"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Sudah hampir pukul enam sore, Saga pulang diantar asistennya menuju rumah. Pekerjaannya hari ini cukup melelahkan, keningnya yang luas itu tiba-tiba berkerut ketika sampai di rumah, tidak melihat mobil pribadinya di parkiran.
"Kemana mereka?" gumam Saga, membuka ponsel dan menghubungi Alang. Tidak aktif.
Ia pun menghubungi pihak hotel, takut terjadi apa-apa dengan keponakan dan yang lainnya.
"Rumi, apakah Dewi dan Niken sudah pulang?" tanya Saga.
"Dewi sudah di luar Pak, kalau Niken sedang lembur dua jam. Sebentar lagi sudah selesai."
"Mengapa tidak memberi tahu aku kalau dia ada lembur!" bentak Saga.
Ia pun kembali masuk ke dalam mobil, melaju menuju hotel.
Di seberang sana, Rumi langsung gemetar mendengar bentakan Direktur hotel. Seketika ia berlari keluar dari dapur yang sibuk, malam ini aula hotel mereka di sewa seorang pengusaha untuk merayakan pernikahan. Itu sebabnya Rumi meminta Niken lembur. Kalau Dewi, ia tak berani karena tahu bahwa ia keponakan Saga.
Jarak yang cukup luas, sehingga ia setengah berlari menghampiri Niken.
"Niken!" Ia memanggil gadis belia yang tengah sibuk di mejanya itu.
"Iya Mbak." jawab Niken, segera berdiri.
"Kamu bersiap pulang, biar yang lain gantikan kamu. Lagipula sudah sore begini biasanya sepi." kata Rumi.
"Tapi Mbak, masih ada setengah jam lagi." Niken melirik jam di ponselnya.
"Sudahlah, Pak Sagara sudah menghubungi. Kamu bersiap pulang." titahnya.
"Oh." Niken merapikan mejanya. "Lain kali, kalau ada yang tidak masuk, Niken bersedia lembur Mbak."
Rumi menatap wajah gadis belia itu sedikit lama, tentu saja dia akan memberitahu Niken. Tapi, teringat bentakan Saga.
"Iya. Tapi, harus dengan izin Pak Sagara." jawabnya.
Niken mengangguk, tersenyum senang akan pekerjaan ini.
Di luar sudah mulai remang, matahari sudah tak menyinari halaman gedung yang saling menjulang di pusat kota ini. Sehingga lampu-lampu jalanan mulai menerangi jalanan menggantikan cahayanya.
Orang berlalu lalang pun tak lagi ramai seperti tadi, parkiran menjadi lengang, sunyi.
Niken berjalan menuju parkiran paling ujung, dimana mobil Alang dan Dewi ada di sana.
Ia mengamati mobil berbaris itu memiliki warna yang hampir sama, mata beningnya fokus pada nomor yang tertera di bagian depan, agar tak salah.
Bibir mungilnya tertarik sedikit, melihat mobil dengan nomor yang diingatnya, masih berbaris di deretan seperti sore tadi. Ia mempercepat langkahnya, sedikit ngeri karena lampu tak menjangkau area itu.
Ia mengeluarkan ponselnya, akan menyalakan senter untuk melihat siapa di dalam, ataukah Alang dan Dewi masih jalan-jalan?
Tapi, jari rampingnya mendadak kaku ketika ponsel telah sejajar dengan pandangan mata. Sekelebat gerakan di dalam mobil membuatnya menurunkan kembali ponselnya itu. Wajahnya yang ayu mendadak pias.
Niken melangkah pelan, matanya tak bisa berkedip menyorot ke dalam mobil yang gelap.
Semakin dekat ia melangkah, bayangan nya semakin jelas, Niken terdiam dengan mulut terbuka.
Di dalam sana, Alang sedang berciuman dengan Dewi begitu panas. Bukan hanya itu, semakin langkah Niken mendekat, semakin jelas pula apa yang sedang mereka lakukan. Tangan mereka terlalu sibuk, bahkan Alang sedang memacunya begitu kencang.
"Ha!" Niken bergumam sakit, membungkam bibirnya dengan tangan, menahan sesak di dadanya yang tak tertahankan.
Alang menggila, Dewi lupa diri. Begitulah kesan yang terlihat oleh mata Niken.
Ia mundur dengan kaki gemetar, tak sanggup melihat pemandangan yang menghancurkan jiwa raga.
"Mas Alang, Mbak Dewi!" Dia bergumam sakit, tubuhnya lunglai menyandar di mobil yang terparkir.
tangannya meraba, berpegang dengan setiap sisi mobil, berusaha meninggalkan tempat itu. Saking lemasnya, ia tak mampu bersuara, tangisnya tersendat di dada.
Brak!
Niken terjatuh, bahkan ia menyeret dirinya mundur, menjauhi kenyataan.
"Mbak! Mbak!"
Seseorang memanggilnya, membantunya berdiri. Setelah itu satpam hotel pun mendekat, melihat sesuatu yang ganjil di sudut halaman yang luas itu.
"Lho, Niken?" Serunya, membantu Niken berdiri.
Niken sendiri masih gemetar, menangis tanpa suara memegangi dadanya.
"Kamu kenapa Ken? Ada apa?" tanya si satpam kepada Niken, khawatir.
"Ada apa?"
Sebuah suara mengejutkan mereka, mereka menoleh ke belakang kecuali Niken yang tak sanggup lagi.
"Niken Pak!" jawab Satpam muda itu memegangi bahu Niken, ternyata Saga yang datang.
"Niken!" Saga menarik lengan Niken, melihat wajahnya yang kacau, penuh air mata. "Ada apa?"
Seorang tamu yang kebetulan menolong Niken itu menatap ke arah sudut, dimana tadi Niken mundur ketakutan.
Saga dan orang tersebut melangkah ke arah mobil paling ujung itu. Dan alangkah terkejutnya ketika mereka melihat Alang dan Dewi sedang membenahi pakaiannya terburu-buru.
"Alang!" teriak Saga.
Seketika sepasang kekasih itu terkejut dan melotot takut.
"Buka!" Teriak Saga lagi, memukul pintu mobil dengan tangannya.
"Mas, gimana ini?" Dewi sendiri ketakutan, apalagi Alang.
"Buka, atau ku bakar kalian berdua!" teriak Saga lagi.
Sadar kalau Saga sedang teramat marah, Alang membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu.
Bugh! Bugh!
"Bajingan!"
Bugh! Bugh, Bugh!
Tanpa ampun Saga menghajar Alang, kemarahannya sudah tak dapat di bendung lagi menyaksikan Alang dan Dewi melakukan hal yang menjijikan di mobilnya.
"Paman! Paman! jangan pukul lagi! Dewi yang salah. Aku yang salah!" Dewi menghalangi, merengek dalam tangisnya melindungi Alang.
"Kau! Kau di didik, di sekolahkan, tapi malah mau dengan pria bejad seperti dia?" bentak Alang.
"Nggak, nggak Paman. Jangan pukul Mas Alang lagi. Kami sama-sama saling mencintai." kata Dewi, memegangi kaki Saga, agar tak lagi menendang Alang yang kini terguling di halaman berpasir.
"Ha? Saling mencintai?" kesal Saga, tak habis pikir dengan keponakannya itu. "Kau pikir dia mencintaimu?"
"Ya, dia mencintai Dewi. Kami sudah berpacaran sejak lama." jawab Dewi, menggenggam tangan Alang begitu erat.
Kening Saga berkerut mendengar jawaban keponakannya itu. "Sejak kapan?"
Dewi mendongak, ia menatap mata Saga yang seram. Pastilah memerah karena marah.
"Sejak Dewi masih kuliah, tiga tahun lalu."
Tentu jawaban Dewi itu semakin membuat Saga tercengang. Sementara Niken sendiri hanya bisa meremat baju di dada.
Tiga tahun katanya? Tiga Tahun artinya jauh sebelum Alang dan Niken_.
"Mas Alang." rintih Niken.
Seketika mereka melihat ke arah dimana Niken berpegangan dengan mobil, sambil memegangi dadanya.
"Niken?" Alang langsung berdiri, tak peduli Dewi kini bersimpuh demi dirinya.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat lagi, hingga Alang kembali terhuyung. Tapi, ia tak melawan, bahkan tak peduli, tatapannya hanya tertuju kepada Niken.
"Niken! Dengarkan Mas Alang!" teriak Alang, ia mengejar Niken.
Tangisan Niken membuat heboh orang yang melihatnya, apalagi Alang mengejarnya dengan kondisi babak belur.
"Niken, dengarkan Mas Alang!" Alang meraih lengannya.
"Lepas Mas! Aku tidak mau bicara sama kamu!" bentak Niken, menghempas tangan Alang yang begitu kuat mencengkeram lengannya.
"Nggak, kamu harus dengarkan Mas Alang, Dengar dulu Dek." mohon Alang, memegangi kedua tangan Niken, kemudian memeluk gadis yang rapuh itu.
"Lepas Mas! Aku tidak sudi di peluk kamu!"
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis