Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Genting
Di kerajaan Yinluo situasi menjadi tegang. Pasukan Jendral Besar Tang Weiran menyusuri sungai Yinshe berkuda tiada henti hingga mereka melihat tembok menjulang tinggi dengan pasukan pemanah dari Kerajaan Yinluo telah bersiap mendengar aba-aba mengangkat busur kemudian menembakkan anak panah.
"Bentuk formasi pelindung!"teriak Tang Zhanyue dengan lantang.
Pasukan merapatkan barisan mengangkat tameng melindungi mereka dari hujan panah yang bertubi-tubi. Getaran terjadi di tanah menyebabkan keterkejutan seperti gempa yang tiada hentinya. Tiba-tiba rantai ke luar dari dasar sungai meliuk-liuk di udara menghantam dari berbagai sisi menggoyahkan formasi pelindung yang kemudian menciptakan celah sehingga rantai berat itu bagaikan ular yang menusuk perut lawan menembusnya dalam sekali serang.
"Rantai besi yang memiliki kehidupan?"ucap Tang Zhanyue mengerutkan keningnya bingung.
"Kalian tak akan pernah tahu bahwa Yinluo memiliki pendekar unik dan informasi yang tak mudah ditembus bahkan oleh Tang Zhilan,"balas Jendral Besar Tang Weiran.
"Siapa dia? ucap Tang Zhilan yang sama-sama penasaran.
"Gurbernur Provinsi Xuanlan salah satu dari 9 pendekar terkuat yang loyal kepada Raja Yinluo. Dikenal dengan manusia ikan karena kemampuannya ketika berada di air dan senjata tombak rantai besi yang memiliki kehidupan bergerak seperti ular membunuh musuh dalam satu sekali serang,"jawab Jendral Besar Tang Weiran menjelaskan asal-usul dari rantai tersebut.
Rantai besi mengamuk membunuh para prajurit dengan cepat membuat darah mengalir dimana-mana.
"Hai Zhentao! Keluarlah!"
Seseorang muncul dari dasar sungai Yinluo. Rambutnya tergerai berpakaian lusuh dengan rantai besi yang terikat di kedua pergelangan tangannya. Ia melangkah di atas permukaan air dengan tenang sembari tertawa kecil melihat Jendral Besar Tang Weiran.
"Akhirnya kau sampai di sini,"ucap Hai Zhentao mendengus dingin.
"Aku datang hanya untuk menjemput putraku pulang,"balas Jendral Besar Tang Weiran dengan nada tenang.
"Hmph! Apakah kau bisa membodohiku dengan mengatakan bahwa hanya untuk menjemput putramu? Kau membawa seluruh prajurit militer Xia kemari jika bukan untuk meratakan Yinluo, apa yang akan kau lakukan,"ucap Hai Zhentao meludah seakan jijik mendengar balasan Jendral Besar Tang Weiran.
"Kau berani!"ucap Tang Zhanyue murka.
Jendral Besar Tang Weiran turun dari kudanya mengambil tombak miliknya yang terbungkus kain lusuh. Ia berjalan dengan tenang seakan menunjukkan wibawa seorang Jendral Besar yang tak gentar oleh ancaman musuh. Dengan membawa tombaknya, ia perlahan-lahan membuka kain lusuh yang digunakannya untuk membungkus senjatanya itu.
Jendral Besar Tang Weiran berhenti ketika jaraknya dengan Hai Zhentao beberapa langkah. Tombak hitam panjang dengan ujung giok runcing membuat senjata miliknya terlihat unik. Ukiran naga emas membuka mulut mengarah kepada ujung tombak menghiasi terlihat indah dan misterius.
"Bertahun-tahun aku membasuh tombak ini dengan darah. Sepanjang hidup menemaniku ketika menaklukkan kerajaan-kerajaan untuk tunduk di bawah Xia. Kini aku membawanya untuk membawa putraku pulang membuka jalan dengan darah,"ucapnya dengan tegas mengayunkan tombaknya meledakkan auranya sebagai seorang Jendral Besar yang telah berpengalaman di medan perang.
"Tombak Naga Penahan Langit legendaris konon Xia bisa berdiri hingga hari ini karenanya. Pusaka turun-temurun kepala Klan Tang. Aku ingin merasakan bagaimana kehebatan tombak itu,"balas Hai Zhentao tersenyum seakan tertantang oleh senjata milik Jendral Besar Tang Weiran.
"Baguslah karena kau ingin merasakannya,"ucap Jendral Besar Tang Weiran melesat menghilang dari tempatnya mengayunkan tombaknya dengan ganas ke arah Hai Zhentao hingga terdengar bunyi dentingan benda tajam bahkan percikan api tatkala Hai Zhentao menahannya menggunakan rantai besi miliknya yang terikat dipergelangan tangannya.
Jendral Besar Tang Weiran mengerahkan tenaganya menekan Hai Zhentao hingga membuatnya tertekuk menembus tanah.
"Aku yakin tenaga mu tak hanya segini saja,"ucap Jendral Besar Tang Weiran tertawa kecil.
"Tentu saja,"balas Hai Zhentao berteriak dengan nyaring mengerahkan tenaga nya meledakkan auranya seketika energi qi begitu besar merembes ke luar dari dalam tubuhnya mendorong tekanan Jendral Besr Tang Weiran.
Boommmm!!!!
Sesuatu menghantam mereka berdua membuat Hai Zhentao mundur ke belakang kemudian sosok tersebut dengan dua pedang batu di tangannya menyerang Jendral Besat Tang Weiran dengan membai-buta. Tubuhnya tinggi kekar tak semestinya manusia biasa. Bertelanjang dada dengan tenaga yang luar biasa mampu menggerakkan pedang batu dengan lihai.
"Bei Tianshu!"ucap Hai Zhentao.
"Bantai pasukan mereka,"balas Bei Tianshu.
"Baik!"ucap Hai Zhentao melesat melepaskan rantai besi dipergelangan tangannya membuatnya meliuk-liuk menembus tubuh prajurit membunuhnya dengan sekali serangan.
Tang Zhilan muncul menangkis kedua rantai besi membuatnya terpental kembali kepada Hai Zhentao.
"Lawan mu adalah aku,"ucapnya mendengus dingin mengusap pedangnya yang begitu mengkilat hingga pantulan Hai Zhentao terlihat begitu jelas.
"Aku kagum wanita seperti mu memiliki keberanian di medan perang, akan tetapi kau tak sanggup menghentikan ku bilamana sendirian," balas Hai Zhentao tertawa kecil menarik kembali rantai besi miliknya melemparkannya hingga membuat pusaran yang mengelilinginya menembus tanah begitu dalam hingga semburan air ke luar dari dalam tanah berputar kemudian bergerak membunuh para prajurit menerbangkannya tinggi kemudian menjatuhkannya.
Tang Zhilan tak tinggal diam mengayunkan pedangnya beberapa kali mencoba memecahkan pusaran air yang membumbung tinggi membunuh para prajurit. Dari arah sungai Yinshe, pusaran air muncul bergerak begitu cepat membunuh para prajurit dengan menerbangkannya kemudian menjatuhkannya ke tanah dengan keras.
"Sialan! Kekuatan ku tak bisa menjangkau semuanya,"maki Tang Zhilan.
"Semuanya dengarkan perintah. Runtuhkan benteng Wang Guan!"perintah Jendral Besar Tang Weiran disela-sela pertarungannya.
Suara terompet seketika menggema bersahut-sahutan disertai serbuan prajurit yang ingin menerjang benteng. Gerbang benteng Wang Guan terbuka disusul dengan pasukan kerjaan Yinluo melakukan serangan balasan hingga pertarungan besar pecah.
"Lindungi benteng Wang Guan!"ucap Bei Tianshu.
Hai Zhentao menyadari pasukan yang begitu banyaknya mencoba menerobos benteng pertahanan kota menggabungkan pusaran air miliknya hingga bertambah besar membumbung tinggi puluhan meter menembakkan air sekaligus membumihanguskan prajurit yang ingin menerbos benteng. Melihat begitu gigihnya pasukan Xia, Hai Zhentao menoleh ke arah sungai Yinshe tersenyum tipis. Energi qi nya meledak-ledak merentangkan kedua tangannya melepaskan rantai besi miliknya yang kemudian menyatu membentuk sebuah pedang.
"Bei Tianshu!"teriaknya lantang.
Mendengar namanya dipanggil membuat Bei Tianshu menyadari kode dari Hai Zhentao menyatukan kedua pedangnya menjadi satu yang membuat beban pedang batu miliknya begitu berat dan besar. Bei Tianshu mengeluarkan tenaga kuat miliknya menghantamkan pedangnya ke tanah.
BOOMM!!!
"Hati-hati!"ucap Jendral Besar Tang Weiran.
Tanah retak yang kemudian menjalar dengan cepat tak lama kemudian tanah terbelah hingga menyebabkan prajurit berjatuhan dan langsung disambar oleh air yang ke luar dari dalam tanah. Bagaikan gelombang tsunami, air menerjang prajurit yang tak sempat untuk menghindar. Tang Zhanyue dan Tang Zhilan menggabungkan kekuatannya mencoba menahan terjangan air.