NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Arkan kini mulai menyadari satu hal yang aneh dalam hidupnya. Ia kini lebih memilih pulang tepat waktu.

Bukan karena pekerjaannya selesai lebih cepat, melainkan karena ada sesuatu yang ingin ia temui. Rumah yang dulu hanya tempat singgah, kini terasa seperti tujuan. Dan penyebabnya hanya satu yaitu Nara.

Makan malam yang tadinya tidak begitu penting bagi Arkan, sekarang Arkan mementingkan makan malam berdua dengan Nara.

Arkan tidak lagi memesan makanan dari luar. Ia duduk di meja makan, menunggu masakan sederhana buatan Nara. Kadang sup, kadang tumisan ringan, kadang hanya nasi hangat dan lauk sederhana.

Anehnya, Arkan menikmatinya.

“Bapak tidak suka micin, kan?” tanya Nara suatu malam.

Arkan mengangguk.

“Perut saya tidak cocok.” jawab Arkan.

“Berarti ini aman,” jawab Nara sambil tersenyum.

Arkan menatap Nara lebih lama dari yang seharusnya. Dan di situlah ia sadar, perasaannya telah bergeser tanpa permisi.

Setelah makan malam, mereka duduk di sofa yang sama.

Meja kecil di depan mereka penuh camilan. Keripik, cokelat, biskuit. Nara yang makan, Arkan hanya sesekali meminum air putih. Dan memilih makan buah potong.

“Bapak tidak mau?” tanya Nara sambil menyodorkan bungkus snack.

Arkan menggeleng. “Kebanyakan micin.” jawab Arkan.

Nara terkekeh kecil, lalu lanjut mengunyah.

Mereka berbincang tentang hal-hal ringan. Tentang dosen yang galak. Tentang tugas yang menumpuk. Tentang mimpi Nara yang ingin punya brand busana sendiri suatu hari nanti. Bahkan tentang makanan yang sedang Nara makan, yang dulu terasa mahal bagi Nara, namun sekarang Nara menikmantinya secara gratis.

Arkan hanya mendengarkan. Tanpa menyela. Dan di dalam hatinya, ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan. Hingga sebuah suara membuat pandangan Arkan teralihkan.

Suara pintu terbuka, Arkan menoleh, sedangkan Nara refleks berdiri.

Bungkus makanan langsung Nara kumpulkan, jantungnya berdetak kencang. Langkah kaki terdengar memasuki ruang tengah, dan sosok wanita paruh baya berdiri di sana dengan tatapan tajam. Elegan. Berwibawa. Dan jela, bukan orang sembarangan.

“Arkan.”

Nada suara wanita yang baru saja masuk terdengar dingin.

“Ibu,” jawab Arkan, tenang.

Namun Indah alias ibunya Arkan tidak tersenyum.

Tatapan Indah beralih ke Nara, lalu ke meja, ke sofa, ke bungkus camilan.

“Jadi kamu sudah hidup satu rumah dengan seorang wanita?” Suara Indah meninggi.

Nara panik. “Ma-maaf, nyonya,” ucap Nara cepat.

“Saya asisten rumah tangga di sini. Saya bekerja. Saya tidak—”

“ART?” Indah memotong tajam.

“ART duduk satu sofa, makan bersama majikannya?”

Nara tercekat. Ia menunduk, merasa posisinya terlalu kecil untuk membela diri.

“Bu,” Arkan akhirnya bicara. “Cukup.” lanjut Arkan.

Namun Indah belum selesai.

“Kamu pikir ini pantas, Arkan?”

“Kamu pria dewasa. Tinggal sendiri dengan gadis muda?” tanya Indah dengan tegas.

“Ibu datang tanpa memberi tahu,” jawab Arkan datar.

“Dan Nara tidak melakukan kesalahan.” lanjut Arkan.

Indah menatap anaknya tajam, lalu kembali ke Nara.

“Kamu,” kata Indah.

“Kamu tahu siapa dia?” tanya Indah.

Nara menggeleng, suaranya gemetar.

“Saya hanya bekerja di sini, nyonya. Pak Arkan menolong saya. Memberi tempat tinggal dan pekerjaan. Tidak lebih.”

Arkan menoleh ke Nara. Ada sesuatu di dadanya yang mengeras.

Indah menghela napas panjang.

“Kamu tahu, Arkan bukan pria sembarangan,” kata Indah lebih tenang namun penuh tekanan.

“Dan hidupnya bukan untuk main-main.”

“Ibu,” Arkan menyela,

“kehidupan saya adalah urusan saya.” kata Arkan.

Indah terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai penilaian.

“Kita bicara nanti,” kata Indah dingin.

“Berdua.” lanjut Indah.

Indah berbalik, melangkah ke dalam rumah.

Nara berdiri kaku. “Pak… saya minta maaf,” ucapnya lirih.

“Mungkin sebaiknya saya—”

“Tidak.” Arkan menatap Nara tegas.

“Kamu tidak ke mana-mana.”

“Tapi ibu Bapak—”

“Urusan saya.” jelas Arkan.

Nada Arkan rendah, namun mengandung keyakinan yang membuat Nara terdiam.

Nara tidak pernah melihat sisi Arkan seperti ini, protektif, tegas, dan peduli.

Setelah Indah masuk ke kamar tamu, Arkan duduk sendirian di ruang tengah. Pikirannya penuh. Ia tahu satu hal dengan pasti, dunianya telah berubah. Dan perasaan itu nyata.

Nara bukan sekadar gadis yang bekerja di rumahnya. Ia adalah cahaya yang masuk ke hidupnya tanpa izin, dan kini, Arkan tidak ingin kehilangan cahaya itu. Apa pun risikonya.

Indah tidak langsung membicarakan apa pun malam itu. Ia menunggu hingga rumah kembali sunyi. Hingga Arkan masuk ke ruang kerjanya. Hingga Nara hampir menyelesaikan tugas-tugas kecilnya. Baru kemudian, wanita paruh baya itu menghampiri Nara yang sedang membereskan dapur.

“Kamu,” panggil Indah singkat.

Nara menoleh cepat. “Iya, Nyonya.”

“Duduk.” kata Indah. Nada itu bukan permintaan.

Nara menuruti. Ia duduk di kursi makan dengan punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia tahu, percakapan ini tidak akan ringan.

Indah duduk di seberangnya, menatap Nara lama. Terlalu lama.

“Kamu sudah berapa lama tinggal di sini?” tanyanya akhirnya.

“Satu bulan lebih, Nyonya.”

“Kamu masih kuliah?”

“Iya.”

Indah mengangguk pelan.

“Kamu tahu Arkan siapa?”

Nara menunduk.

“Saya tidak pernah bertanya, Bu. Saya hanya bekerja.”

Jawaban Nara membuat Indah tersenyum tipis, bukan senyum hangat, melainkan senyum menilai.

“Kamu cerdas, atau setidaknya tahu menempatkan diri.”

Nara menghela napas kecil. “Saya hanya ART, nyonya. Tidak lebih.”

“Benarkah?” tanya Indah.

Pertanyaan itu melayang ringan, tapi menekan.

“Kamu duduk bersamanya,” lanjut Indah.

“Makan malam bersama. Mengobrol hingga larut.”

“Itu karena saya bekerja di sini,” jawab Nara jujur.

“Pak Arkan tidak pernah bersikap tidak pantas.” lanjut Nara.

“Anak saya tidak sembarangan.” kata Indah.

Nara menggenggam ujung bajunya.

“Saya tahu batas saya, nyonya.” ucap Nara pelan tapi tegas.

“Saya datang ke kota ini untuk sekolah. Bukan untuk mencari apa pun.”

Indah menatap Nara dalam.

“Termasuk menikah?” tanya Indah.

Nara terkejut. “Saya tidak pernah berpikir sejauh itu.”

Jawaban itu terdengar tulus, Indah bersandar di kursinya.

“Kamu tidak terlihat seperti gadis yang ingin memanfaatkan keadaan.”

Nara mengangguk kecil. “Saya hanya ingin bertahan hidup dan menyelesaikan pendidikan saya.”

Untuk beberapa detik, Indah terdiam. Namun sorot matanya tidak berubah.

“Masalahnya,” kata Indah pelan, “bukan kamu.”

Nara mengernyit.

“Masalahnya Arkan.” lanjut Indah. Sebagai ibu tentunya Indah tahu kalau anak laki-lakinya sedang ada perasaan lain, karena ini adalah pertama kalinya Arkan bisa klop dengan wanita.

Sementara itu, Arkan berdiri di balkon lantai atas, menatap gelap malam. Ia tahu ibunya sedang berbicara dengan Nara. Ia tahu Indah tidak akan tinggal diam.

Namun ia memilih tidak turun. Membiarkan semuanya apa adanya.

Beberapa menit kemudian, Indah menghampiri Arkan.

“Kamu sadar apa yang kamu lakukan?” tanya Indah tanpa basa-basi.

Arkan menoleh. “Apa maksud Ibu?”

“Kamu berubah,” jawab Indah tegas.

“Kamu pulang lebih cepat. Makan di rumah. Rumahmu hidup.”

Arkan diam.

“Dan itu karena gadis itu?”

“Kamu menyukainya?” tanya Indah beruntun.

Indah menatap Arkan tajam.

Arkan tidak menjawab. Ia tidak mengiyakan. Tidak juga membantah.

Keheningan itu justru menjadi jawaban paling jujur. Indah menghela napas panjang.

“Kamu tahu usiamu. Kamu tahu posisimu,” kata Indah.

“Dan kamu tahu gadis itu tidak hidup di duniamu.”

“Apa salahnya?” tanya Arkan akhirnya.

Indah menatap anaknya. “Kamu siap dengan konsekuensinya?”

Arkan menoleh ke arah ruang tengah, tempat Nara biasanya duduk menggambar atau menjahit.

“Belum,” jawab Arkan jujur.

“Tapi aku tidak ingin dia pergi.” lanjut Arkan.

Waktu menunjukan sudah hampir larut malam, Indah bersiap kembali ke rumahnya.

Sebelum pergi, Indah menoleh ke Nara.

“Kamu boleh tetap bekerja di sini,” katanya.

“Saya tidak akan mencampuri.”

Nara terkejut. “Terima kasih, nyonya.”

“Tapi ingat,” lanjut Indah,

“perasaan bukan sesuatu yang bisa dikendalikan hanya dengan tahu batas.”

Nara mengangguk pelan. “Saya tidak berniat melangkah lebih jauh,” kata Nara.

Indah tersenyum tipis. “Kita lihat saja.”

Mobil Indah pergi meninggalkan halaman rumah.

Nara berdiri di ambang pintu, menatap kosong. Dadanya terasa penuh, bukan karena takut, melainkan karena ia menyadari satu hal yang tak bisa ia hindari, Ia mungkin bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Namun perasaan orang lain, bukan urusannya. Itu yang ada di pikiran Nara.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!