Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Iren tersenyum penuh kemenangan. Wajah yang tadi sempat memperlihatkan luka karena hinaan Kevin kini berubah menjadi ekspresi puas saat melihat lelaki itu mulai kehilangan keseimbangan. Tentu saja semua itu bukan kebetulan.
Ia melangkah perlahan menghampiri Kevin yang berusaha berdiri tegak meski pandangannya mulai kabur.
“Kevin, aku sudah tahu kamu pasti akan menolakku,” ucap Iren dengan suara lembut yang terdengar berbahaya. “Karena itu aku menyiapkan rencana cadangan. Bagaimanapun juga, malam ini kamu harus tetap menjadi milikku. Kalau kita punya anak, kamu tidak akan punya alasan untuk menceraikanku.”
Kevin menatapnya dengan sorot mata yang mulai tidak fokus, tetapi amarahnya masih jelas terlihat. “Iren… aku tidak menyangka kamu serendah ini,” ucapnya sarkastis sambil mencoba menahan tubuhnya yang mulai limbung.
“Aku hanya tidak ingin berpisah denganmu,” balas Iren, meski napasnya sendiri terdengar tidak stabil. “Malam ini kita akan menghabiskan waktu bersama, dan setelah itu semuanya akan kembali seperti dulu.”
Ia semakin mendekat. Ruangan yang sejak awal hanya diterangi cahaya temaram itu kini terasa semakin pengap. Aroma terapi yang sejak sore ia nyalakan perlahan memenuhi udara. Wangi itu bukan sekadar pengharum ruangan, melainkan sesuatu yang sengaja ia beli secara ilegal untuk membangkitkan hasrat dan melemahkan kesadaran.
Lama kelamaan wangi itu semakin pekat, merayap pelan memenuhi paru-paru dan mengaburkan batas antara sadar dan kehilangan kendali. Kevin mencoba melangkah mundur, tetapi tubuhnya tidak lagi sepenuhnya patuh pada perintahnya sendiri. Tangannya sempat meraih sisi meja untuk bertumpu, namun genggamannya melemah.
“Iren… hentikan ini,” desisnya, berusaha mempertahankan kejernihan yang tersisa.
Namun Iren sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur. Ia berdiri tepat di hadapan Kevin, menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi obsesi. Tangannya terangkat, menyentuh bahu lelaki itu dengan gerakan perlahan, seolah memastikan bahwa ia benar-benar mulai kehilangan kendali.
“Kamu selalu keras kepala,” bisiknya. “Tapi malam ini kamu tidak punya pilihan.”
Iren tersenyum samar ketika mendengar penolakan Kevin. Tangannya bergerak perlahan menyusuri wajah lelaki itu, dari pipi hingga ke rahangnya yang tegas, seolah ingin memastikan bahwa kendali kini berada di tangannya.
“Bukan saatnya kamu yang mengambil keputusan, Kevin sayang,” bisiknya lirih.
Napas Kevin memang mulai berat, tetapi sorot matanya belum kehilangan tajamnya. Aroma di ruangan itu mengganggu kesadarannya, dan kedekatan tubuh Iren jelas memancing reaksi naluriah yang sulit diabaikan. Namun ekspresinya tetap dingin.
“Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya rendah, suaranya berat namun stabil. “Kamu masih belum cukup untuk bisa memaksaku.”
Kalimat itu tidak keras, tetapi tegas.
“Kevin, malam ini aku untukmu,” bisik Iren lagi, mendekatkan wajahnya, jarak mereka kini hanya setipis udara yang mereka hirup bersama.
Kevin tidak mundur. Ia juga tidak terlihat tergesa. Tangannya terangkat, bukan untuk memeluk, melainkan menahan dagu Iren sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan.
“Kamu salah,” ucapnya pelan, lalu mendorong Iren menjauh.
Tanpa memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk goyah, Kevin berbalik menuju kaca besar di sudut ruangan. Dalam satu gerakan keras, ia menghantamkannya hingga retak dan pecah. Pecahan itu melukai telapak tangannya, darah mengalir tipis. Rasa perih yang tajam langsung menjalar, memaksa kesadarannya tetap terjaga.
“Iren… kamu sudah kelewatan,” desisnya.
“Kevin, kamu gila?” suara Iren mulai terdengar berat. Tubuhnya sendiri tak lagi stabil. Aroma yang ia ciptakan kini justru menyerangnya balik.
“Menghadapi wanita sepertimu memang harus gila,” balas Kevin dingin.
Ia menangkap tubuh Iren yang mulai limbung sebelum perempuan itu benar-benar jatuh, lalu menjatuhkannya ke kasur dengan gerakan tegas, tidak ada kelembutan apalagi hasrat.
Lalu Kevin meraih ponselnya. Tanpa ragu ia menghubungi satu nama.
“Datang sekarang,” ucapnya singkat ketika panggilan terangkat. “Kesempatan yang kamu mau… aku berikan.”
Iren yang kesadarannya mulai tergerus hanya menangkap potongan kalimat itu. Ia tidak tahu siapa yang berada di ujung telepon. Yang ia rasakan hanya panas yang semakin tak tertahankan, tubuhnya sendiri seperti memberontak di luar kendali.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki itu berhenti tepat di sisi ranjang.
Iren yang kesadarannya sudah terombang-ambing bahkan tidak sempat membuka mata dengan benar. Yang ia rasakan hanya kehadiran seseorang yang begitu hangat, nyata, dan cukup dekat untuk disentuh.
Tanpa berpikir, tangannya terangkat dan mencengkeram kerah kemeja lelaki itu. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar bukan karena takut, melainkan karena gejolak yang tak lagi bisa ia kendalikan.
“Akhirnya…” gumamnya lirih, tidak benar-benar tahu kepada siapa ia berbicara.
Lelaki itu sempat terdiam, mungkin terkejut dengan keadaan di depannya. Namun ketika Iren menariknya turun dan memeluknya erat, situasi berubah menjadi sesuatu yang sulit dihentikan.
Iren bergerak tanpa kendali, seperti kehilangan batas antara keinginan dan kesadaran. Ia menuntut, bukan meminta. Mendesak, bukan merayu. Dalam kondisi setengah sadar, ia hanya mengikuti dorongan yang membakar tubuhnya sejak awal.
Lampu temaram membuat bayangan mereka menyatu di dinding. Suara napas berat dan gesekan kain menjadi satu-satunya hal yang terdengar di ruangan itu.
***
Kevin yang masih menahan rasa sakit di tangannya berjalan sempoyongan keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempat ia membangun rumah tangga. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Saat ia hendak membuka pintu mobilnya, sorot lampu mobil bermerek menyorot tepat ke arahnya. Ia menyipitkan mata. Setelah mobil itu berhenti, pintunya terbuka dan Lidya turun dengan langkah cepat.
“Kamu datang?” tanyanya ketika Lidya sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di dada.
“Apa Kakak tidak berharap aku datang?” balas Lidya, tatapannya langsung menangkap tangan Kevin yang berdarah dan kemejanya yang kusut.
“Bukan begitu, aku hanya—”
“Sudahlah. Aku akan membawa kakak ke rumah sakit,” potong Lidya tegas. Ia mendekat dan tanpa banyak bicara memapah Kevin menuju mobilnya sendiri, seolah sudah memutuskan semuanya.
Perbedaan tinggi mereka membuat kepala Kevin sedikit menunduk. Aroma mawar dari rambut Lidya terhirup jelas. Wangi itu lembut, kontras dengan aroma pengap yang masih tersisa di pakaiannya. Namun bagi Kevin, yang tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari pengaruh sebelumnya, wangi itu justru membangkitkan sisa gelora yang belum benar-benar padam.
“Lidya… kamu tidak takut denganku?” tanya Kevin pelan saat mereka hampir sampai di pintu mobil.
“Takut kenapa?” Lidya tetap fokus membuka pintu.
“Kamu datang ke sini. Apa kamu sudah bisa memprediksi apa yang terjadi padaku?” suara Kevin terdengar lebih berat, seolah menguji.
Lidya menghentikan gerakannya dan melepaskan pegangan pada lengan Kevin. Ia berbalik menghadapnya, kembali melipat tangan di dada.
Ia memang punya alasan datang. Kevin berjanji makan malam dengannya malam ini, tetapi tak kunjung muncul. Pesannya tak dibalas. Merasa ada yang tak beres, ia mengecek lokasi mobil Kevin dan mendapati kendaraan itu terparkir di rumah Iren. Kesal sekaligus khawatir, ia langsung menyusul. Namun yang ia dapati justru Kevin dalam keadaan terluka.
“Aku hanya tidak suka kakak tidak punya prinsip lalu kembali datang ke rumah ini,” ucap Lidya datar, meski matanya menyiratkan sesuatu yang lebih rumit. “Dan aku bukan dukun yang bisa memprediksi apa yang Kakak lakukan.”
Ia menarik napas pendek. “Sekarang ayo ke rumah sakit.”
Kevin justru menarik sudut bibirnya, menangkap nada yang terdengar seperti cemburu di balik ketegasan itu. Alih-alih langsung masuk ke mobil, ia melangkah perlahan mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi. Tatapannya tajam, napasnya masih sedikit memburu.
Lidya yang menyadari perubahan itu refleks mundur. Hingga punggungnya menyentuh badan mobil dan tak ada lagi ruang untuk bergerak, tubuh Kevin sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Kak… apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Lidya dengan nada gugup yang sulit ia sembunyikan.
Kevin tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya yang tidak terluka dan perlahan menarik dagu Lidya, memaksanya menatap lurus ke dalam sorot matanya yang gelap. Napas mereka beradu dan jarak di antara keduanya hampir tak menyisakan ruang.