Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Sarapan dengan tuntutan
Pagi itu, cahaya matahari masuk tanpa izin melalui celah gorden kamar Gina. Terlalu terang, terlalu bersih—seolah hari baru memang tidak memberi ruang untuk malas atau ragu.
Gorden perlahan disibakkan.
“Bangun, Nona. Hari sudah pagi. Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah,” ucap seorang perempuan paruh baya dengan suara tenang.
Gina mengerjap pelan. Matanya masih setengah sadar, rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya tetap terlihat rapi bahkan saat baru bangun tidur.
“Iya… makasih, Bibi Anna,” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Bibi Anna menunduk sopan, senyumnya tidak pernah berubah—senyum orang yang sudah bertahun-tahun terbiasa melayani.
“Air hangat sudah saya siapkan, Nona. Seragam juga sudah disetrika dan digantung. Kalau ada yang ingin ditambahkan, silakan bilang.”
“Enggak,” jawab Gina lembut.
“Sudah cukup.”
Bibi Anna kembali menunduk sebelum keluar, menutup pintu dengan pelan.
Gina duduk sebentar di tepi ranjang, mengusap wajahnya perlahan. Udara pagi terasa sejuk, lantai marmer di bawah kakinya dingin dan bersih. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Air hangat langsung menyentuh kulitnya, uap tipis memenuhi ruangan. Gina memejamkan mata sesaat, membiarkan pikirannya kosong—setidaknya untuk beberapa menit. Di balik dinding kaca kamar mandi, dunia terasa jauh lebih sederhana.
Setelah selesai, Gina keluar dengan handuk melilit tubuhnya.
Dua pelayan wanita sudah menunggu.
Tanpa banyak bicara, mereka bekerja dengan cekatan—seolah semua sudah diatur sejak lama.
Seragam sekolah disiapkan dengan rapi, tanpa satu lipatan pun yang salah. Kancing dikancingkan perlahan, kerah dirapikan, rok diluruskan hingga jatuh sempurna.
Rambut Gina disisir dengan hati-hati, ditata sederhana tapi elegan. Tidak berlebihan, tidak mencolok—cukup untuk menunjukkan bahwa ia adalah anak dari keluarga yang terbiasa tampil sempurna.
Sedikit riasan ditambahkan: bedak tipis, sentuhan ringan di bibir.
Gina menatap bayangannya di cermin.
Rapi. Teratur. Nyaris tanpa cela.
Seperti biasa.
Namun entah kenapa, di balik pantulan itu, Gina merasa ada sesuatu yang tertinggal. Bukan di cermin—melainkan di pikirannya.
Ia menurunkan pandangan. Jemarinya bergerak tanpa sadar, menyentuh bekas luka tipis di lengannya. Garis-garis samar itu masih ada, sedikit kemerahan, seolah belum sepenuhnya sembuh.
Salah seorang pelayan memperhatikannya.
“Nona,” ucapnya ragu, matanya tertuju ke lengan Gina.
“Sepertinya iritasinya makin parah. Apa perlu kita panggil dokter?”
Gina segera menarik lengannya, lalu tersenyum kecil—senyum yang terlalu cepat untuk meyakinkan.
“Nggak perlu, Bi,” katanya tenang.
“Udah aku olesin salep kok.”
Para pelayan mengangguk, meski ada raut khawatir yang tak sepenuhnya hilang.
Mereka memang tahu Gina memiliki kulit sensitif, terutama di sela-sela jari dan lengannya.
Kebiasaan menggaruk itu sudah lama mereka lihat—dan sejauh yang mereka tahu, itu hanya soal alergi biasa.
Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.
Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan lain datang menghampiri. Ia menunduk sopan di hadapan Gina.
“Nona, waktunya sarapan,” ucapnya lembut.
“Tuan Besar, Nona Besar, dan Tuan Muda sudah menunggu di ruang makan.”
Gina mengangguk pelan.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Aku segera turun.”
Para pelayan mulai membereskan peralatan, meninggalkan Gina sendirian di depan cermin.
Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi.
Rapi. Tenang. Terlihat baik-baik saja.
Lalu ia menarik napas dalam-dalam, merapikan seragamnya, dan melangkah keluar kamar—menuju pagi yang sudah menunggunya dengan tuntutan yang tak pernah berubah.
Gina tiba di ruang makan dengan langkah tenang.
Meja panjang itu sudah tertata rapi, dipenuhi hidangan mewah—roti hangat, buah segar, hidangan Barat dan Timur tersaji berdampingan.
Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna.
Di ujung meja, berdiri ayahnya.
Tuan Wijaya.
Wajahnya tenang, sikapnya tegap, aura wibawanya memenuhi ruangan bahkan tanpa suara.
Di sisi kanan meja, ibunya duduk anggun, ditemani adik laki-laki Gina—anak bungsu keluarga itu.
Seragam SD-nya sedikit berantakan, rambutnya belum benar-benar rapi. Ia tertawa kecil sambil memainkan sendok, sama sekali tidak ditegur.
“Pelan-pelan makannya,” ujar ibu Gina lembut sambil tersenyum.
“Jangan terburu-buru.”
Anak itu mengangguk asal, lalu kembali berulah. Tidak ada nada tegas. Tidak ada tuntutan.
Gina berhenti sejenak sebelum duduk di kursinya.
Ia memandang pemandangan itu dengan mata yang sudah terlalu akrab.
Adiknya memang masih kecil. Masih SD.
Masih dianggap wajar jika ceroboh, nakal, atau malas belajar.
Ia dimanja. Dilindungi. Diberi ruang untuk salah.
Bahkan saat nilainya turun atau ia berbuat onar, orang tuanya hanya tertawa kecil.
“Namanya juga masih kecil,” kata mereka.
“Nanti juga dewasa sendiri.”
Berbeda dengan Gina.
Sejak dulu, kesalahan kecil darinya selalu terasa besar.
Nilai dua poin turun saja bisa menjadi masalah keluarga.
Sikap lelah dianggap kurang disiplin.
Air mata disebut kelemahan.
Karena alasan itu selalu sama.
“Kamu calon pemimpin perusahaan.”
“Kamu yang harus lebih baik.”
“Adikmu nanti cukup mengikuti.”
Gina duduk di kursinya, punggung lurus, tangan terlipat rapi di atas meja.
Ia tersenyum tipis—senyum yang sudah ia latih sejak lama.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena sudah terbiasa.
Di meja makan yang penuh kehangatan itu, Gina kembali merasa sendirian. Ia duduk di sisi kiri meja, sementara di seberangnya, ibu dan adiknya berada di sisi kanan. Tawa kecil mereka sesekali terdengar, ringan dan hangat.
Entah kenapa, dari tempat duduknya, Gina merasa seperti sedang menonton dari kejauhan.
Seolah meja makan itu membentangkan jarak yang tak terlihat—namun nyata.
Ia meraih sendok dan garpunya, bersiap makan.
Gerakannya tenang, terukur. Seperti semua hal dalam hidupnya.
Namun sebelum suapan pertama, suara ayahnya menyela.
“Kemarin pulang sekolah langsung les, kan?” tanyanya datar.
“Iya, Yah,” jawab Gina singkat.
“Aku langsung ke tempat les.”
Ayah mengangguk kecil.
“Bagus kalau begitu,” katanya.
“Ayah akan telepon pihak les. Sekadar memastikan kamu benar-benar ada di sana.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Gina sudah terlalu paham maknanya.
Bukan perhatian.
Melainkan keraguan.
Padahal ia tak pernah membantah.
Tak pernah berbohong.
Tak pernah melanggar.
Tapi setiap kata darinya selalu terasa perlu dicek ulang.
Gina tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menunduk, melanjutkan makan. Pisau dan garpunya bergerak pelan, memotong steak di piringnya dengan rapi.
Tiba-tiba, suara kecil adiknya terdengar.
“Ibu, aku mau steak,” katanya polos.
Gina baru saja hendak mengangkat kepala, ketika ibunya lebih dulu berbicara.
“Gin,” ucap sang ibu lembut,
“kasih steak yang sudah kamu potong itu ke adikmu, ya. Kamu ambil yang baru, potong lagi.”
Pisau di tangan Gina berhenti sepersekian detik.
Lalu ia mengangguk.
“Iya, Ma,” jawabnya pelan.
Tanpa membantah.
Tanpa bertanya.
Tanpa memperlihatkan apa pun.
Ia memindahkan piringnya ke arah adiknya, lalu menarik piring baru ke hadapannya. Pisau kembali bergerak, memotong daging yang masih utuh—seperti biasa.
Di meja makan itu, Gina kembali belajar satu hal yang sudah lama ia pahami:
Memberi lebih dulu.
Mengalah lebih cepat.
Dan menyimpan semuanya sendiri.
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔