NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Keakraban dan Sorot Lampu yang Menyilaukan

Aula SMA Garuda malam itu disulap jadi mirip gedung pesta pernikahan anak konglomerat. Lampu kristal (yang sebenarnya cuma plastik tapi kelihatan mahal kalau kena sorot lampu) tergantung di langit-langit. Musik jazz ringan mengalun, dan bau parfum mahal bercampur dengan bau soto ayam dari stan konsumsi di pojokan.

Ghea berdiri di depan gerbang aula, tangannya gemetar hebat. Dia memakai gaun biru muda vintage hasil thrifting kemarin. Rambutnya dikuncir setengah dengan pita senada. Untuk pertama kalinya, Ghea memakai lip tint yang nggak cuma buat coret-coret tangan, tapi beneran diaplikasikan ke bibirnya.

"Ghe, lo kalau gemeteran gitu malah kayak mesin cuci lagi mode spin tahu nggak?" Juna muncul di sampingnya, memakai kemeja batik yang ukurannya agak kegedean. "Tapi serius... lo cantik banget. Gue hampir ngira lo hantu penunggu aula yang lagi mau kondangan."

Ghea menjitak lengan Juna. "Gue lagi gugup, Jun! Liat tuh, mobil-mobil mewah udah berjejer. Bokap Arlan pasti udah di dalem."

"Tenang, ada gue. Intel Siomay siap mengawal," Juna menepuk dadanya bangga.

Mereka masuk ke aula. Begitu Ghea melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Bisik-bisik mulai terdengar. "Itu Ghea? Si cewek Fisika 45?" "Kok bisa jadi cantik gitu?" "Eh, itu gaunnya bagus banget!"

Ghea mencoba berjalan dengan tegak, meskipun sepatunya terasa seperti sedang menyiksa kakinya sendiri. Di barisan depan, dia melihat Arlan. Cowok itu memakai jas hitam formal yang sangat pas di badannya. Dia terlihat sangat berwibawa, benar-benar sosok Ketua OSIS yang sempurna.

Di samping Arlan, duduk seorang pria paruh baya dengan aura yang sangat mengintimidasi: Papa Arlan. Dan di sebelah lainnya, Shinta tersenyum lebar memakai gaun merah menyala yang harganya mungkin bisa buat beli satu unit motor.

Arlan menoleh ke arah pintu masuk. Matanya terkunci pada sosok Ghea. Untuk sesaat, Arlan lupa caranya bernapas. Dia tahu Ghea manis, tapi malam ini, Ghea terlihat seperti bintang yang paling terang di ruangan itu.

"Arlan, fokus. Acara mau dimulai," tegur Papa Arlan dingin tanpa menoleh.

"Iya, Yah," jawab Arlan, mencoba membuang muka meskipun hatinya berdegup kencang.

Acara dimulai dengan sambutan-sambutan. Shinta naik ke panggung dengan penuh percaya diri sebagai ketua panitia. Dia memberikan pidato yang sangat manis, diselingi dengan lirikan tajam ke arah Ghea yang duduk di barisan tengah bersama Juna.

"Dan sekarang, sebelum kita masuk ke acara ramah tamah, mari kita saksikan video dokumentasi perjalanan OSIS tahun ini!" seru Shinta.

Ini dia momennya. Shinta menekan tombol play di laptopnya. Dia tersenyum penuh kemenangan, membayangkan video "skandal" Arlan dan Ghea bakal muncul dan mempermalukan mereka di depan sang Ayah.

Layar proyektor menyala besar.

Satu detik... dua detik...

Bukannya video Arlan dan Ghea di ruang arsip, yang muncul justru video seekor kucing oren yang berusaha loncat ke meja tapi malah kepeleset jatuh ke dalam ember air, diikuti kompilasi orang-orang yang gagal melakukan tantangan dance TikTok dengan lagu yang sangat konyol.

Gubrak! Meong!

Seluruh aula pecah dalam tawa. Guru-guru, orang tua murid, bahkan beberapa staf TU ketawa ngakak sampai sakit perut.

"Loh? Kok? Ini salah! Ini salah!" Shinta panik, dia mencoba mengutak-atik laptopnya, tapi Juna sudah mengunci sistemnya lewat remote desktop dari HP-nya di bawah meja.

"Aduh, Shinta! Kreatif banget ya videonya, sangat menghibur!" teriak Juna dari bangku penonton, memicu tawa yang lebih keras lagi.

Wajah Shinta merah padam. Dia menoleh ke arah Arlan, berharap Arlan membelanya, tapi Arlan justru sedang menunduk, mencoba menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Setelah kegaduhan video kucing selesai, masuklah ke acara puncak: Pidato penutup dari Papa Arlan selaku perwakilan orang tua. Pria itu berdiri dan berjalan ke podium dengan langkah berat. Tawa di aula langsung mereda, digantikan suasana tegang.

Papa Arlan memulai pidatonya tentang pentingnya disiplin, nilai akademik, dan masa depan. Dia bicara dengan sangat kaku dan serius. Sampai di penghujung pidato, sesuai skenario yang sudah direncanakan Shinta sebelumnya, Shinta (yang sudah kembali ke atas panggung untuk memandu sesi tanya jawab) memberikan pertanyaan titipan.

"Terima kasih Om Hendra atas pidatonya. Oh ya Om, ada satu pertanyaan dari kotak saran digital kami. Bagaimana pendapat Om tentang murid-murid yang nilai akademiknya rendah, tapi sering bergaul dengan murid berprestasi seperti Arlan? Apakah itu tidak menjadi beban bagi kemajuan sekolah kita?"

Pertanyaan itu seperti bom atom yang dijatuhkan di tengah aula. Semua mata tertuju pada Ghea.

Papa Arlan terdiam sejenak. Dia melirik ke arah Arlan yang duduk di depannya, lalu melirik ke arah Ghea di barisan tengah.

"Beban?" Papa Arlan mengulang kata itu dengan suara berat. "Saya selalu mendidik Arlan untuk menjadi yang terbaik. Dan bagi saya, siapapun yang menghalangi dia untuk mencapai nilai sempurna adalah gangguan."

Ghea meremas gaun birunya. Rasanya sakit sekali didengar secara publik seperti itu.

"Namun," lanjut Papa Arlan, suaranya sedikit berubah. "Kemarin, saya melihat sesuatu yang tidak biasa. Saya melihat anak saya, yang biasanya hanya bicara soal angka dan laporan, bisa tertawa karena sebuah kaleng kerupuk jelek dan sepotong martabak manis."

Seluruh aula hening. Arlan mendongak, kaget dengan kata-kata ayahnya.

"Saya masih percaya nilai akademik itu penting. Sangat penting. Tapi..." Papa Arlan menatap Arlan tepat di mata. "Saya lebih tidak ingin melihat anak saya menjadi mesin yang sempurna tapi jiwanya mati. Jika asisten yang kalian bicarakan itu bisa membuat Arlan tetap 'hidup' sambil tetap mengerjakan tugasnya, maka saya rasa... itu bukan beban. Itu adalah sistem pendukung yang tidak bisa dibeli dengan uang."

Arlan terpaku. Ghea? Ghea sudah menangis sesenggukan di pundak Juna.

"Terima kasih," tutup Papa Arlan, lalu dia turun dari podium.

Acara selesai. Suasana jadi jauh lebih cair. Shinta sudah menghilang entah kemana, mungkin sedang menangis di bawah meja prasmanan.

Arlan langsung berlari menuju barisan tengah, mencari Ghea. Dia menemukan Ghea yang sedang sibuk mengelap maskaranya yang luntur pakai tisu pemberian Juna.

"Ghe," panggil Arlan pelan.

Ghea mendongak. "Ar... kacamata gue mana? Gue nggak bisa liat, air mata gue menghalangi pandangan!"

Arlan tertawa, dia mengambil tisu dari tangan Ghea dan membantu mengusap pipi Ghea dengan lembut. "Lo denger tadi kan? Bokap gue... dia nggak benci lo."

"Gue denger, Ar. Tapi bagian 'kerupuk jelek' itu kok agak menusuk ya?" canda Ghea sambil sesenggukan.

"Itu gaya bokap gue memuji, Ghe. Lo hebat."

Tiba-tiba Papa Arlan muncul di belakang mereka. Ghea langsung tegak berdiri, mencoba terlihat sopan meskipun mukanya sembap.

"Ghea," panggil Papa Arlan.

"I-iya, Om?"

"Nilai Fisika kamu... kalau semester depan nggak naik jadi 75, saya sendiri yang akan melarang kamu masuk ke rumah saya lagi. Paham?"

Ghea melongo, lalu tersenyum lebar sambil hormat grak. "Siap, Om! Saya bakal belajar sampai kepala saya berasap!"

Papa Arlan mengangguk kecil, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Arlan menatap Ghea, lalu mengulurkan tangannya. "Ghe, di daftar buku catatan gue... ada poin nomor lima yang baru gue tulis tadi di kepala gue."

"Apa itu?"

"Poin nomor lima: Mengajak Ghea dansa di tengah aula, meskipun kita berdua nggak bisa dansa dan bakal kelihatan bego banget."

Ghea tertawa, dia menyambut tangan Arlan. "Ayo, Robot! Siapa takut? Tapi kalau kaki lo gue injek, jangan marah ya!"

Malam itu, di bawah sorot lampu aula yang menyilaukan, si Ketua OSIS kaku dan si Asisten ajaib berdansa dengan langkah yang sangat berantakan, diiringi tawa Juna yang sibuk memotret mereka dari jauh.

Masa depan mungkin masih penuh dengan arsip kertas tua dan rumus Fisika yang memusingkan, tapi bagi Arlan dan Ghea, mereka sudah menemukan rumus yang paling penting: Bahwa kebahagiaan itu tidak perlu sempurna, cukup dijalani bareng orang yang tepat.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!