Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tak Tergoyahkan
Malam itu, keriuhan pesta pernikahan yang menutup seluruh distrik elit New York mulai memudar menjadi keheningan yang mahal.
Xavier Cavanough tidak membawa Andrea ke hotel, melainkan ke sebuah mansion tersembunyi di Long Island yang ia beli atas namanya sendiri, sebuah wilayah yang tidak terjamah oleh pengaruh paman maupun ayahnya.
Di dalam mobil yang melaju membelah malam, keangkuhan yang mereka tunjukkan di depan media menguap, berganti dengan tensi yang jauh lebih primitif. Xavier menggenggam tangan Andrea begitu erat, hingga cincin berlian di jari manis wanita itu tenggelam dalam kulitnya. Andrea tidak protes; ia justru menikmati rasa sakit yang manis itu.
"Akhirnya," bisik Xavier saat mereka melangkah masuk ke dalam kamar utama yang menghadap langsung ke Samudra Atlantik.
Andrea melepas mahkota kecil yang menghiasi rambutnya, membiarkannya jatuh ke lantai marmer dengan denting yang nyaring. Ia berbalik, menatap suaminya, pria yang mencurinya dari altar pamannya sendiri.
Xavier berdiri di sana, melepaskan dasi hitamnya dengan gerakan kasar. Sisa-sisa luka di wajahnya akibat pukulan Alarick Valerius justru menambah aura maskulin yang berbahaya.
"Bagaimana rasanya, Tuan Cavanough?" tanya Andrea, suaranya rendah dan penuh provokasi. "Menikahi wanita yang menurut publik adalah beban bisnis yang harus kau selamatkan?"
Xavier melangkah maju, memangkas jarak hingga Andrea bisa merasakan panas tubuh suaminya. "Rasanya seperti memenangkan perang yang sudah kurencanakan sejak pertama kali kau menghinaku di kelas Mikroekonomi, Andrea. Dan sekarang, rampasan perang itu ada di depanku."
Tanpa peringatan, Xavier menarik Andrea ke dalam pelukannya. Ciuman mereka kali ini tidak memiliki keraguan. Tidak ada lagi aroma parfum Aldrian yang menyesakkan, tidak ada lagi ketakutan akan terpergoki. Ini adalah hak yang dilegalkan oleh sumpah, namun tetap terasa seperti dosa karena intensitasnya yang meledak-ledak.
Xavier mengangkat tubuh Andrea, membawanya menuju tempat tidur luas yang dibalut sutra hitam.
Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar, Andrea tampak seperti karya seni yang tak ternilai. Xavier menanggalkan jas dan kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dipenuhi tanda memar kebiruan hasil kemarahan Alarick.
Andrea menyentuh memar di rusuk Xavier dengan jemarinya yang lentik. "Ayah benar-benar tidak menahan diri."
"Pukulan itu adalah harga kecil untuk memilikimu seumur hidup," balas Xavier. Ia menunduk, menciumi bahu Andrea yang terbuka. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu sedetik pun melupakan siapa pria yang memiliki setiap inci tubuhmu ini."
Setiap sentuhan Xavier malam itu adalah pembuktian. Jika malam di Penthouse hotel adalah pencurian yang penuh rasa bersalah, maka malam ini adalah penaklukan yang penuh pemujaan. Andrea mendesah hebat, menyebut nama Xavier dengan nada yang merdu, nada yang hanya diperuntukkan bagi pria ini.
Di dalam kamar itu, tidak ada lagi "Pernikahan Bisnis". Yang ada hanyalah Xavier yang mencintai dengan seluruh obsesinya, dan Andrea yang menyerah dengan segala keangkuhannya.
"Katakan lagi, Andrea," bisik Xavier di tengah gairah yang memuncak. "Katakan milik siapa kamu."
Andrea mencengkeram bahu Xavier, matanya berkilat penuh gairah dan air mata kebahagiaan. "Milikmu... aku milikmu, Xavier Cavanough. Selamanya."
Keesokan paginya, sinar matahari menyelinap masuk, menyinari butiran debu yang menari di udara tenang kamar tersebut. Andrea terbangun dalam pelukan Xavier yang protektif. Ia melihat ke arah balkon, di mana surat kabar pagi telah diletakkan.
Judul utamanya masih sama: "Penyatuan Dinasti Terbesar: Akankah Bertahan?"
Andrea tersenyum sinis. Dunia luar boleh berspekulasi, netizen boleh berdebat tentang kegadisannya, dan para analis bisnis boleh menghitung nilai saham mereka. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik dinding ini, kekuatan sebenarnya sedang dibangun.
Di sisi lain kota, di sebuah apartemen, Aldrian Cavanough duduk sendirian dengan botol wiski di tangannya. Ia telah diusir secara halus dari dewan direksi oleh Xavier dan Alarick. Ia kehilangan cintanya, hartanya, dan martabatnya. Ia hanya bisa menatap layar televisi yang menampilkan foto pernikahan keponakannya. Ia akhirnya sadar bahwa ia bukan pemain di game ini; ia hanyalah pion yang disingkirkan oleh dua pemain yang jauh lebih licik.
Beberapa jam kemudian, di kediaman Valerius-Sterling, Alarick dan Kate sedang menikmati kopi pagi.
"Kau yakin tidak akan membunuhnya jika dia membuat Andrea menangis sekali lagi?" tanya Kate sambil tersenyum menggoda suaminya.
Alarick meletakkan korannya, menatap ke arah luar jendela dengan pandangan yang dalam. "Xavier berbeda denganku, Kate. Aku mencintaimu dengan pengorbanan, tapi bocah itu mencintai Andrea dengan obsesi. Dia tidak akan membiarkan Andrea menangis, karena tangisan Andrea adalah kelemahannya."
Satu bulan kemudian, Andrea kembali ke kampus. Ia berjalan di koridor dengan gaya yang sama, angkuh, cerdas, dan dingin. Namun kini, di sampingnya, Xavier Cavanough tidak lagi berjalan di jarak yang jauh. Xavier berjalan tepat di sampingnya, menggandeng tangannya dengan posesif di depan semua mahasiswa.
Mereka berhenti di depan aula utama. Andrea menoleh pada suaminya. "Kau tahu, Xavier? Satu komentar di internet itu... yang bilang kau adalah pencuri yang sebenarnya?"
Xavier menghentikan langkahnya, menatap Andrea dengan senyum misterius. "Ya?"
"Dia benar," bisik Andrea sambil tersenyum manis. "Kau adalah pencuri terbaik yang pernah ada. Kau tidak hanya mencuri malam pengantinku, kau mencuri seluruh hidupku."
Xavier mengecup kening Andrea di depan ratusan mata yang memandang. "Dan aku tidak akan pernah mengembalikannya, Andrea. Tidak akan pernah."
Kisah mereka bukanlah dongeng tentang kesucian, melainkan tentang realitas di dunia para penguasa. Di mana cinta seringkali berawal dari kegelapan, tumbuh dalam manipulasi, namun berakhir dalam kesetiaan yang tak terpatahkan.
Andrea Sterling Valerius telah menemukan raja yang sepadan untuk keangkuhannya, dan Xavier Cavanough telah menemukan satu-satunya wanita yang layak ia sembah.
Dinasti mereka kini berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh rumor, tak hancur oleh pengkhianatan. Karena di atas tahta mereka, hanya ada satu hukum yang berlaku, Apa yang telah disatukan oleh gairah dan rahasia, takkan bisa dipisahkan oleh dunia.
...🌷🌷The And🌷🌷...