Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 — Kehilangan
Angin... aku bisa merasakannya, lembut seperti napas. Kemudian, cahaya hangat menekuni kelopak mataku yang tertutup, memanggilku untuk bangun.
Mataku kemudian terbuka.
Dunia tampak samar, seperti lukisan yang tersapu air. Perlahan-lahan, kabut itu tersibak.
Aku terbaring di atas hamparan lumut, dikelilingi oleh katedral pepohonan yang tinggi. Angin sepoi-sepoi bersenandung rendah, mendesing di antara dedaunan yang bergoyang-goyang seperti melambai.
Di sini, sunyi terasa nyaring.
"Dimana aku..."
Dingin, basah.
Tempat ini... tidak kukenali.
Aku perlahan bangun. Pakaianku basah karena berbaring di genangan air.
Rasanya tidak nyaman.
Aku melihat pantulan wajahku di genangan air itu, tidak ada dalam ingatanku, wajah yang begitu cantik, mulus dan terlihat... sedih. Apa itu benar-benar aku?
Aku menyentuh wajahku perlahan, lembut, basah dan dingin.
"Siapa... aku?"
Bahkan namaku sendiri, aku tidak ingat. Apa yang terjadi denganku... aku yakin ini bukan tempatku. Aku hanya tidak bisa membuktikannya karena tidak tau apa-apa.
"Siapapun... adakah yang mendengarku," gumamku pelan.
Sunyi, tiada jawaban. Aku seperti orang bodoh yang mencoba berbicara dengan angin.
Kesepian.
Ahhh.
"Lin Xinyi."
"Siapa!" Aku reflek berteriak mendengar suara itu.
"Kau... tidak boleh mati. Hiduplah dengan baik, nikmati hidupmu."
Tidak ada siapa-siapa di sekitarku, aku benar-benar sendirian.
Suara itu hanya terdengar di kepalaku. Menggema lembut dan menenangkan.
Aku mengenalnya?
"Tidak ada banyak waktu. Aku akan mengajarimu... cara untuk menggunakan kekuatanmu dengan lebih baik."
"Maksudmu?"
"Pahamilah... apa yang akan kau lihat."
Tepat saat ia menyelesaikan kata-katanya, rasa nyeri menghantam kepalaku tanpa peringatan.
Dunia seakan berputar sesaat, namun kakiku masih bertahan, menopang tubuhku agar tidak langsung ambruk.
"Sakit…"
Desah itu lolos begitu saja dari bibirku.
Berbagai potongan bayangan berputar liar di dalam kepalaku—rekaman-rekaman asing yang tidak pernah kualami, tidak pernah kulihat, dan tidak pernah kuingat.
Simbol-simbol bercahaya, rangkaian mantra, aliran energi yang bergerak mengikuti hukum tertentu… semuanya masuk dengan paksa, seolah kepalaku dijadikan wadah.
Itu bukan ingatanku.
Itu miliknya.
Itu tentang... sihir?
Pengetahuan tentang sihir, tentang cara yang benar dan keliru dalam mengendalikannya, tentang bagaimana merasakan arus mana sebelum membentuknya menjadi mantra—semuanya ditanamkan begitu saja ke dalam kesadaranku.
Beberapa menit setelahnya rasa sakit itu mereda, aku akhirnya hanya duduk di genangan air yang dingin itu lagi.
"Hei... kau mendengarku?"
Hening.
Tiada jawaban darinya, aku diabaikan.
Dia sudah pergi.
Sebenarnya dunia macam apa ini. Sihir? Di duniaku seharusnya tidak ada hal semacam itu. Aku tidak mengingatnya, hanya pecahan ingatan samar yang tersisa.
Bangunan-bangunan tinggi, asap, lalu...
Krak—
Aku reflek menoleh, kesamping.
Kulihat beberapa ekor monster bertubuh kecil dengan warna hijau, membawa senjata kayu yang sesuai dengan ukuran tubuhnya.
Mereka menatapku, seolah aku adalah mangsanya.
"Goblin? Kebetulan macam apa ini."
Aku tau mereka, pernah membaca tentang monster ini entah dimana.
Aku segera bangun dan mundur perlahan, tidak gemetar, tidak takut, hanya waspada.
Goblin itu terlihat sedang berbicara dengan temannya, kemudian kembali menatapku. Kali ini mereka semua mulai berjalan pelan, dengan ekspresi menjijikan di wajahnya. Itu membuatku merinding.
Semakin aku mundur, mereka semakin mendekat.
Sampai akhirnya aku sudah tidak tahan lagi, dan memutuskan untuk berbalik lalu melarikan diri.
Aku menoleh ke belakang sambil berlari.
Para monster pendek itu tidak diam saja, mereka mengejarku. Gerakan mereka begitu lincah melewati pepohonan, belum lagi jumlahnya juga banyak.
"Bagaimana bisa monster pendek ini begitu cepat!"
Satu Goblin mendekat, hampir menyerangku dengan tongkat kayunya.
Aku berbelok kesamping, menghindar. Kemudian menendang wajahnya ketika ia belum sempat bereaksi.
Bugh—!
Satu dijatuhkan, namun yang lain terlihat marah karena aku menjatuhkan temannya. Salah satu mengangkat kayunya tinggi, mengisyaratkan pada yang lain untuk menyerang.
Aku menginjak wajah Goblin tadi sekali lagi. Memastikan ia tidak bangun lagi. Kemudian kembali lari dari kejaran monster-monster kecil itu.
Mereka terlalu cepat, meski aku terus-menerus berlari juga akan tertangkap nanti.
Kalau sampai tertangkap, entah apa yang akan mereka lakukan padaku. Memikirkannya saja sudah membuatku merinding.
Aku berharap bisa membunuh mereka sekarang juga!
"Sihir."
Kata itu langsung muncul di benakku.
Tapi aku belum ta—tidak... aku tau. Benar, aku sangat tau.
Aku yang masih berlari kemudian berbalik, mereka tidak terlalu jauh dariku. Jika aku gagal, aku akan tertangkap.
Yakin. Aku mengingatnya, 'dia' sudah memberitahuku. Aku hanya perlu mencobanya.
Para Goblin makin dekat. Makin dekat.
Posisi mereka berdekatan.
Satu kali serang.
Aku menyatukan kedua tanganku, melakukan seperti apa yang kuingat.
Padatkan Mana, lalu gunakan.
Waktunya pas.
Sekarang!
"Sihir Penciptaan Api: Black Flame!"
Lingkaran sihir tercipta di depan telapak tanganku. Kemudian api berwarna hitam menyembur ke arah para Goblin, membakar mereka tanpa sisa.
Jeritan ketika mereka terbakar oleh api entah kenapa terdengar merdu.
Memuaskan.
Selesai, semuanya hangus terbakar.
Hanya tersisa aku sendiri yang tidak menyangka kalau sihir sehebat itu. Pertama kali mencoba dan aku langsung jatuh cinta pada sihir.
"Berhasil..."
Aku tidak ingin gagal, tapi juga tidak menyangka akan berhasil.
"Aku... ingin mencobanya lagi."
Namun, tubuhku terasa lelah. Aku tidak yakin bisa menggunakan sihir lagi dalam waktu dekat. Mungkin karena Mana-ku terkuras?
Aku terlalu boros dalam menggunakannya.
Harus kulatih lagi, dengan cara yang benar untuk menggunakannya.
Sebenarnya untuk apa aku ada di dunia ini, pembukaan harusnya sudah selesai. Lalu apa selanjutnya? Apa aku harus keluar dari hutan ini?
"GHAARRHHH!"
Raungan mengerikan itu meledak di udara, mengguncang bumi dan menghantam telingaku seperti gelombang tekanan. Aku terpaksa menutup telinga, menahan rasa sakit yang menjalar.
Beberapa detik setelahnya, ia berhenti.
Aku langsung mencari asal suaranya, karena terdengar begitu nyaring seharusnya tidak terlalu jauh. Apakah itu naga? Atau monster aneh lainnya?
Aku menelusuri hutan, mendekati tempat dimana aku menangkap suara itu, lalu menemukan tiga wanita yang sedang berlari lari kejaran monster raksasa.
Tiga wanita itu, terlihat cantik dan kuat. Tapi kelihatannya mereka kehabisan Mana, dan hanya bisa berlari tanpa menyerang balik. Mereka akan mati cepat atau lambat.
Sedangkan monster itu, jauh lebih besar dan lebih mengerikan. Tubuhnya dilapisi sisik hitam berkilauan seperti baja, memberikan perlindungan yang hampir mustahil ditembus senjata biasa.
Kepalanya besar dengan rahang yang mampu meremukkan baja dalam satu gigitan, dilengkapi dengan gigi panjang dan tajam seperti belati.
Matanya menyala merah. Lubang hidungnya besar, mengendus mangsa dari kejauhan. Lengannya tetap kecil, tetapi memiliki cakar melengkung yang tajam seperti sabit.
Punggungnya dipenuhi duri besar. Ekornya panjang dan berotot, cukup kuat untuk menghancurkan bangunan dalam sekali tebasan. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Aku mengintip dari balik pepohonan.
Apa yang harus kulakukan?
"Ada dua pilihan. Tolong mereka, tapi harus menang. Atau abaikan saja dan lari..."
Yang mana yang harus kupilih.
apa ada sejarah dengan nama itu?