Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Mimpi Buruk
WARNING!
JANGAN BUKA BAB KALAU HANYA SEKEDAR MAMPIR DAN KARENA ISENG ATAU PENASARAN. KALAU MAU BACA JANGAN LUPA TINGGALKAN JUGA LIKE, ATAU KOMEN.
atau
BILA BERMURAH HATI, BERI HADIAH, VOTE BIAR CERITA INI PANJANG UMUR YA. TERIMA KASIH!
SELAMAT MEMBACA!
Kabut tipis menyelimuti perbukitan. Seolah enggan membuka diri jika ada yang ingin melihat keindahannya. Atau menelan siapa saja yang mencoba menjelajahinya.
Carol bingung, karena tidak melihat sosok yang ia kejar. Padahal dia yakin kalau Zach berlari ke arah bukit ini.
“Zach ....!!!
Suara Carol bergaung, seolah ada yang menyahut teriakan Carol. Carol berlari memasuki hutan, dan berusaha mencari keberadaan sahabatnya itu.
Carol melihat sosok itu lagi, berlari ke arah tebing sungai.
"Zach!" kejar Carol, lagi langkahnya tertinggal. Hu-ph! Langkah kaki Carol terhenti, manakala dia melihat didepannya adalah jurang yang tertutupi kabut. Nyaris saja tubuhnya terjatuh. Tapi, bukankah itu Zach yang bergelantung di akar pohon?
"Zach!"
Carol berteriak histeris, mencoba meraih tubuh Zach yang tergelincir di tepi jurang. Tapi, Carol gagal meraih tangan Zach yang mencoba menggapainya. Tubuh Zach meluncur jatuh ke bawah, disambut derasnya air sungai.
“Oh my Lord!” Teriak Carol ngeri. Manakala melihat tubuh Zach yang timbul tenggelam dibawa arus.
Carol tersentak, manakala menyadari ada sesuatu tertinggal ditangannya saat mencoba meraih tangan Zach.
Rambut! Seperti bulu hewan. Berarti itu bukan Zach! Tapi aku melihat jelas wajahnya tadi?
Carol mengikuti alur sungai, bermaksud mengejar Zach.
Tapi sial! Kakinya tersandung akar pohon. Carol terjatuh ke pinggir jurang. Carol berusaha meraih akar pohon. Tapi tubuhnya terlalu berat. Sehingga tanah yang menahan akar itu malah longsor.
Tubuh Carol bergelantung di tebing sungai. Semakin dia berusaha naik ke atas, akar itu semakin bergesek ke batuan tebing. Membuat akar itu terkikis.
Carol menahan nafas. Segala usahanya tampak sia-sia.
K-rak!
Akar itu putus. Carol panik dan tubuhnya meluncur ke sungai.
Bug!
Suara benda jatuh terdengar keras. Carol merasakan tubuhnya sakit. Nafas Carol tersenggal. Tubuhnya berkeringat. Membasahi seluruh tubuhnya.
“Oh my God, ternyata aku cuma bermimpi!” Carol menelan salivanya yang terasa kering. Rasa haus menyerang tenggorokannya.
Dengan langkah sempoyongan, Carol keluar dari kamarnya menuju dapur.
Membuka kulkas dan meraih sebotol air mineral. Meneguknya hingga tersisa separuh.
Carol mengusap bibirnya yang basah. Menutup kulkas dan kembali ke kamar.
Pikirannya kacau sudah, mengingat mimpinya yang begitu menegangkan. Entah apa makna mimpi itu. Apakah cuma bunga tidur semata. Yang jelas Carol tidak bisa lagi melanjutkan tidurnya.
Mimpi buruk yang terasa nyata itu, menghantui pikirannya. Carol menatap jam weker di atas nakas. Menunjukkan angka dua, dini hari.
Pagi hari yang cerah!
Carol terburu-buru mau pergi ke sekolah. Gara-gara mimpi buruknya semalam. Carol terlambat bangun.
Tanpa sarapan lebih dulu, Carol meraih tas ranselnya. Teriakan Rachel ibunya yang menyuruh sarapan dulu tak diindahkannya.
“Carol sarapan di kantin saja, Mi” balasnya berteriak saat ibunya mengejarnya sampai pintu gerbang.
Sudah telat!
Sisa sepuluh menit lagi bel sekolah akan meraung. Telat satu menit saja tidak ada ampun. Dia akan kena hukum membersihkan toilet.
SMA KESUMA INDAH sudah nampak. Carol mengambil jalan pintas lewat samping. Supaya tidak antri berdesakan.
“Hei, kenapa lewat sini?” Satpam sekolah mencegatnya.
“Maaf Pak, hari ini saya piket kebersihan. Tadi macet di jalan.” Ucap Carol memelas.
Akhirnya satpam mengijinkannya masuk dan membuka gerbang darurat.
Setelah memarkir motornya, Carol bergegas mengambil sapu. Untuk menyempurnakan kebohongannya.
“Hei, ngapain lo pegang sapu. Mau maling ya?” Sherly tertawa jahat melihat wajah Carol yang kaget.
“Dih, ngagetin saja kamu. Aku telat, dan ketahuan menyelinap dari gerbang darurat. Untung otakku lagi encer, bilang aku lagi piket hari ini.”
“Heleh! Pagi-pagi sudah sarapan bohong. Ntar perut kamu melendung karena kualat.” Kekeh Sherly.
Huh! Dasar mulut jahat. Doa kamu kok jelek amat.” Carol melengos masuk. Melemparkan sapu ke arah Sherly.
“Eh, sapunya kok ditinggal disini?” Protes Sherly kesal.
“Suruh aja balik sendiri ke gudang,” balas Carol cuek.
Carol meletakkan tasnya di laci. Keluar lagi hendak mencari Zach. Seperti dugaannya Zach pasti di taman belakang.
“Hai Zach! Teriak Carol. Buru-buru Zach membuang sesuatu yang terselip di jarinya. Lalu jemarinya sibuk mengibas udara.
“Ngapain sih. Apa kamu pikir aku tidak tau kalau kamu barusan merokok?” sindir Carol sinis.
“Ngapain cari aku sepagi ini. Tumben?”
“Memastikan lo, apa baik-baik saja.”
“Hah! Emangnya aku kenapa? Lo sehat kan?” Zach meraba kening Carol heran.
“Eh, semalam aku mimpi buruk. Kamu jatuh ke jurang. Trus di bawah ada sungai deras. Aku kejar kamu, eh kakiku malah kesandung akar. Aku ikutan jatuh tapi jatuh dari tempat tidur.” ucap Carol dengan ekspresi yang masih menyisakan kengerian.
“Hahaha … Hanya karena mimpi konyol itu kamu cari aku sepagi ini?” Zach tidak bisa menahan tawanya. Sampai perutnya sakit dan mulutnya terasa kering.
“Huh! Kamu menertawakan aku ya? Aku punya firasat buruk tentang mimpi itu, Zach!” seru Carol kesal.
“Halah! Jangan mulai lagi deh, Carol. Mimpi kamu itu cuma bunga tidur. Jaman gini kamu masih percaya tahayul? Yang benar sajalah.” Ejek Zach mengacaukan rambut Carol.
“Tapi Zach, mimpiku itu seperti nyata. Kamu berubah wujud."
“Maksudmu?" Zach mengerutkan keningnya.
“I-iya. Kamu berubah jadi manusia kera. Aku juga melihat banyak manusia yang berubah.
“Hah!” Zach terdiam sesaat lalu tiba-tiba kembali tertawa keras.
“Makanya jangan suka nonton film horor, Carol. Beginilah jadinya, sampai kebawa dalam mimpi kamu.”
"Aku tidak ...."
Tiba-tiba bel berbunyi.
“Ayo, bel sudah berbunyi. Cukup aku saja yang dengar cerita kamu ini ya. Ntar satu sekolah membully kamu.” Zach menarik lengan Carol, menuju lapangan sekolah untuk senam pagi.
Terpaksa Carol bungkam. Kalau Zach saja gak mau peduli dengan ceritanya. Apalagi orang lain. Hanya Zach yang selama ini mau mendengar cerita mimpi-mimpinya. Dan biasanya Zach akan menanggapinya biasa saja. Tidak seperti ini menertawakannya, berkali-kali.
Dengan wajah menekuk menahan kesal, Carol seperti kerbau dicocok hidungnya, mengikuti langkah besar Zach.
Sahabat masa kecilnya itu, sejak masih TK selalu satu kelas dengan nya.
Saat masuk kelas, Carol masih saja bungkam. Dia lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya.
“Carol, kamu kenapa sih. Dari tadi diam mulu?” Seru teman sebangkunya, Vivian. “Kamu marahan dengan Zach ya?” Tebak nya asal.
“Gak kok. Semalam aku kurang tidur. Jadi bawaannya ngantuk.”
“Oh, pantesan mata pandamu muncul."
Carol hanya tersenyum membalas ucapan Vivian.
“Hari ini kita masuk lab, kan?” Seseorang bertanya ke Vivian.
“Sepertinya, gak. Istri Pak Edward masuk rumah sakit lagi.”
“Oh, tapi kalau gak masuk pagi, kan diganti dengan sore. Memangnya istri Pak Edu sakit apa?” tanya Megan ingin tahu.
“Kanker. Trus Pak Edu sedang meneliti obat untuk istrinya. Tapi dana penelitian tiba-tiba dihentikan. Padahal tinggal selangkah lagi, mau berhasil. Tapi ada rekan Pak Edu, melapor. Karena istrinya dijadikan bahan percobaan.”
“Ih, kamu tau dari mana Vi?” beliak Megan kaget.
“Ssst, jangan keras-keras. Ini masih gosip. Belum tentu benar. Tapi katanya, Pak Edu menjadikan DNA istrinya dengan DNA monyet sebagai obat. Makanya penelitiannya dihentikan. Gitu lo.”
“Apa?” Carol yang sedari tadi menguping terkejut. Tiba-tiba mimpinya itu melintas di ingatannya. Megan dan Vivian kaget mendengar Carol menyela cerita mereka. Wajah Carol memucat. Jangan-jangan mimpinya itu bukan sekedar mimpi. Tapi pertanda sesuatu yang mengerikan akan terjadi.
“Kamu kenapa Carol?” Megan dan Vivian serempak bertanya.
“Eh, ti-tidak apa-apa.” sahut Carol gugup.
“Ih, kamu lagi menghayal ya?” sikut Vivian. Merasa aneh dengan sikap Carol hari ini. ***