NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Setelah Makan — Saat Rumah Mulai Diam

Satu per satu piring dibawa ke dapur. Bunyi air mengalir terdengar pelan, diselingi langkah kaki yang mulai jarang. Rumah perlahan kembali ke ritme malam—tenang, rapi, seolah tidak ada apa pun yang tertinggal.

Safira berdiri di ambang dapur.

“Ibu, aku bantu?”

Elisabet tersenyum kecil.

“Tidak usah. Kamu istirahat saja.”

Safira mengangguk, lalu berjalan menuju tangga. Sebelum naik, ia menoleh sebentar—entah kenapa, ada rasa ingin memastikan ibunya baik-baik saja.

Di ruang keluarga, Adrian meregangkan badan.

“Aku ke kamar dulu kak. Besok kak ikut tidak joging bersama kak safira?”

Clarissa melirik jam.

“Kita lihat besok.” ujar Clarissa yang di anguki adrian lalu ia pun pergi ke kamar nya.

Armand berdiri di dekat jendela, memastikan tirai tertutup rapat.

“Tidur jangan terlalu malam.”

“Iya, Yah,” jawab Clarissa santai.

Satu per satu pintu kamar tertutup. Lampu-lampu rumah diredupkan. Tinggal suara pendingin ruangan dan detak jam dinding yang konsisten.

Kamar Utama Percakapan yang Tidak Dibawa Keluar

Elisabet duduk di tepi ranjang, membuka koper kecil. Ia tidak membawa banyak barang—pakaian seperlunya, satu map tipis, dan sebuah buku tua.

Armand berdiri di dekat lemari, melipat jaketnya.

“Kita sudah bilang cukup, kan?”

Elisabet mengangguk.

“Cukup untuk mereka.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap suaminya.

“Kamu yakin ini cara terbaik?”

Armand menarik napas panjang.

“Kalau kita diam, mereka yang akan mendekat. Kalau kita bergerak… setidaknya arahnya kita yang tentukan.”

Elisabet menutup koper.

“Aku tidak mau anak-anak ikut terseret.”

“Karena itu kita pergi,” jawab Armand tanpa ragu.

Hening sejenak.

“Elisabet,” ucapnya pelan, “apa pun yang terjadi… mereka harus tetap merasa ini hari biasa.”

Elisabet tersenyum tipis.

“Besok pagi aku akan buat sarapan.”

...----------------...

Pagi yang Sunyi — Perpisahan Tanpa Upacara

Pagi datang tanpa suara keras.

Matahari muncul pelan di balik tirai, memantulkan cahaya lembut ke lorong rumah yang masih sepi. Rumah itu terbangun perlahan, seolah enggan mengakui bahwa hari ini akan berbeda.

Elisabet bangun lebih dulu. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu turun ke dapur. Gerakannya tenang, teratur, seperti pagi-pagi sebelumnya. Tak lama kemudian, aroma kopi dan roti panggang memenuhi rumah—bau pagi yang hangat, akrab, dan menenangkan.

Armand turun beberapa menit setelahnya. Ia berhenti di ambang dapur, menatap Elisabet yang sibuk di depan kompor.

“Kamu tidak perlu repot,” katanya pelan.

Elisabet menoleh dan tersenyum kecil.

“Biar seperti biasa.”

Tak lama, langkah kaki terdengar dari tangga.

Safira muncul pertama, masih mengucek mata.

“Pagi, Ayah. Bu.”

“Pagi, sayang,” jawab Elisabet lembut.

Beberapa detik kemudian, Adrian menyusul. Rambutnya sedikit berantakan, matanya setengah terpejam.

“Kenapa rumah wangi banget?” gumamnya.

Clarissa turun terakhir. Rambutnya rapi, langkahnya tenang seperti biasa. Begitu sampai di ruang makan, matanya langsung tertuju pada dua tas kecil di dekat pintu.

“Kalian berangkat hari ini,” ucapnya.

Bukan pertanyaan.

Armand mengangguk.

“Iya.”

Sarapan berlangsung singkat, namun hangat. Tidak ada pembahasan berat. Tidak ada kata perpisahan yang diucapkan dengan jelas. Hanya obrolan ringan—tentang jadwal kuliah, rencana jogging, dan cuaca pagi itu yang terasa lebih dingin dari biasanya.

“Kalian berangkat jam berapa?” tanya Clarissa sambil mengambil gelas.

“Sebentar lagi,” jawab Armand singkat.

Safira menoleh ke arah orang tuanya.

“Hati-hati di jalan, Yah. Bu.”

Sebelum melangkah menjauh, Elisabet memeluk Safira sedikit lebih lama dari biasanya. Pelukan itu lembut, namun penuh makna.

“Jaga diri, ya,” bisiknya.

Safira tersenyum kecil.

“Ibu juga.”

Adrian berdiri di dekat pintu, menguap sambil meregangkan badan.

“Jangan lupa oleh-oleh,” katanya ringan, mencoba mencairkan suasana.

Elisabet tertawa kecil, lalu menepuk bahu anak bungsunya.

“Kalau ada apa-apa, dengarkan Kak Clarissa.”

Adrian mengangguk.

Armand mendekat dan menepuk bahu Adrian dengan mantap.

“Jaga kakak-kakakmu.”

Kali ini Adrian mengangguk lebih serius.

“Siap.”

Clarissa berdiri sedikit terpisah. Saat Elisabet mendekat, ia berkata pelan, hampir seperti bisikan,

“Hati-hati.”

Elisabet menatap putri sulungnya beberapa detik—tatapan yang saling memahami tanpa perlu penjelasan—lalu tersenyum.

“Kamu juga.”

Pintu depan terbuka. Udara pagi masuk bersama cahaya matahari yang lembut, menyentuh lantai rumah yang masih dingin.

Armand meraih koper.

“Kami tidak lama.”

“Tidak perlu sering telepon,” tambah Elisabet. “Fokus saja pada kegiatan kalian.”

Mereka melangkah keluar.

Beberapa menit kemudian, mobil bergerak meninggalkan halaman rumah. Dari kaca belakang, Elisabet melihat ketiga anaknya berdiri di teras—semakin kecil, semakin jauh, lalu menghilang di tikungan jalan.

Tidak ada yang tahu,

bahwa pagi itu bukan sekadar keberangkatan biasa.

Pintu rumah tertutup perlahan, tanpa suara keras.

ilustrasi rumah Bastian

Di dalam rumah, Clarissa berdiri paling dekat dengan pintu. Safira memeluk lengannya sendiri, mencoba menahan perasaan yang belum bisa ia beri nama. Adrian menatap lantai, rahangnya mengeras.

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Namun mereka semua tahu—

hari ini tidak sepenuhnya sama seperti kemarin.

Bandara — Perpisahan yang Tidak Terucap

Bandara pagi itu lebih ramai dari rumah yang mereka tinggalkan.

Suara roda koper bergesekan dengan lantai, pengumuman keberangkatan bergema bergantian, dan langkah orang-orang berlalu tanpa saling mengenal.

Armand dan Elisabet berdiri berdampingan di depan gerbang keberangkatan. Dua tiket di tangan Armand—satu tujuan Batam, satu lagi Bandung. Jalur yang berbeda, waktu yang berbeda, dan beban yang juga berbeda.

Elisabet menarik napas perlahan. Ia menatap sekeliling, lalu kembali memandang papan jadwal penerbangan.

“Penerbanganku lebih dulu,” katanya pelan.

Armand mengangguk.

“Aku tahu.”

Mereka terdiam beberapa detik. Di antara keramaian, keheningan justru terasa lebih jelas.

Elisabet menggenggam tali tasnya.

“Kamu yakin dengan semua ini?” tanyanya tanpa menoleh.

Armand menatap lurus ke depan.

“Kalau tidak sekarang, semuanya tidak akan pernah selesai.”

Elisabet tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata.

“Bayangan itu masih mengejarku, Mand. Kadang aku merasa, ke mana pun aku pergi, masa lalu selalu lebih cepat.”

Armand menoleh, menatap wajah istrinya.

“Kamu tidak sendiri. Tidak pernah.”

Elisabet akhirnya menatapnya.

“Organisasimu… nama-nama itu… pemerintah, orang-orang lama…”

Suaranya mengecil. “Kalau semuanya muncul ke permukaan?”

Armand mengangguk pelan.

“Aku sudah siap. Seharusnya dari dulu.”

Panggilan keberangkatan terdengar melalui pengeras suara. Nama Elisabet disebutkan.

Elisabet menghela napas panjang.

“Jaga dirimu.”

Armand tersenyum kecil.

“Kamu juga. Jangan terlalu memikul semuanya sendiri.”

Elisabet melangkah mendekat. Mereka berpelukan—singkat, tapi erat. Tidak ada air mata, tidak ada janji panjang. Hanya keheningan yang penuh arti.

“Untuk anak-anak…” ucap Elisabet pelan.

“Aku tahu,” potong Armand lembut. “Aku akan pulang.”

Elisabet mengangguk. Ia meraih koper, lalu melangkah menuju pemeriksaan. Beberapa kali ia menoleh, hingga akhirnya berhenti dan melambaikan tangan kecil.

Armand membalasnya.

Saat sosok Elisabet menghilang di balik pintu keberangkatan, Armand berdiri sendirian. Di tangannya, tiket menuju Bandung terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Di bandara yang penuh orang,

dua jalan telah dipilih.

Dan di antara keberangkatan itu,

masa lalu mulai bergerak mengejar.

Batam — Kota yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi (Armand)

Pesawat mendarat dengan hentakan halus.

Batam menyambut Armand dengan udara panas dan bau laut yang samar—bau yang dulu akrab, kini terasa asing.

Begitu keluar dari bandara, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak tersimpan.

“Kamu akhirnya datang.”

Armand tidak langsung membalas. Ia memasukkan ponsel ke saku, menatap jalanan yang bergerak cepat di hadapannya. Gedung-gedung tinggi berdiri berdampingan dengan bangunan lama yang tak pernah direnovasi—seperti kota ini menolak melupakan masa lalunya.

Mobil berhenti di sebuah hotel sederhana, jauh dari pusat kota.

Malam itu, Armand duduk sendirian di kamar. Lampu redup. Tirai tertutup setengah.

Di atas meja, sebuah map cokelat sudah menunggu—entah sejak kapan.

Ia membukanya.

Nama-nama lama tertera rapi.

Mantan pejabat. Perwira. Pengusaha.

Dan di antara mereka—nama organisasi yang dulu ia pimpin.

Organisasi yang awalnya dibentuk untuk “menjaga keseimbangan”.

Yang perlahan berubah menjadi alat. Kejahatan

Armand memejamkan mata.

Ia ingat pertemuan rahasia. Perintah yang tidak pernah tertulis. Uang yang mengalir tanpa asal jelas. Dan keputusan-keputusan yang ia ambil—dengan keyakinan bahwa semuanya demi kebaikan yang lebih besar.

Padahal tidak.

Kini, satu per satu, orang-orang itu mulai bergerak lagi.

Dan mereka tahu Armand kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!