NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia...

Pagi itu, udara masih lembab. Tanah basah di sekitar posko menyimpan sisa hujan semalam, membuat setiap langkah harus lebih hati-hati.

Ravela keluar dari tenda lebih dulu. Helm lapangan sudah terpasang, rompi melekat rapi, dan tak lupa juga sepatu botnya.

Di lapangan terbuka, para prajurit TNI dan relawan mulai berkumpul. Ada yang mulai memakai sepatu bot, mengecek sarung tangan, ada pula yang memeriksa kondisi cangkul, sekop, linggis, dan gergaji tangan.

Beberapa orang mulai menyiapkan tali tambang dan papan kayu, dipasang di titik-titik tertentu untuk memperkuat jalur yang masih labil.

Ravela berdiri di depan mereka. “Baik, kita mulai briefing,” ucapnya tegas.

Para prajurit langsung berdiri lebih tegap.

“Siap, Komandan,” jawab mereka serempak.

Para relawan ikut mendekat, membentuk setengah lingkaran.

Ravela membuka peta sederhana di atas meja lipat. “Hari ini kita membuka jalur utama yang tertutup kayu, batu, dan endapan lumpur. Jalur ini dipakai untuk distribusi bantuan dan akses warga. Target kita, kendaraan kecil sudah bisa lewat siang nanti.”

Ravela menatap satu per satu wajah di depannya.

“Keselamatan yang utama. Kita kerjakan pelan, tertib, dan saling bantu. Jangan ada yang memaksakan diri.”

Dimas melangkah maju sedikit. “Pembagian timnya bagaimana, Komandan?”

“Kita bagi tiga kelompok. Kelompok pertama memotong dan memindahkan kayu besar yang melintang. Kelompok kedua mengangkat batu, puing bangunan, dan mengeruk lumpur ke sisi jalan. Kelompok ketiga mengamankan area, pasang pembatas, dan awasi pergerakan tanah,” jelas Ravela.

Lalu ia menoleh ke Bima. “Serma Bima, kamu pegang pengamanan. Atur jarak aman, arahkan warga dan relawan.”

“Siap, Komandan,” jawab Bima tegas.

Ravela lalu menghadap para relawan, nadanya tetap tegas namun lebih hangat. “Teman-teman relawan, yang kita butuhkan di sini adalah kerja sama. Kalau ada yang lelah, pusing, atau merasa kondisi kurang aman, langsung bilang. Kita berhenti dulu, jangan dipaksakan.”

“Siap, Kapten,” jawab seorang relawan.

Ravela menunjuk lereng yang masih basah. “Bagian sana cukup rawan. Jangan berdiri lama di bawahnya. Kalau ada suara retakan atau tanah bergerak langsung menjauh.”

“Baik, Kapten,” sahut beberapa relawan.

“Helm, sepatu bot dan sarung tangan wajib dipakai. Tidak ada yang bekerja sendirian. Kalau sudah jelas, kita bergerak sekarang!” ucap Ravela menutup briefing.

“Siap, Komandan!”

“Siap, Kapten!”

Mereka berjalan menuju lokasi kerja. Tanah licin membuat langkah menjadi pelan. Begitu sampai, kelompok pertama mulai menggergaji batang kayu yang menyumbat jalan.

Dua prajurit menahan ujung kayu dengan tali tambang, sementara yang lain memotong perlahan agar tidak bergeser tiba-tiba.

“Pegang kuat. Jangan lepas sebelum saya bilang. Satu... dua... tiga... geser,” ucap Ravela mengarahkan.

Batang kayu dipindahkan ke sisi aman dan ditahan dengan ganjalan.

Di titik lain, kelompok kedua mengangkat puing bangunan. Batu-batu besar diangkat berdua atau bertiga, puing genteng dan papan kayu dikumpulkan ke tumpukan terpisah.

Lumpur dikeruk dengan sekop, dimasukkan ke gerobak (arko), lalu didorong menjauh dari jalur utama.

Ravela berpindah dari satu titik ke titik lain. Sesekali ia ikut mengangkat batu, sesekali memberi aba-aba. “Pelan-pelan, di angkatnya bareng-bareng.”

“Taruh di sana, jangan di tepi jalan.”

“Jarakkan satu meter, biar aman.”

Dua relawan wanita terlihat kesulitan mendorong gerobak penuh lumpur. Ravela pun menghampiri. “Berat?”

“Iya, Kapten.”

Ravela melirik prajurit terdekat. “Bantu di sini.”

“Siap, Komandan.”

Gerobak itu akhirnya bergerak, lumpur dibuang ke area yang sudah ditentukan.

“Komandan,” panggil Dimas dari kejauhan, “Jalurnya mulai terbuka.”

Ravela mengangguk. “Perkuat pinggirannya. Pasang papan penahan. Jangan ada yang berdiri dekat lereng.”

Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari sudah condong, pekerjaan berat perlahan melambat. Jalur yang tadinya tertutup kini mulai terbuka, tumpukan kayu dan puing tersingkir ke sisi aman.

Ravela melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling. Wajah-wajah yang ia lihat tampak lelah, pakaian penuh lumpur, napas mereka mulai terdengar berat meski tak ada yang mengeluh.

“Cukup!” ucap Ravela lantang.

Beberapa prajurit berhenti, relawan ikut menoleh.

“Kita istirahat dulu, lima belas menit. Setelah itu lanjut lagi,” perintah Ravela.

“Siap, Komandan,” jawab para prajurit serempak.

Para relawan mengangguk lega, sebagian langsung duduk di batang kayu, sebagian lainnya membersihkan lumpur di tangan.

Ravela menoleh ke salah satu prajurit di dekatnya. “Prada Dani.”

“Siap, Komandan.”

“Ambil logistik. Bagikan makanan dan air minum ke semua yang di sini. Pastikan tidak ada yang terlewat.”

“Siap, laksanakan.”

Dani bergegas pergi. Tak lama kemudian, beberapa dus dibuka. Air mineral dan makanan dibagikan satu per satu. Ravela ikut berdiri di tengah, memastikan pembagian berjalan tertib.

“Pelan-pelan minumnya,” kata Ravela pada seorang relawan wanita. “Kalau pusing, langsung bilang.”

“Iya, Kapten. Terima kasih,” jawab relawan itu sambil tersenyum kecil.

Di sisi lain, Ravela menghampiri beberapa prajurit yang duduk bersandar. “Bagaimana kondisi kalian?”

“Masih aman, Komandan,” jawab salah satu dari mereka.

“Bagus. Jangan dipaksakan. Kita lanjut kalau semua sudah siap.”

Sore itu Kaivan baru kembali dari tempat proyek yang tak jauh dari posko. Debu masih menempel di sepatu lapangannya, rompi proyek tergantung longgar di bahu. Ia hendak masuk ke tenda tim proyek Wiratama Group namun sebuah suara memanggilnya dari arah belakang.

“Kaivan!”

Kaivan berhenti, lalu menoleh. Alisnya terangkat sedikit begitu mengenali sosok yang berjalan cepat ke arahnya. “Lho, Raynand? Kamu ngapain di sini?” tanyanya.

Raynand tersenyum lebar. Begitu sampai di depan Kaivan, ia langsung merangkul dan menepuk punggung sahabatnya. “Lagi tugas juga. Perusahaan ku ngirim bantuan alat kesehatan sama obat-obatan. Kita letakkan di posko medis sama tenda relawan,” jawab Raynand.

Raynand Wijaya adalah sahabat Kaivan, seorang CEO yang memimpin perusahaan di bidang kesehatan.

Kaivan mengangguk pelan. “Pantesan ramai.”

Mereka berdiri berdampingan di depan tenda proyek. Beberapa tim Wiratama Group lalu-lalang membawa berkas dan peralatan. Dari kejauhan terdengar suara mesin dan palu yang masih bekerja.

Raynand melirik ke arah area proyek. “Jadi, kamu masih lama di sini?”

“Masih,” jawab Kaivan singkat. “Sekitar dua mingguan lagi.”

Raynand bersiul pelan. “Dua minggu itu lama, Kai. Kapan kamu ada waktu buat cari jodoh kalau gitu.”

Kaivan mendengus. “Aku kerja keras juga buat masa depan anak dan istriku nanti. Kamu saja yang sudah bertunangan tidak nikah-nikah tuh sampai sekarang," ucapnya membuat Raynand kalah telak.

“Oke, oke. Aku ngaku kalah kalau sudah berdebat sama kamu.” sahut Raynand. “Tapi kamu ini sudah terlalu lama menyendiri, Kai. Bayangkan sudah tujuh tahun, sejak ditinggal nikah sama Zora, kamu–”

“Jangan sebut-sebut nama itu lagi.” Nada Kaivan terdengar datar, tapi cukup membuat Raynand berhenti bicara.

Raynand menelan ludah. “Iya, maaf. Aku tidak akan sebut dia lagi.”

Tiba-tiba di arah depan terdengar suara ramai. Langkah kaki berderap, bercampur suara obrolan dan tawa ringan. Sekelompok prajurit dan relawan berjalan, baru kembali dari lokasi.

Raynand ikut menoleh. “Itu tim yang di bahas orang-orang tadi.”

Kaivan tidak menanggapi. Pandangannya terpaku ke satu titik di antara kerumunan itu.

Seorang tentara wanita berjalan di barisan depan. Helmnya sudah dilepas, rambutnya terikat rapi. Seragamnya penuh bekas lumpur. Pandangannya lurus ke depan, langkahnya terlihat tenang, memancarkan wibawa meski dia seorang wanita.

Kaivan mengerjap pelan. “Dia...” gumamnya.

1
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
Aruna02
sabar buuu jangan ketus ketus loh 🤪
Aruna02
biarin atuh bangun juga 🤣🤣💋
Pengabdi Uji
Ah elah VELAA kentang bgt gue dibuatnya😌🤭
Pengabdi Uji
Yaudah lah Jovan nggak usah apasih namanya gitu gitu lagi, orangnya dh berkahwin😌
Sunaryati
Astaga Nak Kaivan, ngumpetin istri di kamar mandi adu mulut kalau kedengeran dari luar lenguhan Ravela gimana ? Aduh kaya orang selingkuh tak punya uang, 🤣🤣🤭
Alessandro
caper bgt ni jovan
Alessandro
tiba-tiba gerah thor.... 🔥
Mutia Kim🍑: Butuh AC kak? 😂
total 1 replies
Sunaryati
Haduh jadi seperti tebar pesona Nak Kaivan, padahal senyumnya hanya untuk istrinya Ravela. Kamu juga punya masa lalu, maka jangan marah jika Ravela juga memiliki masa lalu juga, bahkan masa lalunya berniat mengejarnya, namun jangan kuatir Nak Ravela teguh hatinya
Mutia Kim🍑: Bener kak, mereka berdua sama-sama punya masa lalu. Tapi tidak sama sekali Ravela untuk kembali bersama masa lalunya itu. Masa lalu tetaplah masa lalu🙂
total 1 replies
Sunaryati
Nak Kaivan tidak usah marah dan cemburu, Istrimu Nak Ravela, bisa jaga mata dan hati untukmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!