NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transaksi di Balik Matahari Terbenam

Dinding-dinding rumah besar keluarga Wiradhinata biasanya terasa dingin, namun bagi Ria, kedinginan itu adalah teman lama. Sambil mengemas sebuah tas kecil untuk perjalanannya besok, pikirannya melayang pada percakapan singkat dengan Arya tadi. Untuk pertama kalinya, ia melihat suaminya itu goyah. Namun, rasa puas itu segera tertutup oleh kabut memori yang selalu ia kunci rapat: memori tentang alasan mengapa ia dianggap sebagai "kutukan".

​Jauh sebelum Ria menjadi istri pajangan Arya, ia adalah sebuah rahasia yang ingin dikubur hidup-hidup oleh seorang pria bernama Suno —ayahnya.

​Suno bukan sekadar pria kejam; ia adalah pengecut yang bersembunyi di balik setelan jas mahal. Dua puluh lima tahun yang lalu, Suno hanyalah seorang pemuda ambisius dari keluarga terpandang yang sedang merintis karier politik. Di sebuah desa terpencil tempatnya melakukan kunjungan kerja, ia bertemu dengan Ningsih, ibu Ria.

​Ria teringat saat ia berusia sepuluh tahun, duduk di pojok dapur rumah neneknya, mendengar bisikan tetangga yang menyebutnya "anak pembawa sial" karena ibunya mati gara-gara dirinya.

​"Kamu seharusnya tidak ada," adalah kalimat yang sering ia dengar dari kerabat-kerabatnya. Kesalahan orang tuanya—nafsu sang ayah dan keluguan sang ibu—menjadi beban yang dikalungkan di leher Ria seperti rantai besi.

​Saat Nenek meninggal, dan Paman membawanya ke kota untuk menemui Suno, Ria sempat berharap ada sisa-sisa penyesalan di wajah ayahnya. Namun, yang ia temui di rumah mewah itu hanyalah ketakutan. Suno takut kehadiran Ria akan merusak citra keluarganya yang sempurna.

​"Jangan pernah panggil aku Ayah di depan istri dan anak-anakku," desis Suno saat itu di ruang kerjanya yang pengap dengan aroma cerutu. "Kamu di sini hanya karena aku tidak ingin ada wartawan yang tahu aku membiarkan darah dagingku membusuk di jalanan. Jadilah bayangan, maka kamu akan tetap makan."

​Itulah awal mula Ria belajar untuk tidak memiliki suara. Ia menjadi pembantu di rumah ayahnya sendiri demi membayar dosa karena telah lahir ke dunia.

......................

​Ria tersenyum getir sambil menutup ritsleting tasnya. Gizi buruk yang kini berubah menjadi leukemia bukan sekadar penyakit medis baginya. Itu adalah hasil nyata dari tahun-tahun di mana ia memberikan porsinya untuk orang lain, tahun-tahun di mana ia menahan lapar agar ibu tirinya tidak mengamuk, dan tahun-tahun di mana ia bekerja melampaui batas untuk membuktikan bahwa ia layak hidup.

Ayah, ​Ibu... lihatlah, batin Ria sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala. Kalian menciptakan aku dari kesalahan, dan kalian membiarkan aku tumbuh dalam kehampaan. Tapi di sisa napas ini, aku tidak akan lagi membawa beban kalian.

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Arya berdiri di sana. Ia tidak masuk, hanya bersandar di kosen pintu, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan dan ketertarikan yang mulai tumbuh.

​"Ria," panggil Arya pelan. Suaranya tidak sedingin biasanya. "Besok... jika kamu ingin pergi melihat matahari terbenam, apakah ada tempat spesifik yang ingin kamu kunjungi?"

​Ria menoleh, memberikan senyuman tipis yang membuat jantung Arya berdegup aneh. "Ke tempat di mana tidak ada yang mengenal saya sebagai anak siapa atau istri siapa, Mas. Saya hanya ingin menjadi Ria. Satu hari saja."

​Arya terdiam. Ada sesuatu dalam kalimat Ria yang terdengar seperti sebuah perpisahan yang sangat panjang.

Ria kembali menatap cermin, ia sadar wajahnya memucat, Ria tidak ingin Ryan tahu apa yang ia derita. Ria mengambil lipstik yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Ria menggoreskan batang lipstik itu pada bibirnya yang kering.

Arya menatap istrinya itu, hal yang tidak pernah dilakukan Ria, yaitu berdandan. Ada getaran aneh dalam diri Arya saat melihat wajah Ria yang terlihat cantik di balik riasan tipis itu.

......................

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar mewah mereka, namun suasana di meja makan tetap sedingin es. Arya duduk di ujung meja, matanya terpaku pada tablet yang menampilkan grafik saham yang fluktuatif. Di hadapannya, secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap tipis.

Ria turun dengan pakaian yang tidak biasa—sebuah gaun berbahan jatuh berwarna kuning lembut yang kontras dengan riasan wajah yang tipis. Tidak ada apron, tidak ada gerakan cekatan menyiapkan sarapan. Ia hanya membawa tas kecil dan sebuah topi lebar.

Arya melirik sekilas, lalu kembali ke layarnya. "Jadi kau benar-benar akan pergi?"

"Iya, Mas. Seperti yang aku katakan semalam," jawab Ria lembut namun tegas.

Arya meletakkan tabletnya. Wajahnya datar, seolah sedang berhadapan dengan rekan bisnis yang mengajukan revisi kontrak. "Aku sudah meminta supir untuk mengantarmu. Jangan pulang terlalu larut, besok malam ada perjamuan kolega penting. Kau harus hadir dan tampil sempurna sebagai istriku."

Ria terhenti sejenak. Perjamuan. Tentu saja. Bagi Arya, keberadaan Ria hanyalah sebuah aset untuk memperhalus citranya di depan publik—seorang pengusaha muda sukses dengan istri yang penurut.

"Aku akan pergi sendiri, Mas. Aku sudah memesan taksi," ujar Ria mengabaikan tawaran supir. "Dan soal besok... aku tidak bisa berjanji."

Alis Arya bertaut. "Tidak bisa berjanji? Ria, pernikahan ini adalah kesepakatan. Ayahmu mendapatkan suntikan dana untuk perusahaannya yang nyaris bangkrut, dan aku mendapatkan stabilitas citra. Kau tahu tugasmu hanya satu: menjadi pendamping yang tenang."

Ria menghela nafas, ia benar-benar lelah dengan sikapnya yang harus selalu patuh dan menurut. Ria menatap Arya tepat di matanya. Tatapan yang biasanya tertunduk itu kini terasa begitu berat untuk Arya tahan.

"Transaksi itu sudah lunas, Mas. Ayah sudah mendapatkan uangnya, dan kau sudah mendapatkan dua tahun ketenanganku. Sekarang, waktunya milikku."

Tanpa menunggu jawaban, Ria melangkah keluar. Suara pintu yang tertutup pelan itu bergema di ruangan luas yang mendadak terasa hampa bagi Arya.

Taksi membawa Ria menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju sebuah pantai tersembunyi yang jarang dikunjungi orang. Di sana, ia duduk di atas pasir yang mulai menghangat. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, menuliskan daftar hal-hal yang ingin ia rasakan sebelum tubuhnya benar-benar menyerah pada sel-sel ganas yang menggerogotinya.

1. Makan es krim tanpa merasa bersalah.

2. Tertawa keras di bawah hujan.

3. Mengampuni diriku sendiri karena telah lahir.

Ria memejamkan mata, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun, tidak ada suara Ayahnya yang menghina, tidak ada tuntutan Ibu tirinya, dan tidak ada keacuhan Arya yang menghimpit dada. Ia merasa bebas, meski kebebasan itu dibayar dengan vonis kematian.

Sementara itu, di kantor pusat Wiradhinata Group, Arya tidak bisa fokus. Laporan keuangan di depannya tampak seperti deretan angka tak bermakna. Ia berulang kali memeriksa jam tangannya.

"Ada yang mengganggu Anda, Pak?" tanya asistennya, melihat Arya yang terus-menerus mengetukkan pena ke meja.

"Periksa apakah Ria sudah pulang ke rumah sore nanti," perintah Arya dingin. "Dan kirimkan orang untuk mencari tahu ke mana dia pergi hari ini. Aku tidak suka sesuatu yang berjalan di luar kendaliku."

Bagi Arya, ketertarikannya pada perubahan sikap Ria hanyalah masalah ego. Ia merasa properti miliknya mulai bertingkah aneh. Ia tidak menyadari bahwa rasa gelisah itu adalah retakan pertama pada dinding es yang menyelimuti hatinya.

Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, membiaskan warna jingga dan ungu yang magis, Ria berdiri di tepi pantai. Air laut membasahi kakinya. Ia terbatuk kecil, dan saat ia menutup mulutnya dengan sapu tangan putih, ada noda merah kecil yang tertinggal di sana.

Ria tersenyum getir. "Waktunya semakin sempit, ya?"

Ia melipat sapu tangan itu, menyimpannya dalam saku, lalu menatap matahari yang perlahan tenggelam. Ia tidak merasa takut. Justru, untuk pertama kalinya, ia merasa hidup karena ia tahu persis kapan hidupnya akan berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!