Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aruna pun seketika kehilangan keseimbangan dan tubuhnya yang di tarik Erlan segera mengikuti tarikan tersebut dan akhirnya ia jatuh ke atas ranjang tepat di atas tubuh Erlan.
Kedua manik mata itu pun segera kembali bertatap satu sama lain, hal ini membuat jantung Aruna berdegup kencang. Namun posisi tersebut tak bertahan lama, di mana saat ini Erlan membalikkan badannya membuat posisi mereka seketida berubah drastis, kini Aruna lah yang berada di bawah tubuh Erlan.
"Lo lupa sama janji Lo tadi siang?" ujar Erlan dengan suara pelan.
Aruna seketika terdiam, dia mengingat kembali janji nya dengan Erlan, di mana dia mengatakan kalau dirinya akan mengikuti apa yang diinginkan dan di katakan Erlan asalkan Erlan tidak membenci dan cuek terhadap mama nya.
"Tapi gak tidur bareng juga kak," kata Aruna dengan bibir yang sedikit gemetar.
"Gue gak bakal ngapa-ngapain Lo, gue cuma insomnia dan gak bisa tidur, gue mau Lo nemenin gue tidur," ucap Erlan yang kemudian kembali merebahkan tubuhnya di samping Aruna.
Aruna merasa lega setelah Erlan menyingkir dari nya, ia sampai memegang dadanya karena terasa sedikit sesak. Sejujurnya, hal ini sedikit berlebihan bagi Aruna, namun faktanya ia tak bisa menolak atau mengingkari janji yang telah dia buat sendiri, di mana ia ingin Erlan menghormati sang mama dan juga tak mengabaikan nya, kebahagiaan mama nya adalah hal yang sangat penting untuk Aruna.
"Yaudah buruan tidur," kata Aruna kepada Erlan.
"Gitu doang?" kata Erlan.
"Terus kak Erlan mau nya kayak gimana lagi?" tanya Aruna kebingungan dengan wajah yang sedikit gelisah.
Namun Erlan tak mempedulikan raut wajah Aruna, dia menarik Aruna ke dalam pelukannya dan memeluk Aruna dengan erat.
Deg ... Deg ... Deg ... Jantung Aruna kembali terasa di pompa dengan keras, bagaimana tidak? Ini pertama kali nya dia tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki juga di peluk dengan erat seperti ini.
"Kak Erlan, ini berlebihan," lirih Aruna berusaha menolak dengan mendorong dada bidang Erlan.
"Aruna, gue ngantuk banget, tolong patuh dan ingat janji Lo," lirih Erlan dengan mata yang terpejam.
Mau tak mau akhirnya Aruna menyerah, ia membiarkan tubuhnya di peluk oleh Erlan dan di jadikan bantal guling oleh lelaki tersebut.
Namun entah kenapa, rasanya semakin lama semakin tercipta kehangatan dan juga kenyamanan dari pelukan tersebut, hembusan nafas Erlan yang hangat juga aroma parfum nya yanag lembut seolah menghipnotis Aruna untuk ikut memejamkan mata juga.
Tapi Aruna tidak menyadari kalau ini adalah awal dari hubungan mereka yang tidak akan hanya sekedar Kaka dan adik tiri.
Keesokan harinya. Aruna membuka mata nya, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, ia pun segera bangkit dari tempat tidur dan melihat sekeliling ranjang dan ruangan tersebut, tak ada siapapun di sana.
"Tadi malam gue cuma mimpi kan?" katanya sambil memegang kedua pipi nya sambil membayangkan kejadian tadi malam yang samar-samar di ingatan nya.
Ia pun tak terlalu memikirkan hal tersebut dan kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.
Setelah tiga puluh menit kemudian, ia pun akhirnya selesai bersiap-siap dengan seragam sekolah nya dan kemudian berjalan keluar dari kamar.
"Selamat pagi nona muda," kata Hana menyapa.
"Kak Hana, mama di mana?" tanya Aruna kepada Hana.
"Nyonya sudah pergi ke butik, tadi bersama dengan tuan besar Firman," kata Hana kepada Aruna.
"Lah kok mama gak nunggu Aruna bangun dulu? Ini kan masih pagi banget kak," ujar Aruna sambil mengerutkan keningnya.
"Nyonya bilang dia mau berangkat bersama dengan tuan besar Firman, oh ya nona muda, sarapan nya sudah siap, ayo sarapan dulu," kata Hana lagi.
"Gak usah, sarapan di sekolah aja," kata Erlan yang baru saja turun dari tangga sambil membawa tas nya dan kemudian melemparkan tas tersebut ke pada Aruna.
"Kak Erlan apa-apaan sih!" ucap Aruna sambil refleks menyambut tas yang melayang ke arah nya itu.
"Mau berangkat sama gue atau mau gue tinggal?" tanya Erlan yang kini berdiri di hadapan Aruna dan Hana.
"Tuan muda, tidak baik memperlakukan nona muda seperti ini," kata Hana kepada Erlan.
Erlan melirik sekilas ke arah Hana dan kemudian kembali menatap Aruna.
"Katanya dia adek gue? Iya kan adek gue?" kata Erlan kepada Aruna.
"I-iya," jawab Aruna.
"Nah, Lo keberatan gue kayak gini?" tanya Erlan lagi.
"E-e gak," jawab Aruna tertekan.
"Tapi tuan muda ... " Hana menghentikan ucapannya setelah Aruna memegang tangan nya.
"Gak apa-apa kak Hana, Aruna sama kak Erlan berangkat sekolah dulu ya," ucap Aruna sambil tersenyum tipis.
"Tapi non, sarapan nya, bagaimana?" kata Hana khawatir.
"Gak usah, di kantin serba ada kok," ucap Aruna yang kemudian berjalan mendahului Erlan berlalu pergi sambil membawa tas sang kakak.
"Awas ya, kalau Lo ngadu ke papa," ancam Erlan kepada Hana.
Setelah itu ia pun melangkah pergi meninggalkan Hana.
Hana terdiam dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Erlan yang menurut nya begitu jahil.
"Tuan muda benar-benar membuli nona muda, aku harus bicara dengan nyonya dan tuan nanti, aku khawatir dia akan semakin keterlaluan kepada nona muda," batin Hana salah paham dengan sikap Erlan kepada Aruna.
"Ngapain Lo ngelihatin gue kayak gitu? Buruan masuk," kata Erlan yang kini menunggu Aruna di dalam mobil nya.
Aruna membuang nafas panjang dan kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.
"Kak Erlan bisa gak sih sopan dikit di depan kak Hana?" tanya Aruna kepada Erlan dengan tatapan kesal.
"Kenapa? Kenapa gue harus sopan sama kepala pelayan?" ucap Erlan menatap Aruna dengan mengerut keningnya.
"Dia lebih tua dari kita tau gak sih, jangan mentang-mentang kak Erlan tuan muda nya kak Erlan seenaknya gitu, gak baik tau emang gini ya penyakit orang kaya, sombong banget," kata Aruna dengan omelan pedas nya.
Erlan terdiam mendengar ucapan Aruna, ia tak menjawab atau membalas ucapan tersebut dan kemudian menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas dan meninggalkan rumah tersebut.
Aruna yang melihat ekspresi Erlan pun berfikir kalau saat ini Erlan sedang marah dengan nya.
"Bego banget sih Lo Aruna, Lo ngomong apa sih sama dia, wajar lah dia sombong kan dia emang dari kecil udah bergelimang harta, dai juga tuan rumah di rumah yang kayak istana itu," batin Aruna sambil sesekali melirik ke arah Erlan.
Beberapa puluh menit pun kemudian.
"Kak berhenti," kata Aruna kepada Erlan.
Erlan melirik ke arah Aruna sekilas dan kemudian memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang sudah tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah