Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Rumah Sakit
Langit di atas Kota Flora mendadak kelabu, seolah alam pun tahu bahwa darah akan segera tertumpah. Ketegangan yang mencekam itu pecah ketika serangkaian mobil SUV hitam mengerem mendadak di pelataran Rumah Sakit Antaraja. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan bekas hangus di aspal.
Dari layar monitor CCTV di pos penjagaan bangsal VVIP, Bang Jack merasakan dingin menjalar di tengkuknya. Ia melihat Aldi Sanjaya turun dari mobil utama. Wajah pria itu tidak lagi menunjukkan ketampanan aristokratnya; kini wajah itu dirasuki kegilaan yang murni.
Aldi tidak lagi peduli pada citra, martabat, atau hukum. Di belakangnya, belasan pria berpakaian taktis bergerak dalam formasi militer yang efisien dan mematikan.
“Gisel, masuk ke dalam kamar! Kunci pintunya dari dalam dan jangan keluar apa pun yang terjadi!” perintah Bang Jack.
Suaranya rendah, namun getaran otoritas di dalamnya tak terbantahkan.
“Bang Jack, apa yang terjadi?” tanya Gisel, wajahnya memucat melihat Bang Jack menarik pistol semi-otomatis dari balik jaket kulitnya.
“Aldi Sanjaya sudah datang, dan kali ini mereka membawa api. Cepat masuk!”
Dengan tangan gemetar, Gisel menuruti perintah itu. Ia mengunci pintu ganda kayu jati itu, lalu dengan sisa tenaganya, ia menggeser lemari kecil untuk mengganjal pintu. Di dalam ruangan, Om Arman yang masih lemah mencoba bangkit, namun tubuhnya yang lemah mengkhianatinya.
“Jangan memaksakan diri, Om,” bisik Gisel, menghampiri tempat tidur.
Melihat wajah penuh tanya Om Arman, Gisel menjelaskan situasi dengan singkat. Arman merutuki dirinya sendiri; seorang macan Jalan Bunga yang kini hanya bisa terbaring lemah saat mawar yang seharusnya ia lindungi terancam layu.
Di luar, lorong rumah sakit yang biasanya steril dan tenang mendadak berubah menjadi zona perang. Jack berdiri sendirian di depan lift, kakinya kokoh mencengkeram lantai, kedua tangannya menggenggam senjata dengan stabilitas seorang profesional. Ketika lampu lift berdenting dan pintu terbuka, Bang Jack tidak memberi kesempatan untuk negosiasi.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan presisi menjatuhkan dua orang pertama yang mencoba merangsek keluar. Jack segera berguling, berlindung di balik pilar beton saat rentetan tembakan balasan menghancurkan pot bunga dan meruntuhkan plafon lorong. Debu dan bau mesiu memenuhi udara.
“Aldi! Berhenti sekarang atau kau akan pulang dalam peti!” teriak Bang Jack di sela-sela desing peluru.
“Minggir, dasar anjing! Aku hanya menginginkan milikku!” suara Aldi bergema, penuh kebencian yang meluap.
Pertempuran itu tidak seimbang. Bang Jack memang petarung handal, namun jumlah lawan terlalu banyak. Sebuah peluru menyerempet bahu kiri Bang Jack, merobek jaket kulitnya dan membuat darah segar merembes. Bang Jack mendesis kesakitan. Sambil merunduk, ia menekan alat komunikasi di telinganya, meminta bantuan anak buahnya untuk segera naik.
Tepat saat amunisi Jack hampir habis, suara rentetan tembakan datang dari arah tangga darurat. Anak buah Aldi yang sedang membidik Bang Jack satu per satu tumbang.
“Sialan!” umpat Aldi Sanjaya yang bersembunyi di balik pilar seberang.
“Kenapa? Takut?” provokasi Bang Jack, sambil merobek kaosnya untuk mengikat luka di lengannya.
“Takut tidak ada di kamusku! Serang sekarang!” perintah Aldi gila-gilaan.
Namun, dominasi Aldi runtuh. Kini hanya tersisa delapan orang di pihaknya. Aldi mulai gemetar. Dari mana "anjing" Jalan Bunga ini mendapatkan dukungan sekuat ini?
“Jika kamu menyerah sekarang, mungkin aku hanya akan mematahkan tangan dan kakimu,” seru Bang Jack lagi.
“Anjing sepertimu berani menakut-nakuti? Mimpi!”
“Aku memang tidak bisa melakukannya sendirian. Tapi bagaimana kalau Bang Vincent yang melakukannya?”
Mendengar nama itu, Aldi Sanjaya membeku. Vincent adalah penguasa kegelapan Kota Flora yang kekuatannya setara dengan dinasti Sanjaya. Bahkan papanya pernah berpesan untuk tidak bersinggungan dengan penguasa gelap tersebut. Apakah ini akhir dari obsesinya?
Tidak. Aldi yakin papanya tidak akan membiarkannya kalah. Bantuan akan segera tiba, pikirnya dalam delusi.
Sementara itu, di jalan tol penghubung kota, Arlan Bramantyo telah kehilangan kewarasannya sebagai seorang bankir yang taat hukum. Ia memacu mobilnya hingga jarum speedometer menyentuh angka 180 km/jam. Rey di sampingnya memegang handle pintu dengan sangat erat, wajahnya pucat pasi melihat Arlan meliuk-liuk di antara kendaraan lain.
“Arlan, hati-hati! Dua mobil di belakang semakin dekat!” seru Rey.
Dua sedan hitam milik keluarga Sanjaya telah membuntuti mereka sejak keluar dari Kota Gemerlap. Mereka mencoba menabrak bagian belakang mobil Arlan, berusaha membuangnya keluar jalur.
“Pegang erat-erat!” teriak Arlan.
Ia menginjak rem mendadak secara ekstrem. Efek kejut itu membuat mobil di belakangnya tidak sempat menghindar, membanting setir ke kanan hingga menabrak mobil rekannya sendiri dan berakhir menghantam pembatas jalan dalam ledakan bunga api. Tanpa menunggu, Arlan kembali memacu gas.
Pikirannya hanya tertuju pada Gisel. Penyesalan menghujam dadanya seperti belati. Seharusnya ia tidak meninggalkan istrinya sendirian.
"Ya Allah, lindungi Gisel," doanya dalam hati.
Rey hanya bisa menatap nanar, menyadari bahwa sahabatnya yang biasanya patuh pada aturan kini telah berubah menjadi pria yang siap menghancurkan dunia demi wanita yang dicintainya.
Kembali di rumah sakit, situasi mencapai titik kritis. Aldi Sanjaya, dengan sisa keberaniannya, berhasil menerobos sampai di depan pintu kamar VVIP. Bang Jack yang kehabisan amunisi hanya bisa berlindung di balik pilar terakhir, menunggu momen yang tepat untuk menyerang dengan tangan kosong.
BRAK! BRAK!
Pintu kayu itu retak. Satu hantaman lagi, dan ganjalan lemari itu akan bergeser. Tante Ira membekap mulut menahan jeritannya, bersembunyi di sudut ruangan. Namun, Gisel tidak bersembunyi. Ia berdiri tegak di depan tempat tidur Om Arman. Di tangannya, ia memegang tiang infus logam, senjata darurat yang ia genggam erat sementara Om Arman hanya bisa menerima nasib karena tidak bisa melakukan apapun.
Ketika pintu akhirnya terbuka, Aldi Sanjaya melangkah masuk. Senyumnya menjijikkan, dipenuhi rasa kemenangan. Darah kering di pelipisnya membuatnya tampak seperti iblis yang baru saja merangkak keluar dari neraka.
“Akhirnya, Gisel. Mari kita pulang,” ucap Aldi sambil mengulurkan tangan.
“Jangan mendekat!” teriak Gisel.
Saat salah satu anak buah Aldi maju untuk meringkusnya, Gisel bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga. Ia mengayunkan tiang infus itu sekuat tenaga ke arah lutut sang anak buah hingga terdengar suara retakan tulang. Pria itu berlutut kesakitan, dan Gisel tidak berhenti; ia memutar tiang itu dan menghantam pelipis lawan hingga pria itu tersungkur tak sadarkan diri.
Aldi tertegun. Ia hanya mengira jika mawar yang ia puja memiliki duri yang tajam, tapi ia tidak menyangka jika ternyata duri yang dimilikinya sangat mematikan.
“Gisel!” Aldi menarik senjatanya, mengarahkannya tepat ke kepala Gisel.
“Berhenti, bajingan!”
Sebuah suara dingin, setajam pisau, menghentikan segalanya. Vincent berdiri di ambang pintu yang hancur, memegang senapan laras panjang dengan santai namun mematikan. Di belakangnya, Bang Jack tampak terluka namun tetap berdiri tegak dengan tatapan mengancam. Sementara anak buah Aldi sudah terkapar menyisakan tuannya yang membeku.
“Kau pikir kau bisa bermain di kotaku tanpa izin?” tanya Vincent.
Sosoknya tidak lagi terlihat malas. Matanya memancarkan haus darah yang murni, sebuah peringatan bahwa singa Kota Flora telah terbangun.
“Letakkan senjatamu, atau aku pastikan kepala Tuan Muda Sanjaya akan menghiasi lobi rumah sakit ini, siang ini.”
Di kejauhan, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Badai di Antaraja mungkin segera berakhir, namun bagi keluarga Sanjaya, ini hanyalah awal dari kehancuran mereka.
.
.
.
.
.
Author up dua bab yah, biar gak gantung tapi tetep gantung... hehehe
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏