Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafsu?
Sarah mendesah dalam hati, bisa-bisanya Rovano membuat dirinya menjadi kacau hanya dengan satu ciuman saja. Lalu pria itu tidak pernah berkencan, tidak pernah berciuman, rasanya tidak mungkin untuk pria setampan dia.
"Kalau mau menggoda itu yang benar dong," ucap Sarah ia kemudian bangkit dan mencium Rovano hingga kini posisinya terduduk dan Sarah berada di pangkuannya.
Gadis itu membalikan keadaan dengan mudah.
Pria itu memegang pinggang seksi Sarah, sementara Sarah menikmati ciumannya, dan mengalungkan tangannya pada leher Rovano. Singkat namun membuat Rovano mengerang nikmat, namun pria itu masih melakukan hand placement yang baik.
Dia tidak meraba tubuh Sarah yang lain, itu membuat Sarah percaya kalau Rovano memang tidak berpengalaman. Ciuman pun terlepas dan Rovano, tatapan nya yang semula tajam menjadi sayu, mereka saling terpancing satu sama lain.
"Baiklah, aku setuju tentang sentuhan fisik, good kisser," bisik Sarah setelah berhenti mencium Rovano.
Pria itu memeluk Sarah tanpa ragu, sementara Sarah menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Rovano. Keduanya malah menikmati, tidak ada satupun yang saling menolak demi membangun chemistry yang baik.
"Haruskah pernikahan nya jadi sungguhan?" Bisik Rovano, terdengar seperti pria yang sudah terlena.
"Bicara apa kau, aku tidak mencintaimu," ucap Sarah, "tapi pernikahan nya kan memang sungguhan, hanya saja dalam sebuah kontrak yang di sepakati."
Rovano melepas pelukannya, "aku bisa saja jatuh cinta padamu, dan melupakan perceraian nya."
"Tapi aku tidak," ucap Sarah dengan tegas. “Kau ini mudah sekali.”
Ah, aku baru saja di tolak setelah menyatakan untuk pertama kalinya dalam hidupku? Batin Rovano.
Gadis itu kemudian beranjak, merapikan dirinya. Begitu Rovano akan menghapus jejak lipstiknya, ia segera menahannya.
"Biarkan begitu, Ryan sedang menunggu di luar," ucap Sarah.
Rovano berdecih lagi, "kau memanfaatkan ku?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Lagi pula kau sudah menyentuhku, kau pikir itu ku berikan secara cuma-cuma?" Ucap Sarah judes.
Ia kemudian merapikan dasi Rovano, dan tersenyum manis pada pria itu. “Anggap saja kita sedang membangun chemistry dan kerjasama yang baik karena kita akan memanfaatkan satu sama lain.”
"Tolong cantumkan dalam kontraknya, peran suami istri yang nyata selama tiga tahun, saling memanfaatkan satu sama lain dan salah satu dari kita akan di hukum berat apabila ketahuan selingkuh, atau kita bercerai saat itu juga," pinta Sarah.
Rovano mengangguk, ia menarik Sarah mendekat lalu berbisik, "karena kau sudah memberiku tanda, maka aku akan memberikannya juga."
Pria itu langsung turun mencium leher Sarah dan sedikit menggigit nya hingga Sarah mengerang, ia mendesah tertahan.
"Hei! Ahh, j-jangan lakukan itu!"
Sarah segera mendorongnya dan Rovano tersenyum licik, yang ia lakukan akan membuat bercak merah pada leher gadis itu dengan sempurna.
"Aku akan mengabarimu tentang kontraknya besok, atau lusa, kita menikah sebulan lagi, persiapkan dirimu," ucap Rovano, kemudian pria itu membuka tirai jendela ruangan Sarah.
Persiapkan dirimu, persiapkan dirimu, memangnya dia mau melakukan apa?! Batin Sarah.
Sosok Ryan tengah berdiri memunggungi pintu ruangan Sarah, lalu berbalik begitu Rovano membuka kunci pintu. Pria itu tampak terkejut, ia bisa melihat dengan jelas rambut Sarah yang sedikit berantakan dan bercak merah pada leher gadis tersebut.
Rovano keluar, dengan jejak lipstik pada bibirnya, dengan sengaja ia mengusap bibirnya tepat di depan Ryan.
"Ah, sial, ternyata ini meninggalkan jejak," gumam Rovano yang terdengar jelas oleh Ryan, "hm, manis."
Ryan terdiam melihat Sarah yang sedang duduk di sofa sambil merapikan ulang dirinya yang sebelumnya sempat di terjang lagi oleh Rovano. Gadis itu mengambil cermin kecil dan melihat bercak kemerahan di lehernya, ia seketika mengumpat kesal.
Rovano memang pria gila.
Memang itu kesalahan nya sendiri, mereka saling menggoda hingga terbawa nafsu semata tapi Rovano kan tidak perlu melakukannya hingga ke sana. Ia harus menutupinya sekarang menggunakan make up atau akan menimbulkan pertanyaan banyak orang, yang akan membuat nya malu.
Sarah menatap keluar ruangannya dimana Ryan masih terpaku di sana sementara Rovano sudah pergi lebih dulu. Tatapan dingin itu tidak pernah berubah, tatapan yang sama ketika mereka memilih untuk berpisah.
Mantan kekasih? Entahlah, Sarah sendiri tidak yakin apakah dulu hubungan mereka memang berpacaran atau hubungan selibat saja karena Ryan benar-benar pria yang egois.
Hubungan mereka sulit di jelaskan namun lebih baik jika Sarah mengakuinya, setidaknya ia bisa sedikit balas dendam melalui Rovano. Membalaskan dendam pada pria jahat seperti Ryan yang kali ini sedang berpura-pura baik dan suci, padahal pria itu cukup mengerikan.
Sarah menoleh keluar, pria itu sedang berdiri menatap padanya. Gadis itu menghela napasnya sejenak, beranjak mendekati pintu ruangannya, membuat Ryan sedikit terkesiap.
"Apa ada yang ingin kau katakan, Ryan?" Tanya Sarah.
Ryan menggeleng, matanya melirik pada leher Sarah yang sedikit memiliki ruam kemerahan. Dalam waktu sebentar, Sarah dan Rovano bisa melakukan sesuatu yang panas? Ryan mengumpat dalam hati.
"Semoga hari mu menyenangkan," ucap Ryan sebelum ia pergi.
Sarah menatap punggung itu menjauh, ia kemudian segera menutup pintu ruangannya, ia harus segera menutupi bercak merah itu sebelum di lihat orang-orang di sekitarnya.
•••••
Rovano berada di mobil yang sama dengan Ryan, mereka harus kembali ke kantor mereka setelah bertemu dengan Nico dan Sarah. Kedua adik kakak itu masih diam, sama-sama fokus dengan handphone sendiri.
Rovano sedang memeriksa profil Sarah, semua tentang gadis itu bukan hanya latar belakang namun hingga kisah asmaranya. Jujur, baginya yang tidak pernah berkencan seumur hidupnya, tindakan liar Sarah hari ini membuatnya banyak berpikir.
Seberapa banyak pengalaman Sarah? Apakah ia sering melakukan hal tersebut saat dengan kakaknya dulu? Banyak pertanyaan mengganggu nya, ia tidak bisa diam jika sudah terusik.
Rovano akan mengupas tuntas semuanya hingga ke akar.
"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" Ryan tiba-tiba bertanya, "bukankah kemarin malam kau bertingkah seperti tidak tau."
Rovano menoleh sekilas, ia menghela napasnya, enggan menjawab tapi Ryan pasti akan terus bertanya jika ia diam.
"Entahlah, aku juga tidak ingat," jawab Rovano, "yang jelas dia gadis yang sempurna."
"Kau menikmati perjodohan mu, atau menikmati gadis itu?" Pertanyaan Ryan membuat Rovano kesal.
Bagaimana bisa kakaknya bertanya seperti itu? Apa dia tidak memiliki hati nurani? Mungkin kah ini alasan Ryan dan Sarah berpisah? Sikap Ryan buruk sekali.
"Keduanya, karena siapa yang tidak menikmatinya jika kau ternyata di jodohkan dengan kekasihmu sendiri?" Jawab Rovano, ia mulai melancarkan aksi dramatis nya.
Berakting seakan ia dan Sarah saling mencintai, sampai berbohong kalau ia dan Sarah sepasang kekasih, membuat Ryan semakin kebakaran jenggot.
"Aku tidak perlu repot menunggu ibu melakukan seleksi," tambah Rovano.
Ryan tidak berekspresi banyak, pria itu hanya menatap Rovano dengan dingin seola tidak memiliki perasaan apapun.
"Kalian cocok, ku dengar gadis itu sempat dekat dengan aktor tampan Lucas Blackwood, bahkan ada gosip berkencan, tapi siapa sangka ternyata ia berkencan denganmu juga," ucap Ryan.
Ucapan Ryan bagai memberi makan rasa penasaran Rovano yang tengah memeriksa jejak kehidupan Sarah. Mengapa sang kakak membicarakan hal itu? Untuk membuatnya cemburu dan kesal?
Rovano bahkan belum mencintai wanita itu, untuk saat ini. Ia hanya sedang bersandiwara, tapi jika kakaknya kesal akibat sandiwara nya, berarti ia cukup mahir untuk menjadi aktor.
Andai saja di dunia ini tidak ada perebutan saham antar keluarga, tidak ada yang haus jabatan dan ingin memimpin mendapatkan segalanya, mungkin Rovano bisa menikmati masa mudanya dengan santai seperti orang lain.
Seperti Sarah misalnya, gadis itu terlihat sangat santai.
"Dia itu keras kepala, aku yakin kau tau," ucap Ryan lagi.
"Kau bicara seakan paling mengenalnya di dunia ini, tapi sepertinya kau tidak sadar sama sekali," ucap Rovano menyindir, ini semua karena Ryan berpura-pura hanya sebatas teman dengan Sarah dan kakak nya mempertahankan itu hingga sekarang.
“Aku memang belum lama berkencan dengan Sarah sehingga kami sedikit terkejut jika membahas pernikahan,” lanjut Rovano, ia melirik sejenak pada kakaknya, kemudian menyeringai karena kakaknya sudah terpancing.
Ryan terdiam sejenak, wajahnya tampak sedikit panik tapi ia tidak mampu menjawab lagi. Ia sudah kalah dengan ucapan adiknya sendiri.
“Tapi sekarang mungkin kami akan berubah pikiran, kami sepakat untuk menikah dalam waktu sebulan lagi.”
Rovano tidak bisa menerima apapun pendapat kakaknya, karena ia tau, semua kasih sayang nya hanya memiliki tujuan untuk merebut bagian sahamnya, lalu membuangnya. Itu sudah kakaknya lakukan sejak dulu, yang membuat orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan Ryan.
"Kalian benar saling mencintai atau sebatas nafsu belaka?"