Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlindungan Arelion
Di sebuah kafe kecil tak jauh dari kediaman Arkaven. Hana datang dengan langkah ragu, membawa sebuah tas kecil dan satu paperbag cokelat yang tampak sederhana.Semalam, wanita yang sudah lama berkerja dengan Maria itu menghubungi Arelion.
“Maaf, Tuan,” ucapnya sopan sambil menyerahkan tas itu. “Ini baju-baju Elora yang belum sempat ia ambil.”
Arelion menerimanya, lalu pandangannya jatuh pada paperbag di tangan Hana.
“Dan ini?” tanyanya.
“Itu milik Elora juga,” jawab Hana pelan.
Arelion membuka paperbag itu sedikit. Sampul sebuah buku tampak di dalamnya..lusuh di sudut-sudutnya, namun terawat.
“Buku dongeng?” gumamnya tanpa sadar.
Ia mengernyit tipis. Entah kenapa, ada rasa ganjil yang menyelinap. Elora,gadis yang bertahan hidup dengan kerasnya dunia..masih menyimpan buku dongeng seperti anak kecil. Kontras itu membuat dadanya terasa aneh.
“Itu bukan sekadar dongeng, Tuan,” ujar Hana, seolah membaca pikirannya. “Setiap kali Elora sedih… atau merasa sendirian, ia akan membacanya. Katanya, buku itu pengingat bahwa harapan masih ada.”
Arelion terdiam. Jemarinya menyentuh sampul buku itu, dan entah mengapa, sentuhan itu memicu denyut halus di pelipisnya,seperti gema ingatan yang belum sepenuhnya terbuka.
Arelion menarik napas dalam. Kupu-kupu keperakan di taman, taman indah dalam ingatannya, dan kini buku dongeng di tangannya,semuanya seperti benang-benang yang mulai terhubung.
“Terima kasih, Bu Hana,” ucapnya akhirnya. “Saya akan memberikannya pada Elora .
Hana menatapnya penuh harap, lalu membungkuk kecil.
Namun sebelum Hana benar-benar pergi ia berkata,
" Tuan,saya harap gadis malang itu tak pernah kembali ke rumah nyonya Maria..tolong jaga dia tuan."
Arelion terdiam sesaat. Kata-kata Bu Hana menggantung di udara, sederhana namun berat, seolah menitipkan seluruh nasib Elora di pundaknya.
Ia mengangguk pelan. “Saya mengerti,” ucapnya singkat, tapi nadanya tegas.
Bu Hana mengembuskan napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia membungkuk lebih dalam sebelum berbalik pergi.
Arelion menatap punggung wanita itu hingga menghilang di balik pintu. Tangannya turun ke paperbag berisi buku dongeng dan tas kecil pakaian Elora. Ia meraih buku itu, membalik halaman-halamannya tanpa benar-benar membaca hingga pandangannya terhenti pada halaman terakhir.
Tinta keperakan itu berkilau samar.
Alisnya mengernyit. Ada rasa asing sekaligus akrab yang menusuk pelan di dadanya. “Buku dongeng…” gumamnya lagi, kali ini lebih lirih, seolah menyadari bahwa benda ini bukan sekadar bacaan anak-anak.
Ia menutup buku itu perlahan.
Jaga dia, kata-kata Bu Hana kembali terngiang.
Aku akan..batinnya mantap. Bukan karena belas kasihan. Bukan pula karena rasa tanggung jawab semata. Melainkan karena, tanpa ia sadari, Elora telah menjadi bagian dari sesuatu yang ingin ia lindungi dengan atau tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Setelah kembali ke rumah ,Arelion segera melangkahkan kakinya menuju kamar Elora.
Sebuah pemandangan langka saat sang tuan muda dengan tanpa ragu berjalan di lorong yang disana terdapat kamar para pelayan.
Beberapa pelayan melihatnya dengan tatapan tak percaya .Apalgi saat sang tuan muda membawa satu tas baju di tangannya dan langkahnya terhenti di depan kamar Elora .
Tok tok
Arelion mengetuk pintunya .Tak ada jawaban .
" Bibi Ana..Elora dimana?" tanyanya saat kepala pelayan berjalan ke arahnya .Ia yakin Elora tak ada di dalam kamarnya .
“Elora ikut bersama Nyonya,” jawab Ana singkat.
" Ikut ibu?"ulangnya pelan, namun nadanya menajam tanpa ia sadari.
“Ke mana?” Arelion mengernyit. Ada rasa janggal saat mengetahui ibunya mengajak pelayan baru pergi bersamanya.
Ana menggeleng pelan. “Saya kurang tahu, Tuan Muda."
Arelion terdiam. Ibunya jarang..hampir tak pernah mengajak pelayan baru keluar rumah. Terlebih Elora.
Jemari Arelion mengepal. Bayangan Elora, wajahnya yang pucat semalam, kata-katanya di taman—aku hanya tahu tempatku—semuanya berputar cepat di kepalanya.
“Jika mereka kembali,” katanya datar namun tegas, “tolong beri tahu aku. Seketika itu juga.”
“Baik, Tuan Muda.”
Arelion berbalik menuju tangga. Setiap langkahnya terasa berat. Ada firasat yang tak bisa ia jelaskan, seperti sesuatu yang berharga sedang bergerak menjauh dari jangkauannya.
Di dalam kamar kerjanya, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang. Tangannya terulur ke paperbag yang tadi ia bawa pulang. Buku dongeng itu masih ada di sana.
Arelion membukanya sekali lagi..kali ini lebih lama. Pandangannya jatuh pada halaman yang sama, tulisan tinta keperakan yang berkilau samar.
Bertahanlah untuk berjalan menuju takdirmu…
Dadanya mengencang.
“Ke mana ibu membawamu, Elora…,” gumamnya pelan.
Arelion mengambil ponselnya ,kemudian ia menghubungi seseorang.
Di tempat yang berbeda, Elora merasakan ada sesuatu yang tak beres.
Nyonya Arkaven yang semula mengajaknya berbelanja justru tampak seperti sedang menunggu seseorang. Sejak tadi ia lebih banyak terdiam, sesekali melirik jam tangannya. Elora tak berani bertanya. Ia hanya duduk dengan punggung tegak, jemari saling bertaut di atas pangkuan, berusaha menenangkan perasaan yang kian tak menentu di sebuah rumah makan itu.
Hingga langkah kaki terdengar mendekat.
Elora tersentak.
Tubuhnya gemetar, kedua tangannya refleks saling meremas.
“Ibu Maria…” ucapnya pelan, nyaris tak bersuara.
Wanita itu berdiri di hadapannya, menatap Elora dengan sorot mata tajam. Bibirnya terangkat membentuk senyum.
“Hai, Elora,” sapanya lembut.
Namun di mata Elora, itu bukan senyum penuh rindu. Itu senyum yang berkata: akhirnya aku menemukanmu.
“I… Ibu Maria,” Elora menatapnya tak percaya. Sudut matanya mengembun. Dadanya terasa sesak.
Apakah Nyonya Arkaven sengaja membawanya ke sini… untuk ini?
“Elora, maaf,” ucap Nyonya Arkaven kemudian, nadanya terdengar tulus meski tak nampak senyum diwajahnya . “Aku mendengar Maria kehilangan anak angkatnya. Dia sangat sedih dan terus mencarinya ke mana-mana. Dan aku benar-benar terkejut saat tahu pelayan yang dibawa Arelion ...ternyata anak angkatnya Maria.”
Kata-kata itu membuat Elora membisu.
Tangannya mengepal..bukan karena marah, melainkan karena ia tahu. Maria pasti sudah lebih dulu mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tak bisa ia dengar, tapi bisa ia rasakan akibatnya.
“Elora,” Maria melangkah mendekat, memasang wajah penuh kepiluan, “Ibu sangat khawatir. Kenapa kau sampai kabur dan malah menjadi pelayan di rumah Nyonya Arkaven?”
Elora menunduk. Bahunya bergetar, namun ia menahan air mata yang nyaris jatuh.
“Elora,” lanjut Maria lembut namun menusuk, “sejujurnya aku menyukai cara kerjamu . Apalagi Arelion juga terlihat nyaman denganmu. Tapi—”
Kalimat itu menggantung.
Dan saat itulah Elora mengangkat wajahnya. Tatapannya jernih, meski rapuh.
“Maaf, Nyonya,” ucapnya pelan namun tegas, menoleh pada Nyonya Arkaven. “Saya tidak akan kembali bersama Ibu Maria.”
Ruangan itu seketika terasa sunyi.
Elora berdiri, meski lututnya gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia memilih berbicara bukan sebagai anak angkat, bukan sebagai pelayan melainkan sebagai dirinya sendiri.
Elora merasakan matanya panas. Ia menunduk sebentar, lalu berkata dengan suara yang hampir tak terdengar,
“Saya sangat berterima kasih atas kebaikan nyonya..namun saya tidak ingin kembali.”
Maria tersenyum miring. “Mau tidak mau ..kamu harus pulang bersamaku.. Kamu tidak punya siapa-siapa, Elora.”
Kalimat itu menusuk..tepat ke luka terdalam.
Tidak..aku masih punya Romi..dan Bu Panti..lirihnya dalam hati
Namun sebelum Elora sempat menjawab, sebuah suara dingin terdengar dari belakang.
“Dia punya.”
Semua kepala menoleh.
Arelion berdiri di ambang pintu rumah makan, rahangnya mengeras, matanya tertuju lurus pada Maria.
Langkahnya mantap saat mendekat, lalu berhenti tepat di sisi Elora cukup dekat untuk membuat Maria menyadari satu hal yang tak bisa ia bantah.
“Selama dia berada di bawah tanggung jawabku,” lanjut Arelion tenang namun mengandung ancaman halus, “tidak ada seorang pun yang berhak memaksanya kembali ke tempat yang menyakitinya.”
Elora membeku.
Maria mengepalkan tangannya, menatap Elora lama..seolah menimbang sesuatu.
“Ini belum selesai,” ucapnya pelan. “Kau tidak akan bisa lari selamanya, Elora.”
Arelion melangkah setengah langkah ke depan, tatapannya tak bergeser.
“Dia tidak lari,” katanya singkat. “Dia memilih.”
Elora menutup mata sesaat. Ia merasakan panas menjalar ke pelupuknya, napasnya tertahan di dada.