NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Masih Sama

Nggak ada orang yang benar-benar siap ketemu masa lalu.

Siska kira dia udah cukup kuat.

Udah lewat fase paling hancur—cerai, kehilangan bayi, rumah tangga berantakan, malu yang nggak pernah benar-benar hilang.

Dia pikir,

Udah deh. Nggak ada lagi yang bisa bikin gue lebih jatuh dari ini.

Ternyata… salah.

Sekarang hidupnya pelan.

Tenang.

Terlalu tenang malah.

Dia balik lagi ke kamar lamanya.

Dindingnya masih sama.

Lemarinya masih itu-itu juga.

Cuma penghuninya yang berubah.

Pagi bantu ibunya masak.

Siang beres-beres rumah.

Sore duduk di teras liatin jalan kecil depan rumah.

Malam lebih sering ngurung diri.

Dia rutin terapi.

Kadang ngerasa lebih baik.

Kadang dadanya sesak tanpa alasan.

Tapi setidaknya sekarang dia nggak sendirian.

Sampai pagi itu datang.

Siska lagi lipat baju bareng ibunya di ruang tamu. TV nyala, berita bisnis yang biasa ayahnya tonton tiap pagi.

“Berita orang kaya lagi,” gumam ibunya.

Siska nggak terlalu peduli.

Dunia orang kaya buat dia cuma identik sama luka.

Tapi tiba-tiba matanya berhenti.

Di layar, kamera nyorot gedung tinggi. Logo perusahaan besar terpampang jelas.

Lalu seorang pria keluar, pakai jas rapi, diiringi orang-orang bersetelan formal.

Langkahnya tenang.

Tatapannya tajam.

Siska langsung kaku.

Dadanya kayak ditonjok.

Wajah itu…

Dia kenal banget.

“Bu…” suaranya hampir nggak keluar. “Itu…”

Ibunya nengok ke TV.

“Kenapa?”

Baju di tangan Siska jatuh ke lantai.

Suara pembawa berita terdengar jelas.

“Putra kandung komisaris besar Arwana Group yang baru kembali dari Eropa, Kevin Arwana, kini mulai aktif memimpin perusahaan dan disebut-sebut sebagai calon penerus…”

Nama itu menggema di kepalanya.

Kevin.

Ruangan terasa hening banget.

Suara TV kayak jauh.

“Itu Kevin?” ibunya tanya pelan.

Siska cuma bisa angguk.

Wajah Kevin di layar beda banget.

Nggak ada lagi kaus lusuh.

Nggak ada lagi wajah capek yang sabar.

Sekarang dia kelihatan dewasa.

Tegas.

Berwibawa.

Kayak orang yang tahu persis ke mana dia mau jalan.

Bukan Kevin yang dulu.

Bukan Kevin yang dia tinggalin.

Ibunya pelan-pelan matiin TV.

“Hidup memang aneh ya…” katanya lirih.

Siska langsung masuk kamar. Tutup pintu. Duduk di lantai. Meluk lutut.

Air matanya jatuh tanpa izin.

Dia nggak tahu harus ngerasa apa.

Kaget? Iya.

Sedih? Banget.

Nyesel?

Terlalu dalam buat diukur.

Kenangan datang tanpa permisi.

Kos sempit.

Nasi sederhana.

Kevin pulang malam dan tetap bilang,

“Kamu udah makan?”

Dia inget gimana dulu dia jawab dingin,

“Kita bakal miskin terus kalau kayak gini.”

Dan sekarang…

Kevin berdiri di puncak dunia yang dulu dia kejar mati-matian.

Siska nangis bukan karena pengen balik.

Tapi karena dia sadar…

dia pergi terlalu cepat.

Beberapa hari berikutnya, nama Kevin kayak ngejar dia terus.

Di pasar ada yang ngomongin.

Tetangga bahas berita.

Di media sosial, artikel bermunculan.

Foto Kevin di bandara Eropa.

Kevin di acara bisnis.

Kevin berdiri di podium.

Dan satu foto bikin napasnya berhenti.

Kevin tersenyum sambil gendong anak perempuan kecil.

Cantika.

Nama itu tertulis jelas di caption.

Siska tatap foto itu lama banget.

“Itu anaknya…” gumamnya pelan.

Cantika cantik.

Kulit cerah.

Mata besar.

Senyum polos.

Di foto lain, Kevin berdiri di sampingnya, tangan melingkar protektif.

Wajahnya lembut banget.

Siska sadar sesuatu yang lebih sakit dari sekadar sukses.

Kevin bukan cuma berhasil.

Dia bahagia.

Dan kebahagiaan itu…

nggak ada hubungannya sama Siska lagi.

Suatu sore, Siska ketemu teman lama di minimarket.

“Eh, Sis! Kamu udah lihat berita soal Kevin?”

Siska tahan napas sebentar.

“Udah.”

“Gila ya hidup. Dulu susah banget, sekarang jadi orang besar. Tapi katanya dia tetap sederhana. Fokus banget ke anak.”

Siska cuma senyum kecil.

“Anaknya lucu banget. Cantika ya namanya?”

Siska angguk pelan.

“Iya.”

Malam itu Siska nggak bisa tidur.

Dia buka galeri lama.

Foto dia dan Kevin waktu masih di kos.

Ketawa bareng.

Pegangan tangan.

Makan sederhana.

Padahal dulu nggak punya apa-apa.

“Aku terlalu takut…” bisiknya ke dirinya sendiri.

Takut miskin.

Takut masa depan nggak jelas.

Takut capek seumur hidup.

Dan ketakutan itu bikin dia lari.

Di tempat lain, Kevin lagi duduk di ruang kerja besar.

Layar laptop penuh laporan.

Serius. Fokus.

Tapi begitu jam lewat tengah malam, dia tutup laptop.

Dia jalan ke kamar Cantika.

Anak itu tidur pulas, meluk boneka.

Kevin duduk di sampingnya. Usap rambutnya pelan.

“Semua ini buat kamu,” bisiknya.

Kevin nggak pernah bangun untuk balas dendam.

Dia bangkit karena satu hal:

Dia nggak mau anaknya ngerasain hidup sekeras dulu.

Dan tanpa dia tahu…

kebangkitannya sekarang jadi luka buat seseorang yang dulu pernah dia sayang.

Sementara itu, Siska berdiri di depan cermin kamarnya.

Wajahnya lebih tirus.

Matanya lebih dalam.

Dia tatap bayangannya sendiri lama banget.

“Aku nggak minta hidupku balik,” katanya pelan.

“Aku cuma mau bisa maafin diri aku.”

Dan untuk pertama kalinya,

Siska sadar—

kadang yang paling sulit bukan kehilangan orang lain.

Tapi berdamai

dengan versi diri sendiri

yang dulu pernah salah langkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!