Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Melawan Takut
Hari pertama sekolah membuat dadaku terasa penuh. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, tapi juga ada takut yang diam-diam menyelinap. Tanganku erat menggenggam tas yang masih terasa asing di punggung. Setiap langkah menuju kelas terasa ragu, seolah aku takut salah melangkah.
Aku duduk di bangku paling pinggir. Mataku sibuk memperhatikan wajah-wajah baru di sekelilingku. Ada yang datang dengan sepatu bersih dan tas bagus, ada yang tertawa lepas tanpa beban. Aku hanya diam, sesekali menunduk, merasa kecil di antara mereka. Bau kapur tulis dan suara kursi yang digeser membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Saat guru memanggil namaku, suaraku hampir tak keluar. Aku berdiri dengan kaki gemetar, memperkenalkan diri sepelan yang aku bisa. Aku takut salah bicara, takut ditertawakan, takut terlihat berbeda. Namun aku juga takut jika aku tak cukup berani, ibu akan kecewa.
Di balik rasa takut itu, ada tekad kecil yang terus kupeluk. Aku ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Aku ingin membuat ibu bangga. Aku ingin membuktikan bahwa anak yang setiap pagi membantu dan menjual gorengan juga pantas duduk di bangku sekolah.
Ketika bel istirahat berbunyi, aku menarik napas panjang. Hari pertama ini belum selesai, tetapi aku sudah belajar satu hal: berani datang ke sekolah adalah langkah pertamaku melawan takut.
Saat aku duduk kembali di bangku setelah memperkenalkan diri, seorang anak perempuan di sebelahku menoleh pelan. Rambutnya dikepang dua, wajahnya ramah.
“kenalkan aku sari ?” bisiknya.
Aku mengangguk kecil. Suaraku masih terasa tertahan di tenggorokan.
“Iya,” jawabku singkat.
Ia tersenyum, lalu mendorong sedikit penghapus ke arahku.
Hatiku terasa menghangat. Itu pertama kalinya hari ini aku merasa tidak sendirian. Aku membalas senyumnya, meski masih malu-malu.
Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki dari bangku belakang ikut menyahut.
“Kamu jual gorengan, ya?” tanyanya polos. “Tadi aku lihat kamu sama Abangmu”
Aku sempat terdiam. Takut pertanyaan itu akan berubah menjadi ejekan. Tapi nada suaranya terdengar biasa saja, bahkan penasaran.
“Iya,” jawabku jujur.
“Enak,” katanya singkat. “Nanti pas istirahat aku beli, ya.”
Aku tersenyum kecil. Rasa takut yang sejak pagi menempel di dadaku perlahan mengendur. Ternyata tidak semua orang memandangku aneh. Ada yang menerima, ada yang ingin berteman.
Belum banyak kata yang terucap hari itu, tapi dari senyum sederhana dan tawaran kecil, aku belajar satu hal: sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan menulis, tetapi juga tempat hati mulai berani membuka diri.
Bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak berhamburan keluar kelas dengan wajah riang. Aku dan Bang Randi saling berpandangan sebentar, lalu melangkah ke halaman sekolah. Tanganku menggenggam plastik gorengan erat-erat. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.
Kami berdiri di dekat tempat anak-anak bermain—di sana ada yang melompat tali, ada yang duduk melingkar memainkan kelereng. Aku memperhatikan mereka sambil menunggu, ragu untuk memulai. Takut tak ada yang membeli. Takut ditertawakan.
Bang Randi lebih dulu bersuara.
“Gorengan… gorengan…” panggilnya pelan, hampir tenggelam oleh suara tawa anak-anak.
Beberapa anak menoleh. Seorang anak laki-laki mendekat, lalu menunjuk gorengan di tanganku.
“Berapa satu?” tanyanya.
“Seribu,” jawabku cepat, suaraku sedikit gemetar.
Ia mengangguk dan menyerahkan uangnya. Saat uang itu berpindah ke tanganku, dadaku terasa hangat. Itu gorengan pertama yang terjual di sekolah. Bukan karena uangnya, tetapi karena rasa berani yang akhirnya menang melawan takut.
Tak lama kemudian, Sari datang bersama dua temannya.
“Aku beli juga,” katanya sambil tersenyum. “Yang ini, ya.”
Plastik gorengan perlahan menipis. Ada yang membeli sambil tersenyum, ada yang makan sambil duduk di bawah pohon, ada pula yang sekadar bertanya lalu pergi. Aku tak lagi terlalu gugup. Tanganku mulai terbiasa, suaraku mulai lebih berani.
Saat bel masuk kembali berbunyi, kami menghitung sisa gorengan. Tidak habis semua, tapi cukup. Cukup untuk membuatku tersenyum.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan yang berbeda. Hari ini, aku belajar bahwa langkah kecil—sekecil menjual satu gorengan—bisa membuat hati terasa lebih kuat.
Bel masuk berbunyi. Kami kembali ke kelas dengan langkah sedikit tergesa. Gorengan yang tersisa kusimpan rapi di dalam tas. Pelajaran baru saja dimulai ketika pintu kelas terbuka perlahan. Seorang guru berdiri di ambang pintu, memandang ke arah kami.
“Kamu sama kamu,” katanya sambil menunjuk aku dan Bang Randi. “Ikut ibu ke ruang guru, ya.”
Jantungku langsung berdegup kencang. Tanganku dingin. Kepalaku dipenuhi pikiran buruk—aku takut dimarahi, takut dianggap melanggar aturan. Langkahku terasa berat saat mengikuti guru itu menyusuri lorong sekolah.
Sesampainya di ruang guru, aku dan Bang Randi berdiri dengan kepala tertunduk. Tanganku saling menggenggam erat. Aku menunggu kata-kata yang mungkin akan membuatku ingin menangis.
“Kenapa kalian bawa gorengan ke sekolah?” tanya guru itu, suaranya tenang.
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Buat dijual, Bu,” jawabku pelan. “Bantu ibu.”
Ruangan itu hening sejenak. Beberapa guru lain menoleh ke arah kami. Aku semakin menunduk, tak berani menatap siapa pun.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Guru itu tersenyum tipis.
“Lain kali, kalau jam pelajaran dimulai, gorengannya ditaruh di sini, ya. Jangan dibawa ke kelas.”
Aku mengangguk cepat.
Salah satu guru lain mendekat, lalu mengambil satu gorengan.
“Ini enak,” katanya sambil tersenyum. “Ibu beli, ya.”
Aku terkejut. Bang Randi melirikku, matanya berbinar. Ketegangan di dadaku perlahan luruh, berganti rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Kami keluar dari ruang guru dengan langkah lebih ringan. Rasa takut yang tadi menguasai hati berubah menjadi keberanian kecil. Hari ini, aku belajar bahwa tidak semua panggilan guru berakhir dengan marah—kadang, ada pengertian yang diam-diam menguatkan.
Saat bel pulang berbunyi, aku mengemasi buku dengan perasaan yang berbeda dari pagi tadi. Kakiku melangkah keluar kelas bersama Bang Randi. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya hangat menyentuh halaman sekolah.
Di perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Di dalam dadaku, perasaan bercampur menjadi satu—lelah, lega, dan senang. Hari pertama sekolah ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Aku tidak dimarahi. Aku tidak ditertawakan. Aku bertahan sampai akhir hari.
Sesampainya di rumah, aku meletakkan tas di sudut ruangan. Ibu menoleh dari dapur, matanya langsung tertuju padaku. Ada lelah di wajahnya, tapi juga harap yang selalu sama.
“Capek?” tanya ibu pelan.
Aku mengangguk, lalu tersenyum kecil. Tanganku mengeluarkan uang hasil jualan gorengan dan menyerahkannya pada ibu. Ibu menerimanya dengan hati-hati, seolah uang itu sesuatu yang sangat berharga.
“Alhamdulillah,” ucapnya lirih.
Aku duduk di samping ibu, menceritakan sedikit tentang hari pertamaku—tentang teman baru, tentang gorengan yang terjual, tentang guru yang tidak marah. Ibu mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum, sesekali mengangguk pelan.
Di saat itu, aku merasa hangat. Lelahku terasa terbayar. Aku sadar, meski langkahku masih kecil, aku sudah mulai berjalan di jalan yang ibu harapkan.
Hari itu, aku tertidur lebih cepat dari biasanya, dengan perasaan tenang. Untuk pertama kalinya, sekolah bukan lagi sesuatu yang kutakuti, melainkan tempat di mana aku belajar menjadi lebih berani.