Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidak yang Bergerak
Malam di Kota Flora selalu terasa lebih pekat, seolah polusi dan dosa menggantung rendah di udara. Di sebuah gudang terbengkalai yang disulap menjadi arena gladiator modern, suara jeritan penonton dan hantaman daging bertemu daging menggema memuakkan. Di balkon lantai atas, seorang pria duduk dengan kaki bertumpu pada pagar pembatas, menatap malas ke arah ring tempat dua petarung bersimbah darah sedang saling menghancurkan.
Dia adalah Vincent, penguasa kegelapan yang memegang nadi dunia bawah Kota Flora. Di hadapannya, seorang pemuda bertubuh tegap berdiri tegak, membiarkan kebisingan itu menjadi latar belakang yang sunyi.
“Kamu yakin ingin ikut campur?” tanya Vincent dengan nada datar, matanya tak lepas dari petarung yang baru saja mendaratkan uppercut mematikan.
“Yakin,” jawab pemuda itu.
Suaranya tidak bergetar sedikit pun.
“Baiklah. Bagaimana dengan penggantian penguasa yang kamu katakan kemarin? Apa Jalan Bunga sudah mulai membusuk?”
“Belum ada kabar resmi, Bang. Tapi jika melihat pola pekerjaan mereka, Om Arman sudah pasti akan babak belur. Sekarang ini, anak-anaknya sudah dipindahkan ke Kota Flora. Tersisa dia dan istrinya di sana.”
Vincent terkekeh dingin, suara tawa yang tidak mencapai matanya.
“Bisa dipastikan, Arman akan menjadi orang tidak berguna setelah ini. Sanjaya tidak pernah membiarkan korbannya hidup dengan harga diri yang tersisa.”
Jack hanya bisa menelan ludah. Ia tahu betul cara kerja keluarga Sanjaya. Di dunia mereka, kalah tidak berarti mati, tetapi hidup dalam kehinaan yang lebih buruk dari kematian. Pemuda itu hanya bisa mengharapkan keajaiban, semoga Om Arman tidak sampai cacat permanen.
Di sisi lain, di kediamannya di Kota Fauna, Arlan Bramantyo sedang dikepung oleh gunungan kertas. Lampu meja kerjanya adalah satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang sunyi itu. Penunggakan pinjaman di kantor cabangnya melonjak tajam dalam hitungan hari. Proyek-proyek besar yang sebelumnya sehat, mendadak berhenti membayar angsuran dengan alasan yang dibuat-buat.
Arlan telah menerima teguran keras dari kantor pusat sore tadi. Jika dalam waktu tiga bulan kondisi likuiditas ini tidak membaik, jabatannya sebagai Kepala Cabang akan dicopot. Itu adalah skenario yang sudah ia prediksi bersama Rey: Sanjaya tidak menyerang dengan fisik, melainkan dengan memotong urat nadi keuangannya.
Di tengah fokusnya memilah data, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tanpa nama muncul di layar. Arlan menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdebar sebelum mengangkat panggilan itu.
“Bagaimana?” tanyanya tanpa salam pembuka.
“Aku sudah mengumpulkan apa yang kau cari. Orang kepercayaanku akan sampai di sana besok pagi,” suara Vincent terdengar dari seberang sana.
“Apa bayarannya? Berapa angka yang kau minta?” tanya Arlan waspada.
Di dunia Vincent, tidak ada yang gratis.
“Kali ini aku tidak meminta bayaran darimu, Lan.” Arlan mengernyitkan dahi.
“Benarkah? Itu sama sekali bukan gayamu.”
“Jangan meremehkan ku. Seorang Vincent juga masih memiliki hati nurani. Aku tidak akan memeras teman lama yang sedang terdesak sepertimu.”
“Aku meragukannya,” tebak Arlan dingin.
“Sepertinya kamu sedang memanfaatkan ku untuk menghantam Sanjaya.” Imbuhnya.
“Dasar! Otakmu itu memang menyebalkan!” umpat Vincent diiringi tawa.
“Aku memang meraup keuntungan dari perseteruan mu dengan Sanjaya, tapi bukan itu alasanku menggratiskan jasa kali ini. Aku sudah mendapatkan bayaran dari orang lain.”
“Siapa?”
“Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti, perlakukan orangku dengan baik. Dia adalah aset berhargaku.”
Panggilan terputus. Arlan menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Siapa yang membayar Vincent? Siapa yang memiliki kepentingan yang sama dengannya untuk menjatuhkan Sanjaya? Pikiran Arlan melayang pada sosok Om Arman, namun ia segera menepisnya. Om Arman tidak mungkin memiliki akses ke Vincent, pikirnya.
Tak ingin memusingkan teka-teki itu, Arlan melangkah keluar ruang kerja. Ia masuk ke kamar utama dan menemukan pemandangan yang selalu mampu menurunkan tensi darahnya: Gisel sedang tertidur lelap, memeluk Keira di bawah selimut tebal.
Arlan tersenyum kecil, perlahan ikut masuk ke dalam selimut, menjaga agar kehadirannya tidak mengusik ketenangan dua nyawa yang kini menjadi pusat semestanya.
Keesokan paginya, Gisel bangun saat fajar baru saja menyingsing. Dengan gerakan efisien, ia menyiapkan sarapan. Bahan-bahan di kulkas sudah mulai menipis, jadi ia memutuskan membuat nasi goreng untuk sarapan hari ini.
Untuk Keira, Gisel sangat teliti. Ia menggunakan minyak lemak sapi untuk menumis bawang bombai yang dicincang halus, suwiran ayam bagian dada, sawi dan nasi putih yang dimasak di wajan kaca khusus Keira. Untuk dirinya dan Arlan, ia menambahkan bumbu lengkap dengan irisan cabai rawit dan acar segar sebagai pendamping.
Aroma harum nasi goreng mulai memenuhi dapur saat bel rumah berbunyi. Gisel terkesiap, tubuhnya menegang dalam mode waspada. Siapa yang bertamu sepagi ini?
“Biar aku saja,” suara Arlan terdengar dari belakang.
Pria itu baru saja selesai mandi, handuk masih melingkar di lehernya.
Gisel mengangguk pelan dan masuk ke kamar untuk membangunkan Keira. Namun, rasa penasarannya tak terbendung. Setelah memandikan dan mengganti pakaian Keira, ia membimbing bocah itu ke dapur.
“Orang Vincent?” tebak Arlan saat menyambut tamu itu.
“Ya. Saya Jack. Ini titipan dari Bang Vincent,” ucap laki-laki itu sambil menyerahkan dokumen tambahan.
Arlan menerima amplop tersebut dan mempersilahkan Jack masuk. Keduanya kini duduk di ruang tamu.
Arlan membuka amplop dan membaca lembar demi lembar dengan kening berkerut. Informasi di dalamnya sangat mengerikan. Sanjaya ternyata terlibat dalam pencucian uang melalui beberapa proyek pemerintah dan... bisnis ilegal di Jalan Bunga.
Namun, Arlan tahu, menyerahkan ini ke polisi sekarang adalah tindakan bunuh diri. Sanjaya punya kaki tangan di sana. Ia butuh strategi yang lebih matang.
Gisel yang melangkah ke dapur bersama Keira, terkejut menangkap siluet yang dikenalnya. Saat laki-laki itu menoleh untuk menerima segelas air dari Arlan, Gisel mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
“Bang Jack?” suara Gisel hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terdiam.
Laki-laki bernama Jack itu berdiri dengan cepat, matanya terpaku melihat Gisel. Ada kilatan kerinduan, penyesalan, sekaligus rasa protektif di sana. Sementara itu, Arlan mengamati reaksi istrinya dengan tatapan menyelidik. Ia tidak menyangka bahwa "orang kepercayaan" yang dikirim Vincent adalah seseorang yang Gisel kenal.
Suasana di ruang tamu itu mendadak dipenuhi tegangan listrik yang tak kasat mata. Bidak-bidak kini telah berkumpul di satu papan, dan permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
.
.
.
.
.
Haloo semuanya... author hari ini up 2 bab, besok izin tidak up ya hehehe maklum, puasa sedang bolong dan pengennya cuma rebahan aja ups... hihihi Buat pembaca muslim semoga puasanya tetap lancar dan berkah yaa.. Aamiin...
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏