
"Benar, ini saya. Maaf, dengan siapa saya bicara? Bagaimana Anda mendapatkan nomor saya?" Nana bertanya penuh selidik. Baginya, nomor asing di layar itu layaknya teka-teki yang tak terduga.
"Saya Nino, asisten dari Tuan Cavin (Ruan Yu). Suami dari sahabat Anda," sahut suara itu dengan nada yang datar namun lugas.
Seketika, raut wajah Nana melunak. "Oh, Kak Nino. Ada apa, Kak?"
"Apakah Nona Thalia sedang bersamamu saat ini?"
"Iya, dia ada bersamaku. Apakah suaminya akan datang menjemput?" tanya Nana, terselip harapan kecil dalam suaranya agar badai dalam rumah tangga sahabatnya segera mereda.
Namun, jawaban di seberang sana justru terasa sedingin es. "Tidak. Kami masih berada di luar kota dan baru akan kembali sore nanti. Saya hanya ingin memastikan keadaannya, mengapa ponselnya tidak dapat dihubungi?"
"Mungkin daya baterainya habis. Lagipula, hari ini ia baru saja keluar rumah sakit. ia masih lemah," jelas Nana pelan.
Keheningan yang mencekam menyusul. Panggilan itu masih terhubung, namun tak ada kata yang mengalir. Seolah-olah waktu sedang menahan napasnya.
"Halo? Kak Nino? Masih di sana?" Nana mencoba memecah kesunyian.
"Ah, iya..."
"Apakah Kak Nino ingin berbicara dengannya? Atau ada pesan yang ingin dititipkan?" Nana kembali bertanya, merasa ada sesuatu yang janggal dari keraguan sang asisten.
Setelah jeda yang panjang, Nino akhirnya berucap, suaranya kini terdengar seperti vonis yang tak terelakkan. "Saya telah mengirimkan sebuah alamat kepadamu. Sampaikan pada Nona Thalia, bahwa pada hari Senin nanti, Tuan Cavin akan menemuinya di sana. Untuk menandatangani surat perceraian mereka. Terima kasih."
Sambungan itu terputus, meninggalkan bunyi tut-tut yang panjang ,sebuah melodi perpisahan yang getir.
Nana menarik napas panjang, menatap sahabatnya yang masih terpaku menatap layar televisi dengan binar mata yang asing.
"Tha, di mana ponselmu? Suamimu bilang ia tak bisa menghubungimu," tanya Nana untuk kedua kalinya, suaranya kini bergetar oleh rasa iba yang menyesak.
Thalia menoleh perlahan, keningnya berkerut halus. "Eh, 'ponsel' itu apa, Na?"
Nana tertegun. Batinnya menjerit, Ya Tuhan, anak ini... Bukan nya tadi ia memegang nya saat di rumah sakit.
"Ponsel itu... seperti ini. Sebuah alat ajaib untuk saling bertukar kabar, untuk bicara dengan seseorang yang jaraknya jauh " jelas Nana dengan kosa kata yang paling sederhana, mencoba menjembatani jurang pemahaman yang begitu lebar di antara mereka.
"Oh, alat bercahaya yang penuh keajaiban itu? Mei-mei tidak memilikinya, Kak" jawab Thalia lembut.
Nana mendengus pelan, ada rasa perih yang menggelitik hatinya. "Tha, sudah berulang kali kukatakan, jangan panggil aku 'Kakak'. Dan jangan sebut dirimu 'Mei-mei'. Telingaku merasa asing mendengarnya."
"Ups, maafkan aku. Thalia lupa..." Ia segera membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan, sebuah gerak-gerik yang mengingatkan Nana pada seorang bocah yang takut akan teguran.
"Apakah kau membawa tas yang kuberikan di rumah sakit tadi?"
"Masih tertinggal di dalam kereta besi," sahut Thalia polos.
"Itu namanya mobil, Tha. Bukan kereta besi," ralat Nana dengan nada yang mulai mengeras karena gemas.
"Iya... itu mobil," jawab Thalia menciut, menundukkan kepalanya saat melihat kilat kemarahan di mata Nana.
Nana terdiam sejenak, memandangi wajah cantik yang seolah menyimpan rahasia dari masa lalu itu. Dengan suara lirih yang nyaris hilang ditelan angin, ia berucap, "Tha... lima hari lagi, suamimu akan menceraikan mu."
Kabar itu meluncur seperti belati yang tumpul—lambat namun menyakitkan. Hari Senin akan menjadi saksi bisu di mana takdir pernikahan mereka akan dipangkas oleh goresan pena di atas kertas putih.
Nino telah menunaikan tugasnya sebagai penyambung lidah sang tuan. Begitu mengetahui keberadaan Thalia, ia segera melaporkannya kepada Cavin.
Dan atas perintah dingin sang majikan, ia pun menyampaikan berita duka itu kepada Nana. Namun, tampaknya segala penjelasan panjang lebar yang Nana berikan belum benar-benar meresap ke dalam sanubari Thalia. Ia masih terjebak dalam dunianya sendiri.
"Tunggu di sini. Lanjutkan saja menontonnya, aku akan mengambil tasmu," ucap Nana sebelum beranjak dari empuknya sofa.
"Nana..." Thalia memanggil lirih, menghentikan langkah sahabatnya.
"Apa lagi?"
"Aku ingin buang air kecil..."
"Ya sudah, pergilah ke toilet di sana," tunjuk Nana ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.
"Terima kasih," jawab Thalia sebelum melangkah dengan anggun menuju ruangan itu.
Nana terpaku di tempatnya berdiri. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba menyergap pikirannya. Sahabatnya ini bersikap seolah ia datang dari zaman kuno yang jauh. Apakah di zamannya dulu ada toilet seperti ini? Apakah dia bisa menggunakannya?
"Tha!" Nana memanggil, namun terlambat. Pintu telah tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang kembali merayapi ruangan itu.