NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Nara meraih kembali lembaran-lembaran yang dibawa Karina. Hasil USG. Foto-foto yang tercetak rapi.

Tangannya memang dingin, tapi gerakannya tetap teratur. Ia menyusunnya kembali, memasukkan semuanya ke dalam amplop cokelat yang sama, lalu menutupnya perlahan.

“Aku akan tanyakan langsung ke Arkan,” ucap Nara tegas.

Karina menatap kembali rumah Arkan yang tenang, Karina kecewa karena tidak mendapatkan adegan tangis atau amukan yang ia bayangkan.

Sedangkan didalam rumah, kondisi rumah kembali sunyi. Terlalu sunyi.

Nara berdiri beberapa detik di ruang tamu, menatap pintu yang baru saja ia tutup. Ia tahu ini badai. Dan dalam pernikahan, badai pasti ada.

Nara sudah siap. Atau setidaknya, ia pikir begitu.

Namun kesiapan berbeda dengan rasa sakit.

Nara melangkah masuk ke kamar, pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit.

Nara membuka lemari besar di sudut ruangan. Deretan gaun mahal tergantung rapi. Tas-tas branded tersusun di rak. Kotak-kotak perhiasan berjejer berkilau.

Semua yang dulu bahkan tak pernah berani Nara impikan.

Nara menyentuh salah satu kalung berlian pemberian dari Arkan. Dingin. Mengkilap. Berharga.

“Kalau memang dia berselingkuh…” batin Nara lirih, “setidaknya aku punya ini.” Nara mencoba menenangkan pikirannya.

Pikiran itu membuat Nara terdiam sendiri.

Sejak kapan ia menilai rasa sakit dengan harga?

Sejak kapan ia mencoba mengobati hati dengan kemewahan? Nara sendiri juga tidak tahu apa pertanyaan yang berputar di kepalanya.

Nara duduk di tepi ranjang, memandangi pantulan dirinya di cermin besar.

Gaun mahal bisa membuatnya terlihat elegan. Perhiasan bisa membuatnya tampak berkelas. Rumah besar membuatnya terlihat beruntung.

Tapi jika benar Arkan mengkhianatinya, "Apakah semua itu cukup?" Air mata akhirnya jatuh juga, meski hanya satu dua tetes.

Nara cepat-cepat menghapusnya.

“Nggak,” bisik Nara pada diri sendiri.

“Aku nggak boleh lemah sebelum dengar penjelasan.” Nara sadar satu hal. Uang mungkin bisa membeli kenyamanan. Bisa membeli kemewahan. Bisa membungkam orang luar.

Tapi uang tidak pernah benar-benar menyembuhkan hati yang terluka.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Nara merasa takut. Bukan takut kehilangan harta. Tapi takut kehilangan kepercayaan.

Nara kembali membuka amplop cokelat yang dibawa Karin. Tangannya tidak lagi gemetar seperti tadi.

"Empat bulan." Nara menghitung dalam hati.

"Empat bulan berarti… sebelum aku menikah sama Arka? Sebelum aku ibu menyiapkan pesta? Tapi berarti aku sudah tinggal di rumah ini?"

Dada Nara terasa sesak. “Berarti… bukan selingkuh?” gumam Nara pelan.

Nara berpikir, berarti kejadian itu terjadi sebelum Ia masuk ke kehidupan Arkan, apakah ia berhak marah? Atau tetap saja itu menyakitkan? Nara mencoba berpikir jernih.

Karena yang membuatnya terluka bukan hanya soal waktu. Tapi soal kenyataan bahwa ada perempuan lain yang pernah begitu dekat dengan suaminya. Sampai meninggalkan kemungkinan seorang anak.

Nara menarik napas dalam-dalam.

"Tidak, aku tidak boleh menangis sebelum mendengar penjelasan." Nara menghapus air matanya.

Nara berdiri, merapikan wajahnya di depan cermin. Menghapus sisa air mata yang hampir jatuh. Ia tidak mau Arkan melihatnya dalam keadaan rapuh tanpa alasan yang jelas.

Suara gerbang terbuka. Lalu suara mobil masuk ke halaman. Nara tahu betul suara mesin itu. Mobil Arkan.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Setiap detik terasa panjang. Suara pintu mobil tertutup. Langkah kaki mendekat ke pintu utama.

Nara menggenggam amplop itu erat-erat. Bukan untuk menyerang. Bukan untuk menghakimi. Tapi untuk mencari kebenaran.

Pintu kamar terbuka. Arkan masuk seperti biasa, wajahnya lelah tapi tetap hangat saat melihat Nara.

“Kok belum istirahat?” tanya Arkan ringan.

Nara menatap suaminya lama. Mencoba membaca ekspresi wajah suaminya. Apakah ada rasa bersalah? Atau semuanya memang salah paham?

“Sayang..” suara Nara tenang, tapi tegas.

“Aku mau tanya sesuatu. Dan aku mau kamu jawab jujur.”

Arkan berhenti melangkah. Tatapannya berubah serius.

Nara mengangkat amplop cokelat yang ada di tangannya perlahan.

“Karina datang ke rumah.” kata Nara.

Nama Karina membuat alis Arkan sedikit berkerut.

Dan di antara Nara dan Arkan, malam baru saja berubah menjadi medan kejujuran.

Arkan menatap amplop di tangan Nara lebih lama dari yang seharusnya.

“Hamil?” ulang Arkan pelan, jelas terdengar heran.

“Dan dia bilang itu anakku?” tanya Arkan.

Nara mengangguk. Tidak ada amarah berlebihan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang berusaha disembunyikan.

“Dia datang siang tadi. Bawa hasil USG. Bawa bukti foto,” suara Nara sedikit turun, tapi tetap stabil.

“Usianya empat bulan.” lanjut Nara.

Arkan menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya, lalu duduk di sofa dengan punggung bersandar, seperti sedang menyusun ulang potongan ingatan di kepalanya.

“Aku tidak mengerti kenapa dia mencariku sekarang,” ucap Arkan jujur.

“Aku sudah lama tidak berhubungan dengan Karin.” kata Arkan.

Nara ikut duduk, tapi menjaga jarak.

“Berarti memang pernah?” tanya Nara lirih.

Arkan mengangguk. Tidak menyangkal.

“Pernah. Sebelum aku mengenal kamu lebih jauh. Itu hubungan singkat, hubungan kerja, dan sudah selesai.”

Nada suara Arkan tenang, tidak defensif.

“Aku tidak tahu apa-apa soal kehamilan.” lanjut Arkan.

Kejujuran itu justru membuat dada Nara terasa lebih nyeri.

“Kalau itu anak kamu?” Nara akhirnya bertanya hal yang paling ia takuti.

Arkan menoleh, menatap Nara dengan sungguh-sungguh.

“Kalau itu memang anakku,” kata Arkan tegas,

“Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Tapi bukan berarti aku mengkhianati pernikahan kita.”

Nara menunduk. Itulah yang membuatnya bingung sejak tadi.

Secara logika, Arkan mungkin tidak bersalah. Tapi secara perasaan, ia tetap terluka.

“Aku cuma butuh satu hal sekarang,” lanjut Arkan pelan.

“Kepercayaan kamu.” lanjut Arkan.

Nara menggenggam ujung bajunya sendiri. “Aku tidak marah,” kata Nara jujur.

“Aku cuma… takut. Takut ternyata pernikahan ini sejak awal sudah harus berbagi.”

Arkan bergeser mendekat, tapi berhenti ketika melihat Nara refleks menegang. Ia menghormati jarak itu.

“Kita cari kebenarannya,” ucap Arkan.

“Tes DNA. Bicara langsung dengan Karin. Semua harus jelas.” kata Arkan.

Nara akhirnya mengangguk. Bukan karena ia sudah kuat. Tapi karena ia tidak mau hidup dalam dugaan.

"Tapi sayang..perlu kamu tahu, hubunganku dengan Karin tidak sedekat itu, dan untuk berhubungan sampai ada anak, itu tidak mungkin, aku bukan orang seperti itu, bukan orang yang suka menebar benih sembarangan." kata-kata Arkan membuat Nara terdiam.

"Aku akan buktikan ke kamu, kalau aku tidak ada hubungan apa-apa sama Karina, aku janji. Dan perlu kamu tahu, jika memang Karin hamil anakku, seharusnya dia datang menemui aku, bukan kamu, dengan dia datang menemui kamu tanpa sepengetahuan aku saja itu sudah mencurigakan." kata Arkan yang kembali mengikis jarak antara dirinya dan Nara.

"Aku mau untuk saat ini kamu percaya sama aku, dan aku akan buktikan sama kamu kalau aku tidak bersalah." kata Arkan yang membuat Nara mengangguk dan Nara juga membenarkan apa kata Arkan.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!