Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Kecil
Malam mulai turun, dan kediaman Arkaven berubah menjadi hiruk-pikuk yang berbeda. Lampu kristal di ruang makan berkilau terang, memantulkan cahaya hangat di permukaan porselen yang sudah tertata rapi. Semua pelayan bergerak cepat, memastikan setiap detail sempurna sebelum tamu datang.
Elora ikut membantu, meski pekerjaannya hanya menata makanan dan minuman di meja makan. Tangannya cekatan, namun pikirannya melayang. Seandainya saja ia bisa ditukar—lebih baik bekerja di dapur daripada menjadi pelayan pribadi Arelion, pikirnya.
Kejadian pagi tadi terus menghantui pikirannya. Sentuhan bibirnya yang tak sengaja mengenai pipi Arelion, tatapan mata itu, semua terasa membekas begitu jelas di benaknya. Ia mencoba mengusir perasaan itu, menenangkan diri dengan tugas yang ada di hadapannya, namun detak jantungnya tetap tidak tenang.
Pintu utama kediaman Arkaven terbuka dengan anggun, mengumumkan kedatangan keluarga Thomas. Pelayan langsung sigap membuka pintu dan menyambut tamu dengan sopan, sementara di ruang utama, lampu kristal memantulkan kilau yang membuat suasana terasa mewah.
Arelion berdiri di dekat tangga utama, mengenakan jas hitam rapi. Tatapannya tenang namun waspada, memperhatikan setiap gerak-gerik tamu yang masuk. Di sisinya, Elora tetap berada di tempatnya, menjaga jarak, namun matanya tak lepas dari pergerakan tuannya.
Keluarga Thomas melangkah masuk, wajah mereka tersenyum hangat, namun mata mereka tajam memperhatikan Arelion. Mereka adalah calon besan yang selama ini telah dijadikan pertimbangan dalam rencana perjodohan keluarga Arkaven.
“Selamat malam, Tuan Arkaven,” sapa kepala keluarga Thomas, seorang pria paruh baya dengan suara berat namun ramah. “Senang akhirnya bisa berkunjung ke kediamanmu.”
Arelion membalas dengan anggukan singkat. “Selamat malam. Silakan, mohon duduk.”
Sementara itu, Elora mengatur posisi gelas, menuangkan air putih dengan hati-hati, matanya tetap waspada. Ia memperhatikan interaksi para tamu, belajar ritme dan etika rumah tangga kelas atas, sekaligus berusaha menjaga agar tak menarik perhatian siapa pun pada dirinya sendiri.
Di pojok mata, Arelion sesekali melirik ke arah Elora, memastikan ia tetap di posisi yang aman. Hatinya tetap bergejolak—antara rasa tanggung jawab dan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Malam itu, pesta keluarga besar berlangsung dengan anggun, namun bagi Arelion dan Elora, ada ketegangan tak terlihat yang membuat setiap detik terasa lebih panjang.
Suasana makan malam terasa hangat, namun Arelion terlihat berbeda. Ia duduk dengan tegak, tapi pandangannya sering melayang ke tempat lain, jauh dari percakapan hangat antara kedua keluarga. Obrolan mengenai bisnis, rencana masa depan, dan rencana perjodohan terdengar bergulir di sekelilingnya, tapi hatinya seolah tak berada di sana.
“Lion… apa kau tak enak badan?” tanya Althea pelan, mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. Suaranya lembut, penuh perhatian.
Arelion tersadar. Sedari tadi pikirannya entah kemana, hanyut pada bayangan yang tak bisa ia singkirkan—Elora. Ia menatap Althea sebentar, menahan rasa bersalah karena tak bisa sepenuhnya hadir dalam percakapan itu.
“Tidak… aku baik-baik saja,” jawabnya datar, meski suaranya terdengar sedikit kaku. Ia mencoba memusatkan diri, namun pandangan matanya tetap sesekali menelusuri ruangan, mencari sosok gadis itu di antara pelayan yang lalu-lalang.
Althea mengangguk pelan, wajahnya tetap tersenyum, tapi tatapannya menandakan rasa penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang membuat Lion berbeda malam ini, sesuatu yang tak ia mengerti sepenuhnya.
Sementara itu, Elora berdiri di tepi ruangan, menata hidangan tambahan. Ia memperhatikan tuannya dari jauh, menjaga jarak agar tak mencuri perhatian. Namun, setiap kali Arelion menoleh, jantungnya seakan berdetak lebih kencang. Malam itu, di tengah makan malam yang penuh protokol, kedua hati yang tak seharusnya bertemu tetap saling merasakan satu sama lain, dalam diam yang rumit dan menegangkan.
Percakapan antar kedua keluarga terus berjalan, tapi bagi Arelion, kata-kata itu hanya terdengar samar. Ia tetap duduk diam, sesekali mengangguk atau tersenyum tipis ketika Althea berbicara, tapi pikirannya terjebak pada satu hal—Elora.
Sesekali matanya menoleh ke arah pelayan yang bergerak lincah, mencari sosok gadis itu.
Althea, duduk di sebelahnya, mencoba memecah keheningan. “Lion, kau tampak berbeda malam ini… ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya lembut, matanya menatap penuh perhatian.
Arelion menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia tahu ia tak bisa memberi tahu Althea tentang Elora, setidaknya belum. “Tidak, aku hanya… lelah sedikit,” jawabnya singkat, suaranya tetap tenang tapi tegas.
Di sisi lain ruangan, Elora menyelesaikan tugasnya dengan hati-hati. Tangannya cekatan menata piring dan gelas, tapi ia bisa merasakan tatapan Arelion sesekali menyingkap bayangan di sekelilingnya. Jantungnya berdebar saat pandangan mereka sesekali bersinggungan, walau jarak memisahkan mereka.
Suasana makan malam yang tenang mendadak pecah oleh suara “bruuk!” gelas yang dipegang Elora terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
Segera, beberapa pelayan lain bergegas mendekat untuk membersihkan pecahan gelas itu. Elora membeku sejenak, pipinya memerah, jantungnya berdebar kencang. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan rasa malu dan ketakutannya.
Arelion yang duduk tak jauh, menoleh seketika. Matanya menatap Elora, namun ekspresinya tetap tenang, hampir datar.Dan tak diduga ,tuan muda Arkaven itu bangkit perlahan dan melangkah mendekat.
Kau tak apa-apa?” ucap Arelion tegas tapi lembut. Tangannya hampir menyentuh lengan Elora untuk memastikan gadis itu tak terluka, namun Elora segera menarik lengannya.
Momen itu membuat orang tua Arelion terkejut. Sejak kapan putra mereka begitu peduli pada seorang pelayan?
“Lihatlah,” bisik Nyonya Arkaven kepada keluarga Althea, yang duduk di hadapannya. “Setelah bangun dari koma, hati Arelion melembut… ia jadi lebih peduli pada orang di sekitarnya.”
“Tuan muda, biar saya yang urus ini. Anda lebih baik kembali ke sana,” ujar Ana, kepala pelayan, sambil menahan senyum tipis. Ia menyadari, sikap spontan putra tuannya itu bisa menjadi pusat perhatian.
Sementara itu, Elora, tubuhnya masih sedikit gemetar, bangkit perlahan dan melangkah menuju kamarnya. Jantungnya masih berdetak cepat, campuran antara rasa takut, malu, dan sesuatu yang lebih dalamn
" Tuan muda, biar saya yang urus ini,anda lebih baik kembali ke sana."
Ana menyadari jika sikap spontan tuan mudanya itu bisa menjadi pusat perhatian .
Sedangan Elora dengan tubuh sedikit gemetar ia bangkit dan melangkah ke kamarnya .
Elora tersentak mendengar nada suaranya yang… hangat, berbeda dari biasanya. Ia cepat-cepat mengambil sapu, namun masih gemetar.
Para tamu menatap sekilas, tapi percakapan kembali berlanjut dengan cepat, seolah insiden itu hanyalah hal kecil.
Arelion berdiri di sampingnya, matanya tak lepas dari Elora. Di dalam hatinya, ada rasa khawatir yang tak bisa ia ungkapkan, tapi juga… rasa ingin melindungi gadis itu dari setiap kesalahan kecil, sekecil apapun.
Disisi lain,Elora merasakan sesuatu yang aneh..rasa nyaman dan aman, meski pipinya masih panas karena malu.